
...Biarkan waktu yang menjawab dan kita tak perlu berpikir terlampau jauh. Bahkan memikirkan siasat maupun rencana apapun, itupun tak perlu....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti biasa, di sepertiga malam ketiga Ervin bangun hendak menjalankan tahajud. Karena merasa kasihan terhadap Laura yang tertidur pulas, ia pun tidak membangunkan Laura.
“Kau terlalu pulas tidurnya Laura, membuat Abang tidak berani untuk membangunkan. Untuk malam ini tak apa tak ikut, tapi malam berikutnya Abang akan bangunkan kau karena sudah kewajiban Abang untuk membimbing kau.” Ervin menyingkap rambut Laura yang menutupi wajahnya.
Setelah mengambil air wudhu Ervin membentangkan sajadah nya lalu, mengucapkan takbir tanda jika ia memulai sholatnya.
Dua rakaat malam sudah dijalankan, setelahnya Ervin melanjutkan untuk membaca mushaf. Bukan mau mencari perhatian di rumah itu tetapi, Ervin sudah biasa melakukannya hampir setiap malam.
Laura beringsut, saat mendengar samar suara seorang lelaki Laura pun bangun. Ia mengambil duduk dan menatap Ervin dari atas ranjangnya.
Hiks... Hiks... Hiks...
Laura menangis sesenggukan membuat Ervin menghentikan bacaannya. Lalu, Ervin menoleh dan mencari pusat suara.
“Cup... cup... cup...! Kenapa menangis, Dek? Abang terlalu berisik ya, terus ganggu tidurnya Adek?” tanya Ervin memastikan.
Laura menggeleng tetapi, air matanya masih saja menetes dengan deras. Membuat Ervin semakin panik saja.
‘Aduh, gini nih kalau berurusan sama wanita. Hiks, bingung sendirian.’ Ervin bermonolog dalam hati.
Eevin mendekat, duduk di samping Laura lalu mendekapnya ke dalam pelukan. Menenangkan Laura dengan mengusap punggung nya adalah suatu hal yang mujarab. Dan itu terbukti, perlahan tangis Laura mereda.
“Sekarang katakan sama Abang apa yang membuat Dek Laura menangis?” tanya Ervin sekali lagi.
“Aku malu Bang. Hiks... Hiks... Soalnya... Aku tidak bisa ngaji kayak Abang yang suaranya merdu begitu.” Laura melerai pelukan Ervin.
Ervin terdiam, ia mencoba menahan tawanya agar tidak terlihat oleh Laura. Namun...
“Kenapa Abang malah diam begitu? Kenapa Abang juga begitu ekpresinya? Abang ketawain aku kan dalam hatinya?” tanya Laura.
Ervin menggeleng cepat agar Layar tidak berpikir semacam itu. Tapi, justru diamnya Ervin membuat tangis Laura kembali pecah.
‘Hiks! Kenapa begini amat sih nasibku? Malah kayak bayi.’ Ervin menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Ervin sontak saja membekap bibir Laura agar tidak bisa di dengar oleh seisi rumah. Jika terdengar bukannya bisa bahaya, kan? Di tengah malam pula.
“Dengerin Abang. Biarkan waktu yang menjawab dan kita tak perlu berpikir terlampau jauh. Bahkan memikirkan siasat maupun rencana apapun, itupun tak perlu. Tugas kita adalah belajar untuk memperbaiki diri. Jika, Dek Laura mau bisa lancar bacanya, sekarang juga Dek Laura gih ambil wudhu!” titah Ervin.
__ADS_1
“Sekarang?” tanya Laura seraya membulatkan mata.
“Besok. Ya iyalah sekarang Dek, bikin gemes deh.” Ervin manoel hidung Laura yang sedikit mancung.
“Kenapa sekarang? Kenapa nggak pas waktu subuh saja?” tanya Laura lagi.
‘Ya salam. Punya bini kenapa banyak tanya sih? Tadi mau lancar baca sekarang disuruh ambil wudhu malah nawar lagi.’
Ervin memasang senyum di bibirnya. Ia memasang wajah imut meskipun hatinya sedang merasa ... kesal.
“Begini, waktu di sepertiga malam itu adalah waktu yang paling mujarab untuk meminta kepada Allah. Dan insya Allah apapun yang diminta hambanya di waktu itu akan dikabulkan. Dek Laura mau kan begitu?”
Laura mengangguk, tanpa menunggu waktu lama lagi Laura selesai mengambil air wudhu lalu, Ervin membimbing dalam sholat dan mengaji.
...----------------...
Di meja makan sudah tersaji beberapa masakan yang baunya sudah menguar di udara. Membuat Ervin yang menatap makanan itu berasa... ngiler. Untung saja tidak sampai ngences tuh.
“Bagaimana tidur kalian, nyenyak?” tanya pak Irham.
“Alhamdulillah nyenyak kok, Pa...”
Semua mata seketika menatap ke arah Laura. Dan andai saja kalian tahu bagaimana tatapan itu ditujukan... penuh curiga.
“Tadi katanya... NYENYAK. Kok masih ngantuk saja sih, Ra.” Humaira terkekeh geli.
“Ehm...” Ervin hanya berdehem saja.
Laura memperhatikan keluarganya lalu, ia pun menjawab dengan santai. Menjelaskan apa yang membuatnya kurang tidur. Bahkan Laura mempelajari sesuatu hal yang sebelumnya tidak pernah dipelajari. Seolah Laura menemukan kehidupan baru dari semesta.
...----------------...
“Abang mau berangkat ke rumah sakit dulu ya! Ingat, nanti waktu jam makan siang Abang akan pulang dan makan siang bersama Adek. Siapin yang spesial buat Abang ya!” pesan Ervin yang ingin dimanja sama Laura.
“Siap! Nanti aku belajar sama Mama dan bik Rina. Pokoknya yang spesial buat Abang.” Laura mengacungkan jempol.
“Oh iya, jangan lupa setorannya juga, okay. Sepuluh menit saja biar Abang tambah sayang sama Dek Laura. Tidak ada penolakan.” Ervin mencium kening Laura.
Laura salim dengan penuh takzim. Motor scoopy yang biasanya digunakan Ervin bekerja dan kemanapun sudah melaju kencang sampai tidak terlihat lagi dalam pandangan mata Laura.
“Dor! Senyum-senyum mulu, lihat gigi tuh sudah kering.” Humaira ikut berangkat ke rumah sakit.
__ADS_1
Laura hanya mencebik saja, abai dengan ucapan Humaira yang mengejeknya. Mungkin itu adalah rasa cinta yang sudah mulai tumbuh di dalam hati Laura. Meskipun awalnya sulit, atas ijin dan ridho Allah Laura maupun Ervin bisa membuka hati masing-masing. Dan keduanya mampu lapang dada dalam menerima takdir.
...----------------...
Ervin memutuskan untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Ia merasakan rindu pada keluarga bang Jamal. Setelah menikah Ervin belum pulang kesana, paling tidak kini sepuluh menit saja di sana akan mengobati rindunya. Sekalian mengambil baju untuk dibawa ke rumah Laura, karena mulai saat itu Ervin akan tinggal di rumah pa Irham.
”Assalamu'alaikum,” ucap salam Ervin setelah berada di depan pintu.
“Waalaikumsalam.” Terdengar suara kak Sita dan bang Jamal dari dalam.
Tidak lama kemudian pintu terbuka lebar, kak Sita yang berada di balik pintu menyambut Ervin seperti biasanya. Karena pada dasarnya tidak ada hal berubah bagi kak Sita maupun bang Jamal.
Obrolan berlanjut dengan santai tetapi, hanya sepuluh menit saja. Karena Ervin harus kembali ke rumah sakit hendak bekerja sekalian memeriksa kondisi Leon.
...----------------...
Ervin mengenakan snelinya sebagai tanda pengenal. Setelah itu ia menemui suster Rani dan menanyakan data pasien yang harus ditangani pada hari itu.
“Untuk hari ini tidak ada jadwal operasi, Dok. Hanya melakukan visite saja dan ada juga dia pasien yang mau kontrol.” Suster Rani menjelaskan.
Ervin mengangguk tanda mengerti. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, Ervin menuju ke ruang rawat pasien hendak melakukan visite.
Seperti biasa, Ervin akan menebar senyum pada semuanya, pasien ataupun orang yang berlalu lalang di depannya. Karena keramahan adalah ciri khas Ervin sebagai dokter muda yang disegani banyak orang.
“Alhamdulillah, sekarang sudah selesai melakukan visite. Dan pasien yang akan melakukan kontrol apa sudah datang?” tanya Ervin.
“Sepertinya belum, Dok. Karena ... tadi Profesor Nathaniel merubah jadwal pembukaan kontrol pada jam sebelas siang.” Suster Rani mengingat kembali pesan Profesor Nathaniel.
“Kenapa begitu? Apa ada hal penting yang akan dilakukan setelah ini?” tanya Ervin lagi.
“Iya, Dok. Kita diminta untuk bertemu di ruang rapat. Sekarang katanya.” Suster Rani tersenyum ramah.
Ervin mengangguk, ia akan bersikap biasa saja. Hanya rapat dan rapat yang ada dalam pikirannya, tak lebih dari itu.
Sesampai di ruang rapat semua sudah berkumpul termasuk dengan Aurora. Sejenak tatapan antara Ervin dengan Aurora bertemu tetapi, seketika itu Ervin segera memalingkan wajahnya. Karena Ervin sudah berjanji pada dirinya sendiri dan juga Laura untuk menjaga hatinya dari perempuan lain.
Setelah Ervin dan suster Rani mengambil duduk dengan nyaman tak lama kemudian rapat pun telah dimulai.
‘Apa jarak yang seperti yang harus terjadi antara kita?'
🌹🌹🌹
__ADS_1