
...Tak perlu risau dan tak perlu cemburu. Harusnya aku tahu diri bahwa aku hanyalah ... PELARIAN....
...----------------...
Ervin dipenuhi dengan rasa penasaran, ia pun kembali menghampiri bunda Rania.
“Maksud Bunda menyebut Humaira sebagai putri Bunda apa?” tanya Ervin to the point.
Deg.
Jantung bunda Rania berdetak, nyalinya seolah menciut. Bahkan ntuk sekedar menemui Ervin saja rasanya tidak mampu. Tapi, Ervin justru mendesaknya, perihal Ervin tidak mau jika bunda Rania menyimpan kerinduan yang teramat pada Haura. Karena Ervin cukup tahu diri bagaimana perpisahan itu terjadi.
“Bun, jangan sembunyikan rasa rindu pada Haura. JIka ingin berkunjung ke makam Haura, Ervin siap menemani Bunda kok. Tapi, jangan pernah menganggap jika Humaira adalah Haura.” Ervin bertutur dengan sopan dan lembut.
“Tidak Ervin, tidak perlu kamu temani Bunda ke makam Haura. Sebaiknya kamu fokus saja sama pekerjaan kamu dan pernikahan kamu. Terimakasih anak baik, karena kamu sudah perduli sama Bunda.” Bunda Rania mengusap lengan Ervin.
‘Tidak, tidak sekarang untuk mengungkapkan sebenarnya. Besok afalah hari pernikahan Ervin jadi, paing tidak biarkan acara besok lancar dulu.’ Bunda Rania bermonolog dalam hati.
Setelah memastikan jika bunda Rania baik-baik saja, Ervin kembali fokus pada tujuannya. Menyembuhkan pasiennya, memebrikan perawatan dan pengobatan yang menunjang agar jantung pasiennya bisa tetap berfungsi.
Ervin mulai melakukan pekerjaannya setelah memakai sneli dan mengalungkan stetoskopnya di leher.
“Maaf permisi, Dok! Ini ada data pasien yang akan dilakukan pemeriksaan visite pagi ini. Dan ini ada data pasien yang dijadwalkan operasi pada pukul 10.00 pagi nanti.” Suster Rani menyodorkan beberapa lembar kertas yang tertata rapi.
“Baik. Lima belas menit lagi kita akan lakukan pemeriksaan visite. Karena saya harus memeriksa hasil X-Ray jantung milik pasiennya tersebut.” Suster Rani mengangguk.
Ervin tidak ingin melakukan kesalahan saat berperang dengan alat medisnya di atas meja operasi nanti. Jadi, Ervin akan memastikan titik permasalahan jantung yang dialami. Dan setelahnya, Ervin bersiap melakukan visite.
“Tidak terlalu sulit permasalahan jantungnya. Asisten dokter, bisakah Aurora membantuku?” gumam Ervin.
Ervin merogoh saku snelinya lalu ia pun menggenggam benda pipih miliknya.
Ervin pun melakukan panggilan pada Aurora. Dan tak lama kemudian panggilan pun terjawab.
“Halo, dokter Aurora.”
“Iya dokter Ervin, ada apa?”
“Pagi ini saya akan ada jadwal operasi. Bisakah Anda membantu saya sebagai asisten dokter nanti?”
Hening ...
‘Bagaimana ini? Haruskah aku mengiyakan permintaan Ervin atau ... Menolaknya.’
Merasa tidak ada jawaban dari seberang Ervin kembali bertanya.
“Maafkan aku Ervin, pagi ini aku ijin masuk siang lagi. Karena aku ada fitting baju untuk acara pernikahanku nanti.”
Trraakk...
Seketika merasakan sakit yang teramat. Tetapi Ervin sadar jika, itu yang terbaik dan ia harus ikhlas. Lagipula, kini hatinya akan ia kuncu untuk satu perempuan yang akan membersamainya nanti.
“Huft! Rasanya sulit juga mau nikahan ya, ribet juga. Tapi, kenapa Laura tidak mengajakku fitting baju atau apalah. Ah sudahlah, harusnya bersyukur tidak sering bertemu sebelum halal Ervin.” Ervin mengusap wajahnya.
...----------------...
Di ruangan yang kerap Ervin kunjungi dengan setiap orang-orang yang berbeda, disana lah Evin seolah mendapatkan arti tersendiri sebagai seorang dokter.
__ADS_1
Mampu melihat senyum dari pasien yang muda maupun tetua, Ervin merasa bahagia. Karena Ervin mendapatkan ke-eratan dalam sebuah keuarga yang saling menyayangi.
“Cukup baik perkembangannya. Insya Allah nanti saya periksa lagi ya, Kek. Jika tetap baik nanti sore bisa pulang.” Ervin mengulas senyum.
“Iya, Dok. Terimakasih sudah merawat kakek yang tua ini.” Ervin terkekeh.
“Itu sudah kewajiban saya, Kek. Makanya kakek harus tetap sehat, kasihan itu kan, neneknya. Tidak mendapatkan pelukan dari kakek.”
Ervin berbisik dan membuat kakek tersebut tertawa lepas. Keakraban yang terjalin pada setiap pasie Ervin lakukan agar menjaga silaturahmi, selain itu Ervin ingin memberikan kenyamanan untuk pasiennya agar tidak bosan saat menjalani rawat inap di rumah sakit.
Setelah usai mlakukan visite pada enam pasien sejenak Ervin beristirahat di ruangannya.
Gluk.. Gluk.. Gluk...
Ervin meneguk segelas air putih. Setelah mondar-mandir dan melakukan visite Ervin merasa haus yang membuat tenggorokannya terasa kering.
“Suster Rani, minta semuanya untuk mempersiapkan operasi,” pinta Ervin setelah menatap jam yang melingkar di lengannya.
Di mana jam menunjukkan pukul 09.30 WIB, sebelum tepat pukul 10.00 pasien harus disiapkan dengan bius total. Sehingga saat melakukan operasi pasien sudah tidak sadar karena pengaruh obat bius tersebut.
...----------------...
Dua saudari tengah bertemu saat berada di luar rumah sakit. Sengaja Laura datang ke rumah sakit dengan penampilan yang sedikit berbeda. Labih sedikit sopan meskipun masih belum mengenakan hijab.
“Ra, kamu yakin mau menemui Ervin dengan pakaian seperti ini?” tanya Humaira tidak percaya.
“He'em.” Laura mengangguk. “Penampilan baru itu perlu loh kak. Apalagi demi menaklukkan dokter Ervin.”
“Ra, cara menalukkan dokter Ervin bukan dengan cara merubah penampilan kamu seperti ini. Jika, dokter Ervin cinta sama kamu ya Dia harus terima kamu apa adanya dong, tanpa merubah apapun.” Humaira menelisik tajam Laura.
“Aku nggak perduli semua itu, kak. Ada lelaki yang mau menikah denganku saja itu sudah keberuntungan buat aku. Sudah deh kak, nggak perlu ulid sam aku. Urus saja hubungan kakak sama bang Leon. Bye.“Laura melenggang pergi.
...----------------...
Setelah menelusuri koridor rumah sakit akhirnya laura sampai juga di depan ruangan Ervin. Dan tiba-tiba rasa gugup telah melanda gadis yang hendak dinikahi Ervin tersebut. Bahkan jantungnya berdebar hebat, seolah ritme jantungnya benar-benar tidak bisa dikontrol dengan baik.
“Jangan gugup Laura, oke. Rileks!” ucap Laura lirih.
Saat tangan hendak siap mengetuk pintu tiba-tiba seoarang perawat lelaki menghampiri Laura dan menyapa.
“Permisi! Mbak. Mau cari dokter Ervin ya?”
“Iya.” Laura mengangguk.
“Maaf Mbak, kebetulan dokter Ervinnya masih di ruang operasi. Silahkan tunggu saja di luar sini Mbak. Itupun kalau mbak nya mau sih,” ucap Alfan.
“Oh begitu ya, ya tidak apa-apa. Saya akan tunggu disini saja.”
...----------------...
Di satu sisi...
Kembali Ervin melakukan tugasnya di depan meja operasi tanpa adanya asisten dokter yang mendampinginya. Ke-fokusan Ervin benar-benar terbagi dalam tiga hal. Fokus dalam permasalahan ketajaman mata, ketajaman pendengaran dan juga ketajaman ... Perasaan.
Berhubung titik permasalahan tentang jantung pasien kali ini yang tidak terlalu parah Ervin hanya membutuhkan waktu sekitar empat saja lamanya.
“Terimakasih atas kerja keras kalian hari ini! Jangan pernah menyerah dalam operasi selanjutnya meskipun, kita masih belum menemukan asisten dokter yang tepat.” Ervin tersenyum dibalik masker yang menutupi bibirnya.
__ADS_1
Tes...
“Dok. Tangan Anda berdarah itu! Sebaiknya cepat diobati dulu,” ucap suster Rani.
“Jangan khawatir! Nanti saya akan ke ruang perawatan. Sekarang seleseikan tugas selanjutnya.” Semua mengangguk.
Ervin keluar dari ruang operasi lalu, kehadirannya pun telah disambut oleh keluarga pasien. Dan seperti pada dokter umumnya, Ervin menjelaskan sebagaimana kondisi pasien setelah menjalankan operasi besar.
“Terimakasih banyak, Dok.” Tidak hentinya putri dari pasien tersebut mengucap syukur dan rasa terimakasihnya pada Ervin.
“Sama-sama, Mbak. Kalau begitu saya pemisi dulu!” pamit Ervin dengan lembut.
Ervin memegangi telapak tangannya yang terluka karena, tanpa sengaja saat menggunakan pisau bedah secara tiba-tiba pisau itu meleset dan mengenainya.
Darah yang keluar masih saja banyak. Rasa perih pun ia nikmati seperti tidak terluka. Pasalnya, hatinya lah yang lebih terluka.
“Ervin,” panggil sesorang.
Ervin menoleh setelah mendengar namanya telah dipanggil.
“Aurora,” gumam Ervin.
Aurora menghampiri Ervin dan mnanyakan jalannya operasi tanpa adanya dirinya di samping Ervin sebagai asisten dokter.
“E... Itu... Apa ... Masalah operasi, bisa kamu handle, kan?” tanya Aurora yang sedikit ragu.
“Tidak ada masalah dalam operasi. Tenang saja, aku sudah menyelesaikannya kok.” Ervin mencoba bersikap biasa-biasa saja.
Hening ...
Aurora yang melihat tangan Ervin sedang terluka tiba-tiba rasa panik dan khawatir telah beradu menjadi satu dalam dirinya. Tak hanyasampai di sana saja, Aurora menarik lengan Ervin tanpa persetujuan Ervin terlabih dahulu.
Karena merasa bosan Laura pun menunggu Ervin seraya berjalan-jalan di sekitar, alih-alih hanya menghilangkan rasa suntuk yang melanda sampai beberapa menit.
Deg.
“Ternyata mereka...”
Laura menatap Ervin yang sedang duduk berdua dengan Aurora di salah satu ruangan. Di mana di dalam ruangan tersebut Aurora sedang membalut luka yang ada pada telapak tangan Ervin.
“Tak perlu risau dan tak perlu cemburu. Harusnya aku tahu diri bahwa aku hanyalah ... PELARIAN.” Laura mengusap sudut matanya yang mulai berair.
Dari balik kaca Ervin mampu melihat ada Laura yang sedang bersedih. Namun, saat Laura ikut menatap Ervin hanya senyuman yang diperlihatkannya.
“Lepaskan, Ra! Aku akan membalut lukaku sendiri nanti. Makasih sudah membantuku, tapi sekarang aku rasa ... Aku harus pergi. I'am sorry.”
“Kenapa, Ervin? Ini tinggal sedikit loh, kayak ketakukan sama siapa saja. Tenang saja, Abimana tidak akan marrah kok.” Aurora menatap Ervin, seolah mencari jawaan dari sana.
“Maaf, Ra. Tapi, bukan Abimana yang aku takutkan. Di luar sana ada ... Laura.”
“Laura? So, ada apa jik di luar ada Laura? Jangan khawatir! Laura akan menunggumu kok kalau Dia mau konsultasi kesehatan.”
“Bukan itu, Ra. Aku tidak mau jika, Laura merasa cemburu setelah melihat semua ini. Karena ... Laura adalah ... Calon istriku.” Tatapan Ervin menajam, menghunus jantung Aurora.
Deg.
Napas Aurora tiba-tiba tercekat, ada rasa nyeri yang sulit untuk diartikan. Jika diblang rela, sungguh munafik rasanya bagi Aurora. Akan tetapi, Aurora jiga cukup tahu diri bahwa dirinya tak akan bisa memiliki Ervin sampai kapanpun.
__ADS_1
🌹🌹🌹