
...Jangan patahkan hatimu hanya karena cinta. Dan cinta yang mustajab ialah cinta terhadap Tuhan-nya, setelahnya barulah cinta terhadap hamba-Nya....
...----------------...
Ervin mencoba mengalihkan pandangannya agar tidak semakin penasaran dengan siapa lemak yang masih bersama Aurora itu. Akan tetapi, sekali lagi hatinya menolak untuk berpaling, hingga Ervin melihat hal tak terduga dalam sekejap mata.
“Memang begitu ya pacaran jaman sekarang? Main sosor saja,” ucap Ervin tak suka.
“Ehm... Ehm...”
Seseorang menghampiri Ervin sembari berdehem. Membuat Ervin harus menoleh ke pemilik suara yang memang sudah berdiri di samping kanannya.
“Kalau cemburu bilang bos! Jangan dipendam di dalam hati saja. Apalagi ngintip begitu, awas bisa bintitan tuh mata.” Afgan terkekeh geli.
Afghan tak lain adalah salah seorang dokter poli kandungan. Meskipun berbeda spesialis dengan Ervin tetapi, Afghan salah seorang sahabat Ervin saat pertama kali masuk ke rumah sakit tersebut. Bahkan uji keakraban mereka bukan lagi kaleng-kaleng. Keduanya bak saudara saja, sama halnya dengan Haidar Mahesa.
“Apaan sih, sudah ngagetin malah ngedoa'in nggak jelas begitu. Lagian siapa pula yang ngintip. Tadi hanya tak sengaja lihat saja, eh malah begituan kelakuannya. Memang pacaran jaman sekarang bisa sebebas itu kali, ya?”
“Hahaha, ya mungkin begitu. Serasa dunia milik berdua dan yang lain hanya numpang. Aku yakin, kau akan seperti itu setelah menemukan tambatan hatimu kelak, Ervin.”
“Aku akan seperti itu jika sudah menikah. Karena pacaran memang dilarang bukan?”
“Ingatlah perkataanku ini kawan. Jangan patahkan hatimu hanya karena cinta. Dan cinta yang mustajab ialah cinta terhadap Tuhan-nya, setelahnya barulah cinta terhadap hamba-Nya.”
“Jika ingin mendapatkan cinta yang tulus dari perempuan itu maka, dahulukan merayu Tuhan kita yang mencitakannya.”
Ervin tersenyum puas dan merasa bangga setelah mengatakan hal itu kepada Afghan. Tak terkecuali Afghan sendiri, lelaki yang menganut agama non muslim itu membenarkan apa yang dikatakan Ervin. Meskipun tidak memahami secara pasti tetapi, Afghan tahu jika muslim sangat memuliakan wanita.
“Jangan kebanyakan melamun, awas ada setan yang hinggap di hatimu loh nanti. Wkwkwk...” Ervin berbalik menggoda Afghan.
“Apalagi ini, setan tak mempan. Setan tak akan jatuh cinta padaku, lagian aku masih normal.” Afghan mencebik.
“Terserah lah! Ya sudah, aku mau pulang dulu. Fighting bro!” ucap Ervin.
Ervin sengaja menutup obrolannya dengan ucapan seperti itu, alih-alih untuk menghargai Afghan yang memang non muslim.
...----------------...
Satu jam hampir berlalu, perjalanan di kota Medan cukup ramai tetapi, untung saja Ervin tidak terjebak kemacetan yang panjang. Hingga ia segera sampai di rumah barunya yang satu tahun sudah ia tinggali bersama bang Jamal, kak Sita dan Razza.
Rumah itu sekarang berada di kota, sehingga mempermudah keluarga bang Jamal dalam mengais rejeki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
__ADS_1
“Assalamu'alaikum.” Setiba di rumah tak lupa Ervin mengucap salam sembari mengetuk pintu.
Selang beberapa menit terdengar suara kak Sita yang berada di dalam rumah. Rumah yang sederhana dan tak terlalu luas itu membuat kak Sita cukup mendengar suara dari luar.
“Waalaikumsalam.” Kak Sita membuak ointu bercat putih itu.
“Wah, sudah cantik sekali kakak ku ini. Mana jagoan? Sudah ganteng juga?” tanya Ervin.
“Semua sudah siap, tinggal kau saja yang belum apa-apa. Cepat gih mandi lalu, ganti baju yang sudah kakak siapkan di kamar kau.”
Setelah meneguk segelas air putih di dapur Ervin segera menuju ke kamarnya dan bersiap. Dan seperti biasa, Ervin membasahi seluruh tubuhnya dibawah kucuran air dingin yang membuatnya kembali merasa segar setelah hampir empat jam. lamanya berdiri, mengeluarkan keringat yang mengucur di seluruh tubuhnya dan juga hati yang sempat memanas kala melihat adegan senonoh itu.
“Arghhh! Kenapa juga bayangan gambaran tadi masih memenuhi pikiranku? Dan masih sangat jelas menari-nari di mataku. Apa iya, ini yang dinamakan ... cemburu?” gumam Ervin dalam hati.
Byurr... Byurr...
Ervin kembali mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Berusaha menghilangkan bayangan tentang Aurora bersama seorang lelaki yang mengenakan seragam loreng dari pikiran Ervin memang tidak mudah. Tetapi, Ervin juga tidak ingin terus memikirkan hal yang sudah pasti dilarang oleh Allah, hingga ia terus mengguyur tubuhnya sampai pikirannya kembali jernih.
Hampir dua puluh menit Ervin betada di dalam kamar mandi. Dengan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya Ervin pun keluar dari dalam sana.
Ervin segera mengeringkan tubuhnya setelahnya, ia memakai pakaian sholat untuk menunaikan sholat ashar yang belum dikerjakan olehnya. Lima belas menit sudah Ervin selesai menunaikan sholatnya, sekarang ia berganti baju dengan mengenakan kemeja berwarna putih yang dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam. Sebagai pelengkapnya jas hitam, dasi loreng biru dan putih dan tak lupa sepatu hitam.
Ervin merapikan penampilannya serapi mungkin. Dan dari pantulan cermin yang ada di depannya terlihat lengkungan indah menghiasi bibir tebalnya.
Setelah dirasa siap Ervin pun keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang tamu. Di mana di sana bang Jamal, kak Sita dan Razza sudah siap berangkat.
“Kita pakai angkot, Bang?” tanya Ervin tak percaya.
“Ya iyalah. Mau pakai apa kau kalau bukan angkot, hah? Mobil saja tak punya, jadi orang jangan gengsi deh. Ingat yang dulu, kita tak punya apa-apa.” Suara khas orang medan membuat Ervin mengangguk pasrah.
Daripada mendengar ocehan bang Jamal yang bisa saja semakin menjadi-jadi Ervin cukup mengiyakan saja. Lagipula memang benar apa yang dikatakan bang Jamal, menjadi seseorang dengan berpenampilan sesederhana mungkin sudah cukup lebih baik di mata Allah. Sehingga tidak perlu berpenampilan secara berlebihan jika, itu tak akan pernah diterima oleh Allah.
Saat dalam perjalanan obrolan ringan pun telah bergulir. Mereka saling sahut menyahut satu sama lain. Dan kembali lagi, bang Jamal menyudutkan Ervin dalam rasa yang masih ambigu.
“Mau sampai kapan kau menutup hati kau? Umur kau itu sudah dua puluh delapan tahun. Sudah waktunya kau menikah, Ervin.”
“Iya bang, aku tahu kalau umurku itu sudah... semakin tua. Tapi kan, jodohnya saja belum kelihatan hilalnya, mau nikah sama siapa dong?”
“Kenapa kau tak coba saja tembak anak Profesor Nathaniel? Siapa tahu saja Profesor Nathaniel masih mau menerima kau sebagai mantunya.”
“Hahaha, iya kali main nembak saja. Kalau sudah ‘Dor’, ya matilah bang anak orang.” Ervin memang seabsurd itu.
__ADS_1
Bang Jamal yang masih fokus menyetir hanya geleng-geleng kepala saja. Pasalnya bang Jamal tahu jika itu hanya tingkah tidak kejelasan Ervin untuk menghentikan obrolan mengenai jodoh dan pernikahan yang terus saja membuat Ervin merasa terdesak.
‘Maafkan aku bang, aku hanya butuh waktu untuk memulihkan hati ini dari belenggu masa lalu. Haura... sudah mengorbankan nyawa untukku.’ Ervin beegumam dalam lamunannya.
Setelah perjalanan cukup panjang akhirnya mereka sampai juga di snap studio yang berlokasi di Jl. Balam, Komplek Balam Minimalis CI kota Medan.
Bang Jamal, kak Sita, Ervin serta Razza turun dari angkot yang mereka jadikan sebagai kendaraan menuju ke lokasi. Dan sebelum masuk ke dalam kembali keluarga itu merapikan penampilan mereka agar potret mereka bisa terbidik memuaskan hati.
“He, Sita... bagaimana penampilanku?” tanya bang Jamal pada kak Sita.
“Tunggu, Bang! Dasinya terlihat belum tapi itu, sini biar aku rapikan.” Kak Sita menarik bang Jamal dan mulai merapikan dasi yang belum rapi itu.
Ervin yang melihat tingkah bang Jamal dan kak Sita haya mencebik saja. Bukan ia merasa iri, hanya saja ia tidak bisa membenahi dasi yang tak bisa ia lihat rapi atau berantakan. Kecuali jika, Ervin berada di depan cermin, ia akan bisa melihat bagaimana penampilannya. Dan cermin di angkot tak bisa menampilkan gambarnya secara menyeluruh. Hal itu membuat Ervin merasa kesulitan.
“Makanya, cepat cari bini. Biar tidak repot begitu.” Suara khas bang Jamal kembali menyudutkan Ervin.
“Kalau hidup itu selalu mulus maka, tak ada ujian yang bisa membuat kita semakin bersikap dan berpikir dewasa, Bang. Mungkin, dengan cara seperti ini aku bisa memiliki sikap lebih dewasa lagi.” Bang Jamal kembali skakmat.
Kak Sita yang sedari tadi mendengarkan hanya tersenyum saja. Dan setelah dipastikan semua rapi, barulah mereka masuk ke dalam snap studio.
“Maaf permisi! Apakah kalian keluarga atas nama bang Jamal?” tanya petugas potret.
“Iya, kami keluarga bang Jamal. Memangnya ada apa ya?” bang Jamal berbalik bertanya.
“Tidak, hanya saja tolong diminta untuk menunggu sebentar. Karena, di dalam masih ada keluarga yang lain yang melakukan sesi pemotretan.” Petugas itupun tersenyum ramah.
“Ya, tak apa. Kita akan menunggu.”
Bang Jamal, kak Sita, Ervin dan Razza diminta duduk di sofa yang sudah disediakan sembari menunggu keluarga yang ada di dalam keluar. Saat menunggu, memang tak ada obrolan yang mereka jadikan pembahasan. Bukannya habis topik mereka, tetapi sengaja mereka lakukan yang tak ingin membuat keributan.
Setelah lima belas menit menunggu akhirnya keluarga yang ada di dalam keluar juga. Pintu ruangan itu terbuka dan ketika keluarga yang ada di dalam keluar satu persatu Ervin dan yang lain seketika nampak terkejut.
Deg.
‘Aurora, Profesor Nathaniel dan... Dia? Kenapa mereka melakukan pemotretan bersama? Apa ini maksudnya... Aurora sudah menemukan calon suami?’
Ervin memberondongi pikirannya dengan pertanyaan yang tak pasti. Karena, pada kebenarannya ia pun tak tahu, hanya sempat melihat sekilas ciuman di pipi yang diberikan Aurora kepada lelaki yang mengenakan seragam loreng saat berada di parkiran tadi.
Ervin berusaha menetralkan pikiran dan hatinya yang tak sepemikiran, alih-alih ingin menutupi rasa penasaran nya tentang hubungan yang terjalin antara Aurora dengan lelaki yang saat ini berdiri di depannya.
🌹🌹🌹
__ADS_1