Couple Doctor

Couple Doctor
Sudah Sembuh


__ADS_3

...Perlu Kau tahu pentingnya adab dan ilmu dalam kehidupan kita. Agar kita bisa saling menghargai satu sama lain terutama pada yang lebih tua daripada kita yang muda....


...----------------...


Perawat Alfan yang berperan penting dalam kehidupan Ervin, berusaha membantu Ervin dalam masalah apapun. Bahkan Alfa juga tahu bagaimana kisah yang tak pernah sampai antara Ervin dengan Aurora.


Dan pagi itu, Alfan menemui Ervin di ruangannya hendak memberitahu pada Ervin jika akan ada tamu untuknya yang bertandang ke rumah sakit.


“Buat apa kedua orang tua kau itu ingin bertemu denganku? Aku itu sadar posisi bukan siapa-siapa, buat apa pula ingin bertemu denganku jika tak memiliki tujuan untuk berobat, Fan.” Ervin memincingkan sebelah alisnya.


“Ayolah, luangkan saja waktu kau itu sebentar saja. Emm ... Hanya dua puluh menit saja. Bantu aku lah untuk yakinkan mereka juga kalau aku ini sudah dewasa dan bisa memilih jodoh ku sendiri. Tak mau aku dijodohkan sama perempuan yang tak aku kenal.” Alfan menatap ERvin dengan penuh harap.


Ervin menghela napas panjang, ia tahu bagaimana rasanya menikah tanpa mengenal siapa perempuan itu tapi, itulah yang namanya hadiah dari Allah. Penuh kejutan tanpa kita minta.


“Memangnya kau mau dijodohkan sama siapa?” tanya Ervin.


“Entahlah! Aku hanya tahu namanya saja, Renjana. Katanya sih sholehah dan bercadar begitu, tapi aku tak mau kalau perempuan itu bermuka... jelek.” Alfan erubah masam.


Ervin menggelengkan kepalanya, karena merasa jawaban Alfan sangatlah tak pantas diucapkan.


“Perlu Kau tahu pentingnya adab dan ilmu dalam kehidupan kita. Agar kita bisa saling menghargai satu sama lain terutama pada yang lebih tua daripada kita yang muda.”


“Masalah siapa jodoh kita hanya tiga komponen yang akan menentukannya. Who, where and when. Jangan lupa itu, Fan. Dan perjodohan yang akan dibicarakan kedua orang tua kau itu ... Hargai saja dulu. Tak akan ada salahnya jika kau temui perempuan itu.”


Ervin menepuk pundak Alfan yang perlahan merosot itu. Pasalnya wajah Alfan sudah berubah lesu, tak bersemangat setelah mendengar nasihat dari Ervin yang sama saja mendukung perjodohan itu.


Ervin melenggang pergi, membiarkan Alfan merenungkan apa yang akan menjadi keputusannya.


...----------------...


“Selamat pagi! Dokter ganteng,” ucap salah seorang perawat perempuan.


Ervin hanya mengulas senyum sembari mengangguk saja. Tidak terlalu memberikan respon berlebihan cukup menerapkan adab dan ilmu dala bertegus sapa. Apalagi saat ini Ervin sadar diri bagaimana posisinya.


 “Selamat pagi, dokter Ervin.” Suster Rani menyapa.


“Pagi.”


“Hari ini ada jadwal operasi, apa ... Dokter Ervin bisa melakukannya?” tanya suster Rani memastikan.


“Jam berapa?” Ervin berbalik bertanya.


“Jam sembilan pagi, Dok. Apa dokter Ervin bisa melakukannya?”


Sejenak Ervin terdiam, ia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Lalu, ia pun mengatakan apa yang menjadi keputusannya.


“Ini masih jam tujuh. Berikan saya waktu untuk mengatur jadwal pemeriksaan pasien, karena saya akan merundingkan itu dengan dokter Aurora. Dan kita juga tidak bisa melepaskan tugas kita dalam menjaga kondisi Leon. Dia masih perlu dilakukan pemantauan setiap tiga jam sekali.” Suster Rani mengangguk paham.


Ervin menuju ke ruang ICU dan akan melakukan pemeriksaan pada Leon pada waktu kunjungan pagi.

__ADS_1


Di ruang tunggu sudah ada beberapa oang yang mungkin saja menunggu dokter akan melakukan pemeriksaan pada Leon.


“Ervin. Kau ... Akan tetap bekerja?” tanya Humaira.


Humaira tak percaya saja jika Ervin tidak mengambil waktu untuk melakukan istirahat setelah semalam tahu Ervin mengalami demam tinggi.


“Tidak. Aku sudah sembuh, yakinlah akan hal itu. Jika aku tidak bekerja siapa yang akan melakukan pemeriksaan pada pasienku, hm?”


Humaira mengendikkan bahunya. Dan Ervin hanya tersenyum saja. Lalu, Ervin memutuskan untuk masuk saja dan segera melakukan tugasnya.


Di dalam Ervin bersama suster Rani mulai melakukan pemeriksaan. Semua tanda vital telah diperiksa, tidak hanya itu saja secara keseluruhan Ervin kembali meminta para dokter untuk melakukan pemeriksaan ulang.


“Bagaimana dengan hasil pemeriksaan tulangnya?”


“Sepertinya sebelum Dia mengalami kecelakaan tulang ekornya mengalami masalah.”


“Masalah?”


Dokter Nando mengangguk lalu, menceritakan analisisnya pada Ervin. Hingga membuat mendesah pilu, ikut merasakan kepiluan yang diderita sahabatnya selma ini.


“Dan masalah syarafnya, apa ada masalah?” tanya Ervin hati-hati.


“Saya rasa tidak ada, semuanya normal.”


Sejenak Ervin bernapas lega. Setidaknya hanya satu masalah yang diketahui dan tidak semua tubuh Leon mengalami luka dalam.


Setelah melakukan satu persatu pemeriksaan kini ketiga dokteritu keluar dari ruang ICU. Dan seperti biasa, keluarga pasien telah menyambtut ketiga dokter tersebut.


Deg.


Bukan yang pertama kali Ervin mendengar suara perempuan paru baya itu. Pernah hampir lima bulan lamanya kala itu Ervin mendengar suara dengan lembut dan santun.


“Tante Nirmala,” panggil Ervin yang berada dibalik tubuh dokter Nando.


Bu Nirmala, tak lain adalah sang Ibu dari Leon. Seorang perempuan yang memiliki sisi keibuan dengan memiliki hati yang lembut dan sabar. Saat berada di dunia perkuliahan Ervin masih kerap berkunjung di rumah Leon jadi ia mengenal siapa bu Nirmala dan keluarga.


“Ervin, kamu ...” Tangis pilu pun pecah.


Bu Nirmala menceritakan pada semuanya bagaimana hidup Leon yang dilalui dengan berat karena suatu penyakit yang dideritanya. Dan ketika sudah membaik, justru Leon mengalami kecelakaan tragis.


“Sabar Tante, insya Allah Allah akan memberikan pertolongan yang terbaik untuk Leon.”


...----------------...


Laura tiba di rumah sakit dengan menenteng satu rantang yang terisi penuh dengan makanan. Dan rasanya Laura tidak sabar ingin segera betemu dengan Ervin, selain memastikan kondisi Ervin diam-diam Laura menyimpan rindu dalam hatinya.


Sebelum menuju ke ruangan Ervin, Laura memutuskan untuk menemui Humaira dan mengantarkan pakaian yang Humaira pesan tadi. Di sana bunda Rania dan bu Veronica masih dengan setia menemani Humaira.


Laura menyalami para tetua termasuk bu Nirmala dan pak Fatih. Meskipun belum mengenal mereka Laura memiliki sikap sopan dan santun, karena pak Irham dan bu Veronica selalu mengajarkan akan hal itu pada putri-putri nya.

__ADS_1


“Kak, ini pakaian yang kak Humaira tadi pesan ke aku. Ganti sana gih! Sekalian barengan aku nya, mau ketemu sama ... Abang Ervin.” Laura menarik dua ujung bibirnya hingga membentuk lekungan indah.


“Iya, boleh saja. Tapi, kalau di ruangannya nanti tidak ada jangan cemberut ya! Soalnya Dia memilih bekerja, maklum dokter hebat dan jenius.” Humaira melenggang pergi.


Laura mengangguk, lalu ia mengekori Humaira dari belakang. Dan saat berada di depan ruangan Ervin, Laura tersenyum_berharap jika Ervin ada di dalam sana.


Tok ... Tok...


Laura mengetuk pelan pintu berwarna putih itu tetapi, tidak ada suara yang menyahut dari dalam. Seolah di dalam ruangan itu memang tidak ada orang sama sekali. Hal itu membuat Laura sedikit bersedih.


“It's okay, mungkin lai sibuk saja. Tapi ... Apa Abang sudah sarapan ya? Terus demamnya sudah benar-benar turun apa belum ya? Ish, sudah tahu kecapean teru sampai jatuh sakit begitu masih saja kerja,” ucap Laura lirih tetapi, mampu didengar oleh orang yang dibelakangnya.


Ervin tersenyum mndengar Laura yang bertanya-tanya sendirian. Diam-diam Laura juga mempehatikannya, dan lama kelamaan maka akan tumbuhlah rasa cinta setelah terbiasa menyimpan rasa.


“Kalau bertanya itu satu-satu, Dek. Abng kam, jai bingung mau jawab yang mana dulu,” ucap Ervin mengejutkan Laura.


Laura mengelus dadanya lalu berkata, “Abang, sejak kapan ada di belakang aku? Bikin kaget saja.”


Ervin tertawa saja, ia merasa gemas melihat ekspresi wajah Laura yang sedikit mengerucutkan bibirnya. Ingin sekali Ervin melakukan hal yang lebih dewasa dengan Laura. Akan tetapi rasanya tidaklah mungkin akan dilakukan disana. HIngga akhirnya...


‘Sabar Ervin, jika Allah mridhoi maka akan selalu dilancarkan.’ Ervin menghembuskan napas panjang.


“Sejak lihat Adek datang bawa rantang. Bau ya harum itu, makanan buat Abang, kan?”


“Iya, Bang.” Laura mengangguk. “Oh iya, Abang beneran sudah sembuh?”


“Abang sudah sembuh kok, beneran. Abang sudah tidak demam lagi dan Abang juga sudah tidak merasa sakit hati lagi. Abang sudah benar-benar sembuh.” Ervin menoel hidung Laura.


Laura memutar kedua bola matanya, menelaah kalimat Ervin tentang ‘sakit hati’. Akan tetapi Laura tidak menemukan jawabannya, hal itu membuat Ervin semakin gemas saja dengan laura. Begitulah hubungan yang menurut Ervin sudah halal, lebih bebas melakukan banyak hal berdua.


Disisi tembok lain ada mata yang menatap tajam Ervin saat mengobrol denagn Laura. Dan tatapan itu begitu sulit diartikan.


‘Aku hanya bisa berandai.’


Di ujung koridor lagi-lagi ada yang menatap keduanya.


‘Selamat berbahagia. Semoga saja aku segera seperti itu.'


...----------------...


Setelah selesai makan bersama Ervin minum obatnya kembali. Begitu juga dengan Laura yang melakukan hal sama. Setelahnya, Ervin bersiap untuk menemui Aurora seperti yang sudah dikatakan pada suster Rani sebelumnya.


“Ehm ... Dek, boleh Abang mengatakan sesuatu pada Dek Laura sebagai tanda Abang meminta ijin pada Adek.” Laura menoleh.


“Serius banget sih natapnya. Memang mau mengatakan apa sih Abang?”


“Abang sebentar lagi akan sibuk di ruang operasi, tapi sebelum itu Abang mau bertemu dengan Arora, apa ... Dek Laura mengijinkan?”


Deg.

__ADS_1


Ada seustu hal yang tiba-tiba membuat hati Laura memanas.


🌹🌹


__ADS_2