Couple Doctor

Couple Doctor
Senja Yang Hilang


__ADS_3

...Jatuh cinta itu menyenangkan saat tertawa bersama dan bahagia bersama. Namun, seketika berubah menyakitkan saat semesta tak memberi restu....


...----------------...


Code blue masih berdering sangat nyaring, kode sistem aktivasi untuk kondisi gawat darurat untuk pasien yang membutuhkan pertolongan dan penanganan medis sesegera mungkin seperti pada kasus pasien mengalami henti jantung.


Ervin selaku dokter spesialis jantung seketika menuju ke ruang ICU untuk melihat kondisi di sana. Sampai-sampai ia lari terbirit-birit dan tidak mempedulikan lagi jika di rooftop tadi masih ada Letnan Samudra dan juga Aurora yang baru tiba.


“Ok, aku akui Dia dokter yang hebat. Dia... layak menjadi calon adik ipar.” Letnan Samudra tersenyum bangga.


“Tidak usah terlalu banyak bermimpi. Mendekatinya saja sulit, apalagi memilikinya. Ada tembok yang amat besar dan tembok itupun sulit untuk ditonohkan dengan mudah.”


“Ya sudah, aku mau lihat di ruang ICU. Tidak balik ke kesatuan, kan? Jaga papa tuh,” pinta Aurora.


Aurora berlari mengikuti Ervin yang sudah lebih dulu berlari. Dan sesampainya di ruang ICU Aurora merasa takjub dengan tindakan cepat Ervin.


Ervin langsung bertindak memberikan bantuan hidup dasar pada pasien dengan beberapa cara yang memang dianjurkan. Resusitasi jantung paru, defribilasi dan perawatan lanjutan. Hal itu memang harus diutamakan saat pasien mengalami serangan jantung mendadak (cardiac arrest) atau saat pasien mengalami gagal nafas akut (respiratory arrest).


Ervin membuang jas nya entah dimana jatuhnya. Karena, saat terjadinya suasana genting seperti itu dokter harus melakukan tindakan secepatnya, jika tidak akan menimbulkan keselamatan pasien lebih berbahaya lagi bahkan hidup pasien akan berhenti seiring kurunnya waktu yang berjalan.


“Siapkan alat AED nya!” titah Ervin.


“Baik, Dok.” Perawat itupun mengangguk.


AED atau Automated External Defibrillator, salah satu alat medis yang diperlukan saat pasien mengalami henti jantung secara mendadak.


Ervin memegang alat kejut jantung itu, perawat memberikan gel pada papan alat itu setelahnya, Ervin menggesek pelan lalu, memberikan kejut listrik untuk mengembalikan irama jantung.


“Satu...”


“Dua...”


“Tiga...”


“Angkat!”


Tuuutttt... Tuuuuuuttt... Tuuuuuuuttt...


Irama jantung masih belum stabil, jantung pasien masih belum berdetak secara normal. Dan itu pertanda jika Ervin selaku seorang dokter harus kembali berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan kehidupan baru bagi pasien.


“Jangan pernah menyerah dalam melakukan penyelamatan! Kecuali itu sudah kehendak Tuhan. Sekarang tetap lakukan penyelamatan pertama dengan alat AED sampai iramanya kembali normal.” Ervin tidak akan menyerah sampai ia merasa benar-benar berhasil.


Lima belas menit... Ervin masih berusaha mengembalikan irama jantung pasien perempuan paru baya itu. Dan di luar sana ada lelaki remaja yang tak hentinya berharap ada kehidupan baru bagi ibunya yang masih berjuang bersama Ervin di dalam.


“Ayo, bertahanlah! Aku mohon kembalilah!” ucap Ervin penuh harap.


Tutt... Tutt... Tutt...


Dua puluh menit sudah akhirnya irama jantung pasien telah kembali, meskipun masih lemah setidaknya ada tanda kehidupan baru. Ervin yang merasa berhasil tak hentinya ia mengucap syukur kepada Tuhan yang memberikan kesempatan.


“Alhamdulillah Ya Allah, terimakasih.”


Ervin mengusap peluh yang mengucur di pelipisnya dengan lengan bajunya itu. Bukan lagi bercak kecoklatan yang menempel di kemeja putihnya, tetapi ada bercak darah juga yang membekas di lengan bajunya.

__ADS_1


“Argghhh,” rintih Ervin.


Ervin memegangi lengannya sejenak, mengingat tugasnya belum selesai ia menepis rasa nyeri yang membuatnya kesakitan.


“Dok, saya rasa lengan Anda terluka. Pasti jahitan nya sobek saat Dokter Ervin melakukan penyelamatan tadi. Apa tidak sebaiknya Dokter Ervin mengobati lukanya dulu?”


“Tidak perlu, tugas saya belum selesai. Saya kuat kok dan saya akan mengurus beberapa hal untuk melihat kondisi pasien. Ku tunggu disini saja!”


Perawat itu hanya pasrah, ia menurut saja dengan ucapan Ervin. Karena perawat itupun tahu bahwa Ervin benar-benar bertanggung jawab dengan tugasnya yang menjadi seorang dokter.


Ervin meraih stetoskop nya yang diambilkan salah seorang perawat. Lalu, ia memeriksa detak jantung pasiennya setelahnya, beberapa hal aka diurus oleh perawat setelah stempel darah berhasil diambil.


Ervin ingin keluar dari ruang ICU setelah tugasnya selesai tetapi, saat hnda keluar seseorang telah memanggil namanya. Hingga langkah iyipun diurungkan oleh Ervin.


“Letnan Samudra, mau kemana?” tanya Ervin berbasa-basi.


“Saya ada panggilan mendadak, harus kembali ke kesatuan sekarang. Saya boleh minta tolong kepada Anda, Dokter Ervin?”


“Silahkan! Jika saya bisa membantu maka saya akan melakukannya.” Ervin tersenyum tipis, menutupi rasa sakit yang ada di lengannya.


“Temani Aurora saat aku tidak ada di sampingnya seperti malam ini. Saat aku harus kembali bertugas, aku yakin kamu bisa menjaganya dengan baik.” Ervin menatap Letnan Samudra dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Maaf, aku dan Aurora bukan makhramnya. Jadi, saya tidak bisa menemani Dia sepanjang malam seperti yang kamu minta.”


“Aku tahu, kamu bisa mengajaknya untuk bicara itupun akan ada perawat yang standby menjaga Papa. Jadi kalian tidak akan berdua saja, Dia... masih dalam keadaan sedih. Hibur Dia!”


“Kenapa harus saya? Kenapa tidak kamu sendiri saja? Bukannya kalian memiliki hubungan yang...” Menggantung.


“Hahaha. Ok, pertemuan pertama kita memang di parkiran yang kedua di snap studio. Kamu akan mengerti kenapa aku bersama mereka dan kenapa Aurora sampai memeluk bahkan menciumku.” Letnan Samudra terkekeh kecil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ervin menuju ke ruangannya sejenak, melepas rasa lelah yang beberapa menit lalu menghampirinya saat memberikan penyelamat utama.


“Apa maksud Letnan Samudra tafi?” gumam Ervin dalam benaknya.


“Akh sudahlah! Ini luka, baru juga dijahit tadi masa iya sudah sobek begini. Mana perih lagi, masa iya harus dijahit ulang? Siapa pula yang mau jahit?” Ervin memberondongi dirinya sendiri dengan bejibun pertanyaan.


Tok... Tok...


Suara pintu ruangan Ervin telah diketuk pelan, tak lama kemudian Ervin pun meminta orang dibalik pintu tersebut masuk.


“Apa perlu bantuan lagi?” tanya Aurora to the point.


“Emm... tidak. Aku bisa panggil perawat nanti untuk menjahit ulang lukanya. Jangan khawatir!” jawab Ervin yang hanya tidak mau terus berada di samping Aurora.


Aurora memperlihatkan senyuman di bibirnya. Sejenak senyuman itu membuat hati seorang Ervin terjeduk. Ada getaran yang sulit untuk dielakkan begitu saja.


Dan ya, Ervin terpana pada senyuman Aurora yang semakin mempercantik elok wajah perempuan itu.


‘Astaghfirullah,' gumam Ervin dalam hati.


Ervin segara memalingkan wajahnya agar tidak terlalu dalam pada rasa yang tak seharusnya ia pendam.

__ADS_1


“Jangan terlalu gengsi jadi orang itu. Jarang-jarang loh aku menawarkan bantuan pada orang lain terutama padamu.”


‘Ya Allah, bagaimana ini? Hatiku tidak bisa aku kondisikan. Aku tidak bisa membohongi rasa ini lagi. Tapi, jika menerima bantuannya apakah aku akan terjerat pada dosa? Jika menolaknya, apakah aku lelaki yang tidak punya hati nurani?’


“Tenang saja, aku akan menjahit lukamu di rooftop saja. Karena di sana akan ada banyak orang dan kita tidak akan sendiri. Bagaimana? Masih mau menolak?”


...----------------...


Kotak P3K sudah dibawa dan disiapkan pula beberapa peralatan yang harus dipakai saat akan menjahit ulang luka Ervin.


Seperti kesepakatan sebelumnya, mereka akan duduk di rooftop dan Aurora akan menjahit luka Ervin setelah mengalami robek. Yang membuat darah kembali merembes di kemeja putih yang Ervin kenakan.


”Tahan lagi ya, Dokter Ervin. Seperti tadi, sebelum kamu melakukan aksi penyelamatan.” Aurora terkekeh.


Aurora berusaha untuk mencairkan suasana yang tidak akan membuat canggung saat mereka tengah bersama. Dan benar saja, obrolan bergulir dengan nyaman tetapi saat Aurora menyinggung tentang pasien yang mengalami henti jantung tadi seketika Ervin tidak bisa mengontrol dirinya. Ervin meluapkan kesedihan, kehancuran dan rasa bersalahnya selama ini yang membebani pikirannya.


“Ervin, andaikan saja ini ya... tadi saat kamu melakukan penyelamat dan kamu gagal mengembalikan detak jantung Ibu tadi, apa yang kamu rasakan?”


“Ikhlas. Karena itu takdir yang ditentukan Allah untuk hambanya. Seperti takdirku, Ra.”


Ervin menghela napas beratnya. Hatinya mulai merasakan kehancuran, kenangan pahit itu kembali terngiang dalam pikirannya. Bayangan itu, hal terburuk yang pernah dialami Ervin kembali memutar dalam pelupuk matanya.


“Sebenarnya aku ingin marah jika aku tidak bisa menyelamatkan nyawa ibu tadi. Apalagi saat melihat bagaimana khawatirnya Fajar. Kenangan buruk itu terulang lagi padaku, Ra.”


“Aku seperti melihat masa laluku yang pahit. Kehilangan kedua orang tua dalam kurun waktu yang berselang tidak lama itu adalah titik kehancuran seorang anak. Apalagi setelah itu aku harus hidup sendiri, banting tulang mencari uang demi mewujudkan mimpi sosok malaikat seperti mereka.”


“Dan waktu yang terlewati... aku hanya bisa berandai saja, Ra. Andai waktu itu Bapak ku tidak terjerat hutang yang bayak pada rentenir kejam itu. Pasti Beliau tidak akan mati secara mengenaskan. Hiks... Hiks...”


“Dan andai saja Ibuku tidak sakit-sakitan maka beliau bisa lebih ikhlas dan tegar menerima kematian Bapakku. Tapi kenyataannya, hanya kurun waktu satu minggu saja Ibuku ikut pergi meninggalkanku selamanya.”


Tanpa suara lagi air mata itu tak bisa tertahan, mengalir dengan sendirinya membasahi pipi. Dan pada dasarnya setegar apapun seorang lelaki, ia pernah terpatahkan hatinya karena kehilangan orang yang dicintai.


Ervin Evano, terlalu sulit kehidupan yang dijalani saat masa remajanya_saat usianya menginjak lima belas tahun. Dimana itu Ervin baru saja masuk sekolah SMA.


“Luapkan saja, apa yang menjadi beban dalam pikirmu, Ervin. Dan aku disini siap mendengarkannya. Karena aku tahu, tidak semua lelaki itu kuat. Terkadang... aku sempat melihat itu dalam diri papa ku.”


Aurora menatap lekat wajah yang sendu itu. Ada rasa nyeri hingga menusuk kalbu Aurora saat melihat lelaki yang secara diam-diam tetap mengisi relung hatinya merasakan kesedihan yang begitu dalam.


Ervin lagi-lagi tidak bisa menyembunyikan luka itu. Dan semuanya, akhirnya telah terungkap.


“Dan andai kamu tahu, Ra. Penyebab itu semua adalah papa Haura. Haura perempuan yang aku cintai saat aku masih SMA.”


Deg.


‘Hatiku sakit Tuhan saat Dia menyebut nama itu. Nama yang sudah lama Kau panggil, tapi masih mengisi hati dan pikirannya.’


“Dan setelah satu tahun aku dan Haura menjalin cinta, aku dipisahkan oleh papa nya dengan alasan aku adalah orang miskin. Setelah kami bertemu kembali, rasa itu sudah berubah benci. Tapi... Hiks... Hiks... Kamu tahu malam itu. Haura mengorbankan dirinya demi aku.”


“Hingga rasa bersalah terus menghantuiku, Ra. Dan karena itulah aku tidak bisa menerima rasa cinta yang ada dalam hatiku terhadapmu. Selain agama, aku masih terbelenggu dalam masa lalu itu.”


“Semenjak itulah aku merasa senja yang terang, indah dan menghangatkan telah menghilang.”


Titik kehancuran seorang Ervin tidak hanya pada masa lalunya. Tetapi, ada rasa lain yang amat ia benci dan rasa itu tetap menghantuinya. Dan entah sampai kapan Ervin akan menghilangkan rasa bersalahnya untuk membuka hatinya kembali.

__ADS_1


“Jatuh cinta itu menyenangkan saat tertawa bersama dan bahagia bersama ya, Ra. Namun, seketika berubah menyakitkan saat semesta tak memberi restu.”


__ADS_2