Couple Doctor

Couple Doctor
Perlahan Telah Menghilang


__ADS_3

...Aku hanya berdoa kepada Allah, patahkan hatiku jika aku telah melakukan hal yang tidak sepasntasnya dan jatuhkanlah hatiku pada yang tepat....


...----------------...


Tepat pada pukul tiga dini hari Ervin sengaja terbangun dari tidurnya, karena sudah terbiasa bangun pada sepertiga ke-tiga untuk melakukan sholat sunnah yang dianjurkan Allah.


Setelah mencuci menggosok gigi, mencuci muka dan mengambil air wudhu Ervin merasa segar dan tidak lagi merasa kantuk.


“Huft! Bismillah...” Ervin menggelar sajadah panjangnya di atas lantai.


Dengan khusu' Ervin memulai takbir hingga akhir, yaitu salam. Dan kini setelah dua rakaat telah selesai dijalankan Ervin berdzikir sebentar sebelum menengadahkan tangan membaca doa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.


“Ya Rabby ku yang paling Agung, hamba kini kembali menghadap Engkau. Kembali mengeluh dan mengeluh, maaf jika selama hidup di dunia-Mu yang fana ini hamba kerap megeluh.”


“Ya Allah... Hamba yang tak luput dari segala dosa memohon ampunan pada-Mu. Hamba menyadari bahwa banyak dosa yang sudah hamba lakukan, seperti mencintai makhluk-Mu yang tak seharusnya hamba cintai melebihi cinta kepada-Mu. Maafkanlah hamba ya Allah. Aamiin.”


Tangan yang menengadah telah mengaminkan doa yang panjang, doa yang akan tetap diakhiri dalam satu kata ... Aaminn.


Setelah usai melakukan sholat tahajud Ervin memutuskan untuk tidak tidur kembali. Dan Ervin memutuskan untuk membaca mushaf sejenak sampai adzan subuh berkumandang.


Setengah jam sudh terlewati dengan begitu cepat, tak lama kemudian terdengar suara adzan telah dikumandangkan dengan merdu. Ervin yang masih menjaga wudhu nya segera mengambil posisi hendak menunaikan sholat subuh.


...----------------...


Matahari pagi mulai menyapa kota Medan pada hari itu. Berhubung hari minggu Ervin yang tidak sedang betugas di rumah sakit memutuskan untuk berolahraga pagi di tempat yang nyaman dan menyejukkan. Namun, itu hanyalah niatan keinginan Ervin pagi itu.


“Mau kemana kamu, Ervin?” tanya bang Jamal yang tidak sengaja melihat Ervin keluar dari kamarnyadengan mengenakan pakaian olahraga.


“Mau olahraga lah, Bang. I ya kali mau ke rumah sakit pakai pakaian begini,” jawab Ervin apa adanya.


“Abang itu tahu, tapi olahraga kemana kau itu? Kalau jauh kan, tak bisa pergi. Ingatlah, motor kau sedang berada di bengkel.”


Ervin menepuk jidatnya pelan. “Oh iya, lupa.”


Bang Jamal hanya terkekeh saja melihat tingkah Ervin, tetapi dalam hati bang Jamal juga merasa iba terhadap kisah hidup Ervin yang berliku. Namun, qadarallah ... Semua takdir sudah direncanakan oleh Allah dan diatur sebaik-baiknya dalam skenario-Nya.


“Emm ... Ya sudah, Ervin lari pagi saja disekitar sini. Oh iya Bang, dimana Raza? Sekalian aku ajak Raza saja,” putus Ervin kemudian.


“Dia sudah lari pagi dari tadi ... Jam lima.” Bang Jamal terkekeh.


“Ya salam, kenapa itu bocah tidak ngajak-ngajak aku pula sih,” sungut Ervin.


“Bukan tak ingin ajak kau, tapi Raza berpikir jika kau merasa lelah saja setelah kemarin bekerja seharian. Jadi, dia tak mau ganggu kau istirahat.”


“Nah, itu Dia anaknya sudah balik.”


Tepat pada pukul setengah tujuh pagi Raza sudah nampak kembali dari kegiatannya. Sedangkan Ervin, mulai saja belum. Padahal matahari mulai naik dan terik saja.


Sehingga Ervin mengurungkan niatnya dan kembli masuk ke dalam rumah. Sedangkan Raza, lelaki remeja itu tak hentinya meledek Ervin yang seolah kesiangan bangun. Namun, Ervin tak marah sama sekali dengan ledekan Raza.


...----------------...

__ADS_1


Ervin yang sedang duduk di teras depan setelah melakukan sarapan bersama ia pun menatap benda pipihnya yang berada dalam genggaman.


“Halo, assalamu'alaikum, Fan.”


“Waalaikumsalam, Bang. Ada apa ya? Apa mau tanya soal motornya?”


“Iya, aku mau keluar cari udara segar soalnya. Sudah selesai dibenahi apa belum?” Ervin berbalik bertanya.


“Sudah, Bang. Ini baru saja kelar dibenahi.”


Ervin manggut-manggut, setelah menutup teleponnya dengan salam ia pun langsung pergi menuju ke tempat Alfan berada.


Dengan menempuh perjalanan lima belas menit akhitnya Ervin sampai juga di bengkel milik keluarga Alfan. Dan setelah memberikan selembar kertas bernilai lima puluh ribu pada tukang ojek Ervin segera masuk ke dalam, karena Alfan berada disana.


“Bang Ervin mau kemana sih? Rapi banget.”


Ya, selama diluar jam kerja Ervin meminta siapapun untuk memanggilnya tanp harus ada embel-embel dokter di awal namanya.


“Mau ikut ke pemakamannya Arlos. Tadi pagi Laura ngabarin aku kalau pemakaman Arlos pagi ini jam delapan.”


“Ya sudah ya, aku berangkat dulu. Nanti keburu sudah mulai,” pamit Ervin.


“Iya bang Ervin, silahkan! Hati-hati di jalan, Bang!” peringat Alfan.


Ervin melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Karena jam masih menujukkan pukul 07.30 WIB, maka Ervin bisa menjangkau tidak akan terlambat.


...----------------...


Seluruh anggota keluarga Laura ikut berbela sungkawa saat acara pemakaman berlangsung. Isak tangis pasti akan terdengan memilukan saat hanya kenangan yang akan menghibur mereka nantinya.


“Selamat tinggal Arlos! Meskipun aku tidak pernah bertegur sapa apalagi bertemu denganmu, aku ... Doakan kamu semoga ditempatkan disisi Allah. Tempat terindah ... Surga-Nya Allah. Aamiin.” Ervin berjongkok seraya mengusap batu nisan yang sudah tenggelam bersama sebagian tanah yang masih basah itu.


Ervin berdiri dan memberikan ruang pada Laura yang ingin ikut medekat. Laura pun mengusap batu nisan Arlos dengan air mata yang masih setia menemaninya.


“Pak-Bu, saya tahu ini sangatlah berat bagi keluarga kalian. Dan ... Saya mengucapkan belasungkawa atas apa yang terjadi.”


“Iya, Dokter Ervin. Dan setelah ini kami akan membujuk kembali Laura agar Dia mau melakukan operas sebelum semakin parah nantinya.”


“Kalau itu terserah kalian. Tapi ... Semkin cpat maka akan semakin baik pula nantinya. Dan saya pun siap kapan saja melakukan operasinya.”


Kedua orang tua Laura mengangguk, mereka menyetujui yang disarankan oleh Ervin.


Sepersekian detik kemudian, Ervin berpamitan undur diri. Sedangkan kedua orang tua Laura masih berada disana mengobrol dengan kedua orang tua Arlos.


‘Saat sesi pemakaman tadi ... kenapa aku tak melihat Humaira berada disana saya? Dimana perempuan itu berada?’ tanya Ervin dalam hati kecilnya.


Ervin kembali menyapu keadaan sekitar untuk memastikan keberadaan Humaira. Hingga pandangannya pun tertuju pada makam yang tidak asing baginya.


“Itu ... Humaira, kan?”


Ervin menuju ke tempat pemakaman tersebut dan memastikan jika disana adalah Humiara.

__ADS_1


“Kenapa kamu termenung di sini?”


“Aku ... Hanya penasaran saja dengan makam ini. Kenapa namanya hampir mirip dengan namaku, hanya bagian depannya saja yang berbeda. Aku ... Penasaran dengan pemilik makam ini.” Humaira menjawab tanpa menoleh ke arah Ervin.


Ervin tersenyum tipis. Pertanyaan yang diajukan Humaira membuatnya mengingat satu hal, yaitu wajah yang sama.


“Dirimu perlahan telah menghilang, Ra. Begitu juga dengan ... Aurora. Setelah menikah nanti pasti dunianya akan berbeda. Dan surat yang kamu tulis pun tak akan pernah terjadi, Ra.”


“Karena ... Aku tetaplah aku dan Aurora akan tetap mejadi Aurora. Semua yang dulu perlahan telah menghilang. Yang ada hanya dunia kita yang berbeda, Ra. Dan itu kenyataannya.”


Tak dapat dipungkiri saat memori pahit itu telah menyelinap masuk dalam pikiran Ervin lagi. Perlahan air mata jatuh ke bumi.


Tes ...


“Kamu ... Menangisi makam ini, Ervin?”


Ervin segera menyeka air matanya. Lalu, ia pun berdiri di depan Huamira.


“Ayo pulang! Sudah siang ini, nanti kulitmu menghitam baru tahu rasa.” Humaira mencebik saja.


Ervin melenggang pergi tanpa menengok ke belakang.


“Ervin, Tunggu! Kamu belum menjawab pertanyaanku.” Humaira berlari kecil mengejar Ervin.


...----------------...


Di sebuah taman, tak jauh dari makam.Ervin dan Humaira duduk bersantai disana. Menghirup angin yang berhembus pelan.


“Aku dengar ... Peempaun yang kamu cintai itu sudah mau menikah. Apa benar itu?” tanya Humaira memulai obrolan.


“He'em, kenapa memangnya? Apa kamu mengejekku?”


“Tidak. Hanya penasaran saja dengan apa yang aka kamu lakukan selanjutnya. Takutnya kamu ... Melakukan hal nekat saja nantinya.”


“Hahaha... Ya tidaklah. Memangnya kamu pikir aku segila itu? Dengar ya, aku justru bersyukur Allah telah mematahkan hatiku seperti ini.”


“Kenapa begitu?”


“Karena AKu hanya berdoa kepada Allah, patahkan hatiku jika aku telah melakukan hal yang tidak sepasntasnya dan jatuhkanlah hatiku pada yang tepat.”


“Kenapa arus capek-capek memikirkan jodoh yang belum halal dimiliki, apalagi tak bisa abadi Bukankah seharusnya kita memikirkan kematian yang pasti akan abadi. Kita sebagai manusia ... Cukup tahu diri.”


Humaira mengagguk, menyujui apa yang diucapkan Ervin tentang kebenaran yang ada. Namun, satu hal yang masih membuat Humaira penasaran dengan yang terjadi antara Ervin dan makam yang namanya hampir sama dengannya.


Karena tidak mau menyimpan penasaran yang berlebih Humira pun memberanikan diri untuk bertanya pada Ervin.


“Ikutlah denganku jika, kamu masih penasaran dengan pemilik makam tadi.”


“Kemana?”


“Ke tempat motorku berada. Karena dompetku ada di sana.” Humaira pun menurut saja.

__ADS_1


Deg.


🌹🌹


__ADS_2