
...Tak akan pernah lupa sebagaimana janji yang sudah terucap dengan lantang. Dan akan aku serahkan seluruh jiwa raga ku untuk memprioritaskan tujuan utama ku. ...
...----------------...
Di ruang rapat itu Aurora harus menerima kehadiran Ervin versi terbaru dengan lapang dada. Perasaan cinta dan suka yang hadir sejak dulu jelas tidak bisa hilang dengan semudah membalikkan kedua tangan. Akan ada masa di mana Aurora harus benar-benar ikhlas menerima takdir yang ditetapkan oleh semesta.
“Ra, andai kamu tahu kalau Ervin sekarang adalah sosok lelaki yang memiliki tanggungjawab besar. Bahkan, tugasnya begitu besar selain menjadi dokter kini Dia sudah menjadi seorang suami. Dan tepatnya... bukan suamiku. Tapi, suami seorang perempuan yang bernama... LAURA.”
Setelah acara rapat usai Aurora memutuskan untuk berziarah ke makam Haura. Surat yang dulu masih dalam genggaman tangannya, kini Aurora sudah benar-benar mengembalikan surat itu di atas gundukan tanah yang terhiasi dengan rumput-rumputan hijau_yang rapi.
“Tugasku sudah selesai Ra, cukup disini kisahku dengan Ervin. Karena semesta tahu kita tidak akan pernah bisa bersatu sampai kapanpun. Jangan sedih, maaf banget aku tidak bisa berjanji apapun.”
“Oh iya, besok aku akan menikah dengan lelaki yang bernama Abimana. Emm... Dia cukup tampan sih, tapi kalau boleh jujur masih tampan seorang Ervin.”
“Akh sudahlah! Aku tidak akan membahas apapun lagi tentang Ervin karena... semua benar-benar sudah berakhir.”
Aurora memgusap batu nisan Haura lalu, senyum pun terukir di bibir Aurora kala mengenang masa pertama kali dipertemukan dengan Haura dan juga... Ervin.
...----------------...
Ketika jam makan siang tiba Ervin segara bergegas menuju kediaman pak Irham. Kini Ervin mulai menjadi sosok lelaki yah tidak sabaran, dalam arti disini tidak sabar untuk segera berjumpa dengan Laura.
Kota Medan yang disinari dengan teriknya matahari kala siang itu membuat Ervin tidak mengeluh sama sekali. Seakan-akan suasana siang itu telah meredup dan mendamaikan hati meskipun pada kenyataannya cahaya matahari bisa menembua kulit kala orang itu berada di bawahnya.
Teriknya matahari terus Ervin terjang tanpa merasa lelah. Hingga akhirnya ia pun tiba di kediaman pak Irham. Dan setelah memarkirkan motornya di garasi Ervin mengucap salam.
“Assalamu'alaikum,”
“Waalaikumsalam.”
Tidak lama kemudian pintu terbuka, Ervin disambut Laura dengan penuh suka cita. Seperti kebiasaan yang dianjurkan dalam islam, Laura segera menyalami Ervin dengan penuh takzim. Begitu halnya dengan Ervin, mendaratkan kecupan di kening Laura.
“Bagaimana, Adek sudah siap, kan?” tanya Ervin.
“Insya Allah, siap kok, Bang.” Laura bertutur dengan begitu lembut.
Dan ini adalah Laura versi terbaru, jauh dari Laura sebelum mengidap penyakit yang dideritanya saat ini.
Ervin meletakkan tas kerjanya di kamar. Lalu, ia mengekori Laura dari belakang yang menuju ke ruang makan. Di meja panjang itu sudah tersaji beberapa makanan yang menyehatkan untuk tubuh manusia. Karena semenjak Laura difonis mengidap penyakit jantung yang berada di bilik kanannya bu Veronica selalu memperhatikan pola makan dan makanan apapun yang seharusnya dikonsumsi Laura.
“Abang mau makan pakai lauk apa?” tanya Laura.
“Apa saja, terserah Dek Laura saja mau menyiapkan apapun pasti Abang makan kok.”
__ADS_1
Humaira yang mendengar bualan Ervin hanya memutar bola matanya jengah. Dan Humaira harus bisa terbiasa mendengar akan hal itu nantinya.
“Gombal ah Abang ini. Kalau nanti aku siapin nasi sama telur dadar saja memangnya mau?” tanya Laura seraya melirik wajah Ervin.
“Tak apa, itu juga sudah termasuk rejeki yang patut disyukuri. Masih untung bisa makan nasi sama telur dadar, coba bayangin kalau orang di luar sana masih susah payah dulu untuk bisa mendapatkan makanan walaupun sekedar nasi tanpa lauk dan pauk. Apa tak lebih kasihan?”
Deg!
Bersedekah adalah suatu hal yang tulus dari hati, bukan? Tetapi, pak Irham lupa akan hal itu karena terlalu sibuk mengejar kerasnya dunia. Dan kini setelah mengenal Ervin pak Irham seolah merasa tertampar keras dengan ucapan Ervin.
“Sudah-sudah, jangan ribut! Cepat siapkan makanan untuk suami kau itu Laura. Kasihan Dia, sudah lapar setelah bekerja.” Bu Veronica melerai obrolan itu.
Acara makan siang bersama pun telah dimulai tetapi, sebelumnya Ervin akan melakukan hal yang wajib baginya.
Ervin menengadahkan tangannya dan berdoa sebelum makan. Setelah usai tak lupa Ervin mengaminkan.
‘Ya Allah, betapa beruntungnya aku mendapatkan lelaki dengan versi terbaiknya.’ Monolog Laura.
Wajah Laura merona meskipun tidak mendapatkan bualan, rayuan yang manis ataupun hadiah spesial dari Ervin tetapi, perlakuan Ervin sudah membuat Laura semakin jatuh hati saja.
Dua puluh menit sudah acara makan siang berlangsung. Dan setelah usai Ervin mengajak Laura ke kamar lalu, menunaikan sholat dzuhur bersama.
“Persiapkan hafalannya ya, Dek!” ucap Ervin mengingatkan.
Empat rakaat telah usai ditunaikan. Kini keduanya duduk saling berhadapan satu sama lain di atas sajadah yang masih terbentang. Dengan suara yang pas-pasan Laura mulai membacakan setoran pada Ervin dan masih dalam surat yang sama.
“Qala rabbi anna yakụnu li gulamuw wa kanatimra ati 'aqiraw wa qad balagtu minal-kibari ‘itiyya.”
Pada ayat ke enam dalam surat Maryam Laura mampu menghafalnya dengan lancar. Tetapi, Laura masih belum begitu faseh dalam membaca yang benar sesuai bacaan tajwid yang ada. Dan itu adalah menjadi tugas Ervin untuk mengajarkan Laura agar bacaannya lebih faseh dan lebih benar lagi.
“Alhamdulillah, bacanya sudah mulai lancar. Tapi perlu diingat, masih harus belajar dan belajar lagi. Jangan lelah untuk belajar ya, Dek!” tutur Ervin lembut.
“Sekarang dengarkan baik-baik, karena Abang akan membacakan artinya.” Laura mengangguk.
“Pada ayat ke enam ini Zakaria berkata: ‘Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua’.”
Deg!
Nyeri rasanya mendengar arti surat Maryam ayat ke enam. Laura seakan tertampar dan berubah insecure kala mendengarnya dari bibir Ervin sendiri. Seketika Laura menunduk, menyembunyikan kesedihan yang ada dan berusaha kuat meskipun hatinya telah runtuh dan kembali goyah.
“Tidak perlu insecure dalam ayat ini. Ingatlah Dek, Allah adalah Tuhan sebaik-baiknya pengatir dalam kehidupan hambanya. Mungkin saat ini kita tidak bisa tetapi, ketika kita tidak mudah menyerah dan terus berikhtiar Abang yakin Allah akan mempermudahkan kita mendapatkan anak.” Ervin menggenggam tangan Laura memberikan kekuatan.
“Tapi, bagaimana kalau usaha kita akan tetap sama saja hasilnya, Bang? Karena Abang juga tahu bagaimana kondisiku saat ini.”
__ADS_1
“Ya... kalau tidak bisa mendapatkan anak kandung kita bisa kok adopsi nantinya. Lagipula banyak sekali anak-anak di panti asuhan yang membutuhkan kasih sayang orang tua. Terutama seperti kita ini,” ucap Ervin meyakinkan Laura.
“Memangnya Abang mau begitu?”
Ervin mengangguk mantap. Karena Ervin juga tahu bagaimana nasib anak-anak yang dilentarkan oleh orang tuanya. Apalagi mengingat nama sekarang, berani berbuat tidak berani bertanggungjawab dengan alasan malu untuk mengakui. Entahlah, mengapa jaman sekarang sudah menggila dengan hawa nafsu saja tanpa memikirkan bagaimana resiko yang ada.
...----------------...
Ervin harus kembali ke rumah sakit karena masih ada tugas pembahasan rapat yang belum usai. Dan pembahasan di sana masih seputar pasien dengan penyakit jantung.
“Kita lakukan kerjasama. Karena tanpa tindakan kita tidak bisa menyembuhkan ataupun memberikan keputusan pada keluarga mereka.” Profesional Nathaniel mengajukan pendapatnya.
“Tapi sebelum bertindak kita juga harus memikirkan hal lain seperti, akibat dari tindakan kita agar tidak terjadi di luar kendali kita. Jika kita melakukan kesalahan fatal maka, itu akan merugikan kita, rumah sakit dan juga keluarga pasien. Tidak mudah juga dalam memberikan tindakan.”
“Iya benar itu, Dokter Ervin. Dan saya setuju dengan Dokter muda kita yang satu ini. Meskipun kita seorang dokter senior tetapi kita harus bisa menelaah ucapan dokter junior kita. Karena tidak selamanya dokter senior adalah dokter yang paling hebat.”
“Jadi, bagaimana keputusannya?”
“Bagaimana kalau kita tetap melakukan tindakan itu setelah kita mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga. Kita yakinkan pada keluarga pasien untuk menyetujuinya.”
“Tapi... bagaimana cara meyakinkan mereka?” tanya Aurora.
“Aku yang akan meyakinkan mereka.” Ervin menatap lima dokter yang berada di sana.
Dokter senior pun menyetujui hasil tindakan yang akan dikerjakan. Dan Ervin mulai bertindak seketika itu juga. Karena hatinya sangat nyeri melihat pasien yang akan dilakukan operasi besar itu kala mengingat Bapaknya yang tidak bisa tertolong karena terlambat dalam tindakan.
...----------------...
Seorang lelaki paru baya telah terbaring lemah di atas brankar dengan alat-alat media yang menempel di dada lelaki yang berusia empat puluh lima tahun itu.
Ervin mendekati keluarga pasien lalu, memulai obrolan dan menjelaskan apa yang akan mnjadi tindakan dari pihak dokter ahli bedah jantung.
“Bagaimana jika operasinya gagal, Dok? Apa bisa kami menuntut para dokter dan rumah sakit ini karena sudah melakukan kesalahan?” tanya isteri pasien.
“Bisa. Tapi sebelumnya Ibu tolong dengarkan saya dengan baik-baik.”
“Saya tak akan pernah lupa sebagaimana janji yang sudah terucap dengan lantang. Dan akan saya serahkan seluruh jiwa raga saya untuk memprioritaskan tujuan utama saya... menyelamatkan pasien.”
“Tolong! Percayakan semuanya kepada kami, kami akan melakukan yang terbaik dengan alat-alat terbaru di rumah sakit ini. Percayalah, Bu!”
Setelah berusaha meyakinkan keluarga pasien akhirnya telah berakhir dengan kata... setuju. Keluarga pasien menyetujui sebuah tindakan yang akan dilakukan dokter hebat di rumah sakit itu.
Namun, operasi yang akan dilakukan tidak seketika akan dijalankan pada hari itu juga. Akan membutuhkan waktu dalam penentuan nya tetapi, tidak juga terlalu lama.
__ADS_1
🌹🌹🌹