
...Aku tak akan menyerah di titik awal, jika ini adalah sebuah perjuangan, semoga Allah Subhanahu wa ta'ala meridhainya...
...----------------...
Rasanya itu benar-benar nyeri di hati Ervin, tetapi jika itu adalah ungkapan kata yang pernah ia ucapkan pada Aurora, lantas ia pun juga tidak ingin memaksakan Aurora untuk menyetujui keputusannya.
Dan benar juga, belum tentu Aurora akan mengubah kehidupannya terutama, menjadi seorang muslim. Karena menjadi seorang mualaf itu bukanlah hal yang main-main, bukan pula perintaan dari orang lain, melainkan dari hati.
“Aku tak akan menyerah di titik awal, jika ini adalah sebuah perjuangan, semoga Allah Subhanahu wa ta'ala meridhainya.” Ervin tidak mematahkan semangatnya.
Cukup sampai di sana pertemuannya dengan Adam di kedai bakso. Setelah selesai membayar Ervin pergi begitu saja tanpa berpamitan hendak kemana pada Adam, hanya mengucap salam saja. Karena kebetulan Adam memang beragama islam. Sehingga Adam sudah mengerti arti salam tersebut bagi sesama muslim.
Ervin mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, karen ia ingin segera sampai di rumahnya sebelum waktu ashar tiba.
Namun, saat pejalanan tiba-tiba saja Ervin mendapatkan kendala.
__ADS_1
Tin ... Tin ... Tin ...
Terdengar suara klakson mobil yang seketika membuyarkan lamunan Ervin. Hampir saja Ervin beradu dengan mobil yang ada di depannya, untung saja pengendara itu segera menekan tombol klaksonnya. Dan Ervin yang menyadari dapat menghindarinya.
Ssssttttt...
Ervin seketika mengerem motornya. Untung saja Ervin tak sampai terjatuh, bisa dibilang Ervin baik-baik saja. Begitu juga dengan pengendara mobil tersebut.
“Woi Mas, kalau mengendarai motor itu jangan kebutkebut dong! Emang di kira jalanan punya nenek moyang lo apa.” Pengendara mobil itu marah-marah kepada Ervin.
“Awas saja ya kalau lo sampai kayak gitu lagi. Kayak punya nyawa seribu saja, emang kucing apa.” Pengendara mobil tersebut hanya geleng-geleng kepala saja.
Setelah itu, pengendara mobil itu kembali mengendarai mobilnya_melesat pergi meninggalkan jauh Ervin yang masih menata ritme jantungnya yang berantakan.
“Ya Allah, alhamdulillah karena Engkau masih memberiku hari keberuntungan. Terimakasih sudah menyelamatkan aku dari maut,” ucap Ervin seraya mengelus dadanya.
__ADS_1
Ya, untung saja Tuhan masih menyelamatkan Ervin jika tidak, maka entahlah bagaimana Ervin selanjutnya. Masih bernapas atau harus mengakhiri hidupnya tanpa merasakan cinta yang membuat hari-hari nya bahagia.
Setelah ritme jantungnya kembali normal, Ervin kembali melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, akhirnya Ervin sampai juga di rumahnya. Rumah itupun nampak sepi jika dilihat dari luar, tetapi sebenarny penghuni rumah itu tengah bersantai di dalam sana. Karena sore itu sudah memasuki pukul 16.45 WIB. Dapat dipastikan jika bang Jamal dan kak Sita sudah standby di depan television.
“Assalamualaikum,” ucap Ervin setelah membuka pintu yang memang tidak dikunci itu.
“Wangalaikumsalam,” balas bang Jamal dan kak Sita bersamaan.
Ervin menuju dapur hendak mengambil segelas air putih, setelah mengalami kejadian yang membuatnya merasa benar-benar kehausan. Lalu, Ervin menuju ke kamarnya.
“Kenapa kau baru pulang, Ervin? Kata kau tadi siang sudah sampai di rumah. Kemana saja ka setengah harinya?” tanya bang jamal yang memberondongi Ervin.
Ervin menghela napasnya sejenak, setelah itu ia ikut mengambil duduk dan menjelaskan semua yang terjadi.
__ADS_1
🌹🌹🌹