
...Selain berusaha harusnya diselingi dengan doa. Begitu juga dengan sebaliknya, ada doa dan juga usaha....
...----------------...
Perlahan air mata Laura jatuh, mengalir dengan deras membasahi pipinya yang putih mulus. Aurora yang melihatnya pun tak bisa menahan rasa iba dan perdulinya. Dan Aurora yang dulu acuh telah menghilang, yang ada Aurora yang sekarang.
“Laura, kamu yang tenang dulu, ya! Aku yakin, pasti akan ada jalan keluar yang terbaik nantinya.” Aurora mengusap punggung Laura lembut.
“Tidak, Dokter. Ini adalah jalan terburuk yang harus aku pilih. Bertahan pun akan semakin rumit, melenyapkan pun begitu.” Laura menggeleng keras.
Ervin mendesah, begitulah yang harus Ervin jalani jika, pasiennya adalah perempuan yang belum bisa menerima resiko dari penyakit yang ditanggung.
Hanya bisa sabar saat melakukan pemeriksaan terhadap pasien yang sedemikian rupa.
“Huft! Begini saja, jika penuturan saya sama saja dengan dokter yang lainnya maka yang harus kamu lakukan sekarang, berdiskusi dengan walimu. JIka sudah, kamu bisa datang lagi ke rumah sakit.” Ervin mengangguk.
“Karena jam makan siang sudah berakhir dan kamu terlalu lama menangis. Itu sudah menyita waktu pertemuan kita siang ini. Dan sekarang sudah saatnya saya harus kembali lagi ke rumah sakit.” Ervin mengucap salam.
Ervin melangkah pergi meninggalkan cafe setelah mengucap salam. Tetapi, tidak dengan Aurora. Ia asih berhenti di sana menemani Laura yang masih menangis.
“Tenanglah! Dan kamu harus yakin bahwa dokter Ervin bisa menyelesaikan permasalahan ini. Percayalah Laura, dokter Ervn akan mencari solusi yang tepat untuk semua ini. Sekarang, pulanglah dan beristirahatlah!” ucap Aurora menenangkan Laura.
Tak bisa berkata selain air mata yang jatuh ke bumi. Perasaan yang mengharapkan kebahagiaan harus menelan kenyataan yang pahit dalam hidup di antara dua pilihan buruk seumur hidup.
Berada di titik terendah Laura tidak bisa lagi membanggakan dirinya sebgai seorang penyanyi dan model. Bahkan seketika itu karir yang dibangun telah hancur, bukan hanya karir saja melainkan kisah cintanya semakin rumit. Seolah ikut berada di ambang kehancuran.
Aurora mengantarkan Laura hingga di depan cafe, setelah yakin Laura masuk dalam mobil taksi online Aurora memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.
...----------------...
Di dalam ruangannya Ervin embali merenungkan masalah penyakit yang di derita Laura. Ia standbye di depan layar laptopnya untuk mempelajari masalah dua bilik yang ada pada jantung manusia.
__ADS_1
“Mengapa serumit ini permasalahan nya Ya Allah? Berikanlah petunjuk-Mu kepada hamba agar hamba bisa menyelesaikan permasalahan ini. Aamiin.”
Saat kembali fokus menatap layar laptopnya kembali tiba-tiba pintu ruangan berwarna putih itu diketuk pelan.
”Permisi! Dok. Ada Profesor Nathaniel ingin bertemu,” ucap suster Rani dari balik pintu.
Kedua alis Ervin berkerut, pasalnya ia tidak memiliki janji temu dengan Profesor Nathaniel. Namun, dengan kehadiran Profesor Nathaniel Ervin akan memanfaatkan untuk berkonsultasi, karena tak mudah memikirkan jalan keluar dalam masalah Laura.
“Iya, masuk saja!” ucap Ervin separuh berteriak tetapi tidak mengurangi kesopanannya.
Ceklek.
Ervin seketika berdiri menyambut kehadiran Profesor Nathaniel. Setelah itu dari balik tubuh gempal Profesor Nathaniel ada Aurora.
“Ada ... urusan dengan saya?”
“Iya. Kita harus mendiskusikan permasalahan yang diceritakan dokter Aurora. Karena saya tidak ingin melepas begitu saja Anda dan juga dokter Aurora memikirkan sendiri permasalahan ini.” Ervin manggut-manggut.
Ervin pun mempersilahkan Profesor Nathaniel dan juga Aurora megambil duduk. Namun, Profesor Nathaniel menolaknya.
“Ayo, kita sekarang kesana saja. Takutnya mereka sudah lama menunggu.”
Ervin menutup kedua matanya sejenak lalu, menghela napas panjang. Pasalnya Ervin masih tidak ingin bertemu dengan dokter Abimana setelah beberapa minggu lalu keduanya mengalami cekcok_dokter Abimana yang tidak menyukai Ervin.
Dan ... Di tambah lagi ada dokter Humaira, perempuan yang berwajah mirip dengan Haura. Namun, sifat yang berbeda.
“Semangat Ervin! Lupakan sejenak masalahmu dengan dua orang itu, jika sudah selesai maka akan berakhir pula pertemuan ini.” Ervin menyemangati dirinya sendiri.
Ervin mengekori Profesor Nathaniel dari belakang. Dan hal sama juga dilakukan oleh Aurora, berjalan di belakang Ervin. Karena selama mengenal Ervin, Aurora selalu diminta untuk berjalan dibelakang. Islam hanya ingin memuliakan seorang perempuan, jika perempuaan berjalan di depan lelaki maka lelaki itu sendiri bisa melihat lekuk tubuh perempuan yang ada di depannya tadi. Dan ditakutkan pemikiran sang lelaki akan jauh lebih negatif nantinya.
“Melepasmu, aku ikhlas. Meskipun nantinya akan terluka karena patah hati, aku siap menerima kenyataan jika pilihanmu adalah ... Dia.”
__ADS_1
Ervin mengingat betul bagaiman Aurora menceritakan tentang dokter Abimana. Cinta memang tak pernah salah untuk singgah di dalam hati siapa dan cinta juga tidak salah untuk bertahan atau melepaskan demi kebahagiaan orang yang kita cinta. Karena cinta tak harus memiliki dan bersatu.
Di dalam ruangan itu sudah tertata rapi beberapa kursi untuk dijadikan tempat duduk ternyaman saat berdiskusi. Dokter Abimana dan dokter Humaira sudah mengambil duduk di sana. Bahkan bisa dipastikan jika kedua dokter itu sudah menuggu lama.
“Mari kita bahas bersama tentang pasien kita ... Laura. Tapi, sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada Dokter Abimana dan Dokter Humaira sudah mau datang.” Profesor Nathaniel memulai obrolan tersebut.
Menekan rasa ego memang tidaklah mudah, tetapi Ervin mencoba untuk bersikap profsional sebagai dokter dalam rapat tersbut. Begitu juga halnya dengan dokter Abimana, lelaki itu pun besikap sama.
“Maaf sebelumnya. Saya mau bertanya kepada Dokter Humira. Anda ... sebagai kakak Laura, disini akan di anggap sebagai walinya. Maka ... Pendapat Anda bagaimana?” tanya Ervin.
“Jujur saya sendiri merasa sulit untuk memustuskan harus bagaimana. Karena setiap perempuan pada dasarnya ingin hamil dan membahagiakan suminya. Bukankah setiap rumah tangga meginginkan seorang anak?”
“Iya, Anda benar Dokter Humaira. Tapi menurut saya sebagai dokter kandungan sangat rentan sekali bisa hamil dengan kondisi normal. Karena jantung pasien akan semakin ditekan, bahkan bisa kemungkinan terjadi keguguran atau ... Melahirkan secara prematur.” Dokter Abimana menimpali.
“Lantas, apa yang harus kita lakukan sekarang? Bagaimana menurut Anda Profesor Nathaniel?”
Merasa buntu hingga akhirnya ketiga dokter junior tersebut mengalihkan semuanya ke Profesor Nathaniel.
Hening ...
Sejenak semuanya terdiam, mereka memutar otak masing-masing untuk memikirkan jalan keluar.
“Menurut kamu bagaimana, Dokter Ervin?”
“S-saya?” Ervin berbalik bertanya sambil mengarahkan jari telunjuk ke arahnya.
“Iya.” Profesor Nathaniel mengangguk. ”Silahkan ajukan pendapatmu terlebih dahulu, setelah itu saya akan mengajukan pendapat saya.”
“Saya sendiri berpikir jika, kita biarkan saja Laura hamil setelah menjalankan pernikahannya. Karena Laura berhak mendapatkan kebahagiaannya dan kita tak pantas menghancurkan kebehagiaan tersebut.”
“Selama kehamilannya nanti biarkan dokter Abimana yang memberikan anjuran vitaminnya, sedangkan dokter jantung akan memberikan obat pada jantungnya dengan dosisi terendah. Dan masa kehamilan kita harus siap siaga untuk bekerjasama. Keluarkan bayinya terlebih dahulu lalu, tim bedah jantung akan mengangkat bilik kirinya.”
__ADS_1
“Selain berusaha harusnya diselingi dengan doa. Begitu juga dengan sebaliknya, ada doa dan juga usaha.”
Profesor Nathaniel memberikan anggukan pada pendapat Ervin. Dan begitu juga dengan dokter Abimana, ikut menyetujui jalan yang sudah dipikirkan dengan baik. Dan selama itu mereka harus siaga dan waspada.