
...Kesuksesan itu tidak bisa diraih dengan mudah jika hanya sekedar duduk bersantai tanpa ikhtiar melalui usaha dan berdo'a....
...----------------...
Ervin masih berdiri di posisinya, menatap sejenak Aurora yang nampak bahagia setelah membidik gambar mereka bertiga di dalam ruangan yang sediakan di snap studio.
‘Tenang Ervin, kau tak perlu bersikap secara berlebihan. Ingatlah apa yang menjadi tujuanmu datang kesini, hanya berfoto saja.’ Dalam hati Ervin memberikan penekan pada kalimatnya.
Namun, gejolak rasa yang ada membuat Ervin semakin mendidih saja kala ia melihat dengan amat jelas di depan kedua matang jika, Aurora sempat membenarkan topi kabaret milik anggota angkatan udara yang bersama Aurora. Orang yang sama dan lelaki yang sama.
‘Perempuan ini pasti sengaja melakukan hal ini di depanku. Tapi... apa tujuannya coba?’
Entah Ervin yang memang tidak peka atau memang sengaja mengalihkan perasaannya. Yang diperlihatkan Ervin pun hanya cuek bebek, agar ia tidak akan merasakan hal yang aneh lagi.
“Profesor Nathaniel juga melakukan sesi pemotretan di snap studio ini?” tanya bang Jamal menyapa.
“Iya. Dan kalian pun ternyata... juga sama. Ya sudah kalau begitu, kalian cepat masuk saja gih! Nanti malah keburu malam.” Profesor Nathaniel masih menjadi sosok yang amat dikenal baik oleh bang Jamal.
Bang Jamal selalu kepala keluarga tak mau memperpanjang waktu lagi, oleh karena itu ia segera masuk ke dalam dan membawa rombongannya.
“Coba saya atur dulu ya, Bang! Abang nya bisa duduk di tengah... abang yang muda dan mbak nya bisa berdiri di sisi samping. Dan yang kecil bisa berada di depan Abang yang lebih tua.” Petugas pemotretan memberikan titah.
Ervin menahan tawanya kala ia mendengar petugas itu menyebut nama bang Jamal dengan abang yang lebih tua. Membuat Ervin nyengir saja saat bang Jamal sejenak menatapnya.
Karena tidak ingin terlalu lama di dalam sana bang Jamal dan yang lainnya hanya menurut saja ketika diatur dalam posisi agar gambar bisa pas saat dibidik.
“Dalam hitungan ke-tiga saya akan mulai memotret gambarnya ya, bang.”
“Satu...”
“Dua...”
“Tiga...”
Cekrek...
Sudah sampai beberapa kali gambar telah terbidik dengan kecerahan maksimal, hingga membuat cerah dan bagus setelah foto dihasilkan. Namun, foto tersebut belum bisa langsung dikirim sampai beberapa menit selanjutnya. Menunggu paling lama satu jam lima belas menit untuk mengirimkan foto yang paling bagus di antara yang lain.
“Loh, Profesor Nathaniel dan mbak Aurora belum pulang ya?” sapa bang Jamal kembali setelah keluar dari dalam ruangan.
“Iya, kami sengaja menunggu kalian keluar soalnya. Sekalian mau mengajak kalian makan malam dan mengobrol bersama. Saya rasa sudah lama sekali kita tidak saling mengobrol setelah satu tahun lalu.” Profesor Nathaniel yang tidak memiliki banyak waktu luang merasa jika, saat itu adalah waktu yang tepat untuk menyambung kembali tali silaturahmi dengan keluarga bang Jamal.
“Oh begitu, boleh kok... iya boleh, Prof.” Bang Jamal mengangguk pasti.
‘Yah, bang Jamal kenapa harus menerima ajakan mereka pula sih? Harusnya langsung pulang saja, kalau begini mau menolak kan, ya lucu nanti.’ Ervin merasa kesal saja dengan keputusan bang Jamal.
Dan tidak ada pilihan lain selain mengikuti. Ervin berjalan paling belakang saat mereka semua mencari restoran terdekat dari lokasi pemotretan tadi.
Namun, saat hampir tiba di restoran Profesor Nathaniel tiba-tiba menerima panggilan darurat dari pihak rumah sakit yang memintanya dan juga Ervin serta Aurora untuk segera kesana. Panggilan darurat yang memang harus dipenuhi saat itu juga meksipun, bukan jadwalnya untuk berjaga.
“Gawat Prof, ruangan yang tadi kita operasi terdengar ada kegaduhan di dalam sana. Dan itu sangat mengganggu pasien dalam masa pemulihan. Jadi, sebaiknya Anda segera datang ke rumah sakit, Prof.” Terdengar dari seberang menjelaskan kondisi di rumah sakit saat itu.
“Baiklah! Saya akan datang bersama dokter Ervin dan juga dokter Aurora karena, kebetulan saat ini saya bersama keduanya.”
__ADS_1
Sambungan telepon pun telah usai, sekarang bahkan sudah terputus. Dan saat Ervin disebut namanya oleh Profesor Nathaniel, ia hanya menyatukan kedua alisnya.
‘Apalagi ini maksudnya coba,’ umpat Ervin kesal.
Setelah sambungan telepon Profesor Nathaniel terhenti justru bergantian, ponsel milik Ervin berdering tanda jika, ada panggilan masuk. Ervin segera merogoh saku celananya hendak mengambil ponsel miliknya.
“Assalamu'alaikum,” sapa Ervin dengan lembut.
“Waalaikumsalam. Maafkan jika aku sudah mengganggu waktu kamu saat ini, Nak. Tapi... bolehkah Bunda bicara sama kamu sebentar? Bunda tidak akan mengajak kamu bertemu, karena ini sangat mendesak.”
“Bunda bicara saja!”
“Baiklah...” Bunda Rania pun berceritabercerita apa yang menjadi tujuannya menghubungi Ervin malam itu.
Sekilas, pikiran Ervin tertuju pada satu pasien yang sudah dioperasi olehnya tadi pagi. Lantas setelah mengerti apa yang dikatakan bunda Rania, tak membutuhkan waktu banyak lagi. Ervin meminjam angkot dari bang Jamal lalu, mengajak Profesor Nathaniel, Aurora dan lelaki itu_lelaki berseragam loreng.
“Ada apa dengan kamu yang tergesa-gesa seperti ini, Ervin?” tanya Profesor Nathaniel penasaran.
“Maaf tadi jika saya lancang, Prof. Tapi, mungkin apa yang Anda terima melalui telepon tadi pasti sama dengan saya. Bersangkutan dengan pasien yang kita operasi tadi pagi. Iya, kan, Prof?”
Profesor Nathaniel terlonjak, pasalnya beliau belum menjelaskan pada Ervin maupun Aurora. Tetapi, Ervin justru mengetahui itu semua lebih dulu, entah siapa yang memberitahukan hal itu kepadanya.
Profesor Nathaniel mengangguk pasti, dan entah kesamaan apa yang secara kebetulan terjadi pada malam itu.
“Iya, saya memang mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit. Dan perawat yang menghubungi saya tadi telah menyatakan bahwa pasien yang kamu operasi tadi ada yang mengganggu ruangannya. Dan kita harus kesana sekarang, tapi... kenapa kamu justru mengajak...” Pandangan Profesor Nathaniel sekilas ke arah lelaki yang berada di samping Aurora.
Ervin sejenak menghela napasnya panjang, ia berusaha menetralkan gejolak rasa yang membuat hatinya seolah terbakar api cemburu. Akan tetapi, Ervin terus menyangkal akan hal itu. Dan saat ini Ervin menepis rasa itu jauh-jauh.
“Begini Prof, saya pikir Dia bisa ikut kita ke dalam karena yang saya takutkan bisa sewaktu-waktu terjadi. Saya tidak mau jika mereka yang mengganggu pasien kita memakai senjata. Dan saya lihat... Dia seorang tentara, pas jika saya mengajaknya.” Ervin tersenyum tipis pada lelaki berseragam loreng itu.
Lelaki berbaju loreng yang memiliki pangkat letnan dua itu membalas uluran tangan Ervin dan menyambutnya dengan senyum ramah. Dan tak pernah disangka jika, letnan dua yang memiliki nama Samudra itu menyetujui kerjasama yang diajukan Ervin.
Sepersekian detik kemudian, Ervin, Profesor Nathaniel dan Aurora masuk ke dalam rumah sakit dan mencari ruangan yang dari awal mereka tuju. Dan setiba di sana benar saja, lima orang lelaki berbadan gempal yang mengenakan pakaian serba hitam dan tak lupa kacamata hitam telah menempel di kedua mata mereka masing-masing.
Dengan langkah pelan Profesor Nathaniel masuk ke dalam ruangan itu dan mencari tahu inti dari permasalahan. Karena, Profesor Nathaniel tidak mau jika ada kerusuhan di rumah sakit tempatnya mengabdikan diri untuk menolong masyarakat kota Medan ataupun jika, suatu hari ada pasien pindahan ia akan berusaha semaksimal mungkin menolong nyawa orang tersebut.
“Maaf permisi! Siapa Anda? Kenapa Anda membuat keributan di rumah sakit ini, terutama di ruangan pasien rumah sakit ini?” tahya Profesor Nathaniel to the point.
“Ini buka urusan Anda, dokter tua. Mending sekarang biarkan kami membawa pasien Anda itu pergi dari sini, karena saya masih ada urusan yang sangat penting dengan Dia...” Seorang lelaki yang bisa disebut sebagai ketua dari mereka telah mengudarakan suara dengan amat mengejek dan seolah menantang semua yang ada di sana.
Dan ucapan itu sukses membuat Profesor Nathaniel merasa geram karena, sudah terpancing amarah dengan sekali kalimat. Bukan hanya Profesor Nathaniel saja tetapi, Ervin dan Aurora yang sengaja menunggu di luar merasa darah mereka telah medidih.
“Aku mau masuk, rasanya telingaku sudah panas dengan kata-kata yang diucapkan orang itu. Terlalu pedas.” Aurora bersiap hendak melangkah.
“Tunggu! Jangan gegabah seperti itu, tak baik jika kamu masuk sekarang. Lebih baik kamu tunggu disini saja, berjaga jika ada serangan atau apalah yang membahayakan nyawa orang lain atau diri kamu sendiri. Setelah itu, barulah kamu mengatakan hal itu kepada Letnan Samudra.” Ervin alih-alih hanya memberikan alasan alibinya saja.
Karena, yang sebenarnya terjadi Ervin tak ingin jika, Aurora akan terluka saat masuk ke dalam. Mengingat tiga tahun lalu membuat dada Ervin tiba-tiba merasa sesak, meskipun itu sudah berlalu. Rasa bersalah seolah menghantuinya. sepanjang waktu.
“Kenapa begitu? Aku bisa saja masuk, lagian Samudra pasti akan menjagaku dari pandangannya. Dia itu seorang tentara, aku yakin pasti Dia memiliki strategi yang pas untuk menyerang jika ada penyerangan dari mereka secara dadakan.” Aurora tetap bersi keukeuh masuk ke dalam.
“Aku mohon jangan, Aurora! Ok, kali ini aku akan jujur padamu. Aku sengaja melarangmu tadi karena, aku ingin kamu tetap aman. Tidak seperti Haura.” Ucapan Ervin seketika berhenti, seolah iantak sanggup lagi menceritakan tragedi penembakan orang yang dicintainya tetapi, juga menghianatinya.
Deg.
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan Ervin bukannya Aurora berhenti, justru itu semakin membuat Aurora ingin segera masuk. Pasalnya rasa cemburu yang berkobar di dalam hati Aurora sudah sampai ubun-ubun. Sayang, keduanya masih bertahan dengan rasa gengsi yang menutup cinta itu.
“Ervin, ternyata kamu masih terbayangkan sosok Haura dalam hidupmu. Ingatlah satu hal, jika kamu ingin membuka hati maka jangan libatkan dirimu dalam belenggu masa lalu. Dan aku tak menyangka, seorang Ervin tidak bisa bekerjasama dengan hatinya.”
“Perlu kamu ingat satu hal. Kesuksesan itu tidak bisa diraih dengan mudah jika hanya sekedar duduk bersantai tanpa ikhtiar melalui usaha dan berdo'a. Bukankah... seharusnya kamu pun seperti itu juga? Berusaha membuka hati untuk menemukan ... jodoh.”
Satu detik kemudian Aurora melenggang pergi meninggalkan Ervin yang masih mematung di balik pintu berwarna coklat itu.
‘Kenapa Dia memiliki pikiran sependek itu?’ Ervin mendesah pilu.
“Aurora masuk ke dalam, tolong awasi semua gerak-gerik mereka. Dan aku akan masuk, mengkur waktu yang ada sebelum pasukanmu tiba di rumah sakit.” Ervin menghubungi Samudra melalui saluran telepon.
“Hmmm...” Balas dari Samudra yang berada di seberang, tepatnya tidak tahu dimana Ervin berada.
Dengan gagahnya Ervin masuk ke dalam ruangan itu sembari masang giginya yang runcing. Bahkan kalau mau bisa saja giginya mengering karena, terlalu banyak nyengir.
Ke lima orang itu terus mencaci maki pasien pasca operasi jantung yang masih lemas tak berdaya. Hal itu membuat Ervin tak bisa tinggal diam, ia terus berusaha untuk melawan kejahatan yang ada di depan kedua matanya.
“Hei... Hei... Ada apa ini? Kalian siapa? Kenapa ada disini?” tanya Ervin dengan suara baritonnya yang khas.
“Siapa kamu? Mau jadi pahlawan disini?” preman itu balik bertanya.
“Mau berkenalan dengan saya? Baiklah! Saya akan memperkenalkan nama saya kepada kalian semua.”
“Saya, Dokter Ervin Evano dan lebih tepatnya saya dokter yang sudah mengoperasi pasien itu. Dan oh iya... bagaimana kalau kita bekerjasama aja?” tawar Ervin terhadap preman itu.
“Apa maksud kamu? Jangan macam-macam dengan kami jika tidak... mau terluka.” Preman itu mengancam.
Bukan hanya sekadar mengancam belaka, tetapi preman itu juga mengeluarkan sebuah senjata tajam tak lain adalah pistol. Ke lima orang itu satu persatu memegang pistol dalam genggaman tangan mereka. Hingga membuat Profesor Nathaniel, Aurora dan Ervin tak bisa berkutik.
Hening...
“Cepat lepas infus orang ini agar kami bisa membawanya pergi dengan mudah.” Ketua preman memebei titah.
“Hahaha... bagaiaman bisa kami pihak dari rumah sakit membiarkan pasien kami seperti itu, hah? Apa kalian bodoh, otaknya geser sedikit begitu misalnya.”
“Lihatlah! Jika semua alat dicabut dan infus jiga disebut, apa kalian tidak memikirkan kematian pada pasien itu? Dan jika seperti itu ... jangan salahkan kami jika, kalian semua kaan merugi.”
Dalam hati kecil Ervin, ia sebenarnya gemetar mengatakan kerjasama yang sudah dipikirkan olehnya tadi. Dan benar saja, apa yang ditakutkan Ervin telah terjadi.
Dor... Dor...
“Jangan macam-macam sama kami semua. Ingatlah! Nyawa kalian terancam bersama kami disini.”
“Dan ini adalah peringatan untuk kalian jika, kalian tidak segera melakukan hal yang kami inginkan maka jangan pernah salahkan kami menembak semua orang yang penting dalam hidup kalian.”
Ketiga pemeran utama di rumah sakit itu tak bisa berkutik, pasalnya sampai saat itu juga Samudra tak ada tanda-tanda pergerakan sama sekali. Entah kemana perginya Samudra dari sana, mengapa lelaki berseragam loreng itu tak kunjung datang bersama anggotanya.
Ervin sejenak memejamkan mata, setelah kembali membuka secara pelan justru ia ditatap tajam oleh Profesor Nathaniel dan Aurora. Dimana mereka berharap ada solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah dangkal itu.
Dor... Dor...
Namun, sebelum bertindak lebih jauh lagi Ervin justru dikejutkan dengan suara tembakan yang bukan lagi mengudara dengan cuka-cuma. Melainkan... tiga peluru sudah masuk ke dalam tubuh Profesor Nathaniel.
__ADS_1
Deg.
🌹🌹🌹