
...Terkadang, Tuhan menghadirkan kehilangan bukan untuk ditagisi, tetapi itu melatih kesabaran pada hambanya agar jangan terlalu dalam mencintai orang lain....
...----------------...
Titik kehancuran seorang Ervin tidak hanya pada masa lalunya. Tetapi, ada rasa lain yang amat ia benci dan rasa itu tetap menghantuinya. Dan entah sampai kapan Ervin akan menghilangkan rasa bersalahnya untuk membuka hatinya kembali. Menerima cinta dan memperjuangkan cinta itu untuk disatukan.
Namun, terkadang apa yang direncanakan bisa berbanding balik, jauh dalam angan dan tak akan semulus yang kita inginkan. Karena takdir tetaplah Tuhan yang mengaturnya.
“Jatuh cinta itu menyenangkan saat tertawa bersama dan bahagia bersama ya, Ra. Namun, seketika berubah menyakitkan saat semesta tak memberi restu.” Ervin menoleh pada Aurora yang tetap duduk di sampingnya.
“Kamu benar, dan jika malam ini aku dan kamu tidak ditakdirkan mengobrol kemungkinan besar... aku tidak akan pernah tahu apa yang membuatmu acuh, dingin dan menolakku.” Aurora tersenyum kecut.
Deg.
“Aku hancur, Ra. Aku bagaikan ranting yang patah. Hingga tidak mudah menyusunnya kembali untuk menjadi utuh. Seperti halnya kaca yang pecah,” ungkap Ervin yang menyisakan luka.
Ervin hanya ingin mengatakan hal yang selama ini ia pendam sendirian. Bukan untuk membuat Aurora ikut bersedih saat mendengar keluh kesahnya yang penuh luka. Tetapi, malam itu hati seorang Ervin benar-benar tak mampu menampung lagi luka di dalamnya.
Terutama saat mengingat ibu paru baya yang sedang berjuang hidup dan menatap anak lelaki remaja yang sebelumnya bertemu dengannya, sungguh Ervin tak mampu. Hingga memori terpahit dalam hidupnya kembali terngiang-ngiang dalam pikirnya.
“Ervin, kamu memang ‘pernah’ terpuruk, tetapi bukan berarti itu adalah hal tersulit yang harus kamu lalui. Perpisahan pun bukanlah perihal kamu melupakan tetapi, mencoba kembali percaya untuk meletakkan hati kepada siapa.”
Hening...
Bukan Ervin tidak ingin meluapkan kepenatan yang membuat kepalanya pening. Hanya saja, Ervin butuh waktu untuk menghapus memori pahit itu walaupun hanya sejenak.
Sepersekian detik kemudian, suara bariton yang berpadu dengan suara parau itu kembali mengudara.
“Berat, Ra. Perihal melupakan... itu serasa sulit bagiku. Sedetik saat mengingatnya saja... dadaku terasa sesak. Lantas, bagaimana aku bisa melupakan pengorbanan Haura? Apa bisa aku bahagia di atas penderitaannya? Hiks... Hiks...”
Napas yang sudah teratur dan tangis yang mereda kini telah kembali menitipkan air mata. Memang tidak terlalu deras, tetapi seolah air bening itu tetap ingin mengalir membasahi pipi Ervin Evano.
Aurora tahu jika itu terasa berat bagi Ervin. Dan Ervin pun diraihnya dalam dekapan yang menghangatkan. Dan malam itu, tanpa Ervin sadari ia merasakan kenyamanan dan kedamaian saat ia masih dalam tangis.
“Menangislah jika itu akan membuatmu merasa lega. Dan menangis bukanlah hal yang terpuruk juga dalam hidup seorang lelaki.” Aurora mengusap lembut punggung Ervin yang rapuh.
Suasana malam yang tenang bagi keduanya di rooftop itu. Sampai-sampai seorang perawat yang melihatnya pun tidak memberanikan diri untuk menghampiri. Perihal laporan medis ibu paru baya yang bernama Asfiyah itupun harus ditunda untuk diberikan kepada Ervin.
‘Sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memberikan laporan medis pasien tadi kepada Dokter Ervin. Tapi... jika aku menyimpannya bagaiamana kalau aku disalahkan pula.’ Perawat itupun menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Bimbang, itulah yang dirasakan perawat itu sebelum benar-benar meninggalkan rooftop. Pasalnya hasil medis pasien atas nama Bu Asfiyah sangatlah penting. Jika tidak segera dilihat maka akan ada keterlambatan dari tim dokter untuk menyelamatkan nyawanya.
“Ehem...” Perawat itu berdehem cukup keras.
Hiks.
Sampai tiga kali berdehem perawat itu merasa terabaikan, pasalnya tidak ada yang merespon kehadirannya di sana. Lantas, perawat itupun meraba dadanya setelah ia kembali berusaha untuk menyapa.
“Maaf, permisi!” ucap perawat itu pada akhirnya.
Setelah mendengar ada suara orang lain di dekat mereka, seketika Aurora melerai pelukan yang ia berikan kepada Ervin. Begitu haknya dengan Ervin, ia menyeka sisa air mata yang masih membekas di pipinya.
“Maaf jika saya mengangguk waktu berdua Dokter Ervin dan juga Dokter Aurora. Tapi, saya hanya mau memberikan hasil medis bu Asfiyah kepada Dokter Ervin.” Perawat itupun menyodorkan beberapa lembar kertas hasil kesehatan medis bu Asfiyah.
Ervin menerima laporan tersebut, setakahnya oerawat itu secara pergi. Perawat itu tak ingin menganggu lagi suasana yng baginya romantis. Pasalnya jarang sekali Ervin dan Aurora berdekatan, karena mereka kerap tak saling bertegur sapa satu sama lain.
“Maaf, aku...”
“Tidak perlu merasa bersalah ataupun merasa canggung. Toh, aku sudah tahu jawabannya. Kamu... dan perasaan ku sama. Lantas, kenapa kita tidak memperjuangkan bersama saja, Ervin?”
“Aurora, bukan aku tak ingin memperjuangkan. Terkadang, Tuhan menghadirkan kehilangan bukan untuk ditangisi, tetapi itu melatih kesabaran pada hambanya agar jangan terlalu dalam mencintai orang lain.”
“Aku pun belajar dari kalimat itu. Setelah aku memperjuangkan cinta Haura, tapi nyatanya apa. Perpisahan yang terjadi, maka dari itu aku mohon sama kamu lupakan apa yang aku katakan malam ini selamanya. Lupakan jika aku pernah mengatakan cinta padamu.”
__ADS_1
“Lagipula, apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Letnan Samudra?”
Aurora berusaha menetralkan perasaannya yang sedetik lalu merasa hancur. Seolah Ervin memang tak mengharapkan dirinya sebagai pendamping hidup. Hanya sebagai partner dalam kerja, dan tidak akan pernah lebih dari itu.
“Kenapa juga aku harus memikirkan perasaan Letnan Samudra. Dia memiliki kehidupan sendiri, jika aku bahagia pasti Dia juga akan bahagia.”
“Dia itu... tidak seperti kamu, Ervin. Aku tahu hati kamu lembut, sikap dingin mu itu hanyalah pura-pura saja. Tapi, jika Letnan Samudra itu memang sifatnya keras, makanya Dia lebih memilih dunia militer ketimbang ikut meneruskan dunia kedokteran.”
Aurora tersenyum, menyembunyikan luka yang begitu dalam. Sekali jatuh cinta ia harus dipatahkan, bak ranting yang patah_mudah rapuh dan kerapuhan itu tak akan bisa kembali sepenuhnya dengan utuh.
“Aku harus pergi, jika kamu masih sedih kamu bisa mencari teman lagi untuk kamu ajak mengobrol. Tapi, jika kamu butuh aku jangan sungkan!”
Senyum kembali terukir di bibir Aurora, alih-alih ia ingin mencairkan suasana yang membuatnya merasa canggung dengan Ervin.
Dan akhirnya, Aurora memutuskan untuk pergi. Ia kembali ke ruangannya dan akan berjaga di sana. Sedangkan Ervin, ia masih berdiri di tempat kakinya berpijak saat ini, rooftop.
“Ya Allah, mungkinkah Dia terluka dengan kata-kata ku? Apakah aku sudah menyinggung perasaannya? Lantas, aku harus apa sekarang Ya Allah?” gumam Ervin.
...----------------...
Jam yang menempel di dinding sudah menunjukkan pukul 03.15 WIB. Setelah lima belas menit tertidur kini Ervin terbangun. Matanya menelisik tajam pada jam dinding yang berdetak di dinding itu.
“Masih jam tiga lebih lima belas menit, usahakan sholat malam. Ayo Ervin, bangun!” ucap Ervin.
Ervin pun belanja dari kursinya. Karena ia tertidur di kursi ruangan kerjanya, sehingga ia tidak mendapatkan posisi yang membuatnya nyaman.
Setelah berada di dalam kamar mandi umum yang ada di rumah sakit, Ervin pun segera menuju ke mushola. Di sanalah Ervin akan mengadukan isi hatinya pada Sang Pencipta.
Namun, langkah Ervin tiba-tiba terhenti saat mengingat kemejanya yang kotor karena bekas darah. Alhasil, ia pun mengurungkan niat untuk menunaikan shalat sunnah di sepertiga malam ketiga.
“Kalau kotor begini... bagaimana mau sholat subuh nanti. Mau pulang juga belum dibuka pintunya. Mau ketuk, takut ganggu. Huh! Bagaimana sih,” dengus Ervin yang merasa buntu.
Pasalnya, Ervin tidak membawa baju ganti di lokernya. Mau pulang pun tidak mungkin, mau beli apalagi. Jelas saja toko baju belum buka.
Ervin memutuskan untuk duduk sejenak di kursi tunggu. Di sana ia membayangkan kembali apa yang dilakukan bersama Aurora beberapa jam lalu. Masih nampak jelas jika Ervin mengungkapkan rasa cinta, kerapuhan nya, keterpurukan nya dan meminta Aurora untuk melupakannya seketika.
“Ya Allah, berikanlah aku petunjukMu atas permasalahan ini. Jika aku harus memperjuangkan cinta ini maka aku akan berusaha. Tapi jika tidak, berikanlah jalan terbaik untuk kami berdua.”
Ervin mengaminkan do'anya, setalah itu ia melukiskan senyum yang mempertanpan wajahnya. Manis, satu kata yang mampu menggambarkan bagaimana wajah Ervin saat ini kala ia tersenyum.
Ervin teringat jika ia sudah masuk dalam lubang cinta yang tadinya ia tolak mentah. Meskipun ia mengakui cinta itu tetapi, ia juga tidak bisa melewatinya. Perbedaan agama memang sulit untuk menyatukan cinta antara keduanya.
“Ya Allah, kenapa tiba-tiba kepalaku pusing ya!” gumam Ervin.
Masih dalam posisi duduk, Ervin menunduk semabti menggelengkan kepalanya agar rasa nyeri yang menusuk di kepalanya menghilang. Namun, kenyataannya rasa pusing dan nyeri itu semakin bertambah pening saja. Bahkan Ervin tak mampu lagi menahannya. Dan obat, itulah yang Ervin butuhkan saat ini.
Ervin berusaha berdiri lalu, ia menempel di tembok seraya berjalan menuju kembali ke ruangannya.
Bruukk.
Belum sempat sampai di tengah jalan tubuh Ervin sudah ambruk. Perawat yang kebetulan lewat di koridor rumah sakit seketika menghampiri tubuh Ervin yah sudah tergeletak di lantai.
“Dokter Ervin,” panggil perawat itu.
Perawat yang sudah terbiasa menangani pasien gawat darurat, maka hal pertama yang dilakukan adalah mendeteksi denyut nadi dan suhu tubuh.
“Dokter Ervin demam, mana tinggi lagi demamnya. Aduh, bagaimana ini?” gumam perawat itu.
Jelas perawat itu nampak bingung, karena di jam sekian rumah sakit masih dalam. keadaan sepi. Belum banyak pegawai rumah sakit yang bertugas maupun berjaga.
Perawat itu nampak celingukan, berusaha mencari bantuan dari orang sekitar. Namun, hasilnya nihil. Karena koridor itu masih belum ada orang yang berlalu lalang.
“Dokter Aurora. Ya, tadi aku sempat melihat dokter Aurora sedang berada di rooftop. Sebaiknya aku kesana.”
__ADS_1
Perawat itu secara berlari menuju ke rooftop. Dan sesampainya di sana benar saja jika, Aurora berdiri mematung seraya menatap di mana ia beberapa jam lalu duduk bersama Ervin.
‘Andai saja waktu bisa diputar kembali, aku ingin lebih lama lagi bersamamu. Tapi, aku hanya bisa berandai. Benar kan, Ervin. Dan kebersamaan yang sudah berlalu tak akan pernah bisa kita lewati lagi.’ Aurora mengukir senyum tipis di bibirnya.
“Dokter Aurora,” panggil lirih pwrawat itu.
Aurora yang mendengar namanya dipanggil seketika menolwh ke pemilik suara.
“Ada apa, sust?”
“Maaf Dok, jika saya sudah menganggu. Tapi, itu tadi di koridor dekat mushola dokter Ervin jatuh pingsan. Dan sepertinya penyebabnya karena demam yang terlalu tinggi.”
“Apa?” tanya Aurora terkejut. ”Ya sudah, kamu cari bantuan sekaligus bawa brankar. Setelah itu kita bawa ke IGD.”
Perawat itupun bergerak cepat mencari bantuan dan mencari brankar yang kosong. Sedangkan Aurora, ia berlari cepat menuju koridor yang ditunjukkan oleh perawat tadi.
...----------------...
Dalam mata yang terpejam Ervin merasa jika ia tengah bertemu dengan Haura, Ibu nya dan Bapaknya. Hingga dalam mata yang terpejam Ervin pun mengigau_menyebut nama ketiganya secara bergantian.
“Ibuk...”
“Bapak...”
“Haura...”
“Bertahanlah! Aku yakin kamu dokter yang kuat, bukan ranting yang patah. Kamu hanya butuh waktu untuk ‘melupakan’ tanpa harus ‘mengenang’.”
Aurora dan dua perawat mendorong brankar itu menuju ke IGD. Setelah barada di ruangan itu Aurora memang bukanlah dokter umum, tetapi paling tidak ia bisa menangani Ervin yang demam tinggi.
“Ya Tuhan, demamnya 40 derajat celcius,” ucap Aurora setelah memeriksa kembali suhu tubuh Ervin.
“Kenapa kamu bisa seperti ini, Ervin? Apa kamu terlalu lelah memikirkan beban itu?” tanya Aurora dalam hati.
Aurora memasang selang infus dan menempelkan jarum infus ke punggung tangan Ervin. Dan menjelang subuh Aurora disibukkan dengan Ervin yang tengah sakit.
Setelah usai memasang selang infus, Aurora meminta salah satu perawat lelaki untuk menemani Ervin. Bukan Aurora tidak ingin menemani Ervin dan memanfaatkan waktu yang ada untuk menatap wajah Ervin yang tangah terpejam rapat. Hanya saja Aurora tidak ingin merusak hubungan yang ada. Aurora ingin menghargai keputusan Ervin, meskipun pada akhirnya hatinya sendiri yang terluka.
“Bila pada akhirnya jika takdir tak akan pernah menyatukan kita, aku tidak akan pernah menyesal sudah mencintaimu sedalam ini. Tapi perlu kamu ketahui jika hatiku merasakan luka saat aku harus benar-benar ‘rela’.”
Tes...
Tes...
Dengan seiring air infus yang jatuh menetes ada air bening yang ikut membasahi punggung tangan Ervin. Dan air bening itu tak lain adalah air mata luka milik Aurora.
Namun, Aurora segera menyeka air matanya setelah ia tersadar jika sudah waktunya untuk pergi dan membiarkan waktu terus berjalan.
“Temani dokter Ervin paling tidak sampai suhu tubuhnya menurun. Terus pantau suhu tubuhnya, jika sudah turun beritahu saya.” Aurora mengukas senyum.
“Baik, Dok.” Perawat lelaki itu mengangguk.
Aurora melenggang pergi meninggalkan ruang IGD dan kembali ke ruangannya. Belum sempat tidur semalaman membuat Aurora merasa kantuk begitu berat. Hingga ia memutuskan untuk memejamkan mata dan beristirahat sejenak sebelum matahari menyapanya.
...----------------...
“Kenapa ibuku tidak sadar juga? Sebenarnya apa yang terjadi pada ibuku? Haruskah aku mencari dokter Ervin untuk menanyakannya? Tapi, jika parah pasti akan membutuhkan uang yang banyak.”
Fajar hanya bisa menatap pilu sang ibu dari balik kaca yang ada di ruang ICU. Karena pihak keluarga tidak diijinkan untuk masuk kedalam meskipun ingin sekedar menemani tanpa suara.
Sesekali Fajar mendesah, mengingat penyakit sang ibu yang belum jelas apa. Dan ia jiga mengingat kondisi keluarganya yang jauh dari kata baik-baik saja terutama dalam masalah keuangan.
...----------------...
__ADS_1
“Haura, kenapa kamu tega? Kenapa kamu lakukan itu padaku? Kenapa kamu merelakan nyawamu hanya demi melindungiku? Harusnya kamu biarkan saja aku yang mati, agar aku tidak akan merasakan beban yang seberat ini.”
🌹🌹🌹