
...Haruskah aku menghilang dari muka bumi ini agar tak melihatmu dengan yang lainnya. Andai kau tahu hatiku telah patah berkali-kali menerima siksaan cinta yang kesekian....
...----------------...
Suara jantung yang tidak bisa dikondisikan, berdetak terlalu cepat dan begitu terasa keras. Tatapan yang membuat terbuai sesaat harus segera dialihkan. Karena, rasanya tak sanggup untuk jatuh terlalu dalam.
Saat tatapan itu masih bertahan beberapa menit, Ervin merasa mngenali tatapan itu. Tatapan yang dulu pernah meneduhkan hatinya.
“Tolong, kala jalan makanya lihat ke depan dan ... Pakai mata, jangan pakai lutut.” Ervin mengucapkan kata yang membuat perempuan itu seketika naik darah.
“Ok, saya akui jika kali ini saya salah. Dan sekalian saya mau minta maaf kepada Anda, Dokter Ervin Evano yang terhormat. Kalau begitu, permisi.” Humaira memberikan sedikit penekanan pada kalimatnya.
Setelah mengucapkan itu Humaira melenggang pergi di depan Aurora dan Ervin begitu saja. Saat itulah Aurora terus memidai setiap pergerakan Humaira saat menuju ke pemakaman entah siapa.
“Ervin, kamu ... Mengenalnya?” tanya Aurora tanpa mengalihkan pandangannya.
“Hanya sekilas saja, karena dia mengantarkan Laura beberapa hari yang lalu. Dia ... Kakak nya Laura.
“Tapi ... Kenapa wajahnya sangat mirip dengan Haura? Atau ... Memang kebetulan saja?”
“Ya, memang kebetulan saja. Andai kamu tahu, Dia itu agak aneh. Masa iya mengantarkan Laura ke ruanganku untuk memeriksa kandungan. Bukankah itu agak miring.”
Aurora menoleh pada Ervin yang masih berdiri di sampingnya. Setelah itu, ia menatap intim lelaki berkulit putih itu. Dan Ervin yang merasa ditatap oleh Aurora ia pun juga ikut menoleh.
“Kenapa menatapku seperti itu, hm?”
“Tidak, hanya aja aku ingin tahu seberapa dalam kamu menatap permpua itu. Aku yakin, saat pertama kali kalian bertemu ... Ada cinta di dalam tatapan kamu. Karena Dia sangat mirip dengan Haura.”
“Jangan ngaco deh, Ra. Ah sudahlah, ayo kita ke rumah sakit saja.”
Ervin yang memang tak ingin membahas tentang perempuan manapun ia segera pergi. Begitu juga dengan Aurora, ia ikut meninggalkan tempat pemakaman umum itu.
__ADS_1
Itupun bukan berarti Ervin tidak memiliki perasaan terhadap Aurora, tetapi bagi Ervin saat itu bukanlah waktunya untuk bermain-main dalam hal cinta.
“Haruskah aku menghilang dari muka bumi ini agar tak melihatmu dengan yang lainnya. Andai kau tahu hatiku telah patah berkali-kali menerima siksaan cinta yang kesekian.”
Aurora membayangkan insiden antara Ervin dengan Humaira saat berada di tempat pemakaman tadi. Hatinya seakan tertusuk oleh belati yang amat tajam. Perasaannya pun juga ikut hancur lebur, meskipun ia sudah berkali-kali mengatakan kepada Ervi jika, hubungan antara keduanya tidak akan pernah bisa lebih dari persahabatan, tapi sungguh itu berbeda dengan yang ada di dalam hati kecilnya.
“Aurora, ayolah! Jangan terus menerus memikirkan Ervin. Tembok itu amatlah tinggi dan kokoh, tak akan mudah untuk merobohkannya. Dan kamu harus bisa menghilangkan perasaan cinta itu dari hatimu, Aurora.” Aurora memejamkan kedua matanya sejenak lalu, membukanya dan kembali fokus dengan jala raya.
Tiga puluh menit sudah Ervin menmepuh perjalanan. Setelah memarkirkan motornya di parkiran Ervin menuju ke ruangannya.
“Kenapa aku bisa kepikiran dengan ucapan Aurora tadi ya?” gumam Ervin saat menelusuri koridor rumah sakit.
Ceklek.
“Tunggu! Dok.” Seseorang menghentikan langkah Ervin yang hendak masuk ke dalam.
Ervin menoleh dan seketika ia nampak terkejut dengan kehadiran orang tersebut.
“Bolehkah saya bicara secara pribadi dengan Anda, Dok? S-saya tahu, seharusnya saya tidak meminta waktu Dokter Ervin, tetapi ...”
Laura tak percaya jika Ervin yang dikenal dengan sikap dinginnya terhadap wanita kini mau bertemu dengan Laura. Bahkan Evin menyebutkan di mana janji temu mereka akan dilangsungkan.
Laura mengangguk, setelahnya ia keluar dan menanti di rumah sakit sampai tiba jam makan siang seperti yang diucapkan Ervin.
Ervin mulai membuka jam kerjanya, banyak yang sudah mengantri ingin dipanggil namanya. Dan satu persatu pasien yang sudah mendaftar mulai masuk_melakukan pemeriksaan seperti yang biasa Ervin lakukan.
“Tarik napas yang dalam ya, Bu! Setelah itu kita lakukan pemeriksaan selanjutnya.” Ervin mengatakan dengan penuh kelembutan.
“Iya, Dok.” Ibu tersebut mengangguk.
Ervin melakukan pemeriksaan selanjutnya hingga pasien yang mendaftar lima orang telah usai. Dan kini, Ervin akan melakukan visite terhadap pasien yang kemaren melakukan operasi jantung.
__ADS_1
...----------------...
Di sebuah cafe yang banyak dikunjungi oleh semua orang, salah satunya ada Ervin, Aurora dan juga Humaira.
Di depan ketiganya tak kalah menarik, ada kopi gula aren yang menemani obrolan ketiganya. Gula aren yang menjadi menu minuman best seller. Karena menggunakan susu kedelai sebagai campuran sehingga rasanya beda dari yang lain.
“Sekarang katakan apa yang ingin kamu bahas dengan kami, Laura. Karena, saat ini bukanlah waktunya untuk bermain-main. Jika memang kamu memiliki penyakit maka, ceritalah sekarang.” Ervin menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
“Baiklah! Dok.” Laura mengangguk.
“Sebenarnya, bilik kiri di jantung saya mengalami masalah. Dan saya sudah sering memeriksakan jantung saya ini. Dan kata tim dokter yang bekerja di rumah sakit kota medan telah mengatakan jika saya harus menjalai operasi.”
“Akan tetapi ... saya tidak mau. Karena sebentar lagi saya mau menikah dan calon suami saya juga memiliki keinginan untuk memiliki banyak anak.”
“Dan bagi saya di situlah saya bisa membahagiakan suami saya. Tapi ... Jika saya menjalani operasi maka, saya dinyatakan tidak bisa mengandung.”
Laura akhirnya menceritakan permasalahan yang membuatnya terus menerus mengunjungi rumah sakit RSUP H. Adam Malik.
Ervin tak sekedar mendengarkan, tetapi bayangannya pun juga menggambarkan bagaimana kondisi bilik kiri pada tubuh Laura.
“Kamu memang benar, pemilik penyakit jantung bagi seorang perempuan menyebabkan kemungkinan kecil untuk bisa hamil. Meskipun sekeras apapun berusaha jika, Allah sudah menentukan untuk tidak hamil maka hasilnya akn seperti itu ... Operasi.”
Laura sejenak terdiam.
Hening...
“Lantas apa benar jika saya memang harus menjalani operasi?”
“Itu kemungkinan yang ada padamu, Laura. Jika kamu siap untuk dioperasi maka, prosesnya akan segera selesai sebelum pernikahanmu.”
“Dan resiko yang harus kamu tanggung ... Kamu tidak bisa hamil.”
__ADS_1
Deg.
Jantung Laura seakan berhenti berdetak. Hatinya telah patah berkali-kali kala mengingat pernyataan dokter.