
...Manusia itu hanyalah makhluk hidup yang telah diciptakan dengan banyak kekurangan. Tetapi, manusia itu juga makhluk yang diciptakan dengan kelebihan....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ervin menempuh perjalanan dengan motor matic nya. Meskipun gaji yang didapatkan perbulannya sudah lebih dari lima juta, tetapi Ervin tidak mau mengganti kendaraannya dengan sebuah mobil. Karena Ervin merasa nyaman dengan apa yang dipakai saat ini. Lagipula, uang hasil kerjanya tidak ingin di sia-siakan begitu saja. Selain ditabung untuk masa depannya kelak, sebagiannya juga diberikan pada bang Jamal untuk membantu sekolahnya Raza.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam akhirnya Ervin sampai juga di rumahnya. Rumah sederhana, tetapi selalu memberikan kenyamanan tersendiri untuknya.
“Assalamu'alaikum, Bang-Kak.” Ervin membuka pintu lalu, masuk ke dalam.
“Wa'alaikumussalam,” balas Kak Sita dan bang Jamal dari arah yang berbeda.
Karena bang Jamal habis selesai sholat maghrib, jadi bisa dipastikan bang Jamal dari ruangan yang sengaja disediakan untuk sholat saja, Dan sedangkan kak Sita sedang berada di dapur.
“Nah, kebetulan sekali kau sudah pulang, Ervin. Abang mau minta bantuan sama kau,” ucap bang Jamal sambil menghampiri Ervin yang melewatinya.
“Ada apa, Bang? Kalau tidak penting Ervin mau mandi setelh itu istirahat. Ervin capek soalnya, tapi ... Lapar juga sih.” Ervin menperlihatkan giginya saat nyengir.
Bang Jamal mencebik saja, tetapi bukan berarti bang Jamal tidak mempedulikan rasa lelah yang membuat Ervin nampak lesu. Dan rasa peduli itupun bewujud kasih sayag yang meminta Ervin untuk mandi terlebih dahulu.
“Ah nanti sajalah, lebih baik sekarang kau mandi saja dulu. Biar wajah kau itu nampak lebih segar. Dan jangna lupa untuk tetap menjalankan sholat wajib kita.”
Ervin mengangguk, setelah itu pergi ke kamarnya hendak meletakkan tas kerjanya di atas meja belajrnya. Lalu, Ervin menyegarkan tubuhnya dengan kucuran air dingin agar serkulasi darahnya bisa mengalir dengan baik.
Namun, saat masih membasahi rambutnya tiba-tiba bayangan Haura melintas dalam ingatannya.
...****************...
Pov Haura
Malam itu sudah memasuki pukul 19.00 WIB. Keluarga bang Jamal baru saja selesai sholat berjamaah. Meskipun rumah yang dmiliki amatlah sederhana, kontrakan yang hanya bisa menampung tanpa ada kelebihan ruangan khsusu untuk sholat. Dan hanya ruang tamu lah yang saat itu digunakan untuk sholat isya' berjamaah.
Ervin menggelar tikar untuk dijadikan tempat berjamaah dibantu Raza yang masih berusia sembiln tahun.
Setelah usai sholat berjamaah tiba-tiba saja pintu kontrakan yang tertutup rapat terbuka lebar secara kasar.
__ADS_1
“Siapa kalian?” tanya bang Jamal setelah melihat lima orang lelaki berbadan gempal yang menggeledah rumahnya tanpa permisi terlebih dahulu.
“Sudah satu minggu, dan kini saatnya kau, anak muda membayar hutang yang sudah dimiliki Jamal dari uangku.” Seorang lelaki paru baya tiba-tiba muncul dari belakang.
Dan benar saja waktu satu minggu telah berlalu. Ervin tidak menyadari waktu yang sudah beralu itu akan membuatnya lupa dengan hutang yang sudah ia yakini bisa membayarnya.
Namun, kenyataannya uang hasil dari angkot tidak sampai terkumpul lima juta. Rasanya saat itu juga ingin sekali Ervin meminjam uang kepada Profesor Nathaniel tetapi, Ervin merasa malu. Pasalnya ia sudah menolak perjodohn dengan Aurora.
“Baba berhenti! Jangan dekati kehidupan Ervin lagi. Kenapa sih, Babatidak pernah memiliki perasaan sama sekali.” Seorang perempuan tiba-tiba saja datang dan beteriak dengan lantang.
Lelaki paru baya yang kerap dipanggil seorag juragan itu berbalik. Menatap tajam perempuan yang memanggilnya dengan sebutan baba.
“Buat apa kamu datang kesini, Haura?” tanya juragan yang bernama Haidar.
“Haura hanya tidak mau Baba menyakiti Ervin lagi. Cukup tiga tahun lalu saja Baba menghancurkan keluarganya. Baba pasti ingat kan, dengan pak Hardiyanto dan bu Aminah? Dia lah lelaki yang Baba pisahkan dengan Haura dulu.” Tanpa ada keraguan lagi Haura membela Ervin secara terang-terangan.
Pak Haidar mengepal erat kala megingat masa itu. Masa dimana Haura sengaja dipindah sekolah oleh pak Haidar dengan alasan tidk boleh memiliki hubungan dengan Ervin dari kalangan miskin.
Seelah megingat hal itu pak Haidar menyimpan amarah yang memuncak. Amarah yang tidak bisa ditahan lagi. Sebuah pistol dalam genggaman tangan pak haidar telah terangkat dan ditujukan ke arah Ervin. Karena pak Haidar tidak mau jika Erviin akan kembali menjalin hubungan dengan Haura.
“Tiidaakk ... Ervin minggirrr...” Haura berteriak lalu, berlari.
Dorrrr...
Peluru telah meluncur dan tepat mengenai sasarannya.
“Aarrggghhh.”
Bersamaan dengan teriakan darah segar pun meluncur dari dada Haura. Haura merintih kesakitan, ia seoalh tdak bisa menahan rasa nyeri yang di dadanya itu.
“Hauraaa...” Terdengar suara seorang perempuan paru baya berteriak memanggil nama Haura.
Tepat dengan teriakan iu tubuh Haura pun ambruk di tanah. Ervin yang melihat di depan kepala matanya sendiri tak kuasa menahan tangis.
Ervin berlari menghampiri tubuh Haura yang sudah tergeletak di tanah. Haura memegangi dadanya yang berdarah.
__ADS_1
“Haura putri Bunda, bertahanlah, Nak. Hiks ... Hiks... Hiks...” Bunda Rania pun menangis histeris.
“B-b-bunda... J-j-jangan m-menangis. I-ikhlaskan H-h-haura untuk p-pergi ya.” Haura asih berusaha untuk menenangkan Bundanya meskipun hars terbata-bata.
Saat berada di samping Haura ingin rasanya Ervin membrikan pertolongan pertama. Namun sungguh sangat di sayangkan, karena nyawa Haura tidak bisa diselamatkan setlah meminta Ervin menuntunnya membaca syahadat.
...----------------...
Ervin mengepalkan tangannya. Ia merasa menjadi lelaki lemah jika setiap saat bayangan itu kembali hadir, bahkan bayangan itu telah menghantuinya stiap saat.
“Tidak Ervin, jangan seperti ini terus. Jika setiap saat begini, maka pikiranmu sendiri yang bisa gila. Ingat ada Allah yang sudah mengatur semuanya.”
Ervin kembali mengguyur tubuhnya lalu, setelah selesai mandi Ervin memakai pakaian sholatnya. Baju koko putih dan sarung bermotif wayang selalu menjadi pakaian kesayangan Ervin kalau berada di rumah.
Setelah usai menunaikan sholat maghrib Ervin menuju ke ruang makan. Rasa lapar yang melanda serasa tidak bisa ditahan lgi. Denga lauk tempe goreng, tahu goreng dan tumis kangkung Ervin makan dengan lahap.
“Pelan-pelan makannya, kayak nggak makan satu tahun saja.” Suara kak Sita mengejutkan Ervin.
“Kenapa kau, Ervin? Tak biasanya saja kau begitu. Apa ... kau sedag ada masalah, hm?” tanya kak Sita ketika tak mendapatkan respon dari Ervin.
Ervin masih menikmati makannya yang tiggal sedikit lagi. Dan sepersekian detik kemudian, Ervin telah usai makan malam, tak lupa dicuci sekalian piring yang digunakan saat makan tadi.
“Kak, sebenarnya aku merasa capek. Bayngan Hauraentah kenapa akhir-akhir ini selalu menghantuiku. Rasanya ... Tadi di rumah sakit ada bayangan Dia juga.” Ervin mendesah pilu mengingat wajah perempuan dan juga nama yang hampir sama dengan Haura.
“Ervin, manusia itu hanyalah makhluk hidup yang telah diciptakan dengan banyak kekurangan. Tetapi, manusia itu juga makhluk yang diciptakan dengan kelebihan.”
“Kekurangan kamu saat ini ... kurang mendekatkan diri kepada Allah. Ingatlah, ketika manusia semakin dekat dengan Allah maka pertolongan Allah akan selalu hadir untuk hambanya yang membutuhkan.”
“Kakak hanya bisa menasehati mu saja, karena kakak juga tak yakin bisa membantumu dalam hal lain. Ya sudah, sholat isya saja dulu, setelah itu jangan lupa baca mushaf. Sudah lama pula kan, kau tak baca mushaf?”
Ervin mengangguk_membenarkan ucapan kak Sita. Setelah itu ia pun beranjak dan masuk ke kamar.
Setelah menjalankan sholat dan membaca mushaf Ervin merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sederhana. Kasur yang memberikan kenyamanan walaupun hanya cukup untuk satu orang saja.
Kedua mata Ervin hampir saja terlelap, tetapi tiba-tiba saja handphonenya berdering tanda ada sebuah panggilan yang masuk.
__ADS_1
🌹🌹🌹