Couple Doctor

Couple Doctor
Terimakasih Sudah Hadir


__ADS_3

...Perihal jodoh dan kematian hanyalah Allah yang menentukan. Dan kita juga tidak tahu where and when itu akan terjadi....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Operasi telah dinyatakan selesai ketika lampu yang memberikan penerang telah padam. Setelah hampir enam jam lamanya mereka tim medis berdiri di depan meja operasi kini mampu bernapas lega.


Dokter muda, tak lain Ervin Evano telah melakukan operasi terbaik pada hari itu. Operasi yang bagi mereka adalah tersulit dari operasi sebelumnya. Dimana Ervin harus bisa menjadi dua peran sekaligus waktu itu.


“Terimakasih atas kerja keras yang sudah kirta semua lakukan hari ini. Kalian ... Hebat!” ujar Ervin seraya menatap kembali timnya secara bergantian.


Mereka tersenyum bangga, tak lama kemudian terdengarlah suara tepuk tangan yang riuh.


Prok ... Prok ... Prok ...


“Bukan kita yang hebat tapi, Dokter kita lah yang hebat. Dokter Ervin is the best!” ungkap dokter Arimbi selaku dokter anestasi.


“Iya, itu memang benar.”


“Iya, kami semua setuju.”


Semua mengulas senyum yang merekah, merasa bangga dengan hasil kerja keras dokter hebat mereka, Ervin Evano. Kini nama itu semakin menjulang tinggi, menjadi kebanggaan di rumah sakit tersebut.


“Ya sudah, untuk hasil terakhir saa serahkan kepada kalian. Karena saya akan keluar menemui keluarga pasien.” Mereka pun mengangguk seraya mengacungkan jempol.


Ervin membalas dengan anggukan. Setelah itu keluar dan menemui keluarga pasien yang sedari tadi sudah menunggu di ruang tunggu.


“Ah, dokter.” Seseorang berlari menghampiri Ervin.


“Dokter, bagaimana dengan operasinya? Apa operasinya lancar, Dok? Dan bagaimana keadaan suami saya, suami saya ... Baik-baik saja kan, Dok?”


Ervin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya memperlihatkan sederet giginya yang rapi. Baru juga keluar dari ruang uji adrenalin Ervin sudah di berondongi oleh bejibun pertanyaan.


‘Andai saja aku punya banyak mulut pasti akan aku jawab semua pertanyaan ibu ini. Tapi, nyatanya aku cuma satu ulut dan harus menjawab satu persatu pertanyaannya. Huft, sabar Ervin.' Ervin mengelus dadanya.


Sebelum menjawab pertanyaan ibu tadi Ervin menarik napas panjang dan menghembuskan secara perlahan.


“Alhamdulillah, berkat doa ibu dan semuanya operasi telah dilancarkan sama Allah. Dan saat ini, suami Anda masih dalam pengaruh obat bius, jadi masih belum sadarkan diri. Mohon ditunggu lagi ya, Bu.” Ervin memberikan senyum ramah pad a ibu itu dan anggota keluarga yang lain yang masih duduk di kursi.


“Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah. Terimakasih juga untuk Dokter dan yang lainnya.” Terlihat jelas binar kebahagiaan telah terpancar dari mata ibu paruh baya tersebut.


“Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu! Mari semuanya,” pamit Ervin.


Ervin melenggang pergi lalu, ia menuju ke ruang ganti Setelah itu ia kembali menuju ke ruangannya hendak mengambil snelinya. Setelahnya, Ervin akan melakukan visite terhadap pasien yang sudah di operasi olehnya kemarin.


Dokter Ervin, dokter muda yang kini semkain dikenal oleh kalangan tetua terutama, yang memiliki penyakit jantung entah itu bawaan atau tidak.


“Dok, tadi saya denganr Anda sedang melaukan opeasi tanpa adanya dokter asisten. Apa itu benar?” tanya Alfan yang tidak sengaja bertemu di koridor rumah sakit.


“Emm, menurut kamu bagaimana?”


“Hahaha, jangan bercanda begitu dong, Dok. Saya itu kan bertanya, masa iya Dokter malah balik bertanya ke saya lagi.”

__ADS_1


“Kalau begitu ... Cari tahu sendiri saja ya! Saya sibuk soalnya, apalagi saat ini aya merasa lelah.” Ervin berjalan menghadap ke arah Alfan seraya melambaikan tangan.


Sedangkan Alfan, lelaki muda itu tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya. Hatinya ikut merasa bahagia jika sahabatnya itu sudah bisa tersenyum seperti belum merasakan patah hati.


Alfan membiarkan saja Ervin yang berjalan mundur. Karena terlalu asik meledek Alfan, Ervin pun jelas tidak bisa memperhatikan jalan dengan baik.


Brukk.


Seketika Ervin berbalik dan menolong orang yang ditabraknya.


“Maaf, saya tidak sengaja.” Ervin mengulurkan tangannya hendak memberikan pertolongan.


“It's okay, no problem.”


Humaira mampu berdiri sendiri tanpa bantuan Ervin, sehingga Ervin mengundurkan tangannya yang terulur.


“Dokter. Dokter Ervin tidak apa-apa, kan?” tanya Alfan yang berlari setelah melihat insiden kecil itu.


“Tidak. Kami tidak apa-apa kok. Ya sudah, saya permisi dulu ya!” jawab Humaira.


Lalu, Humaira melenggang di depan Ervin dan Alfan begitu saja. Dan dua lelaki itupun hanya menatap hingga punggung Humaira pun tidak dapat telihat lagi.


“Makanya Dok, kalau jalan itu pakai mata jangan pakai dengkul.” Alfan kembali terekeh.


Ervin yang tidak mau mendengar ocehan Alfan, ia pergi begitu saja dan kembali meninggalkan Alfan.


...----------------...


Di rooftop rumah sakit Ervin menatap luasnya kota Medan saat merasa ia dalam ketinggian yang cukup. Mersakan kenikmatan yang luar biasa kala angin yang berhembus pelan mampu menerpa wajahnya.


“Ternyata benar saja, Dia ... Bersama Abimana. Semoga Abimana adalah lelaki yang tepat untuk kamu Ra. Dan terimakasih karena kamu sudah hadir dalam hidupku.”


Ervin mengulas senyum tipis, dan bukan rasa cemburu yang ia pelihtkan pada dunia. Meskipun semesta tidak merestui hubungan keduanya tetapi, semesta masih memberikan kesempatan bagi keduanya untuk tetap menjalin tali persaudaraan tanpa ada rasa membenci satu sama lain.


Ervin masih berdiri, menatap luasnya kota Medan siang itu. Secara kebetulan, siang itu cuaca tidak panas hanya meredup saja. Jadi, menambah suasana menjadi semakin sejuk saja.


“Ehem...” Seseorang tengah berdehem.


Ervin menoleh pada pemilik suara yang berada di sampingnya.


“Kamu?”


“Iya, ini aku lah. Masa iya hantu.”


“Siapa juga yang bilang kalau situ hantu. Aneh,” ketus Ervin.


“Ini aku bawakan kamu kopi. Daripada hanya diam saja. Ya ... Itung-itung sebagai ganti coklat hangat malam itu.” Humaira menyodorkan segelas kopi hangat.


“Thank you,” ucap Ervin.


“Hmm...” Humaira berdehem seraya mengangguk.

__ADS_1


Hening...


Tidak ada obrolan yang menjadi topik mereka saat itu. Dan keduanya hanya fokus dengan gelas yang mereka pegang, menikmati kopi hangat dalam setiap seduhan.


Satu detik ...


Dua detik ...


Dan ... Lima belas menit kemudian Humaira mengudarakan suaranya membuka obrolan.


“Aku tadi sudah dengar tentangmu hari ini. Ternyata ... Kamu cukup handal jadi dokter ahli bedah jantung. Dan bukan hanya sekedar identitasnya saja. Selamat!” ungkap Humaira.


“Tidak usah berlebihan sepeti itu. Bukannya sombong, tapi memang itulah yang wajib untuk dilakukan dalam keadaan apapun. Karena nyawa pasien yang utama.”


“Tapi aku tidak seperti itu. Aku justru memeriksa pasien yang sudah menjadi mayat.” Ervin menoleh menetap sejenak Humaira yang nampak begitu santai.


Ervin mengulas senyum tipis. Lalu, ia berdiri dari duduknya. Dan ... Kembali ia menatap luasnya kota Medan.


Dan suasana pun kembali hening. Keduanya sama-sama menikmati kebisuan yang ada. Sejenak Ervin kembali menutup kedua matanya, dalam kelopak yang tertutup bola mata Ervin membayangkan saat Tuhan mempertemukan nya dengan Haura dan juga Aurora.


“By the way ... Setelah patah hati kedua kalinya apa kamu ... Masih akan membuka hati kembali atau ...”


“Entahlah! Tergantung hati. Jika menemukan yang tepat maka, aku akan membukanya. Tetapi, aku juga tidak mau mencari-cari perempuan sebagai pengganti.”


“Lalu? Bagaimana kamu bisa menemukan jodohmu kalau kamu saja enggan mencari.”


“Perihal jodoh dan kematian hanyalah Allah yang menentukan. Dan kita juga tidak tahu where and when itu akan terjadi.”


“Lagipula dalam hal jodoh itu ada tiga komponen yang mengikat. Who, where and when. Sedangkan kita tidak tahu dengan siapa, dimana dan kapan kita akan dipertemukan. Ikuti saja alurnya, karena Allah adalah penulis sekenario terbaik.”


Ervin menatap sejenak Humaira, begitu pula dengan Humaira. Hingga tatapan keduanya sejenak bertemu tetapi, Ervin segera mengalihkan tatapannya itu. Karena ia tidak mau kembali terjerumus dalam lubang yang sama. Lagipula, Ervin juga ingin menjaga pandangan agar hatinya tidak kembali patah.


...----------------...


Setelah menikmati luasnya kota Medan bersama kini keduanya berjalan bersama menelusuri lorong rumah sakit. Dan dalam setiap langkah obrolan selalu menemani mereka.


“Ervin,” panggil Aurora dengan pelan.


Tepat berada di depan Aurora dan Abimana, Ervin menghnetikan langkah bersama Humaira. Dan mereka pun saling berhadapan satu sama lain.


“Hai,” sapa Ervin ramah.


“H-hai. Tadi ... Aku lupa kalau ada...”


“It's okay, Ra. Tidak apa-apa kok, toh semuanya juga berjalan dengan lancar. Kamu ... Aku dengar kalian berdua mencari cincin, kan?” tanya Ervin mengalihkan pembicaraan.


Aurora secara tiba-tiba terdiam, seolah bibirnya terasa begitu kelu untuk mengatakan iya. Menatap Ervin saja rasanya tak mampu.


“Iya. Sekalian, ini ada undangan pernikahan kami untuk kalian berdua. Jangan lupa datang, ya!” jawab Abimana.


Abimana menyodorkan kertas undangan yang terhias sedemikian rupa eloknya pada Ervin dan juga Humaira.

__ADS_1


Traaakkkk...


🌹🌹🌹


__ADS_2