Couple Doctor

Couple Doctor
Lelaki Sholeh


__ADS_3

...Jika lukamu sedalam laut maka ikhlasmu harus seluas langit....


...----------------...


Sebagai seorang dokter muda yang memiliki motivasi dan tujuan terpenting dalam hidupnya yang selama ini ingin Ervin dedisakikan untuk rumah sakit tersebut, ia tak ingin memiliki sifat malas bahkan mementingkan kepentingan pribadinya saat rumah sakit membutuhkan tenaganya demi pasien.


“Aku baru tahu jika namamu adalah Leon Bumantara. Dan aku akui kau memiliki ketampanan yang lebih dariku. Kau ... Menang Tara.” Ervin mnghembuskan napas beratnya.


Saat netra Ervin masih menatap tajam wajah yang saat ini nampak pucat itu tiba-tiba seseorang tengah berdehem, membuat Evin terperanjat.


“Ehm ... Saya akui jika kamu patut untuk diandalkan, Ervin. Maafkan dokter junior yang lain yang tidak sepertimu termasuk... Aurora.” Profesor Nathaniel menghampiri Ervin.


“Semua dokter itu tidak memiliki keahlian khusus yag bisa diandalkan, Prof. Tapi, itu adalah tugas yang wajib dilkaukan seorang dokter demi kesembuhan pasiennya. Mungkin... Saya juga salah sudah marah sama Aurora atas sikapnya. Tapi, jujur saya ... Kecewa.” Ervin hanya tidak mau menjadi dokter yang suka mencari muka di depan Profesor Nathaniel.


“Bisa kita bicara di luar? Tidak baik jika kita mengobrol di sini sedangkan kamu tahu pasien membutuhkan waktu istirahat.” Ervin mengangguk.


Ervin melepas baju hijau yang membalut pakaiannya malam itu. Lalu, ia berjalan di belakang mengekori Profesor Nathaniel yang sedang menuju ke kantin.


Karena kini pemilik rumah sakit sudah diatas namakan Profesor Nathanie jadi, terserah Profesor Nathaniel mau pulang atau tidak.


Setelah sampai di kantin Profesor Nathaniel memesan dua cangkir kopi sebagai minuman hangat yang akan menemani merek saat mengobrol.


“Bagaimana pernikahanmu? Panggilan darurat tadi tidak mengganggu acara kamu, kan?” tanya Profesor Nathaniel.


“Alhamdulillah, acara pernikahan sayan lancar, Prof. Tapi ya... Begini resiko dari seorang dokter, tidak bisa bersama saat keadaan darurat.” Ervin tersenyum kecut.


Profesor Nathaniel tertawa kecil, ia sangat paham sekali bagaimana yang dirasakan Ervin saat ini. Saat muda pun Profesor Nathaniel pernah merasakannya hingga rumah tagganya telah dihadirkan seorang putra yang bernama Samudra Jenggala Geraldo.


“Setelah pasien atas nama Leon nanti sudah sadar dan membaik, saya akan memberikan hadiah atas pernikahanmu. Dan kamu ... Bisa menikmati waktu bersama istrimu.”


Ervin tersenyum, meskipun tidak menjadi mennatu Profesor Nathaniel tetapi, Profesor Nathaniel masih tetap saja bersikap baik dan tidak memiliki rasa benci terhadap Ervin. Bahkan Profesor Nathaniel memiliki rasa bangga yang berlipat dengan cara kerja Ervin yang sudah profesional layaknya seorang dokter yang bisa dihandalkan.


Sejenak keheningan menerpa. Dan untuk mengusir hening yang ada kedua nya menikmati kopi yang ada di depan mata setelah itu, obrolan kembali dilanjut yang berkaitan dengan kondisi Leon yang masih koma. Dan entah kapan Leon akan sadarkan diri.


Malam sudah semkain larut saja. Tanpa dirasa obrolan mereka sudah sampai jam dua belas malam lebih lima belas menit. HIngga akhirnya mereka harus mengakhiri obrolan tersebut karena harus segera beristirahat.

__ADS_1


...----------------...


Ervin duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruang ICU. Sebentar-sebentar Ervin memijat lehernya yag terasa pegal. Rasa pusing pun masih saja melanda kepalanya. Hingga hari itu membuat Ervin benar-benar merasa lelah.


“Kenapa tiba-tiba jadi merasa dingin seperti ini ya,” ujar Ervin lirih.


Ervin mengambil selimut yang biasanya dipakai oleh pasien. Setelahnya, ia merebahkan tubuhnya di atas kursi dan menyelimuti tubuhnya hingga dada. Perlahan rasa kantuk pun melanda karena efek obat yang beberapa jam lalu sudah diminum oleh Ervin.


Rasa dingin terus menghantui saja meskipun Ervin sudah mengenakan selimut yang menutupi tubuhnya itu. Namun, tiba-tiba Ervin merasa benar-benar hangat hingga membuat tiidurnya pulas tanpa mengigau.


...----------------...


Sangat pagi sekali Humaira sudah rapi dengan seragamnya. Karena menginap di rumah sakit jadi, Humaira terpaksa mandi di rumah sakit. Akan tetapi, tidak dengan Laura. Karena Laura tidak membawa baju ganti dan untuk pulang saja tidak diijinkan oleh Ervin.


“Pulang saja dulu! Mandi biar segar dan dandan biar cantik. Ingat, kau sudah menjadi seorang istri da kau harus pandai berdandan... Pelakor sedang meraja lela loh di luar sana.” Humaira terkekeh.


“Apaan sih kak Humaira ini. Nanti kalau aku pulang terus bang Ervin nyariin aku bagaimana coba?”


“Tenang saja Dia tidak akan marah jika aku katakan kau pulang. Dia lelaki yang baik kok, tenang saja, pasti aman.” Humaira mengangkat jempolnya.


Dan akhirnya Laura memutuskan untuk pulang sebentar sekedar mandi. Dan ketika akan kembali ke rumah sakit nanti ia juga akan membawa masakan untuk sarapan.


“kompres? Siapa yang sudah mengompresku?” tanya Ervin dalam hati.


Ervin memegang kain basah yang mulai mengering itu dan ia berusaha mengingat siapa yang sudah melukannya hingga demamnya turun.


“Alhamdulillah kalau kau sudah bangun. Sepertinya demam kau juga sudah turun.” Humaira menngambil duduk di sebelah Ervin.


Ervin mengernyitkan keningnya. Lalu ia pun bertanya pada humaira daripada memupuk rasa penasaran yang meresahkan hatinya saja.


“Bagaimana kau tahu kalau aku demam? Dan ... Apa kau juga tahu siapa yang sudah mengompres ku semalam?” tanya Ervin.


Humaira mengangguk penuh mantap.


“Iya aku tahu. Yang melakukan semua itu laura. Dia minta bantuan ku untuk meminta obat juga ke pihak apotek.” Laura berkata jujur.

__ADS_1


“Bagaimana bisa Laura tahu kalau aku demam? Bukankah Dia sudah tidur bersama kau di ruanganku.”


“Iya benar, tadinya begitu. Tapi...” Humaira menceritakan tentang Laura.


“Dan ... Harusnya kau juga tahu bahwa Laura sudah menjadi tulang rusuk kau. Dia akan tahu dan ikut merasakan apa yang kau rasakan.”


Ervin berbunga-bunga, ia merasa beruntung telah ditakdirkan dengan Laura. Perempuan yang tidak pernah ia kenal sebelumnya tetapi, memiliki rasa sayang dan peduli padanya. Walaupun perasaan cinta belum mengisi hati keduanya.


Dan Ervin akan menerapkan kalimat yang pernah diucapkan ‘tresno jalaran soko kulino'. Kalimat yang begitu bermakna bagi seorang Ervin setelah beberapa kali searching di google dengan bahasa Jawa.


“Aku akan berusaha menerapkan kalimat itu dalam hidupku. Aku akan terus mengerti bagaimana dan seperti apa melakukan hal romantis dengan Laura.” Ervin membayangkan Laura dengan senyuman yang menggoda.


“Sorry. Semalam kamu mengigau menyebut nama... Haura. Dan aku merasa, kamu tertekan dengan keadaan selama ini. Tapi, selama ini kamu tidak pernah memperlihatkan hal itu. Bahkan kamu terlihat baik-baik saja menghadapi kenyataan.”


Ervin seketika menyurutkan senyumnya, ia lupa jika masih ada Humaira di sampingnya. Dan rasanya Ervin ingin menenggelamkan diri di bawah tanah saja menyembunyikan rasa malunya saat tersenyum sendiri membayangkan wajah Laura yang amat elok.


“Aku hanya ingat satu nama yaitu, Allah. Karena saat mengingat Allah aku merasa tenang. seperti halnya satu kalimat yang harus kamu ingat juga saat ini.”


“Jika lukamu sedalam laut maka ikhlasmu harus seluas langit.”


“Mungkin hidupku telah ditulis dalam skenario Allah dengan segala kesusahan dan cobaan yang akan selalu menerpanya. Tetapi, ketika hati dan bibir terus melantunkan dzikir maka kita akan jauh dari sifat dengki dan marah. Dan yang ada hanya sabar dan ikhlas.”


Humaira mengangguk, kali ini ia menyadari jika Ervin memang lelaki yang sholeh. Lelaki yang patut untuk dikagumi bahkan dimiliki. Tak salah saja jika banyak perempuan yang ingin mengantri menjadi istrinya tetapi, yang terpilih tak lain adalah Laura, adik Humaira sendiri.


Humaira menyunggingkan senyum, ia bersyukur telah mengenal Ervin yang jauh dari ekspetasi nya. Lelaki sabar dan sholeh, membuat Humaira tenang melepas Laura bersanding dengan Ervin.


“Emm... Laura dimana ya? Kenapa aku tidak melihatnya?” tanya Ervin.


Pertanyaan itu membuat Humaira menepuk jidat. Pasalnya ia lupa tidak memberitahukan lebih dulu pada Ervin jika Laura pulang.


“Jangan marah ya! Soalnya... tadi Laura aku minta pulang untuk mandi dan berganti pakaian. Kasihan Dia, gerah katanya.”


Ervin manggut-manggut, ia mengerti bagaimana keadaan saat itu yang memaksa Laura tetap tinggal di rumah sakit. Dan itu tak lain adalah permintaannya, untung saja Laura mengiyakan saja tanpa ber protes.


“Aku tak akan marah pada istriku sendiri. Aku memang benar suaminya, tapi aku juga tidak ingin memberikan tekanan padanya.” Ervin beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


Ervin pun pergi meninggalkan Humaira, ia ingin mencuci muka saja karena kondisi tubuh yang masih sedikit merasa dingin membuatnya tak berani mengambil resiko yang lebih.


Pagi itu Ervin mendapatkan kabar jika akan ada tamu yang ingin bertemu dengannya.


__ADS_2