
...Biarkan aku meminta Tuhanku untuk meluluhkan hatimu. Karena kepada-Nya lah aku akan berserah....
...----------------...
Aurora masih tercengang dengan ucapan Ervin, metode yang diucapkan Ervin seolah mengarah pada hal diluar nalar.
Aurora berusaha menelaah setiap kata, tetapi akhirnya mentok. Perempuan itu tidak menemukan titik terangnya.
“Itu... Metode yang seperti apa?” tanya Aurora agar ia tidak gagal faham.
Ervin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Emm ... Itu seperti ... Bagaimana ya, cara menjelaskan kepadamu. Aku jadi bingung sendiri. Wkwkwk ...” Ervin justru tertawa.
Aurora memutar bola matanya. Ia benar-benar dibuat menjadi tidak waras oleh Ervin malam itu.
“Okay. Aku akan serius. Dengarkan baik-baik!” ucap Ervin kemudian.
Ervin memasang wajah serius, ia mengajak Aurora untuk kembali fokus. Bahkan Ervin menyiapkan beberapa alat medis yang bisa dijadikan untuk praktek saat mengajari Aurora.
“Apa kita bisa mulai sekarang?” tanya Ervin memastikan.
“Boleh.” Aurora mengangguk setuju.
Ervin mulai mengajari Aurora sesuai dengan metode yang ia ucapkan tadi. Dan Aurora uga memperhatikan dengan mimik wajah yang serius. Melihat bagaimana Ervin menutup mata dan menggerakkan jari.
“Saat melakukan pembedahan, jangan takut jika darah keluar dari dada pasien. Karena itu wajar, pasien masih hidup. Berbeda lagi jika pasien sudah mati, maka tidak akan mengeluarkan darah.” Ervin menjelaskan saat scalpel mulai membuat sayatan di bagian dada pasien.
“Dan setelah dada pasienmulai terbelah, lihat apa penyebab jantung tidak berfungsi dengan baik. Jika banyak darah yang menutupi penglihatan kedua mata kamu, maka segera minta perawat untuk menyedot darahnya. Lalu tangan kamu masuk, membenarkan jantung jika tidak harus diganti dengan jantung yang baru.”
“Kalau jantung memerlukan jantung yang baru bagaimana?” tanya Aurora.
”Gunakan metode tarik. Setelah kamu membuka dada pasien masukkan tangan kamu pada posisi jantung berada. Setela itu, barulah kamu ambil jantung itu dengan cara tarik perlahan. Jika sudah baru ganti dengan jantung yang baru. Dan kali ini menggunakan metode keluarkan.”
“Jangan gugup jika jantung yang baru kamu pasang ke tubuh pasien belum bisa berfungsi dengan baik. Terus lakukan cara agar jantung itu bisa diterima dengan baik oleh tubuh si pasien, jika diterima maka, jantung dapat befungsi dengan baik.”
“Sampai disini bisa dipahami dengan mudah, kan?” tanya Ervin memastikan.
“Yes, i'am understand.” Aurora mengangguk mantap. “Tapi, aku masih bingung bagaimana cara menjahit luka nya. Aku melihat... Kamu begitu mahir dalam melakukan itu.”
Ervin sejenak menghela napasnya. Saat begitu adalah sesutu hal yang membuat Ervin merasa berdebar, karena saat menjahit luka tak lain adalah bagian dada tidak membutuhkan teori melainkan membutuhkan praktek.
“Baiklah, aku akan mengajarimu tapi ... Aku akan praktekan dengan ... Alfan. Alfan, kemarilah!” panggil Ervin saat Fajar secara kebetulan lewat di depan mereka.
Aurora terpingkal saat Ervin memegang tubuh dan tangan Alfan bak adegan film ‘Titanic’ saja. Romantik moment, tapi sayang keduanya sama-sama lelaki. Kaena itu akan mempermudah Ervin melakukan praktek dengan metode yang sama ... Masuk, tarik dan keluarkan.
“Terimakasih banyak Ervin, karena kamu sudah mengajarkan banyak hal padaku tentang bagaimana cara menjalani operasi apalagi saat kita menjadi pemimpin dalam operasi tersebut.”
Aurora merasa lega memiliki sahabat seperti Ervin, meskipun dulu pernah tak saling suka tetapi sekarang kini kedetangan keduanya bisa dibilang cukup dekat. Ya ... Walaupun hanya sekedar sahabat tetapi itu adalah hal yang membuat merea erasa nyaman tanp ada rasa canggung.
“Sama-sama, itulah gunanya sahabat, Ra. Bisa saling membantu satu sama lain.” Ervin tersenyum manis.
__ADS_1
Jika boleh jujur, Aurora terkesima dengan senyuman Ervin yang membuat hatiya tidak bisa menahan gejolak yang ada. Apalagi senyuman Evin sungguh membuat meleyot Aurora, tetapi ia idak ingin terbang terlalu tinggi. Cukup persahabatan saja untuk sementara waktu.
‘Tuhan, mungkin ini yang terbaik sementara waktu untukku dan untuknya.’ Aurora bermonolog dalam hati.
‘Biarkan aku meminta Tuhanku untuk meluluhkan hatimu. Karena kepada-Nya lah aku akan berserah.’ Ervin masih mengharapkan cinta yang berbalas.
Hening ...
Sepersekian detik kemudian, Ervin menyadari jika ia belum menunaikan sholat isya'. Dan Ervin berpamitan pada Aurora hendak pergi ke mushola rumah sakit.
“Ervin ...” Aurora memanggil Ervin, sehingga Ervin seketika membalikkan tubuhnya.
“Ada apa?”
“Emm ... B-bolehkah aku ikut denganmu? Itupun jika Tuhanmu mengijinkan. Jika tidak, aku akan kembali ke ruang kerjaku.”
“Hahaha .... Tuhanku selalu mngijinkan siapapun untuk datang. Dan tentu saja boleh dong!”
Ervin berjalan terlebh dahulu, di belakang ada Aurora yang mengekori Ervin.
Sholat malam empat rakaat telah usai dijalankan Ervin. Setelah itu, Ervin membaca mushaf sebentar sebelum ia akan kembali ke ruangannya.
“Kenapa mendengar suaranya saja jantungku berdebar, Tuhan? Tak hanya itu saja, suara itu sukses menggetarkan jiwaku. Apa Islam se-indah suara Ervin?” gumam Aurora.
Sepersekian detik kemudian, Ervin meletakkan kitab suci kembali pada tempatnya. Lalu, ia menghampiri Aurora yang menunggu di luar mushola.
“Tadi ... Kamu baca apa?” tanya Aurora penasaran.
Aurora manggut-manggut, tanda jika ia sudah mengerti.
“Kalau boleh tahu apa maknanya?”
“Emm ... Dalam surat Al-baqarah ayat 156 memiliki makna ‘kau adalah milikku’, dimana kita manusia penghuni bumi adalah milik Allah Subhanahu wa ta'ala.”
Ketika tengah asik mengobrol tiba-tiba saja, Alfan memanggil keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“D-dokter... E-ervin, d-dan d-dokter...”
“Perawat Alfan, kalau ingin menyampaikan sesuatu jangan terburu-buru seperti itu. Coba tarik napas dalam-dalam, lalu perlahan hembuskan!” titah Aurora.
“Iya, kayak dikejar setan saja.” Ervin mencebik.
Alfan melakukan apa yang diucapkan Aurora. Setelah napasnya mulai teratur baru lah Alfan kembali mengudarakan suara dan memberikan penjelasan apa yang membuatnya ngos-ngosan seperti tadi.
“Saya bukan dikejar sama setan Dokter Ervin tapi, saya dikejar oleh waktu. Itu ... Ada pasien gawat darurat yng baru saja datang. Sangat membutuhkan pertolongan itu,” jelas Alfan.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Ervin dan juga Aurora seketika itu berlari menuju ke ruang IGD dan melihat pasien yang baru saja tiba.
Dan setiba di sana, keduanya dibuat terkejut. Pasalnya yang baru saja datang bukanlah pasien yang sehabis kecelakaan-yang memang memerlukan perawatan medis dengan segera.
Namun, yang baru saja datang tak lain ibu hamil tua yang hendak melahirkan. Sungguh, dalam hati kecil Ervin ia tertawa dengan kekonyolan yang baru saja terjadi. Terlalu bersemangat menyambut pasien yang memang memerlukan perawatan.
__ADS_1
Dan ya, benar saja memang pasien tersebut memerlukan segera pertolongan tetapi, bukan Ervin atau Aurora yang bisa menangani.
“Konyol memang kamu itu, Alfan. Sudah tahu ibu-ibu mau melahirkan kenapa juga kamu panggil kita tadi?” dengus Ervin.
“Iya, masa iya kamu mint kami menanganinya. Mana nyambung coba,” ucap Aurora membenaran ucapan Ervin.
Alfan mengusap wajhnya gusar, ia tahu jika itu salah. Tetapi ketika ingin menjelaskan sesuatu kepada Ervin dan Aurora tiba-tiba saja ibu hamil itu berteriak kesakitan. Dan itu membuat Aurora merasa iba dan khawatir
“Alfan, cepat kamu panggil dokter kandungan! Apa yang kamu tunggu juga, coba.”
“Andai saja saya bisa menemukan dokter Aruni atau dokter Melinda, pasti sudah saya temui dari tadi, dokter Ervin. Tapi ... Keduanya sedang tidak ada di rumah sakit.” Alfan kembali mengusap wajahnya gusar.
“Aduuhhh ... Sakit ... Aduuuhhh ... Sakit ...” Kembali ibu tersebut berteriak kesakitan.
Dan itu membuat hati kedua dokter spesialis jantung tersebut merasa teriris. Mengingat jika itu adalah momen dimana ibu mereka berjuang melahirkan mereka ke dunia.
“Terus, apa maaksud kamu bilang sama kami tadi? Kamu ... Masih ingat dengan profeesi kami disini, kan, Alfan? Jadi, jangan minta kepada kami untuk menanganinya.” Ervin melangkah pergi, menjauh dari ruangan yang menyayat hatinya.
Namun, tiba-tiba saja Ervin merasa ada yang menahan lengannya. Ia pun menoleh untuk sekedar memastikan.
“Ada apa, Ra?” tanya Ervin dengan nada lembut.
“Kita tangani ibu itu.” Aurora menatap tajam netra hitam Ervin.
“Hah? Kamu tidak salah, Ra?” tanya Ervin memastikan.
Aurora mengangguk mantap. “Coba bayangin saja jika itu ibumu atau istrimu kelak, pasti kamu juga tidak akan tega melihat Dia menahan sakit yang luar biasa seperti itu. Dan lihatlah, Dia mengalami pendaharan besar. Bagaimana jika mereka tidak bisa selamat karena kehabisan darah?”
Ervin terdiam, ia nampak berpikir harus melakukan apa. Ketgasan yang selalu ia miliki seolah tertahan dengan kedaan. Pasalnya itu bukan bidang dalam pekerjaannya. Dan Ervin merasa takut jika akan melakukan kesalahan nantinya.
Namun, bayangan sekilas tentang apa yang diucapkan Aurora kembali memenuhi pikirannya
“Tenanglah! Aku akan membantumu. Kita selamatkan nyawa keduanya, karena kita adalah dokter. Bukankah itu yang kamu ucapkan padaku saat kita menatap gedung ini dari luar sana?” Aurora meyakinkan Ervin.
Ervin menatap ibu yang ada di dalam sana yang masih meraung kesakitan. Hatinya kembali terirs, ia mengingat betul bagaimana ia mengucapkan kata seperti apa yang dikatakan Aurora.
“Siapkan alat USG sekarang, perawat Alfan. Dan minta bantuan suster Rani dan juga suster Vania untuk membantu.”
Akhinya Ervin memutuskan untuk menangani pasin itu, membantu dalam persalinan ibu tadi.
Mungkin akan sedikit membingungkan bagi Ervin yang tidak pernah melakukan pemeriksaan USG dan juga merasa asing dengan alat persalinan.
“Eee... Dokter Aurora, Anda saja yang melakukan USG pada kandungan ibu itu.” Ervin berbisik pada Aurora yang berdiri di sampingnya.
Aurora terbelalak. “Apa Anda yakin meminta saya untuk melakukaan pemeriksaan USG nya, Dokter Ervin? Dan ... Anda yang melihat posisi bayinya dari sana.”
Aurora menunjuk pada bagian jalan bayi yang digunakan untuk keluar dan melihat bumi.
“Hahaha... Anda jangan bercanda, Dokter Aurora.” Ervin menggambarkan ekspresi wajahnya yang seolah ingin menangis.
🌹🌹🌹
__ADS_1