
...Kembali hati Engkau uji agar lebih kuat dan sabar. Pasrah, hanya satu kata itulah yang mampu mewakili perasaan yang diambang kehancuran atau kebahagiaan....
...----------------...
RSUP H. Adam Malik, sebuah tulisan yang terpampang dengan jelas_yang menempel di dinding gedung tempat Ervin saat ini bekerja. Setelah melakukan pertolongan pertama terhadap Laura Ervin segera membawa ke rumah sakit.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak ada disampingnya saat ia meminum racun itu? Apa kamu tahu apa resiko pada jantungnya setelah melakukan itu, hah?”
Ervin marah, sebelumnya ia tidak pernah membayangkan bahkan memikirkan apa yang terjadi saat ini, sedikit pun tidak terbesit.
Ervin murka, ia tidak bisa menahan darah yang mendidih_yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ervin bagaikan seseoran yan sedangg kesurupan enth setan mana yang erasuinya. Pasalnya ia melampiaskan semuanya kepada dokter Humaira saat, m,ereka di depan ruang IGD.
“A-aku tidak tahu jika akan seperti ini kejadianya. A-aku pun juga tidak tahu jika Laura akan berbuat nekat seperti itu setelah mendapatkan kabar bahwa Arlos mengalami kecelakaan.” Dokter Humaira merasa gugup higga terbata-ata saat menjawab Ervin.
Bugh!
Bugh!
Ervin memberikan bogeman mentah di tembok yang jelas tidak memiliki kesalahan apapun. Kemurkaan yang ada membuat semua orang yang berlalu lalang berhenti sejenak dan menatap Ervin dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bahkan, dokter Humaira sampai merasa takut terhadap kemarahan Ervin. Tangis, itulah yang mampu dilakukan dokter Humaira saat melihat Ervin yang tidak bisa mengontrol diri.
“Apa yang terjadi di sana?”
Aurora yang tidak sengaja berjalan di koridor rumah sakit melihat kerumunan di depan ruang IGD. Hingga rasa penasaran pun tidak bisa tertahan dan Aurora melangkah menuju kesana.
Bugh!
Tes ...
Tes ...
Aurora melihat punggung tangan Ervin berdarah bahkan, darah segar menetes ke lantai. Tanpa mempedulikan bagaimana kondisi di sana Aurora melakukan hal yang menurutnya benar. Hatinya berkata agar memberikan sentuhan hangat untuk meluluhkan hati Ervin.
“Ervin, tenanglah! Aku mohon jangan sakiti dirimu seperti ini. Sadarlah!” ucap Aurora saat mendekap tubuh Ervin dari belakang.
Pelukan yang sejenak menghangatkan dan melulhkan sungguh Ervin tak mau menmapik rasa yang ada. Sebagai lelaki yang dewasa Ervin memang membutuhkan dekapan yang seperti itu.
“Aku tidak mau gagal lagi, Ra. Cukup kegagalan di masa lalu saja yang membuatku kehilangan. Hiks ... Hiks ...” Aurora ikut menitihkan air mata karena, ia merasa tidak sanggup melihat Ervin menangis.
“Aku tahu rasa bersalah di masa lalu masih menghantuimu, Ervin. Tapi kamu harus bisa membandingkan kondisi saat ini, karena ini sudah takdirnya.” Aurora masih mendekap, memberikan ketenangan agar hati Ervin luluh dengan sendirinya.
__ADS_1
“Membandingkan bagaimana, Ra?”
Ervin melerai pelukan Aurora lalu, ia berbalik dan menatap Aurora dengan tatapan nanar. Lelaki bermanik hitam pekat itu tidak bisa memboongi jika ia membutuhkan kembali perhatian dan pengertian. Kegagalan yang dimaksud tak lain ialah gagal dalam memberikan pertolongan petama. Mengingat jika, Haura tertembak dan Ervin tidak bisa memberikan pertolongan pertama karena, Haura sudah mengalami henti jantung hingga membawanya ke alam yang berbeda.
“Aku tahu maksud kamu, Vin. Tapi, coba lihatlah di sekiling kamu. Mereka merasa ketakutan melihat dokter yang mereka kenal seperti ini. Apalagi kamu ... Sudah menyakiti hati dokter Humaira.”
Ervin pun menoleh ke arah dokter Humaira, menatap sejenak netra dokter cantik itu yang masih menyimpan air mata yang siap jatuh kapan saja.
Setelah cukup tenang Ervin mengucapkan kata maaf kapada dokter Humaira. Dan dengan besar hati dokter cantik itu dengan bulu matanya yang lentik telah memaafkan kesalahan Ervin beberapa menit lalu.
“Kembalilah seperti dokter Ervin yang dikenal oleh banyak pasiennya. Karena yang kita hadapi saat ini Laura, saat ini Dia sedang koma setelah meminum cukup banyak racun.”
Ervin mendesah pilu, ia tidak bisa cepat sat memberikan pertolongan kepada Laura. Namun, ia tidak akan menyerah begitu saja seperti enam tahun lalu.
“Jangan salahkan dirimu atas permasalahan ini. Kita akan berjuang bersama untuk menyelamatkan Laura. Karena kita couple doctor, meskipun cinta tidak akan menyandingkan kita berdua tetapi, profesi kita lah yang akan membuat kita bersanding.” Aurora mengukir senyum manisnya.
Trak ... Trak ... Trak ...
Suara sepatu pantofel telah terdengar menuju di mana ketiga dokter muda itu masih berkumpul, tak lain di depan ruang IGD.
“Pakailah sneli kalian sekarang juga! Karena kita tidak punya banyak waktu untuk mengobrol saja. Dokter Humaira, lakukan tugas Anda di ruang mayat. Dan dokter Aurora sekaligus dokter Ervin, lakukan tugas kalian di ruang operasi.”
“Siap! Prof.” Semua memberikan jawaban yang penuh kemantapan
Dokter Humaira segera menyeka air matanya. Dan ia sgera memakai sneli dengan nama yang tertulis dokter forensik Humaira H. N. Di sebelah kanan bgain dada. Hal sama juga dilakukan oleh Ervin dan Aurora.
“Siapkan semua peralatan operasi sekarang juga! Dan suster Rani ... Jangan lupa siapkan jantung yang baru untuk pasien.” Ervin sudah mengabil alih posisi nya sebagai pemimpin operasi.
“Baik, Dok.” Semua mangangguk tanda setuju.
Mereka sibuk menyiapkan operasi, sedangkan Ervin dan Aurora mengganti pakaian mereka sekaligus mencuci tangan agar kembali steril.
Sepersekian detik kemudian, Ervin sudah siap berdiri beserta yng lainnya dengan posisi masing-masing. Aurora berdiri di dekat Ervin karena, ia sebagai dokter pendamping.
“Bisa kita mulai sekarang?” tanya Ervin memastikan. “Tapi sebelumnya jangan lupa berdoa sesuai keyakinan masing-masing agar dipermudahkan dalam operasi siang ini.”
Mereka mengangguk, sejenak mereka menunduk dan memegani dada hendak membaca doa. Sepersekian detik kemudian operasi telah dilakukan.
“Scalpel.”
Hampir tiga jam lamanya mereka sudah berdiri dengan konsentrasi penuh dan ketajaman mata yang tak lepas dari dada yang terbelah.
__ADS_1
“Lakukan persiapan, kita akan memastikan jantung masih bisa berfungsi atau tidak.” Ervin kembali memberi titah.
“Siap!”
Dalam hitungan ketiga yang pertama Ervin mulai menekan jantung. Dan tekanan kedua ... Ketiga dan keempat pun gagal. Namun, Ervin tidak akan menyerah sampai di sana saja.
Deg ... Dug ... Deg ... Dug ...
Dalam tekanan ke lima akhirnya jantung bisa berdetak, tanda jika jantung masih berfungsi meskipun pelan. Dan tim medis menghembuskan napas lega setelah tahu betul bagaimana cara jantung yang baru saja dipasang ke tubuh pasien telah bekerja dengan baik.
“Dokter Aurora, untuk sisanya saya serahkan kepada Anda.” Ervin menatap tajam Aurora.
Aurora hanya membalas dengan anggukan mantap. Setelah dipastikan jika, Aurora mau membereskan sisanya Ervin segera mencuci tangannya setelah membuang pakaian yang dikenakan saat operasi tadi ke dalam tong sampah.
...----------------...
Ervin menatap nanar ruangan yang beberapa jam lalu sudah membuatnya bak orang kesurupan. Dan di depan ruang tersebut sudah ada pihak keluarga Laura yang menungu. Dan terlihat amat kecil tubuh yang tak asing bagi Ervin sedang duduk di ruang tunggu yang tidak jauh dengan keluarga Laura.
“Bunda, Bunda kenapa ada disini?” tanya Ervin to the point.
“Bunda mendapatkan kabar dari rumah sakit jika kamu mengamuk tadi, seperti orang kesurupan tidak jelas.” Bunda Rania memberikan penjelasan.
“Maakan Ervin, Bun. Ervin ...”
“Jangan menyalahkan diri kamu sendiri, Nak. Bunda tahu bagaimana perasaan kamu. Tetapi ... ada masalah yang lebih mengkhawatirkan daripada yang tadi.”
Ervin mengernyitkan keningnya, mencoba berpikir tentang apa yang dimaksud oleh Bunda Rania.
“Apa, Bun?”
Bunda Rania menghembuskan napas beratnya.
“Kami selaku kedua orang tua Laura ingin kamu melakukan ijab dan qabul dengan Laura setelah Dia sadar nanti.”
Tiba-tiba saja di saat bibir Bunda Rania merasa begitu kelu papa Laura mengatakan hal yang diluar ekspatasi Ervin. Dan jelas saja Ervin terkejut dengan permintaan konyol dari pihak keluarga Laura.
‘Kembali hati Engkau uji agar lebih kuat dan sabar. Pasrah, hanya satu kata itulah yang mampu mewakili perasaan yang diambang kehancuran atau kebahagiaan.’
Ervin merasa dilanda kebimbangan, pasalnya ia merasa sulit untuk memberikan keputusan yang seharusnya diambil.
🌹🌹🌹
__ADS_1