Couple Doctor

Couple Doctor
Air Mata Di ujung Sajadah


__ADS_3

...Apa kau tak tahu jika dirimu begitu berarti dalam hidupku? Dan apabila kau masih tak percaya dengan apa yang terucap dari lisanku maka... belah lah dadaku. ...


...----------------...


Siang itu, lebih tepatnya pada pukul sebelas siang. Ervin mulai memeriksa kondisi jantung, bilik kanan Laura. Dengan rasa harap yang disertai kecemasan, Ervin harus bisa tegar saat menangani kondisi isterinya sendiri.


“Apabila kondisiku nanti semakin memburuk, apa aku harus menjalani operasi segera?” tanya Laura dengan kecemasan yang ada.


“Jangan pikirkan hal yang berada di luar nalar kita. Kita hanya manusia biasa. Berharap yang baik-baik ya sayang, kita berdoa bersama.” Ervin mengusap puncak kepala Laura dengan lembut.


“Sekarang, berbaringlah! Abang akan periksa Adek.” Laura mengangguk.


Laura berbaring di atas brankar yang ada di ruangan Ervin. Setelahnya, Ervin mulai memeriksa detak jantung dan pemeriksaan yang lainnya. Setelah usai memeriksa Ervin mengembangkan senyum agar Laura tidak memiliki pikiran yang akan menghantam jantungnya.


Pikiran dan tekanan darah Laura saat ini harus diprioritaskan dalam kehidupan Ervin, selain makanan yang memiliki gizi seimbang.


“Cukup bagus! Pertahankan untuk tidak menyimpan amarah yang berlebih ya, sayang. Jika benar-benar lelah, istirahat lah. Jika kamu berada di dalam titik kejenuhan saat menghadapi ujian Allah SWT maka, mengadulah pada sang kuasa... Allah SWT.” Ervin memberikan pelukan sebagai penguat Laura.


Laura mengangguk, ia merasa begitu beruntung mendapatkan sosok suami yang selalu memberikan pengertian dan perhatian padanya. Dan kedua hal itu telah menjadi candu dalam hidup Laura.


“Abang akan buatkan resepnya, nanti Abang juga akan tebuskan obatnya di apotek rumah sakit ini. Jangan lupa diminum ya setelah tiba di rumah nanti.” Ervin mengusap puncak kepala Laura lalu, senyuman pun telah nampak dari bibir Ervin dengan seribu ketulusan.


Ervin pun menuliskan resep obat yang harus ia tebus untuk Laura. Obat yang tak sembarangan obat, harus dikonsumsi untuk pencegahan hal yang tidak diinginkan.


“Mbak, saya mau tebus obat. Ini resepnya.” Ervin memberikan selembar kertas yang sudah ia torehkan tinta di atasnya.


“Baik, Dok. Silahkan ditunggu!”


Mbak muda yang bertugas menjaga apotek pun segara membaca resep obat yang diambil Ervin. Obat diuretik, obat yang begitu penting untuk membuang penumpukan cairan dan menurunkan tekanan darah. ACE inhibitor, Antagonis aldosteron, Antikoagulan dan Beta-blocker.


Semua obat tersebut harus Laura konsumsi setiap harinya. Betapa pedihnya hati Ervin kala melihat isterinya harus mengkonsumsi obat-obatan tersebut. Rasanya ada belati tajam yang menusuk kalbu nya.


“Dokter Ervin, silahkan diambil obat-obatnya!” titah perempuan yang menjaga di apotek.


“Terima kasih, karena sudah membantu saya, Mbak Mia.” Ervin selalu bersikap ramah terhadap siapapun.


“Sama-sama, Dok!” balas perempuan itu dengan keramahannya.


Ervin segera menuju ke ruang VVIP, di mana ruangan itu tak lain adalah ruang rawat inap Leon. Laura berada di sana menemani Humaira yang masih membujuk Leon agar Leon mau bicara dengan Humaira.


Karena ada lift yang mempercepat menuju ke ruang VVIP yang berada di lantai dua, Ervin tidak perlu memakan waktu hingga belasan menit. Cukup lima menit saja sudah sampai i ruangan Leon.


“Abang sudah tebus obatnya?” Laura menyambut Ervin yang baru tiba.


Ervin mengangguk, lalu ia memberikan obat yang ia pegang pada Laura. Setelahnya, Ervin memandang keadaan sekitar. Masih dalam suasana hening.


“Apa... Leon masih belum mau bicara apapun dengan kau, Humaira?”


“Belum. Mungkin, baginya aku adalah perempuan yang tidak ada di matanya lagi. Bahkan hatinya pun mungkin... tidak ada lagi namaku di sana. Pedih memang ya, kalau begini jadinya. Lelaki yang kita harapkan kehadirannya justru tidak mengharapkan kehadiran kita.” Humaira mulai berkaca-kaca.


Laura memeluk Humaira dari belakang, mengusap lengan sang kakak dengan lembut untuk sekedar memebeikan kekuatan agar Humaira bisa tegar menghadapi segala ujian.


“Memang sulit dipercaya. Tapi, aku akan coba bicara sama Leon, insya Allah hatinya akan luluh meksipun ... akan sedikit sulit saat meluluhkan nya nanti.”


“Sekarang kau temani Laura pulang ya, Humaira. Kau tidak ada tugas pemeriksaan lagi, kan? Soalnya aku masih harus tetap tinggal di rumah sakit, ada jadwal operasi dadakan pada jam satu siang nanti.”

__ADS_1


Rasanya pedih untuk meninggalkan rumah sakit dengan hati yang masih terombang-ambing. Tapi, mengingat jika, hari itu adalah bukanlah hari yang tepat untuk tetap berdiri mempertahankan cinta. Karena setiap hubungan harus ada jarak untuk memperbaiki hubungan itu.


“Baiklah! Tapi...”


“Tak usah khawatir, aku akan berusaha.” Ervin mengerti apa yang dimaksud Humaira.


Humaira mengangguk. Sebelum Laura meninggalkan rumah sakit Ervin selalu memberikan kecupan di kening Laura. Terasa nyaman, tentram dan damai dalam hati Laura saat kecupan itu ia rasakan sedikit lama. Ervin pun merasakan hal yang sama. Dan keduanya merasakan ada hawa yang memanas dalam sekujur tubuh, darah yang menjalar seakan ikut mendidih merasakan kenikmatan yang ada.


“Sudah ya! Nanti kalau Abang sudah pulang di sambung lagi,” ucap Ervin tanpa memiliki rasa malu.


“Ih, malu tahu, Bang. Masa iya ngomong begitu di depan semua orang,” cicit Laura.


“Tak apa lagi, kita kan, sudah halal. Tidak dosa loh.” Ervinasih berusaha membela diri.


Laura dan Humaira pun meninggalkan rumah sakit. Dan setelah itu, Ervin meminta ijin untuk masuk ke dalam ruangan Leon pada Pak Fatih serta keluarga yang lain.


“Kami semua percaya sama kamu, Nak Ervin. Kamu pasti bisa meluluhkan hatinya yang begitu keras.” Pak Fatih menepuk bahu Ervin yang kokoh.


Ervin mengangguk. Ervin pun masuk, ia biarkan Leon yang tengah terpejam. Entah benar-benar tidur hanya sekedar alibi saja agar tak ada yang mengudarakan suara kala bertemu.


Namun, seorang Ervin tak bisa dibohongi dengan mudah. Persahabatan yang terjalin hampir dua tahun lamanya membuat Ervin begitu hapal dengan sosok Leon dan seperti apa karakternya.


“Jangan bohongi aku, kau! Kau itu tak pandai berbohong di depanku. Lihatlah, wajah kau memperlihatkan jelas jika, kau hanya pura-pura tidur.” Ervin mengambil duduk di sebelah brankar Leon.


Leon yang hapal pada pemilik suara, ia pun membuka perlahan kedua matanya itu. Secarik kepedihan telah tersirat dalam sorot mata Leon. Dan Leon benar-benar tidak pandai menyembunyikan kesedihannya saat berada di depan Ervin.


“Kenapa kau tidak mau menemuinya? Waktu yang ada seharusnya bisa kau manfaatkan dengan baik, karena kita tak akan pernah tahu where and when kita akan menghadap Ilahi.” Suara tegas itu memberontak, meminta penjelasan.


“Kau tak pernah tahu bagaimana yang aku alami, Vin. Aku bisa saja pergi, tanpa kau jelaskan where and when, padaku. Aku cukup sadar dengan kondisiku saat ini. Jika, aku menjalani operasi tak akan sepenuhnya bisa menyembuhkanku dan mengembalikanku dalam kehidupan normal seperti dulu.”


Sekilas bayangan kebahagiaan antara Leon dengan Humaira kala dulu melintas dalam pelupuk mata Leon. Dan Leon hanya tersenyum kecut, mengingat kenyataan yang ada bahwa ia sudah tidak bisa menikmati hal indah seperti dulu.


“Leon ataupun Tara yang aku kenal tidak seperti ini. Dan kau pun tak tahu bagaimana aku menghadapi ujian Allah saat ini... Pedih.”


“Asalkan kau tahu, Leon. Hatiku sakit melihat setiap hari isteriku mengkonsumsi obat-obatan keras demi mempertahankan hidupnya. Tetapi, aku tidak menyerah atau bahkan mundur dari posisiku saat ini, dan aku akan tetap berdiri tegak memperjuangkan sepercik kebahagiaan yang ada.”


Ervin, yang kerap menjalani kepahitan dalam hidupnya kini kembali tertampar dunia yang memintanya untuk tetap kuat, harus bisa mengkokohkan bahunya saat memikul semua beban yang ada dan kini Ervin tak akan mudah menyerah begitu saja meskipun, tetap Allah yang berkuasa.


Deg!


Leon yang tadinya memalingkan wajah, tak mau menatap sahabatnya itu seketika menoleh. Melihat air mata yang sudah menggenang di ujung pelupuk mata Ervin.


“Apa yang sedang kau alami, Vin? Apa yang terjadi sama isteri kau itu?” tanya Leon yang memiliki daya tarik untuk mendengar lebih lanjut kisah sahabatnya itu.


“Laura mengalami Congestive heart failure (gagal jantung kongestif) dan lebih tepatnya itu... gagal jantung kongestif kanan. Dan jika semakin parah maka akan segera menjalani operasi bypass jantung atau bahkan bisa jadi harus menjalani transplantasi jantung.”


“Hatiku pedih, tapi aku dipaksa untuk kuat disini, Leon. Karena aku tak akan takut sebuah perpisahan jika itu akan berakhir dengan indah. Daripada aku berpisah dalam kesedihan yang membalut hatinya. Dalam sisa waktu yang ada aku berharap ada sepercik kebahagiaan yang Allah berikan kepada kami, sepasang kekasih yang Allah pilih di dunia.”


Ervin menyeka air mata yang sempat menetes, membasahi pipi nya itu. Mungkin jika diluar sana Ervin bisa dilihat sosok lekaki yang tegar, kuat, sempurna dengan semua yang ada pada dirinya_yang mampu memikat semua mata wanita. Namun kenyataannya, hatinya begitu rapuh.


Leon menelaah setiap nasehat yang diucapkan Ervin. Di mana seorang lelaki harus bisa lebih kuat daripada seorang perempuan. Dan tak ada salahnya jika hanya sekedar bicara dengan Humaira.


“Semoga kau bisa menekan segala egomu. Tunjukkan i'tikad baikmu di awal, Leon.” Ervin memberi anggukan_meyakinkan Leon untuk tetap mempertahankan hubungan yang sudah terjalin lama.


Leon ikut mengangguk_mengiyakannya. Setelah hati mampu berdamai, Leon kembali bersemangat untuk melawan sakit yang ada. Akan selalu ia ingat nasehat yang Ervin katakan padanya.

__ADS_1


...----------------...


Ervin menengadahkan tangan setelah menunaikan sholat dzuhur di masjid, tempat ia menyembunyikan setiap luka, tempat untuk mendamaikan hatinya yang rapuh dan tempat untuk bertemu Allah SWT melalui sujudnya.


“Ya Allah Ya Rabb... kembali hamba mengadu kepada-Mu. Hamba memohon ampunilah hamba yang tak pernah luput dari sebuah dosa. Karena hamba sudah melakukan kesalahan besar dalam hidup hamba. Hamba memiliki rasa takut berlebih jika Engkau kembali mematahkan hati hamba.”


“Ya Allah Ya Rabb... berikanlah hamba dada yang lapang kala suatu saat nanti hamba akan kembali kau runtuhkan dunianya. Hamba hanya bisa memohon dari seribu kebaikan dan seribu kebahagiaan yang Engkau gariskan hidup hamba dengan Laura, isteri hamba yang sudah Engkau pilih untuk membersamai hamba dalam setiap langkah.”


“Ya Allah Ya Rabb... berikanlah umur yang cukup panjang untuk Laura agar ia tetap berada disamping hamba, menghabiskan waktu yang tersisa. Aamiin.”


Setelah mengucapkan kata aamiin sebagai akhir doa nya, Ervin kembali bersujud.


Tes...


Kembali air mata tak bisa terbendung, hingga menetes di atas sajadah. Air mata diujung sajadah telah membuktikan betapa cinta nya Ervin terhadap Laura. Dan cinta itupun telah didatangkan oleh Allah langsung ke dalam hatinya.


...----------------...


Ervin harus berperang kembali di meja operasi sampai empat jam lamanya berdiri, menajamkan mata, fokus dan harus berpenampilan spektakuler.


Operasi bedah jantung pun telah dimulai. Hingga tiba waktunya telah usai. Bagian yang paling akhir tak lain menjahit luka yang ada.


“Bagian akhir, Dokter Aurora tidak ada disini. Jadi, saya minta kepada Anda, Dokter Yusuf untuk menggantikan peran Dokter Aurora.” Ervin menatap tajam dokter Yusuf, dokter residen.


“Tapi, Dok...” Dokter Yusuf nampak ragu untuk mengiyakan.


“Jangan ada kata tapi saat berada di dalam ruangan ini. Dan yang ada hanya kata siap!” ucap Ervin yang memberi penekanan pada kalimat terakhirnya.


Dokter Yusuf menghembuskan napas beratnya, ia benar-benar nampak ragu untuk menjalankan perintah dokter utama. Menjahit luka, ada rasa trauma di sana setelah pernah mengalami hal buruk.


“Jangan buang waktumu dengan percuma, Dokter Yusuf. Karena waktu yang berjalan amat berguna untuk kehidupan pasien di masa berikutnya.” Ervin mengangguk mantap.


“Siap! Dok.” Dokter Yusuf membalas dengan anggukan.


Ervin keluar dari ruang operasi lalu, ia segera membersihkan tangannya dan berganti pakaian. Rasanya sudah tidak sabar sore itu akan segera pulang dan berjumpa dengan Laura. Perempuan yang kini mengisi relung hatinya dan sosok perempuan yang amat ia rindukan saat jarak dan waktu membentang antara mereka.


Motor scoopy yang selalu setia menemani Ervin kemanapun berada, kini ia lakukan dengan kecepatan sedang. Meskipun rasa rindu seakan tak bisa tertahan tapi ia juga harus mengingat bagaimana cara mengemudi di jalanan yang ramai.


“Assalamu'alaikum,” ucap Ervin setelah berada di depan rumah Laura.


“Walaikumsalam.” Laura menyambut hangat kedatangan suaminya.


Tidak lupa Laura menyalami Ervin dengan takzim. Dan tak lupa luka Ervin mendaratkan kecupan di kening Laura.


“Sudah selesai operasinya, Bang?”


“Sudah, soalnya Abang tak sabar ingin menyembuhkan rindu yang menyesakkan hati Abang.”


Blush! Seketika kedua pipi Laura merona. Bibir Ervin terlalu luwes membuat hati Laura berbunga-bunga dan dihinggapi kupu-kupu yang beterbangan.


“Gombal ih, Abang. Tadi ketemu loh di rumah sakit, masa sudah rindu saja.” Laura mencebik.


“Apa kau tak tahu jika dirimu begitu berarti dalam hidupku? Dan apabila kau masih tak percaya dengan apa yang terucap dari lisanku maka... belah lah dadaku.”


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2