
...Akan ada hari dimana kamu mendapatkan kebahagiaan itu seutuhnya. Karena Allah selalu menjanjikan umatnya setelah menjalani hidup yang keras. Seperti istilah ‘akan ada buah yang manis dalam setiap pengorbanan’....
...----------------...
Ervin meraih handuknya untuk segera mandi, karena waktu sudah hampir memasuki waktu sholat maghrib. Dan Ervin tidak mau jika mandi di waktu sholat maghrib tiba.
Saat Ervin masih sibuk di kamar mandi Laura menyiapkan baju sholat untuk Ervin. Hal itu sudah dilakukan Laura selama dua minggu setelah ia menikah dengan Ervin.
Deg!
“Ya Allah, bisakah aku menikmati setiap momen seperti ini untuk selamanya? Menyiapkan segalanya untuk suamiku, berhak kah aku untuk egois?” gumam Laura dengan mata berkaca-kaca.
Pikiran itu kembali terlintas dalam benak Laura. Rasa takut untuk meninggalkan setiap momen bersama Ervin terbesit di hatinya. Karena bersama Ervin Laura seolah mendapatkan cahaya yang begitu terang. Ervin selalu mengajarkan sebagaimana agama itu dijalankan dari yang wajib dan juga sunnahnya.
‘Sepertinya Dia sedang melamun. Apa sebenarnya yang ada di dalam pikirannya itu?’
Ervin menghampiri Laura setelah melihat Laura duduk termangu di bibir kasur.
“Dek, sudah siapin bajunya Abang?” tanya Ervin.
Seketika Laura terperanjat, ia segera menyeka air mata yang sudah hampir jatuh itu. Lalu, ia segera menjawab pertanyaan Ervin.
“Dek, kenapa? Abang tadi lihat kayak melamun begitu. Mikirin apa, hm?” Ervin mengangkat dagu Laura.
“Adek habis nangis?” tanya Ervin lagi.
Laura menggeleng, ia tidak ingin Ervin tahu apa yang sedang berkecamuk dalam pikirannya saat ini.
“Tidak kok Bang, tadi pas mau ambil baju ada debu yang mengenai mataku. Jadi, berair begini deh,” jawab Laura dengan alibinya.
“Jangan bohong sama Abang, Dek! Meskipun kita baru dua minggu menikah Abang ini suamimu, dan Abang tahu bagaimana kamu.” Ervin menatap Laura begitu dalam.
Hening...
“Kalau tidak mau mengaku ya sudah, tak apa. Asal tidak membuat pikiran kau terbebani. Bahkan membuat tekanan darah kau menjadi tinggi, Abang tidak mau kesalahan fatal bisa mengakibatkan semuanya. Ingat akan hal itu terus ya, Dek!” ucap Ervin dengan lembut.
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Lantunan suara adzan sedang berkumandang. Terdengar begitu merdu kala hati tengah merindu untuk kembali bersujud menghadap Allah SWT dan memenuhi kewajiban-Nya.
Ervin yang mendengar suara adzan pun bergegas mengambil air wudhu hendak menuju ke mushola. Sedangkan Laura, ia pun merengek ingin ikut sholat berjamaah di mushola pula.
“Boleh ikut ya, Bang! Sekali saja,” rengek Laura.
“Bolehlah! Berkali-kali juga boleh, setiap memasuki sholat di waktu tertentu sangat diperbolehkan pergi ke mushola ataupun masjid. Akan tetapi, bagi perempuan itu lebih dianjurkan sholatnya di rumah.” Ervin tersenyum.
“Kok begitu, Bang? Kenapa?”
“Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, Nabi SAW bersabda: ‘Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka.’ (HR. Ahmad). Hadis ini dan beberapa hadis lainnya, dapat disimpulkan bahwa perempuan lebih dianjurkan sholat di rumah.”
“Ya sudah kalau mau ikut, ayo, Dek! Nanti keburu iqomah loh,” ajak Ervin.
__ADS_1
Sebenarnya Laura masih penasaran dengan alasan kenapa? Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya yang ingin bertanya lagi kala mengingat sholat maghrib itu amatlah sedikit.
Setelah usai sholat di mushola Ervin meminta Laura untuk berjalan disisinya. Mengobrol di jalan berdua adalah hal yang menarik bukan, bagi pasangan yang baru menikah itu. Dengan seiringnya waktu yang terus berjalan Ervin semakin ingin tahu tentang kepribadian Laura.
“Kegiatan Dek Laura dulu apa saja? Perasaan tidak pernah cerita apapun sama Abang.”
“Bukan tidak mau cerita Bang, tapi Abang kan, tidak tanya sama aku. Terus ceritanya mulai darimana coba,” ujar Laura.
“Hahaha... kamu benar juga, Dek. Maafkan Abang ya, mungkin Abang juga terlalu sibuk di rumah sakit selama beberapa hari terakhir.” Ervin menggenggam tangan Laura.
“Tidak apa Bang, tak perlu minta maaf begitu. Aku juga tidak mempermasalahkan semuanya kok, itu tugas Abang sebagai dokter.”
“Dan Dia lah dokter Ervin Evano, suamiku yang keren and the beast full!” ungkap Laura tanpa malu.
Ervin menggeleng saja melihat tingkah isterinya yang semakin hari semakin menggemaskan, bahkan menanamkan benih-benih cinta di hatinya.
Sesampai di rumah mereka bersiap untuk makan malam bersama. Makanan lezat dengan gizi seimbang sudah tersaji di atas meja makan. Empat manusia sebagai penghuni di rumah itu sudah mengambil duduk di kursi masing-masing.
“Abang mau makan pakai apa?” tanya Laura memastikan.
“Apa saja, Dek. Yang penting berkah,” jawab Ervin.
Laura menyiapkan makanan tersebut untuk Ervin. Pak Irham dan Bu Veronica amatlah senang mendapatkan menantu yang baik hati seperti Ervin. Meskipun awal pernikahan itu terjadi karena semata belas kasihan saja tetapi, Ervin mampu menjaga hati Laura. Bahkan cinta telah tumbuh di atas pernikahan keduanya. Dan hal itu adalah sesuatu hal yang mereka syukuri.
...----------------...
Setelah menunaikan sholat isya' di rumah kini Ervin dan Laura menikmati udara malam di balkon. Melihat pemandangan di atas langit yang bertabur banyak bintang adalah suatu momen yang amat langka. Pasalnya Ervin kerap bertugas di rumah sakit, bahkan hampir tengah malam masih baru pulang dan terkadang tengah malam masih mau berangkat.
“Abang mau tahu kegiatan apapun yang aku jalani dulu?” Ervin mengangguk.
“Ok. Emm... Dulu, aku seorang model loh Bang. Cantik, tinggi, putih dan berbadan ideal. Abang tahu kan, bagaimana penampilan model itu seperti apa... harus perfect.” Laura tersenyum bangga.
“Tapi sayangnya, itu semua seketika lenyap setelah mereka tahu aku tidak bisa lagi memerankan apa yang mereka inginkan. Di tambah lagi badanku sekarang tidak ideal lagi, kurus kering dan keronta seperti ini.” Laura berubah muram.
“Sabar ya! Akan ada hari dimana kamu mendapatkan kebahagiaan itu seutuhnya. Karena Allah selalu menjanjikan umatnya setelah menjalani hidup yang keras. Seperti istilah ‘akan ada buah yang manis dalam setiap pengorbanan’.” Ervin menarik tubuh Laura ke dalam dekapannya.
Diciumnya kening Laura hingga hawa panas menjalar ke seluruh tubuh sampai naik ke ubun-ubun. Hasrat yang terpendam tidak lagi bisa ditahan, bahkan semakin mendorong kuat untuk memuaskan satu sama lain.
Ervin menggendong Laura bak bride style. Setelahnya ia merebahkan tubuh Laura yang kurus itu di atas kasur.
“Dek, apa boleh?” Ervin hanya sekedar ingin memastikan.
Dalam setiap bertindak mengenai kesehatan Laura Ervin tidak mau gegabah. Jika Laura mengalami drop maka akan fatal.
“Boleh kok, Bang.” Laura mengangguk.
‘Ya Allah paling tidak aku sudah berusaha menjadi sosok isteri yang mampu melayaninya secara lahir dan batin.’ Dalam hati kecil Laura, ia tersenyum pedih.
Ervin mulai menghujani wajah Laura dengan ciuman yang dipenuhi hasrat. Bibir Ervin semakin turun ke bawah, hingga kedua bibir itupun saling menempel. Kembali lagi Ervin bereaksi, ia membuka kancing baju Laura.
Deg!
__ADS_1
Bau semerbak obat keras telah menyengat hidung Ervin kala ia membuka baju Laura. Ingin sekali ia mengurungkan niatnya untuk meminta dipuaskan. Tetapi, hasrat yang terpendam kian menggebu.
‘Tidak Ervin, kau harus bisa menekan egomu. Ini bukanlah saatnya kau meminta jatah pada Laura. Apa kau tak kasihan padanya yang berwajah pucat ini?’
Ervin menggeleng keras, ia berusaha berpikir lebih jernih lagi. Setelah Ervin tersadar jika keinginannya itu tak seharusnya terpenuhi saat itu juga ia mundur perlahan.
“Kenapa, Bang?” Laura mengernyitkan dahinya.
“Tidak apa, kok. Maafkan Abang yang terlalu menuntutmu untuk melayani Abang. Dan tak seharusnya Abang memintanya sekarang.” Ervin mengulas senyumnya.
“Kenapa begitu Bang? Ini memang kewajiban aku untuk melayani Abang, kan? Dan aku ikhlas kok melayani Abang.”
“Tidak, sayang. Kamu harus banyak istirahat dulu. Ya sudah, sekarang cepat tidur gih! Abang bacakan surat Ar-Rahman saja ya!”
‘Ya Allah... Dia lah Dokter Ervin Evano, suami yang engkau tuliskan namanya di dalam kitab-Mu dan Engkau jadikan Dia jodohku.’
Laura tiba-tiba menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Ervin. Dan ia pun menangis tersedu dalam pelukan itu.
“Kenapa menangis, hei?”
“Maafkan aku ya Bang, karena aku wanita yang ber penyakitan jadi tidak bisa melayani Abang sampai puas. Hiks... Hiks... Hiks...”
“Hust! Abang tidak pernah menyalahkan kondisi Dek Laura yang seperti ini. Kita jalani bersama-sama, yakin saja Allah pasti akan mempermudah segalanya. Okay, baby!”
“Sudah ah, jangan nangis! Tak baik juga kalau menangis di tengah malam begini, sekarang tidur saja yuk! Abang sudah mengantuk loh, besok harus bangun pagi juga.” Ervin mengusap sisa air mata yang membasahi pipi Laura.
Laura mengangguk, ia merebahkan kembali tubuhnya di atas kasur. Dan Ervin pun siap untuk membacakan surat Ar-Rahman sebelum Laura terlelap dalam tidurnya.
Sepersekian detik kemduian, akhirnya Laura terlelap dalam tidurnya. Sedangkan Ervin, ia masih menelisik tajam wajah Laura yang damai kala terlelap.
‘Aku... jatuh hati, Bu. Maafkan Ervin jika belum sempat mengajak isteri Ervin mengunjungi makam Ibu dan Bapak. Karena kondisi isteri Ervin masih jauh dari kata baik-baik saja.’
Air bening seketika membasahi pipi Ervin. Pedih memang kehidupan yang dijalani lelaki muda itu. Yang membuat Ervin harus tetap kuat dan kokoh, seolah tidak terjadi sesuatu apapun yang membebani pikirannya saat ini.
...----------------...
“Abang mau sarapan apa? Ada nasi goreng, ayam, sandwich atau mau sama yang lainnya?” tanya Laura sambil menunjuk setiap piring yang terisi penuh dengan masakan yang tersaji.
“Emm... Abang roti saja ya, Dek!” jawab Ervin singkat.
“Cuma roti saja? Kenapa tidak sarapan nasi saja?” tanya Bu Veronica.
“Tidak, Ma. Ervin buru-buru soalnya. Ini sudah jam setengah tujuh pagi, jam tujuh pagi Ervin harus bersiap ada jadwal operasi. Nanti kalau makan nasi justru tidak sempat dan akan terlambat.”
“Apa operasi nya darurat? Hingga sepagi itu?”
“Iya, seharusnya nanti siang jam sebelas sih. Tapi, hari ini acara pernikahan Aurora dengan Abimanyu, jadi semuanya ingin menghadiri pesta pernikahan mereka. Jadwal operasi jadi dimajuin deh,” jawab Ervin apa adanya tanpa harus membohongi Laura.
“Terus? Abang juga akan ikut menghadiri pesta pernikahan dokter Aurora juga dong?”
Bersambung...
__ADS_1
🌹🌹🌹