
...Ada sebuah kebahagiaan yang tak pernah kita ketahui yaitu, kebahagiaan yang harus kita terima dengan cara melepaskan orang lain....
...----------------...
Kedua lelaki yang hampir se-usia itu masih saling tatap dengan tajamnya. Pasalnya, dokter Abimana tidak memiliki rasa ke-tidak suka-an terhadap Ervin. Bagi dokter Abimana sosok Ervin hanyalah lelaki yang sengaja hadir menjadi dokter sok hebat saja dan ingin dikagumi banyak orang teruama, saat menolong pasien operasi caesar.
“Sudahlah! Aku tidak mau terlalu banyak basa-basi lagi karena, aku ... Cukup muak melihat tingkah kamu yang sok hebat itu, Dokter Ervin.” Dokter Abimana sudah tersulut amarah yang tidak bisa ditahan lagi.
Sedangkan Ervin yang tidak tahu maksud perkataan dokter Abimana hanya berdiri mematung, tatapannya memidai setiap pergerakan Abimana yang tersnyum semirk padanya.
“Saya tidak akan mengakui apa yang sudah saya lakukan, yang menurut kamu itu adalah sebuah kesalahan. Karena pada kenyataannya saya tidak melakukan kesalahan apapun.” Ervin berusaha memberikan pembelaan.
“Hahaha, itulah dirimu, Dokter Ervin. Dan ... Baiklah, saya aka maafkan kamu tanpa kamu harus meminta maaf padaku. Saya yakin, apa yang kamu lakukan mala itu adalah sebuah kesalahan. Dan saya harap kamu idak lupa bagamana kamu melakukan operasi itu.” Dokter Abimana masih tidak bisa terima jika Ervin adalah dokter yang menyelamatkan pasiennya.
Ervin menarik napas panjang, lalu ia hembuskan dengan pelan. Ia mengusap dadanya, tak hentinya melantunkan dzikir dalam hati agar emosinya tetap terjaga sampai dokter Abimana pergi dari ruangannya tanpa harus mengusir secara kasar.
Namun, ternyata salah. Dokter Abimana masih tetap berdiri di sana hingga Ervin sendiri merasa jengah.
“Sebelumnya saya minta maaf jika saya telah mengatakan hal sedikit kasar pada Anda, Dokter Abimana.Tapi, ini sudah waktunya saya harus kembali bekerja jadi, saya mohon untuk keluar dari ruangan saya jika tidak ada lagi kepentingan yang lainnya.” Ervin masih berusaha bersikap sopan terhadap dokter Ervin.
Seketika dokter Abimana menatap tajam Ervin dan tatapan itu penuh dengan kemarahan. Bahkan dokter Abimana nampak mengepalkan tangannya erat, seolah ingin memberikan bogeman mentah saat itu juga.
Akan tetapi, belum sempat hal itu terjadi tiba-tiba saja Aurora masuk tanpa mengetuk pintu. Hingga kedua lelaki yang saling bertatapan itu menoleh ke arah pintu.
“Ups, sorry! Maafkan saya Dokter Abimana dan Dokter Ervin jika saya sudah mengganggu obrolan kalian. Kalau begitu, saya permisi!” ucap Aurora menahan malu.
“Tunggu! Dokter Aurora.” Ervin tak ingin membiarkan Aurora pergi begitu saja.
Aurora berbalik, lalu menatap Ervin dengan tatapan penuh tanya. Sedangkan saat ini, rasanya ia sudah campur aduk saja denga adanya dokter Abimana di sana.
Namun, Aurorabersaha untuk tetap besikap seperti biasa.
“Saya ingin bertanya kepada Anda tentang malam di mana kita melakukan operasi caesar. Dokter Aurora, bagaimana menurut Anda saat kita melakukan keputusan untuk mengoperasi caesar pada Bu Marianna?” tanya Ervin sengaja.
“M-maksud Anda apa ya, Dokter Ervin?” Aurora berbalik bertanya.
‘Apa sih, kenapa juga ERvin harus bertanya seperti itu di depan dokter Abimana sih?’ Aurora bertanya dalam hati.
__ADS_1
“Maksud saya, apakah kita sudah melakukan kesalahan saat dokter kandungan yang seharusnya berjaga di jam sekian, tapi pada kenyataannya ke-tidak hadirannya tidak ada.” Ervin sudah berada diujung kuku.
Dari sanalah Aurora menyadari jika memang di antara keduanya sedang tidak bak-baik saja. Dan itu justru semakin membuat posisi Aurora merasa serba salah.
Hening ...
Sepersekian detik kemudian, Ervin kembali mengulang pertanyaannya.
“Baiklah! Jika itu yang Anda maksud maka saya akan mnjawab sebegaimana seorang dokter seharusnya.”
“Saya akan tetap melakukan penanganan yang seharusnya dilakukan, karena ada seseorang yang berkata kepada saya jika hal yang paling diutamakan adalah keselamatan pasien. Walaupun pada akhirnya nanti Tuhan mengambilnya. Karena yang namnaya kematian tidak akan pernah ada yang tahu.“
Tangan dokter Abimana semakin mengepal erat. Bukan berarti saat itu juga dokter Abimana merasa kalah, justru hal itu adalah hal yang membuat dokter Abimana semakin menaruh kebencian terhadap Ervin.
Tanpa berpamitan atu apapun dokter Abimana melenggang pergi_meninggalkan ruangan Ervin begitu saja.
Dan kepergian dokter Abimana membuat Aurora semakin kikuk saja. Pasalnya kini yang berada di dalam ruangan Ervin hanyalah dirinya dan Ervin saja.
“Aku yakin, dia merasa tidak terima saja dengan keputusanku malam itu. Tapi ... Entah kenapa aku merasa jika ada hal lain yang membuatnya marah padaku,” celetuk Ervin.
Deg.
“S-sebenarnya ... Ada hal lain juga yang membuat dokter Abimana marah seperti itu.” Aurora mengatakan dengan ragu.
Ervin yang tadinya membuka data pasien yang hendak melakukan kontrol, medical check up dan melakukan pemeriksaan kelanjutan seketika menoleh dan menatap Aurora lekat.
“Apa maksud kamu, Ra? Apa yang kamu tahu tentang kesalahan lain yang membuat doker Abiman semarah itu padaku?” tanya Ervin penasaran.
Aurora tertunduk, ia tidak berani menatap Ervin.
“Ra, katkan saja! Agar ku juga tahu bagaimaa posisi ku di depannya.”
“I ... Itu ... Huft! D-dokter Abimana ... Dia pernah menyatakan rasa sukanya padaku.”
Deg.
Seketika jantung Ervin seolah berhenti berdetak. Ternya selama ini ia memiliki seorang saingan. Saingan? Bisakah itu dibilang sebagai sangan, sedangkan Ervin saja tidak pernah menyandang status sebagai pacar.
__ADS_1
“Lalu? Apa kamu menerima cintanya?” tanya Ervin yang berhasil menusuk relung jiwa Aurora.
Terasa begitu tajam. Ingin marah tetapi Aurora tahu, jika eputusan untuk bersahabat saja adalah dirinya.
“Tidak.” Aurora menggeleng.
Tok... Tok...
Saat obrolan masih bergulir tiba-tiba saja terdengar pintu telah diketuk dengan pelan. Hingga obrolan itupun harus dihentikan.
Saat pintu telah dibuka dari dalam oleh Ervin, Aurora pun berpamitan. Dan dibalik pintu ada bunda Rania yang hedak periksa tentang jantungnya.
Bunda rania adalah pasien Ervin yang mendapatkan nomor antrian pertama. Ervin melakukan sebagaimana dokter ahli bedah jantung melakukan tuganya.
Dimana Ervin memeriksa detak jantung dan juga lainnya.Dan ketika pemeriksaan sudah selesai, bunda Rania mengudarakan suaranya bukan sebagai sorang pasien melainkan sebagai sosok ibu yang memberikan nasihat pada putranya.
“Ervin, bunda ... Tidak sengaja mendengar obrolan kamu dengan Aurora. Dan bunda yakin, kamu merasa jika hatimu cemburu setelah kamu tahu ada lelaki lain yang juga mencintai Aurora.” Bunda Rania berkata dengan amat hati-hati.
Ervin yang sedang menuliskan resep obat tiba-tiba saja berhenti. Llau, ia menarik napas panjang dan menghembuskan secara perlahan.
“Cemburu itu ... Berdasarkan dari hati. Namun, bisa dikalahkan dengan kata ikhlas yang benar-benar dari dalam hati juga.”
“Ada sebuah kebahagiaan yang tak pernah kita ketahui yaitu, kebahagiaan yang harus kita terima dengan cara melepaskan orang lain.”
“Bund, jika Ervin mengatakan bahwa tidak cemburu maka Ervin adalah manusia munafik. Tapi, Ervin juga tidak akan mungkin menahan Aurora tanpa status yang jelas. Namun, satu hal yang pasti dari Ervin, Ervin akan ikut bahagia jika Aurora bahagia.”
Bunda Rania yang mendengar ucapan Ervin merasa terenyuh. Dan bunda Rania juga yakin jika, Ervin bisa melakukan itu meskipun sulit.
Karena bunda Rania tahu, dia adalah dokter Ervin Evano. Dokter ahli bedah jantung, yang suka menguji adrenalinnya saat berada di ruang operasi. Dan dia juga dokter yang memiliki rasa sabar, murah senyum, tetapi ada satu hal yang bukan mencerminkan dokter Ervin, tak lain adalah menyerah.
Ervin memang pantang menyerah, tetapi ... Dalam hal cinta yang jelas berbada agama Ervin tidak bisa melawan dan hanya bisa pasrah sebagaimana alur akan mengalir membawanya mengarungi dunia. Entah pahit atau manis.
“Minta lah petunjuk kepada Allah, karena kita tidak bisa seenaknya sendiri. Apalagi itu tentang Tuhan yang berbeda. Dan Bunda ... Hanya bisa berdoa bagaimna yang baik untuk kamu.” Bunda Rania mengusap punggung Ervin.
Sepersekian detik kemudian, pasien kedua telah masuk ke dalam ruangan Ervin.
Deg.
__ADS_1
🌹🌹🌹