
...Tak ada senyuman yang amat tulus selain dari senyuman tulus seorang Ibu untuk anaknya. Bahkan tak ada yang begitu rela mengorbankan nyawa dan menahan perih karena sayatan, demi melahirkan anaknya ke dunia....
...----------------...
Ada sedikit keraguan dalam benak Rvin saat ia memegang alat USG di tangannya itu. Pasalnya iya akan menelusuri perut seorang perempun yang bukan makhramnya.
Namun, Aurora dan dua perawat yang ada di sana terus memaksa Ervin untuk segera mlakukan tindakan cepat. Karena jika, tidak segera ditangani nyawa sang ibu serta bayi itu akan melayang.
“Dokter Ervin, ayolah cepat! Kita tidak memiliki banyak waktu.” Aurora mengtakannya dengan nada tegas.
“Ah iya, tapi ...”
“D-dokter, t-tolong s-selamatka baby twins saya. Saya... Sudah tidak kuat,” ujar Ibu itu dengan tertatih.
Ibu menggegam tangan Ervin dengan erat, seolah tengah menahan sakit yang amat luar biasa. Bahkan tangan Ibu tersebut mencengkram lengan Ervin, hingga mmbuat Ervin tidak bisa lagi bertindak dengan lembek.
Ervin memejamkan matanya sejenak, lalu dalam hatinya berkata...
‘Come on, Ervin. Kamu harus bisa menolong bayi dan Ibunya. Bismillah.’
Seperkian detik kemudian, Ervin perlahan membuka kedua matanya. Setelahnya, ia meminta suster Rani untuk memberikan gel yang biasa digunakan dokter kandungan saat memeriksa dengan alat USG.
“Saya akan mulai menggerakkan alat ini mencari keberadaan posisi bayi. Apakah dalam posisi yang benar atau tidak.”
Ervin meletakkan alat tersebut di atas perut Ibu tersebut. Setelah itu ia menggerakkannya dengan perlahan.
Deg... Deg... Deg...
Jantung bayi terdeteksi dengan baik. Masih dalam kondisi sehat dan mampu bergerak dengan aktif. Namun, bebeda dengan bayi yang satunya. Detak jantung bayi tersebut berdetak dengan pelan.
“Lakukan operasi sekarang juga! Karena kita tidak memiliki banyak waktu lagi.” Ervin menatap tim nya itu dengan tatapan serius.
“Ervin, tapi ... Aku tidak diijinkan untuk berada di ruang operasi. So, i'am sorry! Karena aku tidak bisa membantumu.” Aurora menunduk, menyembunyikan rasa sedih yang tak ingin diperlihatkan di depan Ervin.
Ervin menatap Aurora, walaupun hanya sekilas tetapi Ervin tahu bahwa Aurora memang sedang bersedih.
“Aku mengerti jika kamu memang tidak diijinkan berada di ruang operasi bedah jantung. Tetapi Aurora, ini operasi caesar. Come on, Aurora! Tenanglah, ada aku yang akan membantumu.” Ervin meyakinkan Aurora.
Aurora masih terdiam, ia memikirkan tentang larangan yang membuatnya bimbang. Dalam hati Aurora ingin menyelamatkan Ibu dan baby twins yang masih ada di dalam perut itu. Tetapi, ah entahlah!
“Please, Aurora! Kita tidak memiliki banyak waktu.”
Finally, Aurora ikut maju membantu jalannya operasi caesar yang akan dilakukan. Dua perawat yang mendampingi menyiapkan ruang operasi dan beberapa pralatan yang diperlukan. Aurora memberkan bius separuh badan pada Ibu tersebut. Dan setelah prosedur yang dilakukan sebelum operasi telah usai, baru lah Ibu itu di dorong ke ruang operasi.
__ADS_1
“Apa kalian siap?” tanya Ervin memastikan timnya.
Semua mengangguk mantap kala Ervin menatap satu persatu tim nya.
“Bismillahirrahmanirrahim.”
“Scalpel.”
Ervin memberikan sayatan di bagian bawah perut. Tangan Ervin masuk ke dalam perut dan mencari posisi bayi.
Sepersekian detik kemudian...
“Oek ... Oek ... Oek ...”
“Oek ... Oek ... Oek ...”
Tidak sampai dua puluh menit Ervin mampu mengeluarkan baby twins ke dunia. Bayi pertama yang dikeluarkan oleh Ervin menangis dengan kencang, tetapi berbeda dengan bayi yang kedua.
“Bayi perempu ni masih terlalu kecil untuk merasakan sakit seperti ini. Tap ... Kita harus bisa menyelamatkannya. Letakkan di inkubator dan berikan peralatan detak jantungnya. Nanti saya akan memeriksanya dengan berskala.” Ervin selaku dokter ahli bedah jantung hanya ingin memberikan perawatan yang terbaik pada bayi perempuan.
Dua perawat perempuan itu membawa baby twins untuk dibersihkn terlebh dahulu, setelh itu mereka akan dipisahkan satu samalain. Bayi laki-laki yang dikeluaran petama akan diletakkan di ruang bayi. Sedangkan bayi perempuan yang dikeluarkan selang lima menit dari bayi laki-laki tadi akan dibawa ke ruang inkubator.
“Dokter Aurora, sisanya akan saya serahkan kepada Anda.” Ervin mengulas senyum tipis.
“Ayo, buktikan jika Dokter Aurora hebat saat berada di ruang operasi. Lagipula penutup yang digunakan operasi Caesar ini lebih gampang loh daripada penutup saat operasi jantung.”
“Jika ragu, tutup kedua mata kamu sebentar, lalu ingat metode yang pernah aku ajarkan padamu.”
Ervin mengerjapkan pelan kedua matanya, memberikan tanda jika ia meminta dengan sangat kepada Aurora untuk melakukan penutupan operasi Caesar pada Ibu paruh baya yang baru saja mereka tangani.
Aurora terdiam sejenak, ia merasa ragu untuk meyetujui perintah Ervin. Setelah menghela napas panjang lalu dihembuskan pelan, Aurora mengangguk mantap.
“Come on, Aurora. Percayalah, kamu pasti bisa.” Aurora meyakinkan dirinya sendiri dan memulai melakukan penutupan operasi caesar.
Sepersekian detik kemudian, Aurora mengambil sebuah plaster yang bisa digunakan untuk menutup luka pasca operasi caesar yang ada di dalam wadah di antara beberapa alat operasi tadi.
“Ok, sekarang sudah beres. Terimakasih plaster poliuretan, kali ini aku bisa menutup luka operasi dengan aman.” Aurora bernapas lega.
Aurora dan perawat Rani mendorong brankar milik Ibu yang bernama Marianna Caitline menuju ke kamar khusus sebelum sadar dari pengaruh bius.
...----------------...
Ervin mengamati bayi laki-laki dan bayi perempuan dalam ruangan yang berbeda, karena terhalang tembok sebagai pemisah dua ruangan itu. Namun, saat berada di luar kedua bayi itu nampak terlihat jelas.
__ADS_1
“Welcome baby twins. Semoga saja kalian nanti tumbuh dengan sehat, kuat dan hebat.“ Ervin mengulas senyumnya kala menatap bayi kembar itu dari balik kaca.
Ervin bernapas lega setelah memeriksa jantung bayi kembar perempuan yang saat ini berada di inkubator. Pasalnya bayi perempuan itu tak mengidap penyakit serius, sepeti penyakit jantung bawaan dari lahir. Hanya saja karena terlalu lama berada di dalam kandungan Ibunya bayi tersebut kekurangan oksigen dan semakin melemh saja detk jantungnya.
Hari sudah larut malam, bahkan jam dinding yang berdetak sudah menunjukkan pukul 22.45 WIB. Ervin yang menatap jam di pergelangan tangannya ia tersenyum kecut. Pasalnya tugas jaga malam itu sudah selesai dan waktunya untuk pulang pun sudah tiba.
“Malam yang indah, bukan? And ... By the way, thank you, Ervin. Malam ini kamu sudah melakukan yang terbaik dari sisi sahabat dan dari sisi seorang dokter.” Aurora berdiri di samping Ervin.
Ervin pun nampak terkejut saat tiba-tiba Aurora berdiri di sampingnya dan menatap bayi kembar laki-laki dan perempuan yang mereka selamatkan bersama. Sedangkan Aurora, ia nampak senang saat melihat ekspresi wajah Ervin yang menurutnya itu sangat lah lucu.
“Bagaimana, tidak terlalu susah, kan?” tanya Ervin.
“Kamu benar, ketika rasa percaya diri dalam diri kita itu menonjol maka, kita akan tetap fokus dengan tujuan kita sebagai dokter. Sehingga keberanian untuk mengambil resiko sudah kita pikirkan dengan matang.” Aurora menjawab sesuai dengan apa yang beberapa saat lalu dirasakan olehnya.
“Ya ... Alhamdulillah kalau begitu. Sekarang jangan takt lagi dengan situasi di ruang operasi. Meskipun ruang operasi itu ruang yang menguji adrenalin kita, kita harus tetap fokus terutama ketajaman dan fokusnya mata kita.”
“Oh iya, sepertinya aku harus pulang sekarang. Karena jam kerjaku jaga sudah habis. Dan ... Masalah meeka nanti biarkan dokter poli anak dan kandungan yang merawat mereka. Dan jika mendapatkan hukuman karena perbuatan kita yang tadi, maka kita harus menjalani sesuai prosedur yang berlaku.“
“Ya sudah, aku pulang dulu. Jika, rasa lelah menghampirimu cukup istirahat sejenak saja. Asalamualaikum,”
Dalam hati kecil Aurora, rasanya ia tidak mau jika Ervin akan pergi dan membiarkan meninggaklkan dirinya.
Namun, Aurora berusaha untuk menutupi rasa yang beberapa saat lalu di hatinya.
...----------------...
Lima hari kemudian ...
Ervin sengaja pagi itu berangkat lebih awal, tepatnya pada pukul 06.00 WIB. Karena ia ingin menengok baby twins yang membuatnya merasakan amat rindu.
Sesampai di rumah sakit Ervin menuju ke ruang inkubator hendak melihat bayi perempuan. Namun, semangat yang membara tiba-tiba terhempas begitu saja.
“Sus, bayi yang ada di inkubator kemaren kemana ya?”
“Sudah dipindahkan ke ruangan ibunya Dok, soalnya kata dokter Farhan boleh dibawa pulang”
Ervin mengangguk paham, lalu ia seketika menuju ke ruangan Ibu Marianna. Sesampai di sana Ervin melihat bu Marianna tengah tersenyum bahagia. Dan kebahagiaan yang menyelimuti bu Marianna seolah menular.
“Tak ada senyuman yang amat tulus selain dari senyuman tulus seorang Ibu untuk anaknya. Bahkan tak ada yang begitu rela mengorbankan nyawa dan menahan perih karena sayatan, demi melahirkan anaknya ke dunia.”
Deg.
Ervin merasa amat mengenal suara yang menyapanya.
__ADS_1
🌹🌹🌹