Couple Doctor

Couple Doctor
Coklat Hangat Yang Nikmat


__ADS_3

...Kepada hati yang telah patah, semoga segera mendapatkan kembali kepingan yang patah itu agar kembali utuh....


...----------------...


Saat berada di depan television obrolan pun tersaji dengan diselingi tawa yang renyah. Pasalnya malam itu Raza belum tidur karena pas waktu malam minggu. Tak heran jika anak remaja dijaman sekarang akan mengambil tidur cepat di waktu lenggang tanpa memikirkan apa dan bagaimana besok saat berada di sekolah.


“Uda, kapan sih uda Ervin nikah? Apa ... Tak jadi cinta-cinta-an sama siapa itu ... Yang cantik kayak bule.” Bukan Raza lupa siapa Aurora, hanya saja ia sedang memancing Ervin.


“Ngomong apa kamu sih anak kecil? Tanya nikah pula. Sudah ah sana, tidur saja ... Sudah malam ini.” Ervin menekankan pada kalimatnya.


“Ish, tanya saja tak boleh. Lagipula ini malam mimggu loh Uda, malam yang syahdu buat acara pacaran begitu. Sayangnya ... Uda Ervin belum ada pasangan jadi ... Ya tidak bisa merasakan nikmatnya malam minggu.” Raza pun tertawa.


Ervin hanya mencebik saja, meskipun dalam hatinya merasakan ngenes yang tak hentinya. Mengingat kegagalan yang pernah terjadi dalam hidupnya Ervin pun meratap pilu.


‘Memang seperti apa ya kamu nanti? Kenapa Allah begitu merahasiakannya rapat-rapat padaku?’ gumam Ervin dalam hati.


Merasa terpojok dengan ucapan Raza yang terus mendesaknya, Ervin pun memutuskan untuk keluar dan mencari udara malam yang segar. Menghilangkan penat yang ada di otaknya.


Bang Jamal dan kak Sita yang melihat Ervin keluar pu hanya diam saja. Karena mereka tahu betul bagaimana perasaan Ervin saat ini. Mungkin waktu sejenak untuk sendiri sangatlah diperlukan oleh Ervin, sehingga bang Jamal maupun kak Sita membiarkan saja.


...----------------...


Malam itu hujan rintik-rintik mulai berjatuhan membahasi kota medan. Saat berada di luar baru saja lima belas menit Ervin mencari udara malam harus segera mencari tempat berteduh tedekat dari jangkauannya. Karena tidak mungkin harus kembali pulang sedangkan hujan turun semakin lebat saja.

__ADS_1


Glugurrr...


Hujan yang deras telah diselingi dengan suara petir yang keras. Rasa dingin yang tiba-tiba menusuk hingga ke tulang seetika membuat Ervin harus bersedekap dan menggesek-gesekkan lengannya dengan kedua tangannya itu untuk sekedar memberi kehangatan.


‘Tunggu ... Itu bukankah...?’ Ervin bertanya dalam hati.


Rasa penasaran yang tiba-tiba menyelinap dalam otak Ervin, membuatnya ingin mendatangi mobil yang mogok di ujung jalan, tak jauh dari tempatnya berteduh saat itu.


“Dokter Humaira, apa Anda berada di dalam?” tanya Ervin seraya mengetuk kacamobil itu.


Tidak ada jawaban dari dalam. Dan jelas itu membuat Ervin merasakhawatir terhadap kondisi dokter Humaira. Apalagi malam itu hujan masih turun dan lebat yang diselingi suar petir menggelegar.


“Kenapa gelap ya di dalam? Masa iya terjadi sesuatu dengan dokter Humaira. Tapi ... Kenapa pula mobilnya harus dikunci dari dalam jika membutuhkan pertolongan?” gumam Ervin yang terus bertanya.


“Dokter Ervin. Dokter ngapain ada di luar? Tidak tahu hujan apa,” ujar dokter Humaira setelah membuka kaca jendela mobilnya.


Dokter HUmaira yang melihat Ervin sudah kedinginan karena kehujanan, ia pun memutuskan untuk keluar. Dan tak lupa pula dokter Humaira membuka payung yang akan melindunginya dari hujan.


“Dokter Ervin ngapain ada disini? Apa ada perlu dengan saya?” tanya dokter Humaira mengulang pertanyaannya.


Di bawah satu payung keduanya mengobrol bersama. Namun, dokter Humaira tidak tega melihat Ervin yang sudah tampak menggigil. Dan akhirnya ... Dokter Humaira mengantarkan Ervin pulang denagn mengenakan satu payung sambil berjalan beriringan, bahkan sangat dekat dan berhimpitan.


‘Ya Allah, kenapa rasanya jadi bercampur aduk seperti ini ya. Ada rasa suka, ada rasa senang, ada rasa nyaman dan juga ada rasa ... Tenang.’ ERvin pun bermonolog daam hati.

__ADS_1


Dua menit kemudian akhirnya, Ervin dan juga dokter Humaira sampai juga di teras rumah Ervin. Berhubung hujan masih nampak lebat, rvin menawarkan pada dokter Humaira untuk ikut masuk ke dalam.


“Tunggulah disini! Saya akan ganti baju dulu sebentar dan buat minuman.”


Tanpa menunggu suara dokter Humaira mengudara Ervin langsung melenggang pergi. Dan saat berada di dalam kamar, Ervin segera mengeringkan tubuhnya yang basah kuyup dengan handuk. Setelahnya, Ervin mengambil kaos oblong berwarna hitam dan juga celana levis se-lutut miliknya.


“Minum coklat hangat ... Aku rasa itu akan menghangatkan tubuhnya saat hujan begini,” gumam Ervin.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Ervin seger menuju ke dapur dan membuat coklat hangat yang nikmat untuk diseduh dalam keadaan apapun.


“Minumlah! Selagi coklatnya masih hangat.” Ervin meletakkan secangkir coklat hangat di atas meja.


Dokter Humaira mengangguk, mengiyakan ucapan Ervin.


Sruuppp...


Coklat hangat mulai diseduh secara bersama-sama. Dan rasa coklat yang nikmat benar-benar membekas di mulut. Coklat itu sendiri selain memberikan kenikmatan tersendiri bagi yang minum juga memberikan kehangatan, menghilangkan penat saat memikirkan masalah yang ada dan juga rasa manis yang kental ... Membuat Ervin serta dokter Humaira menciptakan obrolan.


“Dokter Ervin, kalau saat begini kita tak usah bicara dengan formal. Bicara tanpa menyebutkan nama embel-embelnya. Bagaimana?”


“Emm ...” Ervin nempak berpikir. “Baiklah. Sekalian saja, saat begini tidak perlu menyebut Anda atau apalah, bagaimana?”


Humaira pun mengangguk, lalu kembali menyeduh coklat hangat yang nikmat. Setelahnya, obrolan kembali bergulir menemani keduanya sampai-sampai ... secangkir coklat hangat pun telah habis tak tersisa.

__ADS_1


‘Kepada hati yang telah patah, semoga segera mendapatkan kembali kepingan yang patah itu agar kembali utuh.’ Ervin mengulas senyumnya saat tanpa sengaja menatap ke arah Humaira.


__ADS_2