
...Tak apa jika tak bisa terpenuhi sekarang, toh masih ada lain waktu untuk kembali melakukannya. Selama Allah masih ridho hubungan ini akan tetap terjaga....
...----------------...
Brruuukk.
Belum sempat sampai di depan Laura berdiri tubuh Ervin sudah limbung dan jatuh ke lantai. Semua mata pun tertuju pada Ervin yang terjatuh. Bahkan Laura sampai berlari menghampiri Ervin dan merasa takut jika terjadi sesuatu dengan Ervin.
“Dokter Ervin, bangun!” ujar Laura.
Pernikahan yang baru digelar membuat Laura masih kagok memanggil Ervin dengan panggilan layaknya suami-istri.
“Ervin bangun, Nak!” panggil bunda Rania dengan lembut.
Semua merasa panik, mereka mengkhawatirkan kondisi Ervin. Bunda Rania, Laura, kak Sita dan pak Ierham mengerumuni Ervin. Dan tak lama kemudian Aurora keluar dari dalam ruang IGD yang di belakangnya ada suster Rani dan perawat Alfan yang mendorong brankar Leon dan disertai alat defibilator di sisi brankar.
“Leon. Hiks ... Hiks...” Tangis Humaira kembali pecah.
Humaira berjalan dan ikut mendorong brankar Leon menuju ke ruang ICU. Bu Veronica pun selalu mendampingi Humaira karena, hati ibu ikut merasa nyeri ketika melihat putrinya merasa sedih begitu dalam.
“Maaf ada apa ya ini?” tanya Aurora saat melewati Ervin yang dikerumuni keluarganya.
Tidak ada yang menjawab, karena mereka terlalu panik.
“Ervin. Ada apa dengan Ervin? Dan kenapa kalian hanya diam saja, harusnya mencari bantuan.” Aurora merasa kesal dengan beberapa keluarga yang hanya mengerumuni Ervin tanpa mencari bantuan.
Aurora mencari bantuan dari perawat dan juga brankar. Sepersekian detik kemudian, Aurora kembali lalu, tubuh Ervin pun diangkat dan dipindahkan ke atas bankar yang dibantu oleh perawat lelaki dan juga bang Jamal.
“Berikan infus untuknya, saya akan periksa keadannya.”
Di dalam ruang rawat inap Ervin masih belum sadarkan diri, bahkan punggung tangannya ada jarum infus yang menempel. Aurora memeriksa kondisi Ervin selayaknya seorang dokter memeriksa pasiennya.
‘Rasanya kenapa begitu nyeri ya? Melihatnya sedekat itu dengan dokter Ervin, kenapa aku merasa inder begini.’ Laura bermonolog dalam hati.
Semua keluarga masih menunggu di ruang tunggu. Menanti Aurora keluar dari ruangan Ervin agar mereka bisa masuk dan membesuk Ervin. Akan tetapi, Aurora entah kenapa tak kunjung keluar.
“Sabar ya! Mungkin, Ervin hanya merasa kecapean saja.Tenanglah, Ervin tidak akan kenapa-napa.” Bunda Rania merangkul pundak Laura.
“Iya. Benar apa yang dikatakan sama bunda Rania. Ervin itu lelaki yang kuat,” imbuh kak Sita.
Laura tersenyum manis untuk membalas ucapan kak Sita. Saat Laura merasa tenang perihal keluarga Ervin yang menerimanya dengan baik, tak lama dari itu Aurora keluar.
“Dokter Aurora, bagaimana keadaan dokter Ervin?” tanya Laura dengan ragu.
Aurora menatap tajam Laura, membuat Laura mendelik dan merasa bersalah saja. Dan belum sempat Aurora menjawab pertanyaan Laura tiba-tiba dari belakang tubuh Aurora terdengar suara yang tak asing menjawabnya.
“Aku baik-baik saja, tak perlu khawatir.” Ervin memperlihatkan senyumnya.
Aurora menghembuskan napas kasarnya lalu, ia melenggang pergi.
Tatapan itu sejenak bertemu, di mana Ervin saling tatap dengan Laura. Dan semua menatap Ervin seraya bernapas lega.
“Kemarilah! Masa iya tidak mau menemaniku disini.” Ervin mengerjap pelan, tanda meminta Laura untuk mendekat.
Laura perlahan melangkahkan kakinya dan menghampiri Ervin. Dan setelah Laura berada di depannya, Ervin pun membelai wajah Laura dengan lembut.
“Sorry. Tadi sudah ninggalin kamu begitu saja dan ...” Ervin menggantungkan ucapannya ke udara.
“Ssstt.” Laura menempelkan jari telunjuknya di bibir Ervin.
“Jangan berkata apapun lagi! Kenapa juga keluar? Harusnya kan, istirahat saja di dalam.” Kedua mata Laura mulai berkaca-kaca.
“Makanya ayo sekarag kamu ikut masuk, temani aku. Masih pusing loh ini,” ajak Ervin.
Karena tidak mau terjadi apa-apa dengan Ervin, Laura menuut saja. Masuk dan menemani Ervin yang sudah berbaring kembali di atas brankar. Dan benar saja, Ervin nampak pucat karena kurang tidur dan makan yang tidak teratur membuat kesehatannya menurun.
“Maafin aku ya, karena aku kurang peka kalau dokter Ervin sakit.” Laura menuunduk, menyembunyikan air mata yang sudah menggenang dipelupuk matanya.
__ADS_1
Kedua alis Ervin saling betaut, ia pandang lekat-lekat wajah perempuan yang kini namanya telah terukir di dalam hatinya. Perempuan yang sudah dipilihnya untuk membersamainya sampai nanti.
“Kenapa harus nangis begini sih, hm? Masa iya istri dokter yang hebat cengeng begini,” ledek Ervin.
Ervin mengangkat dagu Laura hingga ia bisa melihat air mata yang sudah membasahi pipi itu. Diusapnya pelan, menghapus air mata yang masih menetes.
Sejenak tatapan keduanya saling beradu dan saling mengunci satu sama lain. Dan keduanya juga menganggap seolah dunia itu milik berdua. Sedangkan yang lain hanya numpang saja, nyatanya ketika dua keluarga itu masih berada di dalam ruangan yang sama seolah mereka tidak dianggap saja.
“Kurang asem bener nih pasangan yang baru bucin-bucinnya. Mereka anggapkita semua ini apa coba. Mereka malah tatap-tatapan ala drama korea saja.” Bang Jamal pun mengumpat karena merasa kesal.
“Ya sudahlah biarkan saja napa. Lagian, bang Jamal itu tahu yang mana drama korea?”
“Kagak.” Bang Jamal nyengir saja.
Kak Sita membalas dengan mencebik saja. Karena sudah tahu kondisi Ervin yang hanya sekedar kecapean dan hanya memerlukan istirahat sampai satu hari penuh akhirnya, kak Sita mengajak bang Jamal untuk berpamitan pulang.
“Jaga kondisi tubuh dengan baik. Kamu sudah punya istri yang harus kamu jaga pula, jika kamu tumbang begini gimana mau jaga istrnya.” Kak Sita menasehati Ervin yang sudah dianggap adik olehnya.
“Iya kak, Ervin ingat pesannya kok. Nanti Ervin juga akan pulang kok.”
Seketika semua mata tertuju ke arah Ervin. Dan Ervin yang merasa sedang ditatap tajam pun hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Siapa yang bilang kamu nanti bisa pulang, hm? Dokter Ervin itu harus banyak istirahat dulu disini.” Laura nampak kesal, ia memanyunkan sedikit ke depan bibirnya.
Semua tertawa melihat Laura merajuk dan Ervin yang tak pernah ngebucin dengan perempuan semenjak SMA dulu.
...----------------...
Allahu akbar ... Allahu akbar...
Suara adzan telah terdengar dari ponsel Laura yang berada di atas nakas. Pasalnya saat itu jam sudah menunjukkan pukul 14.35 WIB, di mana waktu sholat ashar telah tiba.
“Sudah ya merajuknya, lagipula aku nya kan, juga tetap tinggal disini. Mending sekarang kita ... Sholat bersama. Merayu Tuhan agar kita dijadikan keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah.” Ervin mengusap punggung tangan Laura.
Mendengar ucapan itu Laura pun menoleh, lalu menunduk. Ia menyembunyikan rasa malu terhadap Ervin.
Merasa tak ada jawaban maupun pergerakan dari Laura menerima ajakan Ervin, Ervin kembali bertanya. Tetapi, masih saja Laura menunduk.
“A-aku ... Sebenarnya aku ... Jarang sholat.” Terdengar suara Laura meragu saat mengatakannya.
Ervin tersenyum, lalu tangan kanannya mengusa puncak kepala laura dengan lembut. Tidak hanya sampai di sana saja, Ervin mengusap lembut punggung tangan Laura da meyakinkan Laura bahwa Allah itu tida akan marah sama hambanya meskipun jarang melakukan sholat.
Akan tetapi, Allah itu akan selalu menunggu hambanya kembali memuja, kembali dekat_mengingat kapanpun dan dimana pun seorang hamba itu berada.
Sepersekian detik kemudian, hati Laura pun luluh lantah dengan ucapan Ervin yang lembut dan lumer di mulut.
“Bantu aku ganti baju ya di kamar mandi.” Ervin menunjukkan tangan kirinya yang masih ada selang infus.
Laura nampak tekejut dengan ucapan Ervin, ia membelalakkan mata dengan lebar. Rasanya tidak percaya saja Ervin akan memintanya melakukan hal intim.
“A-a-aku?” tanya Laura seraya mengarahkan telunjuknya ke wajahnya.
“Iya.” Ervin mengangguk. “Kamu kan, istriku. Jadi, kita sudah halal loh. Tapi, maaf jika malam pertama kita gagal.”
Hiks.
‘Malam pertama katanya. Aku saja tidak sampai memikirkan hingga kesana. Ternyata ... nih dokter punya otak mesum juga, bukan hanya berotak X-Ray saja.’ Laura menyembunyikan tawanya.
...----------------...
Ervin yang menjadi imam berada di shaf terdepan dan Laura berada satu shaf di belakang Ervin. Saat melakukan sholat saja Ervin melepas selang infusnya dan setelah itu akan kembali memasangnya.
Setelah salam Ervin berbalik dan menyodorkan tangannya agar Laura bisa salim. Setelah itu, Ervin menangkup wajah Laura dan membacakan doa pernikahan seperti setelah melakukan ijab. Lalu, Ervin menempelkan bibirnya di kening Laura.
‘Ya Allah. Apa begini rasanya memiliki suami yang sholeh? Aku merasa dekat kembali dengan Engkau.’ Monolog Laura saat kecupan Ervin masih setia di tempatnya.
Dan kini, saatnya merayu Tuhan bersama. Ervin menengadahkan tangan dan diikuti oleh Laura.
__ADS_1
“Ya Allah Ya Rabb ... kembali hamba mengadu, kembali hamba meminta kepada-Mu dan kembali hamba memohon ampunan kepada-Mu.”
“Ya Allah, kini hamba perlu bimbingan-Mu agar hamba bisa menjadi seorang suami sholeh yang mampu membimbing istri hamba tetap berada di jalan-Mu. Dan jadikanlah kami keluarga yang tetap Engkau jaga dan ridhoi hubungan ini. Aamiin.”
Setelah sekian panjangnya doa yang keluar dari lisan tetapi, telah berakhir dengan satu kata aamiin yang sama.
...----------------...
Tepat pada pukul lima sore Laura meminta ijin pada Erin hendak pulang dulu dan mengambil pakaian ganti untuknya saat menunggu Ervin selama dirawat di rumah sakit.
“Tak usah pulang, temani aku saja disini. Lagipula aku hanya satu malam saja disini, tak sampai berhari-hari.” Ervin melarang.
“Tapi kan, aku itu bau asem loh, Dok. Belum mandi lagi setelah tadi pagi.” Laura dengan polosnya berkata jujur.
“Tak apa lagi, kan, jadi sama ... Sama-sama tak mandi.” Ervn terkekeh geli.
Laura yang mendengar pengakuan sang suami hanya menggeleng saja. Dan mau tak mau ia menurut saja sebagai tanda bakti seorang istri terhadap suaminya.
Laura tetap duduk di samping brankar Ervin. Entah kenapa keberadaan Laura membuat Ervin seperti seseorang yang dijaga oleh pawangnya.
“Emm, dek Laura...”
“Dok...”
Memanggil secara bersamaan membuat suasana berubah menjadi kikuk.
Satu detik ...
Dua detik ...
Hingga sepersekian detik kemudian...
“Emm, jangan panggil dok begitu dong! Aku kan, suamu kamu. Ya ... Paling tidak panggil dengan abang.” Laura mengangguk.
“Tadi mau ngomong apa, hm?” tanya Ervin.
“Ah tidak, hanya ... Aku sepeti merasa tak enak hati saja sama dokter Aurora. Karena aku tahu bagaimana perasaannya ke ... Abang.”
“Jangan terlalu merasa seperti itu. Mungkin, tadi Dia hanya lelah saja.” Ervin mengulas senyumnya.
Laura mengangguk, mengiyakan ucapan Ervin. Laura hanya ingin berpikir positif saja, mungkin memang benar adanya Aurora merasa lelah setelah bekerja seharian.
“Kalau abang sendiri tadi mau ngomong apa?” tanya Laura penasaran.
“Itu ... Masalah malam pertama kita dan juga bulan madu mungkin ... Aku belum bisa memenuhinya. Maaf ya, dek Laura.”
“Tak apa jika tak bisa terpenuhi sekarang, toh masih ada lain waktu untuk kembali melakukannya. Selama Allah masih ridho hubungan ini akan tetap terjaga. Itu kan, yang terpenting, Bang.” Laura bisa mengerti kondisi saat ini.
Setelah mengobrol dengan panjang dan lebar bersama Laura, sejenak Ervin sudah mulai bosan hanya berbaring saja. Dan untuk menghilangkan kejenuhan yang ada Ervin mengajak Laura jalan-jalan.
Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka berdua tetapi, Ervin merasa abai saja. Berbeda dengan Laura, rasa malu lah yang saat ini tengah dirasakannya.
“Malu loh Bang, kalau cuma jalan berdua begini. Mana itu banyak sekali yang lihat,” cicit Laura.
“Tak usah malu, memangnya kita sudah berbuat kesalahan sama mereka apa?”
“Tidak.” Laura menggeleng.
“Ya sudah, kalau tidak ya abai saja.”
Laura berusaha tidak terlalu memikirkan tatapan dari beberapa pegawai di rumah sakit padanya dan juga Ervin tetapi, rasanya masih sama saja ... Risih.
Ervin dan Laura emutuskan untuk mengambil duduk di dekat taman, duduk berdua dalam satu kursi yang sama. Jika digambarkan maka akan nampak mereka yang sedang romantis-romantisan. Tetapi, nyatanya tidak. Karena pandangan mereka tertuju pada orang yang mereka kenal yang berada di ujung koridor dekat dengan ruang ICU.
Karena di sana ada Humaira, pak Irham, bu Veronica dan juga bunda Rania. Nampak mereka sedang ribut.
🌹🌹🌹
__ADS_1