
...Jika aku ingin menjadi suami yang perfect itu berarti aku harus siaga menjaga isterinya. Menjaga hati dan cintanya adalah hal yang harus aku prioritaskan....
...----------------...
Di rumah sakit semua dokter dan pekerja sudah mulai melakukan aktivitas mereka, menjalani tugas sebagaimana mereka melayani, mengobati dan menjadi orang yang paling sibuk dalam keadaan darurat.
Begitu juga halnya dengan Ervin, ia sudah melakukan persiapan untuk jadwal operasi yang akan dilakukan satu jam lagi.
“Dok, bagaimana dengan acara pernikahan dokter Aurora nanti? Dokter Ervin dan isterinya nanti ikut datang kan?” tanya suster Rani.
Karena sudah lama menjadi asisten Ervin, suster Rani sudah biasa bercanda dengannnya. Ervin juga tidak mempermasalahkan akan hal itu, bagi Ervin itu adalah hal wajar sebagai cara untuk mengakrabkan diri dengan tim kerja.
“Ya... coba lihat saja nanti. Kalau isteri saya tidak mau ya saya juga tidak.” Ervin masih fokus dengan hasil CT scan pasien yang akan dioperasi.
“Lha kok gitu? Memangnya isterinya tidak ngijinin dokter ya? Pergi sendiri gitu,” celetuk Alfan.
“Bukan begitu, tapi saya akan lebih mementingkan pilihan isteri saya. Karena saya ingin mendapatkan ridho isteri saya. Bukankah begitu?” Ervin menjelaskan dengan alasan yang tepat.
“Nah, itu baru suami idaman namanya. Dokter Ervin itu memang dokter yang perfect ya! Sudah jenius, sholeh pengertian pula.” Dokter Nando pun ikut memuji.
“Biasa saja. Itu namanya wajib, terutama bagi lelaki. Isteri pun juga memiliki kewajiban sebagaimana seharusnya dilakukan. Dalam rumah tangga itu sama-sama memiliki kewajiban.” Semua mengangguk.
Semua kembali bersiap menuju ke ruang operasi. Pasien yang sudah diberikan obat bius pun sudah dipindahkan di meja operasi. Setelah obat bius sudah bereaksi operasi pun siap dijalankan.
“Kita lakukan seperti biasa. Jangan lupa berdoa terlebih dahulu sebelum memulai operasi. Berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing, mulai!” titah Ervin.
Mereka, yang beragama islam menengadahkan tangan. Sedangkan yang lain (non islam) cukup memegang dada masing-masing.
“Kita mulai sekarang.” Semua mengangguk.
Mereka menajamkan konsentrasi. Bagian pertama, dokter anestasi akan mengerjakan tugasnya_memeriksa pernapasan, detak jantung, tekanan darah, suhu tubuh, jumlah cairan tubuh dan kadar oksigen dalam darah.
Setelah selesai diperiksa semua tanda vital, pembedahan pun dimulai.
“Scalpel.” Ervin meminta pisau bedah pada asisten dokter.
Pesona Ervin memang tidak ada duanya. Dengan mengenakan pakaian perangnya_di meja operasi Ervin nampak gagah dan juga perfect dalam dunia kedokteran. Kejeniusan yang ada dalam diri Ervin mampu membuatnya sukses dalam bidangnya.
Empat jam lamanya operasi sudah berlangsung. Waktu begitu cepat berlalu, tanpa disadari operasi pun sudah selesai. Semua tim operasi bedah jantung mampu bernapas lega setelah menyelesaikan tugas mereka dengan baik.
“Suster Rani tolong pindahkan pasien ke ruang rawat. Dan saya akan menemui keluarga pasien.” Suster Rani mengangguk.
Ervin keluar dari ruangan itu, ruangan yang membuatnya banjir peluh. Namun, hal itu bukanlah hal yang akan dipermasalahkan oleh dokter yang perfect.
“Dokter, bagaimana dengan kondisi suami saya? Apa operasinya berjalan dengan lancar?” todong perempuan paruh baya.
Ervin menjawabnya dengan senyuman termanis. Setelahnya Ervin menjelaskan sebagaimana kondisi pasien yang baru saja ia operasi, tak lain adalah suami perempuan paruh baya itu tadi.
“Alhamdulillah, Bu. Operasi suami Ibu berjalan dengan lancar, untuk saat ini suami Ibu masih dalam proses pemulihan. Jadi, mohon ditunggu sampai saya memastikan tidak ada kegagalan dalam jantung suami Ibu.” Penuh dengan kelembutan, sehingga mudah dipahami dan dimengerti oleh pihak keluarga.
Keluarga yang lain pun mengangguk saja, tanda mereka mengerti bahwa itu proses yang harus dijalani selama pemulihan sampai pasien benar-benar dinyatakan baik-baik saja.
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul 10.15 WIB. Dengan adanya waktu yang masih panjang untuk ikut menghadiri acara pernikahan Aurora, sejenak Ervin mengunjungi Leon yang berada di ruang rawat inap VVIP.
“Berhubung tidak ada jadwal operasi lagi sebaiknya aku tengok saja Leon. Paling tidak, bisa menghiburnya di saat seperti ini.”
__ADS_1
Ervin melangkah cepat, rasanya ia tidak sabar ingin bertemu dengan sahabatnya itu. Dengan menaiki lift Ervin pun cepat sampai di ruangan Leon.
“Assalamu'alaikum,” ucap Ervin setelah membuka pintu.
“Waalaikumsalam,” balas seseorang dari dalam.
“Wah, ternyata dokter hebat kita datang nih,” ucap Pak Fatih.
Ervin tersenyum, rasanya ia malu saja mendengar kalimat itu dari seseorang. Seolah Ervin adalah sosok yang unggul di mata mereka, tanpa mereka tahu betapa remuknya hati Ervin di saat isterinya tengah rapuh.
“Tidak perlu berlebihan seperti itu, Om. Kita itu sama saja, sama-sama manusia biasa tanpa memiliki keahlian yang lebih kecuali, atas ridho-Nya.”
“Iya, memang kamu benar, Nak Ervin. Tapi, bagi kami kamu itu... perfect docter. Dan Om bangga mengenal kamu yang tetap memiliki jiwa semangat. Pertahankan semangatmu itu, Nak!” tutur pak Fatih.
“Insya Allah, Om.” Ervin mengangguk.
Pa Fatih dan Renjana yang ada di sana pun berpamitan, mereka ingin memberikan waktu ngobrol untuk Ervin dengan Leon.
Sejenak kebisuan menemani Ervin dan Leon. Mereka masih terlihat canggung atas permasalahan beberapa hari lalu. Namun, Ervin jelas tak akan mendiami Leon begitu saja.
“Bagaimana kondisi kau saat ini? Apa kau mengeluhkan pada bagian tulangmu atau hal yang lain?” tahu Ervin memulai obrolan.
“Seperti sebelumnya, pernah merasa nyeri tapi tak sering.”
“Oh iya, ngomong-ngomong... aku minta maaf sama kau, Vin. Mungkin sikapku sudah berlebihan padamu. Dan waktu itu aku hanya... merasa tak pantas saja bersanding dengan Humaira lagi. Aku lelaki... di luar kata perfect, Vin.”
Nada bicara Leon bergetar, lelaki yang masih terbaring di atas brankar dengan wajah pucat yang menghiasi wajahnya itu masih berpegang teguh pada pendiriannya... mundur.
Meskipun rasanya amat nyeri tetapi, Leon tak bisa memaksa cinta itu harus bersatu. Bagi Leon Humaira berhak bahagia tanpa adanya dirinya di samping Humaira. Leon hanya bisa berharap akan ada lelaki yang menjadi pendampin Humaira suatu hari kelak.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan saat ini, Leon. Tapi, apa kau tak pernah memikirkan sedikit saja perasaan Humaira yang begitu besar padamu? Cinta itu butuh pengorbanan, Leon.”
“Tapi, Vin. Jika aku ingin menjadi suami yang perfect itu berarti aku harus siaga menjaga isterinya. Menjaga hati dan cintanya adalah hal yang harus aku prioritaskan.”
“Tapi lihat sekarang! Aku saja lemah begini, Vin.”
Ervin menghela napas panjang.
“Aku tahu, tapi paling tidak berikan kesempatan sekali saja untuk Humaira yang sudah berkorban. Apa kau tahu apa yang dilakukannya dia hari terakhir?”
Leon menggeleng.
“Jelas kau tak pernah tahu, karena kau tak pernah mau tahu tentang Humaira sekarang. Sebenarnya, ini rahasia antara aku dan Huamura tapi, bagiku kau perlu tahu juga usahanya.”
”Dia mencarikan kau donor yang cocok sum-sum tulang belakang. Dia bekerja keras agar kau tetap bisa bertahan hidup, meskipun Dia tahu semuanya akan kembali lagi pada yang kuasa. Tapi, tak ada salahnya kita berharap untuk kesembuhanmu.”
Jeddaarr...
Leon terdiam, hatinya terketuk mendengar kenyataan tentang Humaira yang masih memperjuangkan cinta yang terjalin. Tetapi, tak dapat dipungkiri juga jika Leon masih dalam hati yang bimbang. Pasalnya, Leon tidak mau Humaira terjebak pernikahan dengannya, lelaki yang memiliki penyakit.
...----------------...
Di ruangannya Ervin membuka bekal yang disiapkan Laura sebelum ia berangkat tadi pagi. Bau masakan masih semerbak, menusuk hidung yang langsung turun ke perut.
Sebelum menyantap makan siangnya itu Ervin memutuskan untuk melakukan panggilan video dengan Laura. Hanya sekedar melepas rindu saat jarak dan ruang membentang di antara keduanya.
“Assalamu'alaikum, sayang!” sapa Ervin lembut.
__ADS_1
“Waalaikumsalam, Bang.” Laura nampak sibuk dengan layar laptopnya.
Tetapi, kegiatan itu secara dihentikan setelah mendapatkan panggilan video dengan Ervin.
“Lagi apa kamu itu, Dek?”
“Tidak kok, Bang. Hanya cari hiburan saja soalnya bosan di rumah hanya rebahan saja kalau habis minum obat. Bawaannya ngantuk terus.”
“Iya tak apa begitu. Asalkan jangan lama-lama di depan situ.”
“Iya, Bang.” Laura mengangguk. “Oh iya Bang, Abang pulang jam berapa? Jadi ikut ke acara pernikahan dokter Aurora, kan?”
“Insya Allah jadi, sebentar lagi Abang juga akan pulang kok. Kamu siap-siap saja dulu, kalau Abang sudah pulang giliran Abang nanti yang siap-siap.” Laura mengacungkan jempolnya.
“Ya sudah kalau begitu, assalamu'alaikum.”
“Waalaikumsalam, Bang.”
Panggilan terputus. Ervin segera menyantap makan siangnya dengan lahap. Setelah itu ia bersiap hendak pulang.
...----------------...
Sesampainya di rumah tak lupa Ervin mengucap salam. Tak berlangsung lama seseorang dari dalam membukakan pintu untuknya. Tetapi, itu bukanlah Laura yang menyambut kehadirannya, melainkan pekerja art.
“Bik, dimana yang lain?”
“Tadi Pak Irham dan Bu Veronica sedang keluar, Mas. Tapi kalau mbak Laura ada di kamar.”
“Oh ya sudah, terimaksih ya, Bik.” Bik Siti mengangguk.
Ervin langsung menuju ke lantai dua. Ia tak sabar melihat kecantikan Laura seperti dulu, saat Laura masih menyandang status sebagai seorang model.
“Assalamu'alaikum, sayangnya Abang!” ucap Ervin membuka pintu.
‘Tidak dikunci, tapi dimana Laura?’
Kamar itu nampak kosong, tak ada satu orang pun yang di rasa tinggal di sana. Ervin mencari keberadaan Laura di ruang ganti, tetapi Laura tidak ada di sana. Ervin menuju ke kamar mandi, di bukanya pintu kamar mandi untuk memastikan Laura di dalam sana. Namun, nyatanya juga nihil.
“Kemana sih kau, Dek Laura?”
Ervin mencari tahu melalui bik Siti. Tapi, bik Siti tidak tahu dimana Laura berada.
Tidak ada kata menyerah bagi Ervin, ia mengelilingi seisi rumah itu untuk mencari keberadaan Laura. Hingga akhirnya ia menemukan Laura yang berada di atas atap.
“Dek, kok ada disini sih? Dari tadi loh Abang nyariin kamu.” Ervin bernapas lega.
“Maaf Bang, tadi aku tak bilng dulu sama bik Siti ataupun sama Abang pas di telepon tadi. Aku juga baru kok disini.” Laura menatap Ervin.
“Tak apa. Tapi lain kali pamit dulu kalau mau kemana-mana. Meksipun masih ada di atas atap rumah sendiri kalau orang nyari kamu terus nggak ada yang bingung juga nantinya.” Ervin mengecup kening Laura.
“Maaf ya, Bang.”
“Iya tak apa. Ya sudah, sekarang kita ke kamar yuk! Abang mau siap-siap dulu, mandi biar ggak gerah euy. Atau... mau mandi barengan saja?”
Bersambung...
🌹🌹🌹
__ADS_1