
...Jika merasa ragu, diamlah dan renungkan. Setelah itu ikuti kata hatimu, melanjutkan langkah atau berhenti pada titik yang sama....
...----------------...
Setelah medapatkan panggilan darurat dari rumah sakit tempatnya bekerja Ervin segera menancapkan gas pada motor scoopy nya agar cepat sampai. Namun, pada kenyataannya malam itu kota Medan terlalu banyak kendaraan bermesin lainnya yang memenuhi jalan raya yang luas. Sehingga Ervin terjebak macet dan dapat dipastikan akan terlambat untuk sampai di sana.
“Ah sial! Kenapa harus macet segala sih, Ya Allah. Ya Rabb... tolong percepat lah laju kendaraan di depanku ini.” Ervin bermonolog dalam hati.
Sepersekian detik kemudian, akhirnya lampu jalan telah berganti warna hijau. Kendaraan mesin lainnya sudah kembali melaju, begitu juga dengan kendaraan milik Ervin.
Hampir dua jam lamanya Ervin menempuh perjalanan, bisa dibilang cukup panjang. Jika bukan karena macet, Ervin akan menempuh perjalanan sekitar satu jam saja.
Setelah memarkirkan motor di bagian parkir para dokter Ervin seketika menuju ke ruangannya. Ia ingin memastikan kenapa dipanggil dan dipinta untuk segera datang ke rumah sakit.
“Tidak ada siapa-siapa di ruangan ku. Lantas, kenapa aku di panggil?” tanya Ervin dalam hati.
Ketika Ervin masih diselimuti dengan rasa penasaran, tiba-tiba pintu ruangannya yang tertutup rapat telah diketuk secara pelan.
“Masuk saja,” pinta Ervin lirih.
“Permisi, Dok. Saya ijin masuk, saya mau konsultasi tentang...”
“Jangan bilang kalau kamu mau meminta saya untuk memeriksa perut kamu lagi. Jangan gila seperti kakak mu itu!” peringat Ervin.
“Tapi, tunggu! Bukannya ini bukan waktu untuk konsultasi, kan?” tanya Ervin memastikan.
Laura pun mengangguk, membuat kedua alis Ervin berkerut. Dan Ervin menunggu jawaban Laura sebagai penjelasan, karena Laura tak kunjung memberikan alasan.
Hening...
Laura, perempuan yang berusia hampir berkepala tiga. Dan perempuan itu sebentar lagi akan menikah, tetapi ia ragu untuk melanjutkan pernikahan dengan calon suaminya. Begitu juga saat ini, Laura merasa enggan untuk menceritakan bagaimana kehidupannya, di mana semesta seolah tak menginginkan kebahagiaan darinya.
belum sempat menceritakan dan berkonsultasi tiba-tiba ada panggilan darurat yang mengharuskan Ervin ikut bertindak di bagian ruang IGD. Hingga membuat pertemuan antara Laura dengan Ervin harus ditunda lagi.
Deg.
Ervin kembali bertemu dengan Aurora, karena Aurora memang bertugas di bagian ruang IGD. Tetapi, Ervin mencoba bersikap biasa saja. Layaknya seorang dokter yang profesional dalam bekerja.
“Kita lakukan pertolongan bersama. Berikan CPR pada korban kecelakaan itu, jika tidak bisa lakukan kejut jantung di dalam ruang IGD nanti.” Aurora mengangguk.
Meskipun keduanya adalah dokter ahli bedah jantung, tetapi pelatihan yang dimiliki Aurora tidak sebanding dengan yang dimiliki Ervin.
Aurora berada di atas tubuh korban dan melakukan CPR agar jantung korban bisa kembali berdetak. Sampai-sampai Aurora banjir peluh di pelipis, punggung dan bahkan hampir seluruh tubuhnya basah karena keringat.
__ADS_1
Namun, hasilnya tak memuaskan bagi seorang dokter. Bagaiman tidak, setelah melakukan pertolongan pertama pada korban tapi, Allah lebih menyayangi korban kecelakaan itu.
“Pada pukul 24.30 WIB korban kecelakaan atas nama pak Rahardian dinyatakan meninggal dunia.”
Dengan sedikit bersedih Aurora menyatakan kematian pak Rahardian. Ingin rasanya ikut menangis kala melihat pihak korban yang telah meninggal. Tapi, itulah tugas serang dokter selain menyembuhkan pasti akan melihat korban meninggal.
Setelah bekerja keras Aurora memutuskan untuk mengambil duduk di rooftop. Di sana Aurora mendaatkan kesegaran dari udara yang berhembus di malam itu.
“Ini minum untukmu. Kita harus bisa bekerjasama dengan baik, karena kita adalah partner. Benar, kan!” ucap Ervin seadanya.
“Kamu benar, kita adalah partner. Tapi ... Kita tidak bisa dipersatukan dalam ikatan yang lebih, Ervin.”
“Apa kamu masih berharap untuk kita bersama?” tanya Ervin.
“Berharap? Rasanya harapan itu tidak akan pernah ada. Lantas kenapa harus memiliki harapan yang lebih? Jalan kita berbeda Ervin.”
“Untukmu agamamu dan untukku agamaku. Kita sama-sama tidak bisa memilih salah satu dari dua pilihan itu. Dan ... aku pun tidak yakin akan meninggalkan apa yang sudah di turunkan dari nenek moyangku.”
Aurora sudah memperjelas bagaimana jalan takdirnya dengan Ervin. Seolah Aurora tahu bagaimana semesta yang tak merestui hubungannya dengan Ervin. Cukup harapan semu yang tak akan pernah terwujud. Dan dua pilihan di antara yang lain yaitu, meninggalkan dan melepaskan.
Setelah meneguk air mineral pemberian Ervin Aurora berpamitan hendak kembali ke ruangannya.
...----------------...
Aurora dan Ervin akhirnya sampai di sebuah tempat yang kerap dikunjungi oleh banyak orang. Dan tempat itu dikelilingi dengan beberapa tanaman bunga yang bermekaran, salah satunya adalah bunga kamboja, bunga khas yang tertanam di tempat itu.
Namun, tempat itu juga meninggalkan banyak kesedihan yang membuat mereka menitihkan air mata dan menyisakan sejuta luka serta kenangan. Seperti halnya kehidupan Damaris Samira Eliana.
“Aurora, kenapa kamu ingin ke makam Haura?” tanya Ervin memastikan.
“Aku hanya ingin menyerahkan kertas ini kembali kepada Haura, Ervin. Karena aku tidak ingin melakukan apa yang tertulis di dalam kertas ini.” Aurora menjawab sembari meletakkan selembar kertas yang terlipat rapi di atas makam Haura.
“Memangnya kertas apa itu?” tanya Ervin tanpa menolah pada Aurora.
Sejenak Aurora terdiam, mencoba memikirkan jawaban apa yang akan diberikannya kepada Ervin. Dan di dalam hatinya pun bertanya-tanya tentang Ervin yang harus mengetahui surat itu atau tidak.
Namun, Aurora tak dapat membohongi segala rasa yang bergejolak di dalam hatinya. Jantung yang berdegup kencang dan tatapan lembut yang dirasakan saat berada di dekat Ervin, membuatnya menyimpan segala rasa yang sudah dinamakan jatuh cinta.
Yah ... awalnya Aurora begitu membenci Ervin dari segala sisi yang berpusat pada Ervin. Akan tetapi, setelah Ervin sudah menolongnya dengan setulus hati, perasaan benci pun berubah menjadi rasa bersalah dan juga kagum terhadap sosok Ervin dari ketampanan, jiwa sosial dan juga kepedulian yang tinggi.
Dan perlahan hubungsn itu berubah menjadi persahabatan. Apalagi ketika Haura memintanya untuk menjaga Ervin, di situlah perasaan yang bergejolak tinggi telah ia rasakan di dalam hatinya.
Namun, rasa itu harus ia hilangkan dari dalam hati dan hidupnya. Karena ia tidak mau jika, ia akan terluka dalam cinta yang berbeda kasta, tahta dan agama. Akan terlalu sulit untuk merobohkan tembok yang dibangun dengan kokoh dan begitu besar serta tinggi.
__ADS_1
‘Tidak. Ervin tak perlu tahu isi dari surat ini. Sebaiknya aku simpan kembali surat ini sebelum Ervin mengambilnya.’
Setelah berpikir cukup panjang, akhirnya Aurora kembali mengambil selembar kertas yang di lipatnya dengan rapi. Lalu, ia kembali berdiri dan menatap Ervin sembari memberi jawaban alibinya saja.
“Emm ... Bukan apa-apa kok. Isinya juga tidak penting, hanya berharap saja jika, Haura bisa membaca pesanku melalui surat ini.”
Namun, Ervin tidak mempercayai ucapan Aurora. Dan Ervin juga tidak mau memaksa Aurora, itupun dilakukan demi membuat kenyamanan yang ada saat berada di dekat Aurora.
“Emm ... baiklah.” Ervin manggut-manggut.
“Oh iya, pasien atas nama laura semalam menemuiku.”
Aurora pun mengalihkan topik pembicaraan agar keheningan tak menemani mereka. Dan Ervin sendiri, ia langsung menolah ke arah Aurora yang berada di sampingnya.
“Untuk apa Laura menemuimu? Apa kamu juga diminta untuk memeriksa perutnya? Dan bagaimana hasilnya, hamil atau tidak?”
“Ervin, sebelum kamu tahu tentang Laura, bolehkah aku bertanya?”
“Silahkan.”
“Bagaimana jika kamu mengalami kebimbangan?”
Ervin menghela napas panjang, perlahan ia hembuskan setelahnya ia menjawab pertanyaan Aurora.
“Jika merasa ragu, diamlah dan renungkan. Setelah itu ikuti kata hatimu, melanjutkan langkah atau berhenti pada titik yang sama.”
“Kita itu manusia yang memang diciptakan dengan banyak permasalahn dalam hidup. Dan kita juga bukanlah manuisa yang terlalu bodoh dalam merangkai masa depan. Berusaha pun tak akan pernah cukup jika tanpa diselingi dengan doa.”
“Sudah jam sembilan ini, sudah waktunya kita kembali ke rumah sakit.” Ervin menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Baiklah, ayo kita kembali.”
Sebelum benar-benar meninggalkan makam Haura, Ervin dan Aurora tak lupa menaburkan bunga di atas gundukan tanah yang sudah mengring. Hanya saja tanah itu tertutupi dengan rumput hijau yang memberikan keindahan.
Brukk.
Ervin tanpa sengaja menabrak seorang perempuan yang berjalan tanpa melihat. Hampir saja perempuan itu terjatuh di atas makam orang lain, untung saja Ervin dengan siaga menangkapnya.
Deg... Dug... Deg... Dug...
Suara ritme jantung yang terdengar sedang tidak baik-baik saja.
Pratakkk.
__ADS_1
Hati Aurora patah kala melihat ERvin sedang beradu tatap dengan perempuan yang saat ini berada di pelukan Ervin.
🌹🌹🌹