Couple Doctor

Couple Doctor
Kemarahan Ervin


__ADS_3

...Tolong mengertilah jika, Allah saat ini sedang memberi hatimu sedikit kepedihan. Akan tetapi percayalah! Suatu saat nanti Allah akan menggantikannya dengan kebahagiaan seluas langit....


...----------------...


Pov Bunda Rania


Siang itu bunda Rania sengaja tidak ikut pulang bersama bang Jamal, kak Sita dan Raza. Karena saat itu bunda Rani mmiliki tujuan lain yang dirasa amatlah penting baginya.


Selain rasa rindu yang ingin ditorehkan melalui sebuah pelukan, bunda Rania juga berharap dalam lubuk hatinya yang terdalam. JIka, bunda Rania juga ingin berada di dekat Humaira_menemaninya setiap wakatu layaknya seorag ibu terhadap putrinya yang sedang bersedih.


“Aku rasa aku harus mengatakannya sekarang. Hati ini tidak lagi bisa menahan kerinduan selama bertahun-tahun.” Keputusan itupun sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.


Saat semua masih berada dalam mode hening, saat itulah bunda Rania memutuskan untuk memulai mengatakan sebuah kebenaran.


“Humaira Hilya Nafhisa. Bunda kangen sama kamu, Nak. Bolehkah bunda memelukmu layaknya seorang ibu kandung?” tanya bunda Rania separuh berharap.


Pak Irham, bu Veronica dan juga Humaira sendiri menatap bunda Rania yang berdiri di depan mereka. Mereka saling pandang, pasalnya mereka juga tidak mengerti perkataa yang dimaksud bunda Rania.


“Maaf sebelumnya, tapi ... Maksudnya apa ya dari perkataan Anda tadi? Dan ... Bagaimna Anda bisa tahu dengn nama lengkap saya?” tanya Humaira memastikan.


“Saya adalah ibu kandungmu. Saya merasa sangat yakin kamu adalah putri bunda, kembaran dari Haura Hilya Nafisha. Karena wajah kalian berdua benar-benar mirip, hampir tak ada bedanya.”


Deg.


Tiba-tiba Humaira merasa jika jantungnya berhenti berdetak, napasnya pun tercekat bahkan, bibirnya terbungkam seribu bahasa. Dalm diamnya, Humaira masih berusaha menelaah ucapan bunda Rania.


Ingin rasanya tidak percaya begitu saja dan mengatakan jika yang diucapkan bunda rania adalah suatu kebohongan saja.


Namun, mengingat jika benar ia hanyalah anak yatim piatu yang diadopsi oleh pak Irham dan bu Veronica serta Humaira juga mengingat dengan mkam yang namanya hampir sama dengannya. Saat itulah Humaira mulai mempercayainya.


Akan tetapi, rasanya sulit untuk meneima siapa dirinya dan siapa kedua orang tua kandungnya. Meskipun bunda Rania nampak cantik dan anggun tetapi, bagi Humaira masih terasa menyakitkan untuk menerima begitu saja. Hingga yang ada hanyalah rasa sakit hati dan kebencian.


“Anak Bunda, ijinkan Bunda untuk memelukmu, Nak.” Bunda Rania mendekat.


Seketika Humaira, pak Irham dan bu Veronica berdiri. Humaira menepis tangan bunda Rania yang hampir meraih tubuhnya.


“Tidak semudah itu rasanya untuk menerima kenyataan pahit. JIka Anda benar ibu kandung saya, lalu kenapa Anda membuang saya dan hanya membawa satu bayi Anda? Apa bedanya saya dengan saudari kembar saya hingga begitu teganya Anda meninggalkan saya?” tanya Humaira seraya menatap bunda Rania dengan tatapan penuh kebencian.


Kemarahan yang sudah berkobar di dalam hati Humaira membuat bunda Rania tidak bisa mengatakan kejujuran saat itu juga. Hingga terciptalah sebuah keheningan yang menemani mereka.


Pak Irham maupun bu Veronica hanya diam, mereka bukan berarti tidak mempedulikan Humaira, hanya saja mereka ingin mendengar penjelasan bunda Rania.


...----------------...


Ervin dan Laura tidak bisa mencerna dengan pasti setiap yang mereka bicarakan, karena jarak yang cukup jauh.


“Kita kesana saja untuk memastikan apa yang terjadi.” Hati Ervin mulai tidak tenang saat melihat bunda Rania menangis.


Laura menurut saja, karena ia sebagai keluarga merasa khawatir dengan yang terjadi_yang tidak diketahuinya.

__ADS_1


Sesampai di sana Laura menghampiri kedua orang tuanya, menatap sang kakak yang sudah menangis terisak. Terlepas dari tangisnya tiba-tiba Humaira pun berlari entah kemana akan pergi.


Bunda Rania dan semuanya menceritakan apa yang telah terjadi pada Ervin dan juga Laura. Dan keduanya pun tak kalah terkejutnya. Bahkan Ervin merasa sedikit kecewa dengan bunda Rania yang tidak pernah mengatakan apapun padanya sebelumnya.


“Bun, kenapa menjadi seperti ini?” tanya Ervin.


“Maafkan Bunda, Ervin. Karena itu sudah terjadi sangat lama dan Bunda juga tidak pernah memikirkan bisa bertemu lagi dengan Humaira. Hiks... Hiks...”


“Maaf, bukan maksud saya lancang. Tapi, sebagai orang tua angkat Humaira saya merasa khawatir dengan kondisi tubuh, hati dan mental Humaira saat ini. Apalagi kita tidak tahu kemana Dia pergi.”


Ervin memijat keningnya yang kembali berdenyut. Sungguh ia tidak bisa berpikir dengan jernih sore itu. Selain tubuhnya yang sudah terkuras ia pun juga harus beristirahat.


“Abang, are you okay? Apa ... Kita kembali ke ruangan saja supaya abang bisa istirahat.” Laura menghampiri Ervin yang sedang duduk.


“Tidak. Aku baik-baik saja kok, jangan khawatir. Hanya sedikit pusing saja,” tolak Ervin.


Laura menghembuskan napas kasarnya, karena sebenarnya ia juga tidak rela meninggalkan mama dan papa nya saat seperti ini. Pasalnya, kedua orang tua Laura merasa sangat begitu khawatir dengan Humaira.


Hening...


Hari sudah mulai gelap tetapi, tidak ada tanda jika Humaira kembali. Setelah pak Irham berusaha mencari keberadaan Humaira di sekitar rumah sakit tapi, hasilnya tetap nihil.


“Bagaimana ini Ervin, Bunda tidak tahu dimana Humaira. Pasti Dia terguncang dengan semua ini. Bunda benar-benar khawatir sama Dia, Ervin.” Bunda Rania masih menangis di samping Ervin.


Ervin sendiri tidak bisa berbuat apapun, karena ia pun tidak tahu apa yang harus dilakukan. Keberadaan Humaira saja Ervin tidak tahu.


Ervin melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Lalu, Ervin merogoh saku bajunya hendak mengambil ponsel miliknya. Kan tetapi, bukan berarti ia akan mencoba menghubungi Hmaira tetapi, ia menghubungi orang lain.


“Aku lagi keluar sama Abimana. Kebetulan malam ini Abimana tidak sedang bertugas. Tapi ... Ada apa ya?” Aurora berbalik bertanya.


Ketika kepala Ervin masih berdenyut nyeri, justru ia mendapatkan pertanyaan bodoh dari Aurora. Hingga amarahnya pun tidak bisa ia kontrol.


“Kamu bertanya ada apa, Aurora? Apa tugasmu kurang jelas sebagai dokter? Apa kamu hanya bisa mementingkan urusanmu saja? Apa kamu lupa dengan kondisi yang kritis tadi, hah?” Ervin benar-benar marah.


Semua mata tertuju pada Ervin, karena kemarahan Ervin nampak terlihat jelas. Namun, Ervin tidak mempedulikan pandangan mereka terhadapnya. Bahkan saat itu juga Ervin melepaskan jarum infus yang menempel di punggung tangannya. dan hal itupun membuat semua terkejut.


“Bang, kenapa jarumnya dilepas? Abang masih perlu diinfus loh,” ucap Laura.


Ervin tidak menjawab, ia melenggang pergi menuju ruang kerjanya. Lalu, diraihnya sneli yang sudah bersih dan dipakainya. Ervin pun meminta suster Rani untuk ikut dengannya melakukan visite terhadap Leon. Mengingat kondisi Leon yang masih mengkhawatirkan harus sering dilakukan pemantauan.


“Dek Laura, boleh abang minta tolong?” tanya Ervin dengan nada lembut.


“Minta tolong apa, Bang?”


“Belikan aku makanan, karena aku merasa ... sangat lapar. Dan aku juga mau minum obat setelah melakukan visite agar pusing dikepalaku bisa red. Apa kamu bisa membelikan saya makanan, Dek Laura?”


Laura mengangguk, ia mengiyakan permintaan Ervin. Dan sebelum Laura benar-benar pergi Ervin kembali memesan sesuatu pada Laura agar sekalian membelinya.


...----------------...

__ADS_1


Tutt... Tutt... Tutt..


Hanya suara layar monitor defibilator yang mengisi ruangan itu. Ervin yang sudah terbiasa berada di ruangan tersebut, ia tidak terlalu khawatir ataupun takut. Karena motifnya hanya satu menyelamatkan pasiennya. Dan saat misi penyelamatan hati dan pikiran seorang dokter diharuskan tenang, tidak boleh gugup ataupun panik.


Setelah memastikan jika kondisi Leon sudah jauh lebih baik kini Ervin bisa bernapas dengan lega. Setelahnya, Ervin meminta suster Rani untuk pulang, karena jam ganti shif sudah berlangsung.


“Dokter Ervin sudah baik-baik saja? Atau masih membutuhkan sesuatu,”


“Tak apa, jangan khawatir. Hanya masih sedikit pusing saja, nanti setelah minum obat akan sembuh. Kamu pulanglah! Saya akan berjaga disini memantau semuanya.” Ervin mengangguk pelan, meyakinkan pada suster Rani bahwa ia benar bisa melakukan tugasnya dengan baik.


...----------------...


“Kenapa belinya cuma satu? Buat kamu mana? Kan, kamu belum makan juga.” Ervin mengernyitkan keningnya.


“Aku... Tidak nafsu makan, Bang. Aku masih memikirkan keberadaan kak Humaira. Walaupun bukan kakak kandungku tapi, aku sangat menyayanginya dan aku juga peduli sama kak Humaira.” Wajah Laura pun berubah menjadi sendu.


“Abang tahu akan hal itu tapi, bukan berarti kamu mengabaikan diri kamu sendiri. Ingat, kamu juga perlu makan dan minum obat. Sini, Abang suapin kamu.” Ervin menyodorkan satu sendok nasi besert lauknya ke mulut Laura.


Namun, Laura masih bungkam. Hatinya masih gelisah memikirkan keberadaan Humaira yang entah dimana.


Ervin tidak menyerah begitu saja, ia tetap memaksa Laura untuk membuka mulut. Hingga akhirnya Laura pun luluh dan membuka mulutnya secara perlahan.


“Nah gitu dong, kita makan bersama ya! Makn dalam satu wadah seperti ini sunah loh, seperti Baginda Nabi Muhammad SAW.”


Meskipun nampak malu-malu tetapi Laura juga merasakan nikmat. Sampai-sampai satu bungkus nasi telah habis karena di makan berdua.


“Minum obatnya gih, jangan sampai telat.” Laura mengangguk.


“Kembalilah bersama keluarga kamu di ruang tunggu. Abang akan mencari dimana Humaira berada, Abang jamin Abang tahu dimana Dia.”


Laura mengangguk saja, karena ia tidak mau membantah ataupun memiliki pikiran curiga terhadap Ervin. Laura juga akan selalu mengingat setiap pesan Ervin.


...----------------...


Ervin mengulas senyumnya tipis, karena dugaannya tadi telah benar. Dan Ervin sudah menemukan dimana Laura berada.


“Tolong mengertilah jika, Allah saat ini sedang memberi hatimu sedikit kepedihan. Akan tetapi percayalah! Suatu saat nanti Allah akan menggantikannya dengan kebahagiaan seluas langit.”


Humaira menoleh pada pemilik suara. Nampak jelas kedua mata Humaira sembab krena terlalu lama menangis. Humaira abai saja dengan kedatangan Ervin. Perempuan itu masih berlarut dalam kesedihan.


Ervin mengambil duduk di samping Humaira.


“Kenapa kamu bisa kesini? Dai mana kamu tahu juga akalau aku da disini. Hiks ... Hiks...”


“Insting saja, karena kamu itu masih sama seperti ... Haura.” Ervin mulai menatap langit yang dihiasi kemerlip bintang.


Deg.


Seketika itu Humaira menoleh pada Ervin.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Jangan lupa boom like nya ya kakak! Tinggalkan jejak.


__ADS_2