
...Memulai adalah kunci utama menyelesaikan segala hal....
~Sedgwick Welsh
...----------------...
Dag... Dig... Dug...
Tangan yang tidak semudah itu bisa dipegang oleh Aurora kini justru tangan itulah yang berhasil menghentikan langkah Aurora. Akan tetapi, bukan untuk memulai sebuah hubungan yang ada, itupun terjadi untuk sekedar membantunya.
“Baiklah! Aku akan menjahit lukamu. Tapi, kamu harus bisa menahan rasa sakitnya. Dan aku yakin, kamu pasti kuat.” Aurora mengambil duduk di samping Ervin.
Dengan jantung yang berdegup kencang membuat Ervin salah tingkah sendiri. Begitu halnya dengan Aurora yang merasakan hal sama.
Namun, keduanya juga mencoba untuk menyembunyikan rasa itu... cinta. Ervin dan Aurora menyadari jika mereka memang berbeda keyakinan. Agama akan melarang keras jika mereka akan tetap bersama saat keyakinan mereka masih tidak satu.
Namun, bukankah itu adalah hal yang amat sulit dan tidak mudah. Islam tidak akan menuntut umatnya untuk tetap memeluknya. Dan Ervin tidak ingin jika Aurora menjadi mualaf hanya karena ingin menikah dengannya. Islam itu suci, islam itu murni jadi, Ervin hanya mau Aurora menjadi mualaf atas kemauannya sendiri melalui hatinya.
“Arghhh.” Ervin merintih saat tangan Aurora menekan kapas untuk membersihkan luka di lengannya.
“Maaf, aku tidak bermaksud. Tahan lagi sebentar ya! Toh, pelurunya juga tidak masuk menembus tulangmu, jadi ya... hanya sedikit perih saja.” Aurora hanya ingin mencairkan suasana yang amat canggung itu.
“Iya, kamu benar. Tapi yang namanya luka tetap bikin perih. Apalagi kalau kukanya di hati.” Ucapan itu nyaris tak terdengar, karena begitu lirih saat Ervin mengucapkannya.
“Hah, apa yang kamu bilang tadi? Kamu... ngomong sama aku?” tanya Aurora memastikan.
‘Dasar nggak peka apa ya? Tapi, memang bukan salah Dia juga sih, aku sudah... menolaknya.’
Hidup Ervin semakin ngenes saja. Menahan api cemburu tetapi tak layak memiliki hal itu. Bukan hal Ervin untuk ikut campur urusan Aurora apalagi, ia mengingat agama di antara keduanya yang berbeda dan juga Ervin masih belum lepas dari rasa bersalahnya terhadap Haura.
“Tidak. Siapa juga yang bicara, hm? Sudah, lanjutkan saja jahitnya itu, awas nanti tidak rapi malah membuatku infeksi.” Sadis memang ucapan itu.
“Hahaha, ya memang aku belum se-ahli kamu sebagai dokter residen. Dan aku sangat merasa salah saat empat tahun lalu mengolok dan mungkin saja... menyakiti hatimu.” Aurora tersenyum.
‘Dan andai saja kau tahu, saat ini aku juga terluka.’ Monolog Ervin.
Setelah dua puluh menit kemudian, akhirnya Aurora telah usai menjahit luka Ervin. Dan perkara obat yang harus diminum Ervin, Aurora tidak akan memberikan resep atau semacamnya. Karena jelas saja Ervin akan tahu apa yang harus dilakukan dan diminum.
“Oh iya, kenapa kamu bisa menahan rasa sakit di lenganmu itu saat operasi tadi? Padahal... lukamu cukup dalam loh,” ucap Aurora yang tak ingin obrolan dan kedekatannya dengan Ervin saat itu cepat berakhir.
“Aku bisa menahan lukanya seperti saat ini aku menahan kepedihan yang ada dalam hidupku. Ibarat kata... aku ingin melangkah lebih jauh, tapi aku telah terjerat benang yang tak akan putus dari benang yang lama.” Ervin menunduk, ia tidak mau memperlihatkan kesedihan dan segala kepenatan yang membuat pikirannya merasa terbebani.
“Aku mungkin tidak mengerti apa yang kamu maksud. Tapi... aku hanya bisa berdoa untuk kebaikanmu, dokter hebat... Ervin Evano.”
“Dan... kalau tangan kanan kamu terluka seperti ini bagaimana dengan meja operasi? Memeriksa pasien dan semuanya? Bukankah kita sebagai manusia lebih dominan menggunakan tangan kanan.” Cukup kentara rasa khawatir yang diperlihatkan Aurora dan Ervin mampu menangkap hal itu.
Hanya saja, Ervin tidak mau memberikan harapan semu kepada Aurora. Selain sadar diri Ervin jiga tahu jika Aurora akan bahagia bersama Samudra. Lelaki yang mengenakan seragam loreng kebanggaannya bagi anggota Angkatan Darat.
“Kenapa kau mengkhawatirkan hal itu? Jika harus terjun ke medan tempur ya kan, ada dokter bedah yang lain. Bukankah kamu juga dokter ahli bedah, kan? Kenapa harus repot?”
“Dan masalah di rumah... ada bang Jamal yang mengurus ku. Lagipula, aku akan mengambil cuti sampai beberapa hari ke depan.”
Deg.
__ADS_1
’Mungkinkah kita tidak akan saling bertemu sampai beberapa hari ke depan, Ervin? Haruskah aku menahan rindu?’ gumam Aurora.
“Kenapa diam? Apa aku salah bicara?” pertanyaan Ervin membuyarkan lamunan Aurora.
“Ah tidak, a-aku... aku hanya kutang percaya diri saja memimpin jalannya operasi. Aku... tak sehebat dirimu, Dokter Ervin.” Aurora menyadari jika Ervin memang dokter jenius.
Dan selain jenius, Ervin adalah dokter yang berhasil menghipnotis kaum hawa pada pandangan pertama. Hanya saja Ervin yang terkenal dokter cuek dan dingin membuat mereka kerap patah hati telah terabaikan begitu saja oleh Ervin.
“Kenapa harus pesimis? Memulai adalah kunci utama menyelesaikan segala hal. Dan itulah yang dikatakan Sedgwick Welsh dalam tulisannya. Kamu... layak menanamkan hal itu dalam hidupmu.”
“Lebih baik kamu memulainya sekarang. Dan aku yakin pasti kamu bisa sehebat Profesor Nathaniel.”
“Jika kamu membutuhkan bantuan ku, kamu bisa datang ke ruangan ku. Dan untuk sekarang, maaf saja jika aku tidak bisa membantumu. Soalnya...” Ervin menggantungkan ucapannya.
“Tanganmu terluka. Iya aku tahu itu kok,” sela Aurora.
“Bukan. Karena aku merasa lapar dan haus, hahaha...”
Ervin tertawa saja saat ia merutuki kebodohannya. Bukan ia menyesali tawarannya nyang ingin membantu Aurora tetapi, ia takut masuk dalam lubang cinta yang dalam.
‘Hah, tidak disangka jika seorang Ervin bisa bertingkah seabsurd ini. Tapi... lucu juga saat Dia tertawa seperti ini.'
Rasa kagum tidak pernah surut dari benak Aurora saat melihat Ervin walaupun hanya sekilas. Apalagi saat ini, perempuan itu begitu dekat dengan lelaki yang dicintainya. Meskipun pernah ditolak tetapi, Aurora tidak akan menyerah. Mengingat hal itu Aurora jiga merasa bimbang perihal agama.
...----------------...
Di kantin rumah sakit Ervin memesan bubur untuk mengenyangkan perutnya. Bukan Ervin tidak mau makan makanan yang lain, tapi mengingat jam yang sudah menunjukkan pukul 24.00 WIB tidak ada makanan yang lain selain hanya bubur.
“Makanannya lembek banget, hancur pula kayak hidupku. Yang melebur dan ngenes.” Ervin mentertawakan hidupnya yang semakin berliku dalam hal percintaan.
Terdengar keributan yang ada di kantin itu. Entah apa inti permasalahan antara dua lelaki yang ada di sana Ervin tidak tahu pasti. Dan yang akan Ervin lakukan ia ingin melerai pertikaian itu yang membuat kantin rumah sakit gaduh seketika.
“Maaf! Ada apa ini? Jika ada permasalah pribadi harusnya kalian selesaikan di luar sana. Jangan di rumah sakit ini kalian membuat kegaduhan, apalagi ini tengah malam. Kalian harus menjaga etika di rumah sakit ini, jam besuk sudah berakhir dari tadi loh.” Ervin mengatakan hal itu dengan amat tegas.
Satu lelaki yang sudah diberikan bogeman mentah mundur perlahan. Tetapi, tatapannya masih menajam dan dutujukan pada lelaki yang satunya lagi. Sedangkan lelaki yang memberikan bogeman masih berdiri di samping Ervin. Hal sama dilakukan oleh lelaki yang berdiri di samping Ervin, menatap tajam lawan nya tadi.
Pasalnya dua lelaki itu masih muda, masih terlihat anak remaja SMA yang masih memiliki sikap ababil. Semaunya sendiri saja jika api kemarahan telah berkobar dalam hati mereka masing-masing.
“Dokter Ervin Evano, kan? Dokter ahli bedah jantung?” tanya lelaki muda yang masih berdiri di samping Ervin.
“Iya.” Ervin menjawab dengan amat singkat.
“Sebenarnya saya ada perlu dengan Anda, Dok. Bolehkah saya mengobrol dengan Anda sebentar?”
“Ngobrol saja di sana, di meja ku tadi. Karena kelakuan kalian berdua tadi bubur ku sudah mencair. Dan kau... harus menggantinya.”
Meskipun niatnya melerai tetapi Ervin tidak lupa dengan amunisi yang akan mengisi perutnya. Sungguh sadis sekali niat Ervin memang ya! Wkwkwk.
Tidak mau menunggu waktu lama lagi, lelaki remaja itupan memesakan bubur untuk di makan Ervin. Selagi Ervin makan lelaki itu memperkenalkan namanya dan menceritakan tujuannya.
“Perkenalkan Dok, nama saya Fajar. Dan lelaki yang bersama saya tadi ... adik saya, Fajri.”
“Lalu? Apa hubungannya dengan saya, hm?” tanya Ervin yang masih menikmati buburnya.
__ADS_1
“Begini...”
“Emm, maaf menggangu obrolan kalian. Tapi, Dokter Ervin, Letnan Samudra mau bicara sama kamu. Dia... menunggu di rooftop sekarang.”
Tiba-tiba Aurora datang dan menyela ucapan Fajar yang baru saja akan memulai tujuannya. Kecewa memang iya, karena Fajar memiliki masalah kesehatan pada Ibu nya. Penyakit jantung secara tiba-tiba yang membuat ibu Fajar merasa sesak sampai-sampai jatuh pingsan.
‘Ada apa Dia ingin berbicara denganku? Apa iya Dia akan memintaku untuk menajuhi Aurora? Jika iya, maka aku... akan ikhlas Ya Allah.’
“Dokter, bagaimana konsultasi saya?” tanya Fajar yang semakin mengkhawatirkan kondisi ibunya.
“Begini saja, kamu konsultasi sama Dokter Aurora. Dia juga ahli bedah jantung, soalnya saya harus menemui seseorang. Maaf ya! Ngomong-ngomong... terimakasih buburnya.” Ervin memperlihatkan senyumnya yang melebar.
Bubur yang hampir tinggal mangkuknya saja kini tidak sampai habis seketika, karena Ervin harus menemui Letnan Samudra yang sudah menunggunya di rooftop rumah sakit.
...----------------...
Terlihat di sana ada seorang lelaki yang masih mengenakan seragam loreng kebanggaan bagi lelaki itu. Berbadan tegap dan gempal, tetapi berkulit sedikit menghitam karena, Letnan Samudra kerap terjun ke lapangan untuk memenuhi panggilan negara.
“Ehm...” Ervin berdehem pelan.
Suara Ervin mampu didengar oleh Letnan Samudra, sehingga saat itu juga Letnan Samudra menoleh ke samping kirinya. Dan di sana terlihat Ervin yang masih mengenakan pakaian yang sama seperti tadi, kemeja putih.
“Maafkan saya jika sudah mengganggu waktu istirahat Dokter Ervin. Tapi, saya hanya mau mengataka rasa terimakasih saya karena Anda sudah berusaha sekeras mungkin untuk melakukan penyelamatan pada papa saya.”
Deg.
Traakkk...
Jantung Ervin seketika serasa ingin mencolos dan patah hati sekedar Ervin rasakan.
‘Hah, papa? Apa iya seperti itu juga panggilan Letnan Samudra kepada Profesor Nathaniel? Sedekat itukah keduanya saat ini?’
Ervin memberondongi pikirannya sendiri dengan bejibun pertanyaan. Bahkan saat terlalu lama melamun sampai-sampai saat Letnan Samudra berbicara Ervin tak mendengarnya.
Sepersekian detik kemudian, karena tidak mendapatkan respon apapun dari Ervin, Letnan Samudra pun menoleh, memastikan jika Ervin masih berada di sampingnya.
“Dokter Ervin, kenapa Anda melamun seperti itu? Atau...” Letnan Samudra menghentikan kalimat tanya nya.
“Ah tidak, kok. Seharusnya saya yang berterimakasih karena tadi Anda sudah menembak lebih dulu, jika tidak maka... aku sudah berbaring di atas brankar yang berjejer.” Ervin terkekeh kecil.
Hanya alibinya saja Ervin mengatakan hal itu kepada Letnan Samudra. Alih-alih Ervin sekedar ingin menutupi rasa penasaran nya yang sukses membuat hati Ervin terpatahkan seketika.
“Itu sudah menjadi tugas saya yang menjadi angkatan Darat dengan anggota khusus. Tapi... jika papa dan Aurora ada masalah, aku mohon bantulah mereka, Dokter Ervin. Karena, saya tahu bahwa saya tidak akan selalu berada di samping mereka.”
‘Apa maksudnya coba mengatakan hal itu? Kenapa pula juga aku yang harus menjaga dan membantu mereka saat berada masalah? Apa Dia tidak akan merasa cemburu apa ya?’ batin Ervin.
Letnan Samudra menghela napaa panjang. Baginya meninggalkan keluarga itu amatlah berat tetapi, mau bagaimana lagi jika negara memang membutuhkan kehadirannya maka, Letnan Samudra akan tetap terjun bebas demi melakukan misi dan tujuannya.
Kode blue... Kode blue...
Belum sempat Ervin menjawab permintaan Letnan Samudra tiba-tiba saja Aurora memotong obrolan keduanya dan menyatakan jika ibunda Fajar dalam masalah. Kesehatannya menurun secara drastis, jantungnya hampir tidak berdetak lagi. Jika tim medis tidak segera memebeikan tindakan maka bisa saja ibu Fajar tidak bisa tertolong lagi nyawanya.
“Tuuuuutttttt... Ttuuuuuttttt...”
__ADS_1
Layar monitor hampir memperlihatkan jantung pasien yang berhenti. Garis hijau yang lurus, tim medis yang mendengar kode tersebut secara menuju ke ruang IGD.
🌹🌹🌹