
...Inilah perjalanan hidup, terkadang kita berada di atas awan dan terkadang kita jatuh di dasar bumi....
...----------------...
Mentari pagi telah menyambut hari yang cerah. Dan setiap insan harus kembali melakukan aktivitas masing-masing demi menggapai sebuah harapan dan impian agar kehidupan yang lebih baik daripada hari kemarin. Begitupun dengan Ervin, ia harus kembali melanjutkan kehidupannya sehari-hari sebagai seorang dokter ahli bedah jantung di kota Medan, tepatnya di rumah sakit Adam Malik.
“Sudahlah Ervin, jangan kau pasang wajah seperti itu. Kau harus semangat, biarpun cinta tak bisa menyatukan kau dengan Aurora setidaknya... Kau melepasnya dengan ikhlas.”
Raut wajah yang murung masih melekat di dalam wajah Ervin. Akan tetapi, kak Sita tak berhenti membangkitkan rasa semangat untuk Ervin. Sehingga senyuman kembali terukir di bibir Ervin pagi itu.
“Terima kasih, Kak. Aku tidak tahu lagi jika, tidak ada kak Sita dan juga bang Jamal bagaimana hidupku. Pasti akan semakin rumit saja,” ujar Ervin kemudian.
“Tak usah ragu dengan apa yang menjadi keputusan kau itu. Lakukan saja seperti apa yang sudah menjadi komitmen dalam diri kau, Ervin.” Bang Jamal tiba-tiba ikut bersua.
“Baik, Bang. Insyaa Allah, Ervin akan tetap memegang komitmen itu. Ya sudah, Ervin berangkat dulu. Assalamualaikum.” Ervin pun berpamitan.
“Waalaikumsalam,” jawab kak Sita dan juga bang Jamal bersamaan.
Langkah cepat pun telah dilakukan oleh Ervin, seolah ia tengah terburu-buru untuk menuju ke rummah sakit_tempat ia mengais rejeki. Dengan motor scoopy nya Ervin menelusuri jalan kota Medan yang masih sepi. Karena pagi itu jam masih menunjukkan pukul 07.30 WIB.
Beberapa menit kemudian Ervin pun telah tiba di di rumah sakit. Setelah memarkirkan motornya Ervin segera menuju ke ruangannya. Menjalankan aktivitasnya seperti biasa.
Bruk.
Pertemuan itu kembali terjadi, Ervin dan dokter Humaira tidak sengaja bertabrakan. Itupun tanpa unsur kesengajaan.
“Ups, sorry! Aku tidak sengaja menabrak kamu, karena aku sedang mencari sesuatu di dalam tasku sehingga ... aku tidak tahu ada kamu di depanku.” Dokter Humaira menunduk, ia takut jika Ervin akan marah padanya.
“Tidak apa-apa. Lain kali kalau jalan itu hati-hati.” Singkat dan cukup dimengerti.
Ervin pun mengambil buku dan tas miliknya yang jatuh di laintai. Hal sama telah dilakukan oleh dokter Humaira.
Dug.
__ADS_1
Tanpa sengaja kepala mereka saling terbentur, membuat keduanya merintih kesakitan serya memegangi kepala mereka masing-masing. Sepersekian detik kemudian mereka saling bertatapan.
Namun, tatapan keduanya tak berlangsung lama karena beberapa perawat yang lewat di depan mereka terus menggoda.
“Ehm, cie ... Cie ...! Dokter Ervin, sehat?”
“Jantungnya normal kan, Dok? Jangan mati di tempat loh Dok, nanti bisa digeledah sama dokter Humaira. Secara dokter Humaira itu dokter forensik.”
Tak hanya sampai di sana, beberapa di antara mereka masih menggoda. Membuat Ervin maupun dokter Humaira semakin kikuk dan canggung saja.
Tanpa permisi Ervin sesegera mungkin meninggalkandokter Humaira, karena ia tidak menginginkan sebuah fitnah hadir dalam dirinya ketika tengah berdua dengan Humaira. Di tambah lagi banyak ucapan yang mereka dengar dari beberapa perawat yang mengenal mereka.
Ervin juga mengingat komitmen yang selama ini masih ia terapkn dan patuhi. Dimana Evin tak ingin memupuk cinta terhadap manapun setelah hatinya terpatahkan ke dua kali.
“Ervin, ingin rasanya aku berlari dari cinta yang menyakitkan ini. Rasanya aku pun tidak kuat jika melihatmu menatapperempuan lain seperti tadi, biar sekalipun itu tidak disengaja. Tetapi, hatiku terluka bagaikan ditusuk seribu duri.” Aurora yang tidak sengaja melihat merasa potek hatinya.
Dan Aurora pun hanya bisa memandang Ervin dari jarak yang cukup jauh. Bahkan punggung dari tubuh jangkung Ervin hampir tidak terlihat oleh kasat matanya. Dan perlahan air bening mengalir membasahi pipinya, tetapi sesegera mungkin ia menyeka, lalu menepiskan segala hasrat yang bergejolak di dalam hatinya.
“Ada apa sih sebenarnya dengan Dia? Lelaki aneh, terkadang cuek dan dingin ... terkadang juga baik. Ah, entahlah! Ngapain juga aku mikirin Dia, nanti malah ketularan aneh.” Dokter Humaira pun pergi.
...----------------...
Setelah memberikan jalan keluar terhadap masalah Laura, kini Ervin akan sering melihat Laura di ruaangannya. Tidak hanya Laura saja, Ervin akan kerap melihat wajah Aurora, dokter Abimana dan juga dokter Humaira.
Siang itu, mereka sengaja mengatur jadwal untuk bertemu dengan Laura di cafe terdekat rumah sakit, Dopplo.me coffee.
“Kapan kamu akan menikah jadinya?” tanya Ervin untuk mengusir keheningan yang beberapa saat menemani mereka.
“Emm ... Kalau jadi, mungkin besok lusa, Dok.” Laura menjawab asal.
“Kok bisa kalau jadi? Memangnya tidak ada kepastian apa? Pernikahan kok jadi permainan, ingat itu ... Kamu sudah mengorbankan nyawa,” imbuh dokter Abimana.
“Dan sebagai seorang lelaki Dia harus bisa gentleman. Kakak pun tidak mau jika, kamu disakiti begitu saja oleh lelaki itu. Bairpun kakak ini bukan saudari kandungmu tetapi, kakak sayang sama kamu.” Dokter Humaira memang tidak bisa melihat Laura terus berkorban demi lelaki yang tidak tahu diri.
__ADS_1
Deg.
Dua kalimat yang dikatakan dokter Abimana dan juga dokter Humaira membuat Ervin memikirkan sesuatu hal. Bukan merasa tersindir dengan ucapan dokter Abimana, memang tabu tak bisa diterjang begiu saja. Sedangkan ucapan dokter Humaira membuat Ervin berusaha berpikir amat keras siapa keluarga yang sebenarnya jika Laura bukanlah saudari kandung dokter Humaira.
Namun, itu masih teka-teki yang tidak semudah itu bisa dipecahkan.
“Dokter Ervin, bisakah nanti kita bicara berdua?” tanya dokter Abimana.
“Bisa. Tetap tinggal saja disini dan biarkan mereka pergi. Setelah itu, bicaralah apa yang ingin kamu bicarakan. Tapi ... Jika tentang perempuan yang kamu cintai, saya sudah melepasnya dengan ikhlas. Jadi, terserah kamu jika mau menjadi lelaki yang gentleman.” Ervin menatap tajam dokter Abimana.
Ervin tidak mau berdebat jika masalahnya tentang Aurora. Bagi Ervin Aurora tak pantas diperebutkan, perihal Aurora bukanlah hadiah dari perlombaan.
Tidak mau mengambil terlalu pusing, Ervin tanpa basa-basi pergi meninggalkan keempat orang yang masih duduk di sana. Pasalnya, obrolan mereka tentang masalah Laura sudah selesai, kini sudah waktunya kembali ke rumah sakit hingga malam.
...----------------...
Dokter Ervin berada di ruangannya hendak melakukan visite terhadap pasien di sore hari sebelum ia melakukan jadwal operasi.
Dengan ditemani suster Rani Ervin melukan visite di ruang Anggrek nomor 134. Dengan sabar dan keramahan yang selalu ditunjukkan Ervin, pasien pun selalu merasa nyaman dan lebih akrab dengannya.
“Dok, dokter itu kan ganteng. Masa iya belum ada cewek yang nyantol di hati dokter sih,” celetuk cucu seorang kakek yang sedang dirawat.
“Hahaha, sayangnya cewek nya saja yang belum pas. Seperti kehidupan yang masih mencari-cari. Inilah perjalanan hidup, terkadang kita berada di atas awan dan terkadang kita jatuh di dasar bumi.”
“Lagian modal tampang saja tidak akan cukup untuk menggaet perempuan. Iya, kan?”
Lelaki remaja itupun mengangguk. Karena di jaman sekarang memang kebanyakan perempuan matre. Dan bahkan lebih dari dugaan.
“Tidak semua perempuan matre, kok. Saya jamin ada perempuan yang mampu mencintai dokter dengan tulus.”
Deg.
🌹🌹🌹
__ADS_1