Couple Doctor

Couple Doctor
Cemburu Yang Memburu


__ADS_3

...Hidup itu misteri. Ketika kita meminta untuk diberikan kebahagiaan tanpa diduga kita diberikan kesedihan. Dan kita juga tidak tahu detik, menit atau bahkan sau jam kemudian apa yang akan terjadi....


...----------------...


“Tidak apa kok, ini juga karena pekejaan, kan, kalian bertemu.” Laura menijinkan walaupun hatinya terburu cemburu.


Ervin melongo, ia tidak percaya jika Laura akan begitu mudah mengijinkannya bertemu dengan Aurora. Hatinya kembali mengucap syukur karena, telah dihadiran sosok perempuan diluar ekspatasi nya.


Ervin mngusap lembut puncak kepala Laura, menangkup wajahnya lalu, bibirnya pun turun kebawah dan ...


Cup.


Terasa begitu nikmat saat bibir itu menempel di kening Laura. Dan laura merasakan kenyamanan yang membuat hatinya juga tenang. Dibiarkannya bibir Ervin masih menempel di keningnya tanpa menolak.


Satu detik ...


Dua detik ...


Ervin dan Laura masih menikmati momen yang akan jarang terjadi selama Ervin masih sibuk di rumah sakit. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar.


“Sudah dulu ya ciumnya. Ada orang di luar, Abang juga harus kembali kerja. Ada operasi kan, hari ini.” Laura melepaskan tangan Ervin yang masih menangkup wajahnya.


Ervin tersenyum, ia melihat Laura melenggang pergi dan membiarkannya tanpa menahan. Karena Ervin uga harus kembali bekerja lagi.


Suster Rani dan Alfan yang berada di balik pintu hanya menatap lelaki di depa mereka yang sedang tidak bik-baik saja. Pasalnya, Ervin tersenyum sendirian tanpa mereka tahu apa alasannya.


“Dokter Ervin, Anda baik-baik saja, kan?” tanya suster Rani yang diberi anggukan oleh Alfan.


“Kalian tahu tidak bagaimana bucin sama pasangan halal kalian?” Ervin berbalik bertanya.


Alfan dan suster Rani saling pandang, mereka juga memutar bola mata mereka secara sempurna. Menelaah apa yang diucapkan Ervin. Tetapi, tetap saja mereka tidak memahami.


“Maksd dokter Ervin apa ya? Kan, tahu sendiri kalau kita masih belum menikah,” ucap Alfan.


Suster Rani mengangguk. Memang benar saja keduanya masih belum menikah tetapi, suster Rani sudah memiliki caon suai kecuali, Alfan yang masih akan dijodohkan.


“Oh iya, ya. Kalian benar juga.” Ervin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Oh iya, kalian berdua kenapa datang ke ruangan saya?”


“Ah itu, tadi saya mau memberitahukan sama dokter kalau dokter Aurora sudah datang. Tapi, nggak tahu tuh apa tujuan Alan datang kesini.” Suter Rani menatap Alfan yang berdiri di sampingnya.


Begitu juga dengan Ervin, ia ikut menatap Alfan. Sedangkan Alfan yang merasa sedang ditatap hanya nyengir kuda saja.


...----------------...


Tok ... Tok ...


Ervin mengetuk pintu ruangan Aurora. Sebelum Aurora membuka pintunya sesekali Ervin mengtur napasnya, menghilangkan rasa yang tiba-tiba membuat dadanya merasa sesak.

__ADS_1


'Ervin, kamu harus melawan rasa itu. Ingatlah, kamu sudah diberikan bidadari dalam hidupmu. Tugasmu menjaga hatinya.' Ervin bermonolog dalam hati.


Sepersekian detik kemudian, pintu terbuka tetapi, Ervin tidak mau jika bicara di dalam ruangan hanya berdua saja dengan Aurora. HIngga akhirnya Ervin mengobrol di depan ruangan Aurora.


“Saya ingin kerjasama dengan kamu, tapi sebelumnya ... Maaf, sudah sempat kecewa sama kamu. Bahkan ... Marah.” Ervin menunduk.


“Tidak apa-apa, kok. Mungkin itu karena aku memang salah, terimakasih karena kamu sudah mengingatkan dimana letak kesalahanku, Ervin.” Aurora menyodorkan tangan hefak bersalaman.


Ervin pun membalasnya lalu, Ervin mengatakan apa yang menjadi tujuannya. Ganti posisi saat melakukan tugas. Berhubung Aurora belum terlalu mahir di meja operasi jadi, saat tiga jam kemudian Aurora diberi tugas untuk memeriksa kondisi Leon. Sedangkan Ervin, ia akan bertugas di meja operasi.


Aurora menyetujui tugas tersebut, ilbahkan Aurora saat ini sudah bersiap untuk melakukan visite terhadap pasien yang sudah menjalani operasi atau sekedar perawatan saja.


“Baik, Bu. Saya akan periksa dulu ya!” ucap Aurora pada salah satu pasien.


“Iya Dok, silahkan! Tapi, ngomong-ngomong kenapa kok dokter cantik yang bertugas memeriksa? Memangnya dokter gantengnya kemana?” tanya salah seorang pasien bernama Ibu Wahida.


“Iya Bu, kebetulan dokter gantengnya sedang menjalankan operasi. Jadi ya, saya yang menggantikan beliau melakukan visite.” Aurora tersenyum simpul.


Bu Wahida manggut-manggut_tanda jika mengerti apa yang dikatakan Aurora. Obrolan tidak berhenti sampai di sana saja, bu Wahida masih mengajukan pertanyaan pada Aurora.


“Dokter Aurora itu cantik, cocok loh kalau sama dokter Ervin yang ganteng. Kenapa kalian tidak menikah saja? Pasti nanti akan menjadi pasangan yang sempurna.” Bu Wahida tersenyum.


Deg.


Ada hati yang berdenyut nyeri, rasanya pun teramat perih saat kalimat itu terucap dari orang lain, orang yang tidak pernah tahu apa yang tengah terjadi saat ini.


‘Ternyata seperih ini rasanya menikah tanpa ada yang tahu. Dan ... Apa dri ini memang tidak layak kah bersanding dengannya? Apa aku terlalu tidak sempurna hingga tidak pantas mendapatkannya?’


Laura menatap Aurora dengan tatapan yang sulit diartikan. Kendati, saat obrolan antara Aurora dengan bu Wahida di ruangan itu tanpa Aurora sadari ada Laura tengah membesuk seseorang dan Laura pun duduk memungguginya.


Dan saat Laura berdiri barulah Aurora menyadarinya.


“Ah tidak Bu.” Aurora melambaikan tangan. “Kami tidak berjodoh kok Bu, karena dokter Ervin sudah menikah. Dan saya juga akan menikah beberapa hari lagi.”


Laura sudah tidak bisa mendengar obrolan itu lagi, karena Laura memilih untuk pergi seraya menyeka air mata yang sudah menetes. Hal itu sungguh membuat Aurora menyesali obrolan yang saat itu berlanjut.


“Sayang sekali ya, kalian tidak berjodoh.” Wajah bu Wahida berubah sendu karena sangat menyeyangkan hal itu.


“Hidup itu misteri, Bu. Ketika kita meminta untuk diberikan kebahagiaan tanpa diduga kita diberikan kesedihan. Dan kita juga tidak tahu detik, menit atau bahkan satu jam kemudian apa yang akan terjadi.”


“Begitupula dengan jodoh, manusia tidak akan pernah tahu akan hal itu. Dan kita sebagai manusia bukankah cukup menerima apa yang sudah ditakdirkan. Iya, kan, Bu?”


Bu Wahida mengangguk, memahami takdir yang terkadang sangatlah bertolak belakang dengan yang diharapkan. Seperti saat ini yang dirasakan bu Wahida itu sendiri.


Setelah melakukan visite terhadap beberapa pasien, kini sudah tiga jam telah berlalu dan waktunya untuk memeriksa kondisi Leon.


...----------------...


“Jantungnya mengalami kebocoran. Dan tahap yang harus kita lakukan mencari titik kebocoran. Jika kalian tidak bisa melihatnya secara langsung, bisa menggunakan kaca pembesar yang memang sudah disediakan.” Semua tim mengangguk.

__ADS_1


Ervin mulai mencari titik kebocoran hanya dengan memejamkan kedua matanya saja. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama Ervin mampu menemukannya.


“Sedot,” titah Ervin.


Asisten dokter yang dipilih oleh Ervin seketika menyedot darah yang mengakibatkan penyumbatan sampai tidak tersisa. Lalu, jantung yang terluka pun telah nampak dengan luka sayatan.


“Siapkan alat jahitnya.”


Sesi menjahit telah dilakukan dengan ahli oleh Ervin. Begitu rapi, membuat semua dokter lainnya merasa iri dengan kehebatan dan kerapian Ervin tetapi, mereka juga tidak memiliki niat untuk melakukan tidakan di luar nalar.


Setelah selesai dijahit jantung kembali dikejut dengan alat medis. Dan perlahan jantung kembali berfungsi dengan baik meskipun berdetak dengan lamban.


“Alhamdulillah,” ucap Ervin merasa lega.


“The doctor is the best.” para tim medis mengacungkan jempol mereka.


“Kalian juga hebat. Terimakasih atas kerjasama kalian hari ini.” Ervin memeluk kaum lelaki sedangkan pada beberapa perempaun Ervin cukup bersalaman saja.


Setelah selesai melakukan perang di atas meja operasi kini saatnya Ervin beristirahat sejenak melepas rasa pegal di leher dan kaki. Sebelumnya Ervin akan mencuci tangan dan mengganti pakaiannya.


...----------------...


Sebelum Aurora masuk ke ruang ICU maksimal ia akan bertemu dengan keluarga pasien dan memberi salam.


Semua berkumpul, Humaira dan kedua orang tua Leon. Hanya itu yang sedari tadi berada di sana karena, bu Veronica dan bunda Rania berpamitan pulang terlebih dahulu.


‘Kenapa Laura tidak ada disini? Lalu ... Kemana Dia?’ tanya Aurora dalam hati.


Dalam hati Aurora hanya ingin mengatakan maaf agar Laura tidak salah paham seperti yang didengar tadi.


“Permisi, Pak-Bu! Saya akan melakukan pemeriksaan pada pasien.” Ketiganya mengangguk.


Karena tidak ada, Aurora masuk ke dalam ruang ICU setelah menyapa dengan ramah keluarga itu.


...----------------...


“Itu ... Bukannya Dek Laura? Tapi ... Apa yang dilakukannya di sana? Seperti sedang ... Menangis.” Ervin menjamkan tatapannya.


Ervin menuju di mana Laura sedang duduk sendirian di dekat taman. Tiba-tiba rasa khawatir menyelimuti hati Ervin.


“Ya Allah ... Kenapa harus terjadi padaku? Kenapa juga aku harus mendengar obrolan mereka tadi? Hiks ... Hiks ... HIs...”


“Haruskah aku berpura-pura tuli, berpura-pura buta dan berpura-pura baik-baik saja? Tidak bisa Ya Rabb ... Aku merasa sulit untuk melakukan itu semua. Dan apakah aku tidak berhak bahagia? Hiks ... Hiks ... Hiks ...”


Laura terdengar sesenggukan, bahkb hatinya ikut berprotes. Hanya kebahagiaan yang diinginkan Laura, tidak lebih dari itu. Karena Laura cukup sadar diri dengan kekurangannya itu.


Ervin mendengar semua jerit tangis Laura. Hatinya ikut merasa perih. Tetapi, bukan berarti Ervin memiliki perasaan plinplan dalam mengambil keputusan. Ervin hanya membutuhkan waktu untuk menyembuhkan hati yang lara. Menerima takdir yang tidak sesuai bukankah membutuhkan proses? Dan itulah yang dilakukan Ervin saat ini.


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2