
"Pak, Asil bangun dan memanggil Tante Jihan." Kata Bu Siti mendekati Asil.
"Iya, buk. Apa yang terjadi dengan Asil?" Jawab pak Hasyim.
"Tante..." Kata Asil lirih.
Uhuk... Uhuk...
Asil terbatuk dan perlahan membuka kedua matanya. Asil menatap langit-langit di ruang itu dan bertanya, "Dimana aku?" Dengan suara yang pelan.
"Nak, ini ibu dan bapak!" Kata Bu Siti sambil mengusap rambut di kepala Asil.
"Ibu dan... Bapak ini siapa?" Tanya Asil dengan kebingungan.
"Orang tua kamu, nak." Jawab pak Hasyim sambil tersenyum.
"Dimana aku ini dan dimana Tante Jihan?" Tanya Asil dengan kebingungan.
"Bi Ima tolong panggilkan dokter!" Kata Bu Siti menyuruh Bi Ima tanpa menoleh ke belakang.
"Bi ima!" Seru pak Hasyim sambil menengok ke belakang. Pak Hasyim tersentak kaget melihat bi Ima tidak ada di ruang itu sambil menyentuh pundak Bu Siti, pak Hasyim bertanya, "Bu, Bi Ima kemana? Barusan ada disini?"
"Loh, tadi ada disini, terus kemana Bu Ima ini." Jawab Bu Siti dengan terheran.
"Jadi kita tadi ngomong sama Bi Ima, dia sudah tidak ada disini ya." Kata pak Hasyim beranjak mencari Bu Ima.
"Bapak mau cari Bi Ima ya?" Tanya Bu Siti.
"Iya Bu sama kasih tahu dokter juga." Jawab pak Hasyim keluar dari ruang rawat Asil.
Saat pak Hasyim keluar dari ruang rawat Asil, ia bertemu Bi Ima di lorong. Bi Ima yang sedang berjalan cepat dan di ikuti dokter dan perawat di belakangnya menuju ruang rawat Asil.
"Pak Hasyim, nona Asil..." Kata bi Ima berhenti dan menanyakan keadaan Asil.
"Asil masih kebingungan mencari Tante Jihan." Jawab pak Hasyim lalu mengikuti dokter dan perawat yang masuk ke ruang rawat Asil.
Dokter yang mengecek semua keadaan Asil, sedangkan Bu Siti, Bi Ima, dan pak Hasyim menunggu dengan rasa cemas dan khawatir.
"Apakah masih pusing dan mual?" Tanya dokter itu.
__ADS_1
"Iya..." Jawab Asil dengan pelan dan mengerutkan keningnya karena rasa sakit.
"Resep obat yang sudah saya tuliskan tadi sudah di ambil di apotik?" Tanya dokter itu.
"Iya, sudah Dok!" Jawab Bu Siti.
"Setelah ini minum obatnya secara teratur, agar rasa pusing dan mualnya hilang." Tambah dokter itu.
"Dokter, anak saya setelah sadar memanggil nama Tante Jihan yang sudah meninggal?" Tanya pak Hasyim yang memberhentikan dokter akan keluar.
"Iya, tidak apa-apa pak. Ini hanya hilang ingatan sementara nanti akan pulih dengan sendirinya." Jawab dokter itu lalu keluar dari ruang rawat Asil.
"Oh begitu ya." Kata pak Hasyim lalu mendekat ke Asil.
"Nak, ini bapak. Masih ingat?" Tanya pak Hasyim pada Asil.
"Bapak... Maksudnya bapak, orang tua saya?" Tanya balik Asil yang masih kebingungan.
"Iya..." Jawab pak Hasyim yang mengurungkan melanjutkan kata-katanya.
"Ish... Bapak... Anaknya baru sadar sudah di interogasi. Nanti tambah sakit kepalanya Asil itu." Seru Bu Siti memotong pertanyaan pak Hasyim.
"Asil, sudah tidak pusing nak. Ada yang sakit?" Tanya Bu Siti beralih dari tatapan sinis pada pak Hasyim berubah menjadi khawatir pada Asil.
"Ehm... Sudah..." Jawab Asil dengan pelan. Ia merasa masih bingung dengan orang-orang yang berada di hadapannya ini.
Aku tidak tahu siapa orang-orang ini. Yang aku ingat dan kenal hanya Tante Jihan saja. Mereka juga memanggil ku Asil, seperti sudah mengenal dari dulu. Tapi aku tidak mengingat semuanya.
Gumam dan membatin dalam hati Asil sambil memegang keningnya yang sedikit sakit dan pusing.
"Kenapa nak? Apa pusing lagi?" Tanya Bu Siti.
"Bapak panggilkan dokter ya?" Tanya pak Hasyim.
"Tidak... Aku tidak apa-apa. Hanya ingin beristirahat saja." Jawab Asil. membelakangi Bu Siti, pak Hasyim, dan bi Ima.
"Istirahat saja nak, biar ibu bantu!" Kata Bu siti membantu membaringkan tubuh Asil.
"Iya." Jawab Asil membelakangi Bu Siti, pak Hasyim, dan bi Ima.
__ADS_1
Pak Hasyim dan Bu Siti menitipkan Asil bi Ima untuk pergi keluar mencari makan karena tersentak melihat anaknya sudah sadar dari koma, sampai Bu Siti dan pak Hasyim lupa kalau belum makan.
**Tante Jihan dimana? Aku tidak bertemu dengannya sedari tadi. Hanya orang-orang yang tidak aku kenal, mereka menganggap aku anaknya. Aaah.... Aku tidak mengingat siapapun mereka dan entah kenapa aku sudah berada di rumah sakit.
Badan ku semua terasa pegal dan pusing serta rasa mual masih begitu terasa**. Gumam Asil.
"Bi Ima, Asil sudah sadar ya?" Tanya pak Hendra dengan datang tergesa-gesa.
"Tuan mohon pelan-pelan karena nona Asil baru saja beristirahat." Jawab Bi Ima yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Oh, ya maaf-maaf." Kata pak Hendra memelankan langkah dan suaranya.
"Maaf tuan, bicara saya barusan sangat tidak sopan pada tuan. Karena nona Asil tadi pusing lagi dan minta istirahat." Kata bi Ima.
"Iya, tidak apa-apa, Bi! Oh ya, gimana tadi dokter menjelaskannya?" Tanya pak Hendra ingin tahu.
"Nona Asil, sadar dari dari komanya akan mengalami hilang ingatan sebentar tuan." Jawab Bi Ima menitikkan air matanya.
"Loh... Kenapa bi Ima yang menangis? Saya merasa sangat bersyukur Asil sudah bangun dari masa kritisnya. Kok malah bi Ima yang sedih. Terheran saya ini!" Kata pak Hendra sambil tertawa kecil melihat bibi yang di kenal sudah lama dan seperti keluarga sendiri masih polos sampai sekarang.
"Saya sedih dan takut kalau nona Asil tidak mengingat mas Arga pulang nanti." Jawab Bi Ima sambil mengusap air matanya.
"Bibi tadi tidak mendengar dengan jelas sepertinya?" Tanya lagi pak Hendra sambil tersenyum.
"Sudah tuan. Hilang ingatan itu lupa semuanya. Benar itu kan tuan." Jawab Bi Ima dengan percaya diri.
"Bibi ini mirip seperti mendiang mama saya."
Seru pak Hendra tertawa pelan.
"Bi, saya mau bicara sama bibi. Besok saya berangkat menyusul Arga ke Amsterdam. Dan saya minta untuk menjaga Asil dengan baik. Itu saja pesan saya dan tadi saya juga sudah bertemu dan berpamitan pada pak Hasyim dan Bu Siti di kantin rumah sakit." Kata pak Hendra yang duduk di sofa ruang Asil.
"Ada yang terjadi pada mas Arga, tuan?" Tanya bi Ima yang resah dan gelisah.
"Saya akan menjaga nona Asil seperti merawat mas Arga, tuan." Tambah Bi Ima.
Jangan lupa like setiap baca perbabnya, view, kritik, dan saran readers, klik favoritnya💓💓💓 dan follow Author ya. Jangan lupa memberi vote ya...
Terimakasih banyak🙏***
__ADS_1