Couple Doctor

Couple Doctor
Debaran Aneh


__ADS_3

...Perihal cinta tak lain adalah sebuah rasa yang hadir tanpa tahu kapan dan pergi tanpa permisi. Dan itulah yang Allah ciptakan pada setiap hambanya....


~Ervin Evano


...Sebuah rasa yang berbeda telah hadir membuat percikan api cinta yang membara....


...----------------...


Tidak bermaksud mengusir, hanya saja Ervin memang bukanlah dokter yang memeriksa bagian perut, melainkan memeriksa bagaimana kondisi jantung sang pasien. Dan menganjurkan bagaimana jantung tersebut diobati atau harus dioperasi.


“Dokter Ervin tidak bisa se-enaknya begitu dong. Seharusnya itu Dokter Ervin memeriksa perut adik saya terlebih dahulu.” Dari balik pintu yang sudah ditutup rapat Humaira berteriak sesukanya.


Ervin mengusap wajahnya gusar. Ia tidak menyangka jika akan bertemu dengan sosok perempuan yang lebih pantas disebut gila. Dan Ervin menyangkal jika perempuan bernama Humaira mirip dengan Haura.


“Dia benar tidak mirip sama sekali dengan Haura. Dia lebih pantas disebut perempuan gila. Dan jauh berbeda dengan sikap Haura. Haura itu cantik, lemah lembut dan... ada cinta untukku di dalam hatinya.”


“Dan kamu mengakui semuanya tentang Haura. Termasuk cinta yang mungkin saja masih ada di dalam hatimu, Ervin.”


Deg.


Suara tak asing tiba-tiba ikut menyambung ucapan Ervin. Membuat Ervin seketika tak bisa bekutik kala ia menatap pemilik suara tersebut. Tiba-tiba lidahnya begitu kelu untuk sekedar mengucap satu kata. Dan bahkan jantungnya seolah berhenti berdetak. Pasalnya, Ervin tidak mau jika Aurora salah paham dengan ucapannya.


“A-aurora.” Ervin memanggil Aurora dengan terbata-bata.


“Why, Ervin? Saya cukup sadar diri kok, maka dari itu saya meminta kita hanya sebatas sahabat saja. Perihal cinta, kita tidak tahu hadir dengan benar-benar tulus atau sekedar pelampiasan saja.” Aurora mengulas senyum, meskipun hatinya remuk dan patah.


“Oh iya, saya datang kesini ingin mengkonfirmasi tentang pasien yang baru saja masuk ke ruang IGD. Dan ini hasil X-Ray pasien.” Aurora meletakkan hasil pemeriksaan pasien di atas meja Ervin. “Ya sudah, kalau begitu saya permisi!Saya harus kembali berjaga di IGD.”


Aurora melangkah pergi, meninggalkan ruang yang cukup menyakitkan baginya. Sedangkan Ervin, lelaki itu hanya bisa menatap pilu kepergian Aurora yang sudah melenggang pergi jauh, bahkan punggungnya pun tak terlihat lagi.

__ADS_1


“Entah ini kebodohanku atau... petunjuk dari-Mu Ya Rabb.” Ervin mengusap wajahnya gusar.


Ervin terdiam, duduk di kursinya dan menunggu pasien selanjutnya. Ia tidak mau permasalahan cinta nya itu akan membuat tujuan utama nya hancur. Karena, manusia amatlah sering melalaikan apa yang sudah menjadi tugasnya berdasarkan atas nama cinta.


Dan pasien selanjutnya, Ervin berusaha fokus tanpa memikirkan Aurora dan siapa perempuan yang bernama Humaira. Bahkan sampai pasien yang paling akhir, Ervin menyelesaikannya dengan tenang, seolah memang tak ada masalah dalam hidupnya.


Berusaha tersenyum, kala memeriksa pasien dan melakukan visite. Terkadang, ada juga orang berlalu lalang yang hendak membesuk sanak keluarga ikut menyapa.


Memang Ervin adalah dokter yang amat dikenal di rumah sakit itu. Selain wajah yang terpahat dengan sempurna, berhidung mancung, berkulit putih, memiliki alis tebal, dan bibir yang tebal serta lesung pipit di sebelah pipi kanannya, Ervin Evano dokter yang handal dalam meja operasi.


Jam sudah menunjukkan pukul 16.45 kala sore itu, Ervin memutuskan untuk segera mengambil air wudhu dan menunaikan sholat ashar di mushola rumah sakit. Dan selama itu pula Ervin tidak berniat untuk mencari sosok Aurora yang bertugas di bagian IGD.


“Dokter Ervin,” panggil seseorang.


Ervin pun berbalik, “Fajar? Ada perlu apa kamu di rumah sakit?”


“Saya habis nebus obat tadi di apotek, Dok. Terus ini mau pulang, tapi mau sholat dulu. Soalnya takut waktunya tidak keburu nanti.” Fajar menjawab seadanya.


Sajadah terbentang bagian imam dan Fajar sebagai makmum pun mengikuti. Tak lama kemudian Ervin membaca iqamah sebagai tanda jika sholat akan dimulai.


Empat rakaat pun telah dijalankan. Dan saat salam, Ervin merasa ada seseorang yang ikut sholat sebagai makmum. Namun, dapat dipastikan jika itu bukanlah Fajar melainkan seorang perempuan yang tengah memakai mukena.


Akan tetapi, Ervin tak menghiraukan dan ingin tahu siapa perempuan tersebut. Ervin bersikap acuh saja, ia hanya berpikir jika perempuan yang berada di belakang sana hanyalah perempuan yang memang ingin ikut berjamaah.


Deg... Deg... Deg...


Jantung Ervin tiba-tiba berdebar hebat. Tetapi, Ervin mencoba berpikir positif saja. Di mana ia berpikir jika debaran yang ada pada jantungnya tersebut diakibatkan karena belum makan siang. Telat makan juga bisa mempengaruhi debaran pada jantung manusia.


“Tidak. Aku sudah terbiasa dengan telat makan. Saat berdebar aku juga tidak merasa tubuhku lemas. Lantas, debaran aneh apa ini?” gumam Ervin.

__ADS_1


Setelah usai menengadahkan tangan berdoa kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala Ervin mengajak Fajar mengobrol sebentar.


Obrolan pun terus bergulir, tetapi harus berhenti sejenak kala Fajar menanyakan perihal hubungan antara Ervin dengan Aurora. Fajar ingat betul saat itu, di mana Ervin membantu Aurora dalam meja operasi.


“Maaf jika saya lancang, Dok. Tapi, saya juga penasaran sih sama hubungan Dokter Ervin dengan Dokter Aurora. Apa... kalian berdua memang memiliki hubungan spesial?” tanya Fajar dengan sangat hati-hati.


“Uhuk... Uhuk...” Ervin tersedak air mineral yang diminum nya. “Ngomong apa sih kamu itu, Jar? Mana ada hubungan yang seperti itu, saya bukan munafik. Tapi perlu kamu tahu, saya masih menjaga apa yang harus dijaga. Saya bukan lelaki yang pemburu dengan hawa nafsu saja.”


“Oh begitu ya,” ucap Fajar.


Ervin mengangguk, mengiyakan ucapan Fajar. Sepersekian detik kemudian Ervin kembali bersua dan memberikan ungkapan hatinya.


“Dengarkan saya ya, Jar. Perihal cinta tak lain adalah sebuah rasa yang hadir tanpa tahu kapan dan pergi tanpa permisi. Dan itulah yang Allah ciptakan pada setiap hambanya.”


“Jika jatuh cinta sekarang tanpa ikatan halal maka, harus siap terluka kala cinta itu tidak bisa berpihak. Tetapi, jika cinta telah dihadirkan setelah hubungan itu halal maka, hadiahnya surga.” Ervin tersenyum.


Kembali Fajar mengangguk_tanda jika ia membenarkan ucapan Ervin. Dan dari sana lah Fajar belajar tentang hidup yang berliku tanpa mengeluh berlebih. Karena pada dasarnya ada yang lebih pedih lagi daripada jalan hidupnya, tak lain adalah kehidupan Ervin itu sendiri.


Saat Ervin tengah asik mengobrol dengan Fajar tanpa mereka sadari sedati tadi percakapan antara mereka telah terekam jelas di telinga seseorang.


Deg... Deg... Deg...


“Debaran aneh apa ini? Jika mendengar ceritanya saja yang seperti itu, mungkin aku salah menilai tentangnya. Tetapi, kenapa saat membayangkan kehidupannya yang sulit membuat jantungku berdebar aneh.”


Ketika obrolan telah berhenti dan Fajar memutuskan untuk segera pulang, Ervin tanpa sengaja bertemu tatap dengan seorang perempuan yang masih mengenakan mukena berwarna coklat tua.


Namun, Ervin tidak bisa mengenali siapa pemilik mata yang bermanik hitam pekat dan bulat itu. Karena tidak mau terlalu jatuh dalam hal yang tidak diharapkan, Ervin mengalihkan pandangannya.


“Sebuah rasa yang berbeda telah hadir membuat percikan api cinta yang membara.”

__ADS_1


“Mungkinkah debaran aneh itu cinta? Ah tidak mungkin, rasanya cinta tidak bisa hadir secepat itu juga. Aneh sekali itu namanya.”


🌹🌹🌹


__ADS_2