
...Allah telah memberikan ujian yang tidak akan pernah memberatkan hambanya. Jika inilah yang terbaik, maka aku aka menjalaninya dengan ikhlas....
...----------------...
Di kantin rumah sakit Ervin sedang menikmati makanannya, tak lain nasi pecel lele dan minuman es teh.
“Bismillahirrahmanirrahim...” Ervin membaca doa sebelum makan.
Satu suap nasi telah masuk ke dalam mulutnya. Penuh dengan kenikmatan saat menyantap makanan yang mengisi perut dan memberikan amunisi yang cukup.
“Alhamdulillah, bisa makan nasi juga.” Monolog Ervin dalam hati.
Kembali Ervin menikmati sisa makanannya. Dan saat itu, tiba-tiba dokter Humaira ikut mengambil posisi duduk di sebelahnya. Membuat Ervin terkejut, karena seperti jalangkung saja.
“Nih perempuan, datang tak dijemput pulang tak diantar.” Ervin meraba dadanya.
“Hei, dokter Ervin ... Aku dengar loh ini. Memangnya kamu pikir aku itu jalangkung apa,” umpat dokter Humaira.
“Hahaha, syukur deh kalau kamu dengar ... Biar tidak membuat orang lain terkejut. Untung aku tidak jantungan.”
“Hahaha... Masa iya dokter jantung yang muda ini sudah jantungan.”
Gelak tawa telah menyelingi pertemuan mereka di kantin malam itu. Obrolan pun juga bergulir dengan renyah, hingga tak ada keheningan yang membuat mereka merasa canggung. Dan saat itulah Aurora melihatnya.
“Apa iya aku harus mencoba membuka hati ini untuk lelaki lain? Apa iya, hubungan kita hanya sebatas persahabatan saja Ervin? Jika iya seperti itu, Tuhan berikan aku kekuatan untuk melenyapkan perasaan yang masih tersisa untuk Ervin. Dan berikanlah kami kebahagiaan masing-masing.”
Aurora tersenyum kecut, bahwa saat ini bukanlah dia yang menemani Ervin dengan gelak tawa. Air mata yang menggenang tak dapat dibendng lagi. Akan tetapi, ia segera menyeka air mata yang mulai berjatuhan.
Bersikap baik-baik saja memang tidaklah mudah bagi seorang perempuan tetapi, Aurora berusaha mencoba melupakan rasa sakit yang ada di hatinya.
“Hai, aku ganggu kalian tidak?” tanya Aurora.
Ervin menatap sejenak Aurora yang ikut bergabung. Sedangkan dokter Humaira, ia merasa tidak enak dengan Ervin dan juga Aurora.
“Tidak. Duduklah!” jawab Ervin singkat.
“Terimakasih.” Aurora mengambil duduk.
Ketiganya menikmati makanan yang menjadi santapan malam mereka. Karena tidak ingin berkamsud berada di atara Ervin dengan Aurora, dokter Humaira pun memutuskan untuk pergi.
“Kamu mau kemana? Makanan kamu belum habis loh itu, habiskan saja dulu. Setelah itu, kita sama-sama mencari masjid di luar, kita sholat bersama.” Ervin membuat langkah dokter Humaira berhenti.
‘Apa seperti itu caramu melukaiku Ervin. Dan selamat, kamu berhasil.’
“Oh iya, sekalian kamu Ra kalau mau ke gereja juga. Kita bersama-sama saja perginya. Bukankah sudah selama ini kita sering bersama kan, meskipun tujuan kita berbeda.” Ervin mengulas senyum.
__ADS_1
Terlalu rumit untuk dipahami bagaimana hubungan itu akan tetap terjalin dengan kata ‘baik-baik saja’. Namun, keduanya mencoba untuk berdamai agar persahabatan yang sudah terjalin tetap terjaga.
‘Mungkin aku memang salah dalam menilai kamu. Dan munkin ini yang harus kita jalani, menjaga perasaan masing-masing tanpa menyakiti atauun meninggalkan. Karena, sampai kapan pun kita akan tetap menjadi sahabat.’
Mulai malam itu Ervin maupun Aurora benar-benar memutuskan untuk melupakan perasaan masing-masing. Dan yang tinggal hanyalah persahabatan sampai kapanpun.
...----------------...
Tiga Hari Kemudian ...
Pagi itu Ervin sudah disibukkan dengan aktivitasnya yang berada di depan layar kaca yang ada di kamarnya. Biasanya yang akan berdandan cukup lama di depan kaca tak lain adalah perempuan tetapi, kali ini berbeda.
Lelaki muda yang kerap di sapa dokter Ervin ganteng, pagi itu sudah berada di depan kaca cukup lama. Hanya karena ingin berpenampilan perfect dalam berpakaian saat menghadiri acara pernikahan Laura dengan sang kekasih_Arlos.
“Sudah cukup kau berada di depan sana! Dari tadi perasaan ngacamelulu, palingan akhirnya juga tidak mendapatkan pasangan untuk seumur hidup.” Bang Jemel mencebik, tak hentinya lelaki berkepala empat itu mengejek Ervin.
“Tak apalah Bang, yang namanya penampilan itu harus perfect dan bukan hanya tampangnya saja, iya, kan? Ya ... Walaupun nanti tetap saja tidak ada perempuan yang jatuh hati sama Ervin paling tidak_tidak malu-maluin.” Ervin nyengir, ia tidk akan marah jika digoda seperti itu sama bang Jamal.
Setelah di rasa sudah rapi, Ervin pun berpamitan dengan bang Jamal dan kak Sita. Namun, saat hendak melajukan motornya tiba-tiba seseorang telah datang hendak bertandang.
“Ervin, kamu sudah rapi sekali pagi begini. Mau kemana kamu?”
“Bunda, kalau datang itu ucap salam dulu. ASSALAMU'ALAIKUM.” Ervin tersenyum tipis.
“Oh iya, Bunda sampai lupa belum salam. Gara-gara kamu sih sudah buat Bunda terpesona.” Bunda Rania pun tertawa.
“Ervin mau ke acara pernikahan teman Bun, kebetulan acaranya pagi. Jadi, sebelum ke rumah sakit Ervin mau ke tempat pesta, mau makan-makan, Bun.” Ervin kembali memperlihatkan gigi nya yang putih.
Bunda rania manggut-manggut. Dan setelah obrolan di akhiri Ervin memutar gas motor scoopy nya.
Acara pernikahan yang akan digelar di sebuah gedung pun membuat Ervin merasa terhormat. Karena, ia selaku dokter jantung yang terus merawat jantung Laura mendapatkan undangan. Selain Ervin, ada juga dokter Abimana, Aurora serta Profesor Nathaniel.
...----------------...
Sesampai di gedung yang dihias dengan megah dan meriah, Ervin sedikit grogi saat hendak melangkah_berjalan menuju ke dalam yang sudah di penuhi oleh banyak tamu undangan yang hadir.
“Ervin,” panggil seseorang pelan.
Ervin pun menoleh ke pemilik suara. Di sebelah utara, nampak Aurora tengah berdiri tegak dengan balutan dres berwarna biru dongker. Apalagi rambutnya yang tergerai indah membuat Aurora semakin cantik, serta make up yang tidak terlalu tebal membuat Aurora nampak mempesona.
Dan dapat dipastikan akan ada banyak mata elang yang jatuh hati pada Aurora kala pada pandangan pertama. Seperti halnya, Ervin itu sendiri.
“Ya Rabb ... Sungguh hamba terpesona dengan ciptaan-Mu yang ada di depan mata hamba ini. Sungguh munafik jika hamba tidak mengagumi ciptaan-Mu ini.” Jika diijinkan rasanya Ervin ingin menatap Aurora sampai puas.
Namun, Ervin segera mengalihkan pandangannya. Ervin cukup sadar diri dengan posisinya saat ini. Hanya persahabatan yang mereka jalin bersama dan tak lebih dari itu.
__ADS_1
“Eh, ada kamu juga, Ra. Bagamana ... Mau masuk sekarang atau ...” Ervin menggantungkan kalimatnya.
“Masih nungguin Papa, soalnya masih parkir tadi,” jawab Aurora se-adanya.
“Ya sudah, kalau begitu kita masuk sama-sama saja nanti. Toh acaranya juga belum di mulai.” Ervin berusaha untuk tenang, tiba-tiba kegugupan melandanya.
Ervin memutuskan untuk menemani Aurora yang masih menunggu Profesor Nathaniel. Keduanya berdiri layaknya sebuah patung yang berdiri tegak.
Wiu ... Wiu ... Wiu ...
Tiba-tiba saja sirine ambulans telah terdengar saat melintas di jalan raya. Seolah keadaan darurat telah terjadi tetapi, saat itu bukanlah tugas Ervin yang akan membantu memberikan pertolongan pertama. Karena posisi Ervin tidak sedang berada di rumah sakit.
Ervin dan Aurora hanya memandanginya saja dari depan gedung. Dan tidak lama kemudian profesor Nathaniel telah bergabung dengan Ervin dan Aurora. Berhubung acaranya sudah hampir di mulai Ervin, Aurora dan Profesor Nathaniel memutuskan masuk ke dalam.
“Kenapa mereka berkerumunan seperti itu? Apa acara pernikahannya sedang dilangsungkan?” tanya profesor Nathaniel.
“Entahlah, Prof. Saya rasa ... Juga seperti itu.” Ervin bersikap biasa saja. Ia tidak ingin ikut bergabung dalam kerumunan yang terlihat.
Kerumunan masih saja terjadi, tetapi Ervin tak bergeming dari tempat duduknya saat ini. Dan tiba-tiba saja, ponsel Ervin berdering.
“Halo. Dengan dokter Ervin disini. Apakah ada yang bisa dibantu?”
“Dokter Ervin, kami minta Anda ke rumah sakit segera. Karena ada kecelakaan beruntun yang mengakibatkan beberapa korban mengalami perdarahan. Kami disini kekurangan dokter, saya mohon segeralah datang.”
Belum sempat Ervin memberikan jawaban obrolan pun terputus. Karena kedaan yang sangat mendesak membuat mereka tidak ingin membuang waktu dengan percuma.
Ervin segera memberitahu Profesor Nathaniel dan juga Aurora.
“Ervin, kita tidak bisa ke rumah sakit semuanya. Paling tidak kamu tetap berada disini mengawasi kondisi Laura. Jangan sampai Dia mengalami hal yang tidak diinginkan. Biarkan saya dan Aurora yang pergi ke rumah sakit.” Ervin mengangguk.
Bruk.
“Tolong! Tolong! Tolong!” teriak seseorang.
Ervin yang masih bertahan di sana sedang berjaga seketika berlari menuju pusat suara. Setelah sampai, terlihat Laura yang sudah tergeletak di lantai dengan tubuh yang pucat, bibir membiru dan mulut yang sedikit berbusa.
“CPR. Hanya itu yang bisa membantunya saat ini, tapi ... Siapa yang akan melakukan hal itu?” gumam Ervin.
Ervin yang sudah berada di sisi tubuh Laura merasa khawatir dengan kondisi pasiennya yang diluar pemikirannya. Ingin membantu, tetapi rasanya sulit untuk dilakukan.
“Anda Dokter Ervin, kan? Cepat berikan Dia pertolongan Dok. Jangan sampai di kenapa-napa!” titah seorang yang ikut berkerumun.
Ervin nampak bingung, tetapi ia juga memikirkan kondisi Laura dengan tubuh yang sudah dingin. Sejenak Ervin memeamkan kedua matanya dan lalu ...
‘Allah telah memberikan ujian yang tidak akan pernah memberatkan hambanya. Jika inilah yang terbaik, maka aku akan menjalaninya dengan ikhlas.’ Ervin bermenolog dalam hati.
__ADS_1
Ervin pun bersiap memberikan pertolongan pertama pada Laura. Untuk sedikit menghangatkan tubuh Laura Ervin mengusap telapak tangan Laura dan juga bersiap untuk memberikan napas buatan.
🌹🌹🌹🌹