
...Tak apa jika hatiku terpatahkan karena cinta lagi. Asalkan kau bahagia dengan pilihan hatimu, maka aku pun ikut bahagia....
...----------------...
Sore yang dipenuhi dengan keheningan. Kendati bang Jamal dan kak Sita masih terbungkam dalam kebisuan setelah Ervin menceritakan niat hati yang ingin menemui Aurora di Panti Asuhan Yatim Piatu Aceh Sepakat, Jl Medan Area Slt 333-A, Suka Ramai I, Medan Area, Medan 20216.
“Abang rasa... sebaiknya jangan bertindak gegabah terlebih dulu kau, Ervin. Bukan maksud Abang mau ikut campur dengan urusan pribadimu itu, tapi perlu kau ingat bagaimana Bapak dan ibu kau mendidik kau dengan keimanan yang ada.” Bang Jamal mulai mengudarakan suaranya dan memberikan nasehat pada Ervin.
“Benar apa yang dikatakan Abang kau ini, Ervin. Meskipun kami bukan kerabat dekatmu, kami perduli dengan kebahagiaanmu itu. Iman yang sudah kau jaga sampai detik ini, jangan smpai kau hancurkan ... Jangan sampai kau nodai dengan cinta berbeda agama.” Kak Sita pun ikut menasehati.
“Lantas kenapa dulu Abang dan Kak Sita mendukungku untuk menerima niat hati Profesor Nathaniel? Harusnya kalian perjelas bagaimana keimananan itu harus tetap dijaga, tapi... Kenapa kalain baru mengingatkan aku ketika cinta itu sudah mulai tumbuh di dalam hati ini? Lantas aku harus bagaimana sekarang?” tanya Ervin sdikit marah.
Bang Jamal seketika menatap Ervin dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara marah, iba dan sedih telah menjadi satu dalam benak bang Jamal. Kala mengingat jika, Ervin memang tidak memiliki satupun keluarga dekat selain yang saat ini menemani Ervin, tak lain keluarga bang Jamal itu sendiri.
“Ya, abang akui waktu itu kesalahan Abang. Tapi, sekarang abang dan kakakmu ini sudah berpikir lebih baik. Jika kamu tetap saja tidak mempedulikan perkataan abang, itu terserah kau. Tetapi kau harus ingat, Allah tidak menginginkan hambnya menyekutukan-Nya.” Bang Jamal menepuk pundak Ervin pelan, setelahnya melenggang pergi meninggalkan Ervin dan ak Sita yang masih duduk bersama di ruang keluarga.
“Kami tak akan marah dengan keputusan yang akan kau ambil, dan kami akan tetap mendukungmu. Kami berhrap suatu hari nanti Aurora terketuk hatinya.” Kak Sita menghembuskan napas panjang. “Mungkin kamu terlalu lelah untuk hari ini, lebih baik kau besihkan badan kau itu biar lebih segar. Lagipula, sebentar lagi adzan maghrib.” Kak Sita mengulas senyum.
Ervin mengangguk, lalu beranjak dari tempat duduknya melangkah menuju ke kamrnya. Sesampai di dalam kamar Ervin meletakkan tas kerjanya di atas meja belajarnya.
“Ya, mungkin benar aku terlalu lelah dengan kejadian hari ini. Aku akan menyegarkan tubuh dan pikiranku dengan cara ... mandi.” Ervin mengambil handuk yang ada di belakang.
Kricik ... Kricik ...
Ervin mulai mengguyur seleruh tubuhnya hingga basah kuyup. Dan setelah melakukan ritual selama lima belas menit di kamar mandi, Ervin kembali masuk ke kamarnya dan begranti dengan pakaian sholat, karena tak lama Ervin keluar dari kamar mandi suara adzan maghrib telah berkumandang.
Ervin membentangkan sajadahnya, dengan pakaian sholat lengkap Ervin mulai menuaikan sholat maghrib. Meskipun tidak sedang memakai sneli berwarna putih dan stetoskop yang melingkar di lehernya, hal itu tidak mengurangi ketampanan seorang Ervin Evano.
Dengan balutan baju koko berwarna putih, sarung bermotif wayang dan tak lupa peci berwarna hitam membuat aura ketampanan Ervin semakin meningkat.
Setelah menunaikan sholat maghrib selesai Ervin ikut bergabung di meja makan hendak mengisi perutnya dengan beberapa asupan gizi dari sayur asem dan tempe goreng.
“Nikmati sajamakan malamnya, jangan berpikir hal yang akan membuat hidupmu semakin rumit saja. Jika tidak kuat memikirkannya, pasrahkan saja sama yang di Atas. Tuhan itu akan memberikan jawaban yang terbaik dalam takdir hambanya.” Ervin mengangguk.
Santapan malam itu memang sederhana dan tidak semewah bagi orang kaya. Meskipun gaji Ervin perlahan menigkat ttapi bang Jamal maupun kak Sita tidak mau memanfaatkan uang itu dengan berfoya-foya tidak berfaedah saja.
Seteah menikmati santapan makan malam, semua kembali berlanjut dengan kegiatan masing-masing. Bang Jamal seperti biasa, kembali ke warung bersama kak ita, Raza belajar di kamarnya dan sedangkan Ervin, ia kembali melajutkan membaca buku tentang ilmu kedokteran. Walau bagaimana pun cita-cita nya tidak boleh lenyap begitu saja setelah susah payah mencapainya.
...----------------...
Ervin bangun lebih awal, ia bersiap hendak pergi ke masjid dan melakukan sholat berjamaah. Setelah itu, ia membantu bang Jamal mengelap mobil angkot yang sudah berjalan dua angkot. Meskipun bukan bang Jamal sendiri yang mencari penumpang tetapi dengan dua angkot itu bang Jamal mendapatkan uang setoran. Selain itu, bang Jamal bisa membuka lowongan pekerjaan bagi yang benar-benar membutuhkan.
“Bagaimana, sudah lebih baik kan, kau?” tanya bang Jamal memastikan.
Ervin tersenyum sembari tetap fokus dengan mobil angkot yang ia lap sampai mengkilap.
“Tak apa bang jika hatiku terpatahkan karena cinta lagi. Asalkan Aurora bahagia dengan pilihan hatinya, maka aku pun ikut bahagia.”
“Lagian jika kami nanti berjodoh pasti Allah akan menyatukan dengan rencananya yang indah.” Bang Jamal mengangguk.
Obrolan begulir begitu saja sampai akhirnya harus di akhiri setelah Ervin memuskan untuk berangat ke rumah sakit dan memilih sarapan di rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit Ervin mnuju ke ruangannya. Lalu ia meletakkan tas kerjanya di kursi kerja.
Krucuk... Krucuk...
Baru terasa jika Ervin mulai lapar, cacing yang di dalam perutnya memerlukan amunisi pagi. Karena tak bisa menahan rasa lapar yang sangat Ervin pun segera menuju ke kantin rumah sakit. Akan tetapi, baru keluar dari ruangannya Erviin sudah dikejutkan oleh dua orang yang amat dikenalnya.
__ADS_1
“Selamat pagi, Prof dan ... Dokter Aurora.” Ervin menyapa dengan lembut dan sopan.
“Selamat pagi juga, Dokter Ervin.” Profesor Nathaniel membalas dengan anggukan kecil dan senyum.
Begitu juga dengan Aurora, yang nampak mengulas senyum termanisnya menyambut Ervin. Hal yang tidak bisa diprediksi oleh Ervin.
‘Bagaimana bisa Dia tesenyum padaku semanis itu? Apa dia melupaka pesan yang sudah dikirim kemarin? Ah, entahlah! Aku juga tidak mengerti apa yang sedang direncanakannya. Aku akan mengikuti alurnya saja, alur yang sudah digariskan untukku.’ Ervin bermonolog dalam hati.
Ervin berusaha bersikap biasa saja, karena dalam dunia nya ia tidak mau mempersulit hidup hanya memikirkan kehidupan orang lain.
“Dokter Ervin mau sarapan juga di kantin?” tanya Aurora dengan keramahan yang ada.
“Iya, kebetulan saya belum sempat sarapan tdi di rumah. Tapi ... Sepertinya di kantin belum ada makanan yang siap disajikan.” Ervin menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Anda benar, bagaimana kalau kita sarapan bersama? Kebetulan saya membawa bekal makanan yang cukup banyak. Mungkin itu nanti juga cukup kok dimakan berempat.” Aurora menunjukkan dua rantang yang ditenteng olehnya.
Hening ...
Ervin terdiam, ia nampak berpikir untuk menerima atau menolaknya. Tetapi, jika menolak kana membuat suasana semakin canggung saj, bahkan Ervin takut jika menolaknya dikira ia tidak memiliki sopan santun. Namun, jika menerima rasanya sungkan.
Sulit benar menjadi Ervin.
“Ayolah! Jangan sungkan, anggap saja kita keluarga. Ingat, selain di jam kerja kita teman, sahabat dan keluarga. Berbda lagi kalau kita beradu di jam kerja. Aku adalah atasan kamu, dan sedngkan kalian berdua sama-sama dokter yang bekerja di rumah sakit ini.” Profesor Nathaniel merangkul pundak Ervin, lalu mengajak Ervin ke ruangannya.
Masakan yang dibawa oleh Aurora kini sdah disajikan di atas meja ruang Profesor Nathaniel. Semerbak kehruman yang menyengat hidung membuat rvin semakin keroncongan saja. Akan tetapi, acara makannya belum juga dimulai karena menunggu Letnan Samudra tiba.
setiba Letnan Samudra, acara makan bersama pun digelar. Sbelum menyuapkan nasi ke dalam mulut, sepertia biasa Ervin membaca doa sebelum makan.
“Bismillaahirrohmaanirrohiim. Allahumma bariklana fii maa rojak tana wakina adzabannar. Aamiin.” Ervin menengadahkan tangannya lalu, mengaminkan doa nya.
‘Aku mengakui jika mengagumi mu, Ervin. Dan benar sajaapa kta beliau bagaimana lelaki muslim yang sholeh saat memperlakukan perempuan ... Lemah lembut.' Aurora sekilas mengulas senyum.
...----------------...
“Selamat pagi, Bu! Mohon ijin, saya aan memeriksa dulu ya!”
“Iya silahkan, dokter Ervin yang tampan.” Pasien paru baya itu terkekeh kala Ervin mengulas senyum mninya
Bekerja sambil bercanda, itulah yang diterapkan oleh Ervin selama di rumah sakit. Bagi Ervin, dengan diselingi canda-an maka pikiran suntuk dari pasien akan perlahan menghilang. Sehingga kesehatan medis bisa segera pulih, dan pasien bisa segera pulang ke rumah masing-masing setelah dinyatakan sembuh.
Tepat pukul 12.00 WIB, waktunya untuk jam makan siang. Tetapi Ervin hanya mengambil sebagian waktu istirahat untuk melakukan sholat dzuhur di masjid yang dekat dengan rumah sakit.
“Dokter Aurora,” panggil Ervin saat berjalan di koridor rumah sakit.
Aurora menoleh, lalu mengulas senyum.
“Iya, dokter Ervin. Ada apa ya?” tanya Aurora dengan nada formal.
“Kenapa harus pakai nada formal? Bukankah ini diluar jam kerja, kan? Atau ... Aku sudah mengganggumu ya? Sorry!” ucap ERvin dengan jarak satu meter di samping Aurora.
“Ah tidak, bukan begitu juga maksudnya.”
“Lantas, kenapa bersikap seperti itu? Apa karena pesan yang kamu kirimkan kepadaku itu?” tanya Ervin. “Tidak perlu dijawab, aku sudah tahu jawabannya kok. Mungkin saja aku yang salah.”
Aurora menatap Ervin seraya mengeyrnyitkan keningnya, karena ia tidak mengerti apa yang dimaksud Ervin.
“Mungkin kamu yang salah paham, Ervin. Apa kamu ... Tidak membaca pesan terakhirku?”
__ADS_1
Ervin terdiam sejenak, ia berusaha mengingat pesan terakhir yang dimaksud oleh Aurora. Pasalnya setelah membaca pesan Aurora yang kedua Ervin tidak lagi memegang ponselnya dan ia juga menaruh sembarangan. Dan entah sekarang, apa ponselnya dalam keadaan mode hidup atau bisa juga dalam mode mati.
“Baiklah, aku rasa kamu tidak membuka pesan ku yang terakhir. Karena aku melihat hanya centang satu dari semalam.”
“Dan ... Aku mau kita bersahabat saja sampai benar-benar ada sebuah petunjuk yang pasti tentang 'jodoh'. Biarpun suatu saat nanti kita memang tidak bisa bersama dalam ikatan yang lebih serius, setidaknya kita terikat dalam hubungan persahabatan. Bagaimana, setuju atau tidak?”
Ervin mampu mencerna dengan baik tujuan Aurora yang mulia. Dan Ervin menghargai keputusan Aurora sekaligus mnenyetujui persahabatan yang akan dijlin dengan baik mulai hari itu.
Setelah Ervin menyetujui, keduanya saling menautkan jari kelingking hendak mengikat persahabatan yang terjalin.
Keduanya berjalan keluar dari area rumah sakit, tetapi dalam posisi Ervin yang berada di depan sedangkan, Aurora berjalan di belakang Ervin.
“Sudah, masuk sana! Berdoa pada Tuhan-mu dan aku akan berdoa pada Tuhan ku.” Ervin hanya ingin bertoleransi saja.
Aurora mengangguk, lalu melenggang pergi seraya melambaikan tangannya. Ervin pun membalas lambaian Aurora dengan senyuman dan anggukan kecil.
Bukankah Islam itu indah kawan, bersikap toleraansi itu hal yang harus diutamakan dalam hidup. Terkadang, ketika ada sesama muslim yang seharusnya bisa saling membantu tetapi, justru saling mencemooh tak jelas. Dan itu berarti ... Iman mereka belum kuat, sabar mereka juga belum diperluas. Kita sebagai sesama muslim wajib saling mengingatkan, kan?
Hal sama juga belum terjadi dalam hidup aing, penulisnya sendiri juga masih melakukan kesalahan_tak luput dari dosa.
...----------------...
Rumah sakit sudah mulai nampak sepi, karena kerabat yang membesuk sudah kembali pulang. Akan tetapi tidak termasuk tim medis darurat, dokter yang memang berjaga termasuk Ervin dan Aurora.
“Dokter Ervin, kok belum pulang?” tanya Aurora saat melihat Ervin di rooftop sendiri.
“Emm... Kebetulan saya diminta Profesor Nathanieluntuk sift malam juga. Karena, beliau ada pertemuan dengan direktur rumah sakit ini.”
“Oh...” Aurora hanya ber'oh' saja.
“Kalau kamu sendiri, kenapa belum pulang?”
“Emm... Semenjak kejadian di ruang oeprasi itu aku ditugaskan di ruang UGD dua puluh empat jam. Dan aku akui itu memang pantas hukuman yang harus aku jalani_yang tidak bisa profesional.” Aurora tersenyum tipis.
Dan senyum itupun nular, Ervin ikut tersenyum. Ervin berharap jika senyum Aurora yang diperlihatkan adalah senyuman ke-ikhlasan. Dimana Aurora sudah bisa menerima apa yang terjadi di ruang operasi kala itu.
“Emm ... bagaimana kalau kamu aku ajarkan cara bekerja profesional saat berada di ruang operasi? Dan aku yakin kamu akan langsung memahami metode yang akan aku terapkan dalam ingatanmu. Mumpung ada waktu luang, tapi jika tidak mau juga tidak apa-apa.” Ervin kembali menatap langit yang luas_yang dipenuhi dengan banyaknya bintang.
Aurora nampak berpikir, ia seolah tengah mempertimbangkan tawaran Evin. Dan hingga akhirnya, setelah sepuluh menit berpikir Aurora menyetujui tawaran Ervin.
“Bagaimana kalau kita di kantin saja? Nanti bisa praktek di sana juga, tak apa kan jika ada orang lain nanti?”
“Iya, tidak apa-apa kok.Tenang saja,”
Keduanya menuju ke kantin dengan posisi seperti tadi siang.
Sesampai di kantin, Ervin mengajarkan metoda dan prosedur apa saja yang dilakukan pada jantung tertentu yang memang harus dilakukan pebedahan.
“Metode dariku itu cukup mudah diingt loh.”
“Oh ya? Memang bagaimana metodenya?”
“Metodenya itu ... Masuk, tarik lalu, keluarkan. Gampang, kan?”
Aurora melongo mendengarkan metode yang disebutkan Ervin. Pasalnya Aurora baru mendengar metode seperti itu.
‘Apa coba maksudnya? Dia ... Tidak lagi berpikir yang tidak-tidak, kan?’
__ADS_1
🌹🌹🌹