Couple Doctor

Couple Doctor
Lembur Bersamamu


__ADS_3

...Bila waktu yang aku berikan padamu masih saja kurang maka, aku siap bahakan dengan amat senang hati akan ku perpanjang waktuku lagi....


...----------------...


Waktu terus berjalan hingga tiba waktunya sholat ashar, Ervin bergegas menuju ke masjid hendak menunaikan sholat berjamaah dengan beberapa warga di sekitar.


“Assalamualaikum, Dokter Ervin.” Seorang ustadz menghampiri Ervin yang akan masuk ke dalam masjid.


Ervin menoleh, seketika menyapa ustadz tersebut dengan ramah.


“Walaikumsalam, Pak Ustadz.” Ervin menyalami pak ustadz tersebut.


Dan itulah pentingnya adab dan berilmu. Ervin selalu besikap ramah, sopan dan menghargai orang yang lebih tua daripada dirinya.


“Apakabar, Dokter Ervin? Saya rasa ... Saya jarang loh melihat Dokter akhir-akhir ini.”


“Alhamdulillah, saya baik. Kabar pak Ustadz sendiri bagaimana?”


“Alhamdulillah saya juga baik. Tapi ...”


Allahu akbar... Allahu akbar...


Terdengar suara adzan telah dikumandangkan dengan begitu merdu. Ervin yang tidak mau melewatkan saat mendengarkan adzan serta tidak ingin melewatkan sholat sunah sebelum sholat wajib, ia pun mengajak pak ustadz untuk segera masuk ke masjid.


“Mari, Pak Ustadz! Lebih baik kita masuk sekarang,” ajak Ervin dengan nada sopan.


“Ah iya mari-mari!”


Dengan terpaksa pak ustadz menghentikan obrolannya, ikut masuk ke dalam dan duduk bersama yang lain.


Sepersekian detik kemudian sholat empat rakaat di sore itu telah dijalankan. Pak ustadz selaku imam di sana telah maju ke depan_berdiri bagian shaf terdepan.


“Allahu... Akbar.” Suara takbir telah diucapkan.


Para makmum pun mengikuti hingga selesai. Dan setelah usai melakukan salam tak lupa dzikir pun dilantunkan agar kita sebagai manusia mendapatkan kerendahan hati dan kesabaran hati dalam menerima takdir yang sudah ditetapkan.


Pak Ustadz tersebut mengedarkan pandangannya. Seakan tengah mencari seseorang di antara orang-orang yang ikut berjamaah tetapi, pada akhirnya pak Ustadz tidak menemukan siapa yang tengah dicari.


“Maaf, permisi, Pak Ustadz. Pak Ustadz sedang mencari siapa ya? Saya lihat dari tadi celingukan seperti sedang mencari seseorang.” Salah satu warga mendekati pak Ustadz.


“Iya, saya memang sedang mencari dokter Ervin. Apa ... Kau melihatnya?” tanya Pak Ustadz tersebut.


“Maaf Pak Ustadz, sepertinya dokter Ervin tadi sudah keluar. Mungkin sudah kembali ke rumah sakit.” Orang tersebut memberikan keterangan seperti yang dilihatnya.


Pak Ustadz hanya ber 'oh' saja. Lalu, beliau mengucapkan terimakasih dan setelahnya meninggalkan masjid.


...----------------...


“Tadi kira-kira Pak Ustadz mau ngomong apa ya? Aku sampai lupa untuk menanyakan lagi kepada beliau.”


Ervin terus berjalan menelusuri lorong rumah sakit sembari memikirkan ucapan pak Ustadz yang menggantung tadi. Dan hal itu jarang dilakukan sama Ervin tetapi, mengingat beliau yang disegani dan dijadikan panutan di desa itu membuat Ervin terus mengingatnya.


“Dor! Melamun saja kau ini, Ervin. Apa kau tak dengar aku panggil-panggil nama kau dari tadi.” Alfan mengejutkan Ervin dari arah belakang.


Ervin yang merasa terkejut seketika meraba dadanya. Rasanya ingin sekali ia mengumpat dan mengatai Alfan tanpa ampun. Akan tetapi, mengingat Alfan yang sedang bimbang dengan permasalahan beberapa hari lalu Ervin pun tak tega. Dan hanya mengumpat di dalam hati saja.

__ADS_1


“Bagaimana dengan kemaren? Sudah melakukan seperti yang aku sarankan?” tanya Ervin.


Hening...


Tidak ada jawaban dari Alfan, ia menunduk dan bahkan nampak lesu_tak bertenaga seperti tadi. Membuat Ervin merasa heran dan juga penasaran.


Sepersekian detik kemudian...


“Entahlah! Aku masih belum menemukan jawaban. Ngomong-ngomong... pulang jam berapa kau? Aku mau ikut kau saja pulang.” Alfan menggoyang-goyangkan lengan Ervin layaknya seorang anak kecil yang meminta dibelikan permen.


“Hahaha... Jangan gila deh kau ini, Alfan. Aku saja sekarang tinggal di rumah mertuaku. Mana mungkin aku ajak kau kesana. Jangan-jangan kau mau nguntit ya?” tuduh Ervin separuh bercanda.


“Astaghfirullah halazim... Tega bener sama sahabat sendiri. Lagian siapa juga yang mau nguntit di rumah orang. Aku itu cuma mau ngobrol sama kau lebih lama. Aku mau tahu tentang ... Renjana.” Alfan merubah tatapannya dengan tatapan serius.


Ervin mengerutkan keningnya dan berusaha untuk menelaah ucapan Alfan. Ya, mungkin saja memang Alfan membutuhkan teman untuk bercerita sekaligus dimintai saran nantinya.


“Ya sudah, tak apa. Kau ikut ke rumah Papa Irham tapi, ingat jangan macam-macam di sana nanti. Dan sekalian jangan lama-lama ya! Soalnya aku tak mau membuat Laura menungguku terlalu lama.” Alfan mengangguk saja.


Yang terpenting saat itu Alfan bisa ikut pulang bersama Ervin dan bisa mengobrol panjang dengan Ervin untuk memecahkan permasalahan tentang Renjana.


...----------------...


“Halo, assalamu'alaikum, Ra.”


“Waalaikumsalam, Kak. Ada apa?”


“Tolong bilangin sama mama kalau nanti kakak akan pulang agak malam. Soalnya kakak mau ngobrol dulu sebentar sama keluarga Leon, sekalian mau nungguin korban kebakaran yang mau diotopsi.”


“Ok, siap! Nanti akan aku sampaikan sama mama dan papa. Oh iya, kakak tadi lihat bang Ervin apa tidak? Terus Dia sudah pulang apa belum?” tanya Laura yang sudah terlanjur kepo.


Humaira tersenyum sembari geleng-geleng kepala. Karena Humaira merasa jika Laura sudah benar-benar jatuh cinta sama Ervin.


Setelah mengucapkan salam telepon pun Humaira tutup. Seketika obrolan pun telah diakhiri.


Laura yang sebelumnya tengah sibuk berada di depan layar laptopnya seketika berlari ke depan setelah mendengar suara motor telah diparkirkan.


“Assalamualaikum,” ucap salam Ervin yang sudah sampai di depan.


“Walaikumsalam,” balas Laura yang seketika membuka pintu.


Laura menyambut kedatangan Ervin dengan senyuman lalu, meraih tangan Ervin hendak salim yang dipenuhi dengan takzim. Seperti biasa Ervin memberikan bonusnya. Mendaratkan ciuman di kening Laura dan hal itu adalah sesuatu hal yang ingin selalu Laura rasakan.


“Isteri pintar! Suami baru pulang langsung gercep buka pintu dan segera salim pula,” puji Ervin.


Blush! Seketika pipi Laura merona meskipun tidak sedag memakai blush on. Membuat Ervin semakin suka jika diminta menggoda Laura. Berharap Ervin selalu bisa menjaga hati dari perempaun manapun agar ia bisa puas merayu dan melakukan hal romantis dengan pasangan halalnya.


“Ehm. Ada aku loh disini juga. Jangan dikacangin, apalagi kayak obat nyamuk saja,” ucap Alfan merajuk.


Laura yang baru menyadari jika ada Alfan seketika ia tersenyum tipis. Sedangkan Ervin justru tertawa puas melihat Alfan yang merajuk.


...----------------...


Laura yang tadinya bisa membayangkan akan mengobrol dan romantisan dengan ERvin lama justru bayangan dan harapan itu seketika musnah kala Ervin masih sibuk mengobrol dengan Alfan. Bahkan sampai-sampai hampir lupa waktu jika malam itu sudah pukul 20.00 WIB.


“Itu temannya bang Ervin kenapa sih kok nggak pulang-pulang. Nggak tahu apa ya kalau aku dan bang Ervin itu masih masa pengantin baru.” Laura mengumpat sambil mengintip dari belok tembok.

__ADS_1


Bu Veronica yang melihat tingkah putrinya itu tertawa kecil. Merasa lucu melihat Laura saat benar-benar jatuh cinta dengan Ervin, bahkan ingin selalu dimanja.


“Kenapa tidak ikut ngobrol saja, duduk di samping Ervin dan beri kode sama Ervin jika putri mama ini juga mau dimanja.” Bu Veronca terkekeh.


“Ih, Mama apaan sih. Ngintipin Laura ya dari tadi? Awas, bintitan baru tahu rasa nanti.” Laura melengos dan kembali menatap Ervin.


“Lha dari tadi kamu sendiri ngapain, Ra? Ngintip juga, kan,” ucap Bu Veronica.


Laura hanya mencebik saja. Dan saat melihat ke ruang tamu lagi Laura tidak mendapati keberadaan Ervin serta Alfan di sana.


“Loh, kok nggak ada sih? Kemana mereka perginya? Atau jangan-jangan bang Ervin nganterin Alfan ke depan ya!” gumam Laura.


Laura masih menatap ke arah pintu utama, berharap Ervin muncul dari sana. Namun, nyatanya tidak. Sehingga membuat Laura berubah menjadi sendu, karena tidak mendapati wajah Ervin yang tampan rupawan.


“Ehm. Sudah ngintipnya, Dek?”


Deg!


Rasanya Laura mengenali suara yang berasal dari belakang tubuhnya. Dan seketika itu Laura tidak memberanikan dirinya untuk berbalik menatap Ervin yang sudah jelas berada di belakangnya.


Ervin semakin dibuat gemas dengan sikap Laura. Dan rasanya Ervin sudah tidak tahan lagi untuk lembur bersama Laura.


“Maaf ya sudah buat Dek Laur nya Abang menunggu lama. Sekarang istirrahat saja yuk, Abang capek loh seharian sudah bekerja.” Ervin menggendong tubuh Laura yang sedikit kurusan itu menuju ke kamar.


Laura merasa tak eak hati dan malu sama kedua orang tuanya jika melihat bagaimana Ervin memperlakukannya seperti itu. Berulang kali Laura meminta Ervin untuk menurunkannya saja tapi, Ervin tetap melakukan hal tersebut.


Dan sesampai di kamar Ervin merebahkan tubuh Laura dengan pelan di atas kasur. Tidak berheni sampai di sana saja.


“Dek, bolehkah Abang lembur bersamamu malam ini?” bisik Ervin di telinga Laura.


Bisikan itu telh membuat bulu kuduk Laura merinding. Ada hawa panas yang menarik hasratnya. Darah pun berdesir hebat bahkan diri ingin asanya memuaskan dan terpuaskan.


‘Mungkin ini adalah saatnya untuk aku melakukan kewajibanku... memuaskannya.’ Laura bermonolog dalam hati.


Laura mengangguk, ia mengijinkan Ervin untuk menodainya malam itu. Menodai degan cara halal, hubungan yang mmang sudah diridhoi oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.


Tidak membutuhkan waktu yang lama lagi, dengan cara pelan dan halus Ervin mendaratkan bibirnya di kening Laura. Lalu, semakin ke bawah dan menempelkan bibirnya di bibir mungil Laura. Dan perlahan tapi mengena, permainan adu ranjang itu telah membuat keduanya merasa kewalahan, merasakan kenikmatan di atas puncak tertinggi dan kini membuat keduanya merasa lelah.


“Terima kasih, Dek. Karena malam ini sudah mau lembur sama Abang.” Kembali Ervin mendaratkan ciumannya di kening Laura.


Laura hanya mengangguk saja, rasanya tubuh Laura merasa benar-benar lelah. An ketika rasa kantuk melanda keduanya tiba-tiba ponsel Ervin berdering. Tanda panggilan masuk dari pihak rumah sakit.


“Baik, saya akan segera datang ke rumah sakit. Kalian bisa persiapkan semuanya sekarang juga.”


Ervin menoleh pada Laura. Lalu, Ervin mendekat dan mengungkapkan kata maaf jika ia harus meninggalkna Laura malam ini. Perihal ada panggilan mendadak dari pihak rumah sakit yang mengharuskan Ervin kesana.


“Ya, tak apa. Abang pergi saja.” Nada yang terdengar tidak mengenakandi telinga Ervin.


“Bila waktu yang Abang berikan padamu masih saja kurang maka, Abang siap bahakan dengan amat senang hati akan Abang perpanjang waktunya lagi.”


“Tapi maaf, bukan malam ini ya sayang. Ini operasi darurat yang membuat Abang harus berdiri sampai berjam-jam loh. Ini demi pasien yang memiliki rasa percaya sama Abang. Jadi, Adek juga harus percaya sama Abang. Okay.”


Bersambung...


🌹🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya!


Boleh juga mampir ke cerita saya yang lainnya.


__ADS_2