Couple Doctor

Couple Doctor
Aku Sudah Lelah


__ADS_3

...‘Ya Allah, aku lelah dengan keadaan seperti ini. Jika, Engkau mengijinkan boleh kah aku... egois saja.’...


...----------------...


Laura, ia duduk termenung di sebuah kursi tunggu. Ya, ia sendirian duduk di sana. Humaira sang kakak masih harus menyelesaikan kasus autopsi yang jenazahnya baru saja tiba. Sehingga Laura mau tak mau harus duduk sendirian menunggu Humaira usai melakukan tugasnya tersebut.


“Tuhan, aku merasa lelah dengan kondisiku saat ini. Memang tidak terasa begitu menyiksa tetapi, aku benar-benar khawatir dengan bagaimana nanti.” Laura tersenyum sendu.


Sudah hampir lima belas menit Laura duduk di kursi tunggu itu sampai pada akhirnya ia pun merasakan bosan. Untuk menghilangkan rasa bosan tersebut Laura memutuskan untuk berkeliling agar rasa suntuk pun hilang.


Namun, saat baru melangkah sekitar sepuluh menit Laura justru mendapati pemandangan yang tidak ingin ia lihat.


“Dengarkan aku baik-baik! Kita, memang harus dipaksakan untuk ikhlas, Ra. Ikhlas dalam menerima takdir, seperti yang pernah aku katakan padamu.”


“Untukmu agama mu dan untukku agamaku.”


Jeddaaaarrr!


Kalimat itu telah diulang kembali oleh Ervin. Seketika membuat hati Aurora berdenyut, begitu terasa nyeri. Dan lagi-lagi, kenyataan telah menampar nya dengan seribu kepahitan, masa yang yang membuat dada Aurora terasa amat sesak.


“I know, Ervin. Tapi... ijinkan aku sekali saja untuk memelukmu. Karena lusa aku bukan lagi seorang Aurora yang sendirian, aku akan menikah dengan Abimana. So, ijinkan aku melakukan itu sekali saja.” Binar mata Aurora memperlihatkan permohonan.


‘Ya Allah, aku lelah dengan keadaan seperti ini. Jika, Engkau mengijinkan boleh kah aku... egois saja?’


Rasanya tak tahan melihat pemandangan yang menyakiti hatinya, hingga akhirnya Laura memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Laura tidak mau terbayang-bayang dengan Aurora dalam hubungan rumah tangganya dengan Ervin.


“Cukup!” teriak Laura.


Seketika Ervin dan Aurora menoleh ke arah pemilik suara. Ervin nampak terkejut, dan seketika itu juga Ervin merasa khawatir jikalau Laura akan salah paham padanya.


“Dek Laura,” panggil Ervin lirih.


Laura melangkah dan menghampiri Aurora serta Ervin yang masih terpekur dalam diam. Aurora tidak pernah menyangka jika hal yang dilakukannya telah dilihat oleh Laura.


“Kalau Anda lusa akan menikah lalu, apa hubungannya dengan suami saya? Seharusnya Anda sadar dengan posisi Anda. Dan seharusnya Anda juga menyadari satu hal jika Bang Ervin itu sudah menikah dengan saya.”


“Jadi, saya mohon dengan amat sangat jangan pernah lagi mengganggu rumah tangga saya dengan Bang Ervin. Dan silahkan Anda mengurus calon suami Anda sendiri.”

__ADS_1


Laura memberikan penekanan dan penegasan dalam setiap tutur katanya yang halus. Dan tanpa meminta persetujuan Ervin Laura menariknya begitu saja. Laura berharap dengan semua yang sudah dilakukan pada Aurora maka, Aurora bisa berpikir lebih jernih lagi.


Air mata yang tertahan telah melesat begitu saja. Di sepanjang jalan Laura sesekali menyeka air mata yang membasahi pipinya sembari menarik lengan Ervin.


“Dek Laura, berhenti dulu!” pinta Ervin amat lirih.


Tidak ada jawaban, tidak ada sepatah kata yang terucap sebagai balasan. Ya, mungkin Laura mendengar suara Ervin tetapi, Laura sengaja tidak menghiraukan nya.


Melihat sikap Laura yang jelas memperlihatkan kemarahan Ervin dibuat dengan rasa bersalah. Laura, gadis yang kini menyandang status sebagai istri Ervin itu masih baru kali ini memperlihatkan entah itu rasa cemburu karena Ervin tetap dekat dengan Aurora atau hanya ingin dihargai saja selayaknya istri.


Tepat di depan gedung rumah sakit dengan bangunan yang begitu luas dan amat besar itu Laura melepaskan tangan Ervin. Setelahnya, Laura tetap terdiam dengan air mata yang tanpa diminta mengalir begitu saja.


‘Ya Allah, maafkan hamba sudah membuatnya terluka dan menangis. Dan mulai saat ini, hamba akan berusaha untuk membahagiakannya.’ Ervin bermonolog dalam hati.


Rasa tak teha telah muncul dalam hati Ervin, bahkan ia merasa amat tersakiti kala melihat air mata yang masih saja mengalir dengan derasnya.


Ervin menatap lekat wajah Laura dengan mata sendunya. Lalu, Ervin mendekat dan mendekap Laura ke dalam pelukannya. Dalam pelukan Ervin lah Laura meluapkan rasa yang begitu membuat hatinya terluka.


“Menangislah dalam pelukan Abang. Dan sekali lagi Abang minta maaf sama Adek, ya! Abang juga tidak tahu jika Aurora akan melakukan hal seburuk itu.” Ervin mengusap punggung Laura yang bergetar.


Di tengah keramaian yang ada justru Ervin merasakan keheningan dan kehampaan. Meskipun rasa cinta belum tumbuh di dalam hatinya tetapi, saat itu Ervin merasakan hatinya telah potek berkali-kali.


Satu detik...


Dua detik...


Lima menit...


Akhirnya, Laura menghentikan tangisnya meskipun sesekali masih terdengar sesenggukan. Dengan keberanian yang ada Laura membuat Ervin harus memilih di antara dua pilihan yang diajukan nya.


“Abang pilih mana?”


Ervin tersenyum tipis lalu, ia kembali mendekap Laura dalam pelukannya.


“Abang akan pilih ikut pulang bersama Dek Laura. Jika keberadaan Abang di rumah sakit membuat Adek masih merasa sakit hati maka, Abang memilih untuk pulang.” Terdengar begitu tulus.


“Abang tidak terpaksa, kan?”

__ADS_1


Ervin menggeleng lalu berkata, “Membahagiakan seorang istri itu wajib, apalagi memberinya nafkah secara lahir dan batin. Jika menurut Dek Laura pulangnya Abang membuat bahagia ya... tidak masalah. Sekalian saja kan, kita melakukan hal yang tertunda.”


Hiks'.


‘Maksudnya apa ini? Tidak mungkin kan, kalau Bang Ervin akan melakukannya malam ini? Padahal kan, niatku bukan begitu juga.’


Laura merutuki kebodohannya atas ucapan yang baru saja ia lontarkan. Namun, apalah daya jika itu memang harus terjadi.


...----------------...


“Dek, kita... pulang ke rumah Papa dan Mama?” tanya Ervin memastikan.


“Ya iyalah, Bang. Terus mau pulang kemana? Ke rumah... Kak Sita?” Laura berbalik bertanya.


“Emm... bukan begitu juga, tapi kan... Abang tidak punya baju ganti. Dua hari lalu Abang juga masih di rumah sakit, baru juga hari ini pulangnya.” Ervin nyengir sambil menggaruk tengkuknya.


Laura menepuk jidat, ia tidak menyadari akan hal itu. Dan jika mau bilang pulang ke rumah kak Sita tetapi, ia belum terbiasa dengan lingkungan disana. Belum lagi nanti jika harus banyak istirahat setelah mengkonsumsi obat-obatan dari rumah sakit.


“Terus bagaimana dong, Bang?” tanya Laura.


“Pakai baju papa saja, bagaimana? Kan, bisa untuk semalam saja. Besok pagi kamu pulang ganti baju, nah setelah itu bawa baju kamu ke rumah ini.” Humaira menengahi inti permasalahan antara Laura dengan Ervin.


Ervin pun menganggut-manggut, ia menyetujui akan hal itu. Dan itupun jika, pak Irham memperbolehkan Ervin memakai bajunya. Jika tidak ya... terpaksa pinjam baju Laura yang tidak terlalu kewanitaan. Tidak kebayang juga kan, kalau Ervin sampai iya memakai baju Laura, pasti akan menjadi Ervina.


...----------------...


Setelah mendapatkan pinjaman baju dari papa mertuanya itu, segera Ervin menuju ke kamar Laura dan mandi disana.


Di bawah kucuran air dingin yang mengalir membasahi ujung rambut hingga kaki Ervin, di sanalah kesegaran telah dirasakan. Sejenak rasa lelah dan kepenatan yang membebani pikiran mampu menghilang. Dan di saat air itu masih memberikan kesegaran secara meluruh, meredam amarah yang sempat membuncah dada barulah Ervin menyadari akan suatu hal.


“Baju sudah pinjam sama papa mertua. Tapi... bagaimana dengan dalemannya? Masa iya tidak ganti? Bagaimana kalau nanti Laura akan merasa...” Ervin menggantungkan kalimatnya ke udara.


Rasanya tidak sanggup meneruskan ucapannya itu. Pasti Ervin akan menahan rasa malu jika memang itu akan terjadi.


“Aha... aku rasa aku tahu caranya.” Ervin menjentikkan jarinya.


Dengan segera Ervin memakai handuknya. Setelah keluar dari kamar mandi Ervin meraba dadanya dan bermonolog.

__ADS_1


“Syukurlah Dek Laura tidak ada di kamar. Dan aku... akan beraksi.”


Ervin meraih ponselnya dan melakukan panggilan. Segala keluh kesahnya pun ia curahkan pada seseorang yang selalu memberikan kenyamanan padanya.


__ADS_2