Couple Doctor

Couple Doctor
Semua Sudah Berubah


__ADS_3

...Hal utama yang harus tetap fokus adalah ketajaman mata. Jika salah maka sebab dan akibat akan terjadi fatal. Bahkan bisa jadi amat fatal....


...----------------...


Masih dalam keadaan suhu tubuh yang tinggi, sehingga Ervin masih sering mengigau beberapa kali. Hal yang kerap terucap pun masih sama saat di awal tadi, tak lain adalah tentang Haura. Tanpa Ervin sadari rasa benci dan bersalah tak lain adalah cinta yang belum usai. Meskipun raga tak akan bisa bertemu tapi rasa cinta itu masih membekas di hati Ervin walau sedikit.


”Bagaimana ini, kenapa suhu tubuh dokter Ervin masih belum juga turun? Haruskah aku melaporkan hal ini kepada dokter Aurora?” Perawat lelaki itu tampak berpikir.


Hening...


Tes...


Tes...


Yang terdengar hanya suara cairan infus yang menetes setiap detiknya. Sudah hampir dua jam lamanya Ervin terbaring di atas brankar itu dengan ditemani perawat lelaki yang diminta oleh Aurora tadi. Tapi selama itu juga Ervin masih belum sadarkan diri dan perawat itu tidak mau jika terjadi hal buruk kepada kesehatan Ervin, sehingga keputusan yang diambil tak lain ialah menemui Aurora yang berada di ruangannya.


Tok... Tok...


Aurora seketika mengerjapkan matanya setelah mendengar suara ketukan pintu secara pelan. Sesaat kemudian, setelah kesadarannya penuh Aurora pun mengudarakan suaranya.


“Siapa?” tanya Aurora dengan suara serak khas bangun tidur.


“Saya Dok, Alfan.” Alfan tak lain adalah perawat lelaki yang diminta menemani Ervin.


“Oh iya, Alfan, masuklah!” pinta Aurora kemudian.


Alfan pun masuk dan lfan juga tidak mau bertele-tele. Karena ia juga tidak mau jika saja kondisi Ervin masih juga belum stabil.


...****************...


Aurora nampak sibuk mengatur saluran infus Ervin setelah ia berada di ruang IGD. Setelahnya ia memberikan suntikan melalui saluran infus tersebut.


Seperkeian detik kemudian, Aurora sejenak menatap wajah Ervin yang masih terlihat pucat. Lantas, Aurora pun menitihkan air mata.


Tes...


“Semua sudah berubah dalam sekejap. Dan itu membuatku cukup sadar siapa aku dan siapa kamu. Bukankah kita sangat jauh bebeda, aku... Hanyalah rembulan yang akan hadir hanya di malam saja... Malam yang begitu sunyi. Hingga tak ada ada bintang yang menemaninya.”


“Sedangkan kamu adalah sang surya yang selalu dirindukan di pagi hari. Seperti saat ini Ervin, tugasmu belum usai. Masih banyak pasien yang belum kamu tolong, jadi, bagunlah!” ucap Aurora pelan.


Aurora segera menyeka air matanya kala Alfan kembali masuk le ruang IGD bersama perawat perempuan yang berjaga di pagi itu.

__ADS_1


Kebetulan hari sudah berganti pagi, dimana jam sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Sudah waktunya pegawai rumah sakit harus kembali bekerja sesui bidang masing-masing dan berada di ruang masing-masing.


“Dokter Aurora, saya hanya ingin memberi tahu jika, Profesor Nathaniel sudah sadarkan diri. Dan sekarang beliau meminta kami untuk memanggilkan Anda.”


“Baiklah, saya akan segera kesana. Tolong jaga sebentar dokter Ervin!” pinta Aurora.


“Iya, Dok, Siap!” balas keduanya semangat.


Aurora pun melenggang pergi menuju ke ruang ICU. Dan sepersekian detik kemudian, Ervn mulai mengerjapkan kedua matanya pelan. Cahaya lampu yang terang, dinding putih yang tak asing dan juga pemandangan yang lainnya yang benar-benar dikenal oleh Ervin, sungguh membuat Ervin nampak terkejut.


“Selang infus? Kenapa bisa aku di ruangan ini dengan infus yang menempel di punggung tanganku? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?” gumam Ervin setelah kesadarannya sudah kembali dengan sepenuhnya.


Dua perwat yang diminta untuk menjaga Ervin segea menghampiri Ervin yang sudah sadarkan diri. Ervin seketika menunjukkan tubuhnya yang seolah baik-baik saja. Sedangkan yang terjadi justru dua perawat itu sudah tahu betul bagaiman kondisi Ervin dari semalaman.


“Dokter Ervin jangan terlalu banyak bergerak dulu!” cegah dua perawat itu bersamaan.


“Saya baik-baik saja kok, jangan terlalu khawatirkan saya. Lagipula ini bukannya sudah pagi, saya harus kembali bekerja.” Ervin berusaha meleepas jarum infus di punggung tangannya.


Namun, perawat lelaki_Alfan, yang menjaga dari semalaman seketika mencega perbuatan Ervin yang dianggap membahayakan kesehatan Ervin yang belum sepenuhnya setabil.


“Jangan bertindak gegabah dan semaunya sendiri, Dok! Anda perlu ingat bagaimana peraturan di rumah sakit ini.”


Deg.


Ervin tidak menyangka jika sudah semalaman ia tidak sadarkan diri. Aurora, Ervin pun kini memikirkan perempuan bermanik biru itu. Ervin merasa takut jika demam yang tinggi_yang dialami membuatnya mengigau hal yang parah diluar dugaannya.


“Apa kamu tahu semalaman saya mengigau?” tanya Ervin memastikan kebenaraannya.


Alfan sontak mengagguk pasti, karena ia memang tahu betul bagaimana Ervin malam itu.


...----------------...


ERvin menemui Profesor Nathaniel ang sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa selama masa pemulihan.


Saat hendak masuk ke ruang Anggrek nomor 132 sesaat Ervin mendengar obrolan antara Profesor Nathaniel dengan Aurora , sehingga ia mengurungkan niatnya itu.


“Ya Allah... Bodoh sekali aku tanpa sadar aku sudah melukai hatinya. Tapi... Bagaimana aku harus memulai obrolan dengannya dan meminta maaf atas kesalahan yang sudah aku lakukan meskipun di luar kesadaranku.”


“Karena bagaimana pun Aurora tidak berhak terluka dalam kisahku yang belum benar-benar usai.”


Ervin mengusap wajahnya gusar saat merutuki kebodohan yang dibuatnya tanpa sadar. Saat itu bukan ia tidak memiliki nyali untuk meminta maaf secara langsung pada Aurora. Hanya saja Ervin masih belum siap menerima semuanya.

__ADS_1


Ceklekk.


Namun, belum sempat Ervin meninggalkan ruang tunggu tiba-tiba saja pintu ruang Anggrek nomor 132 telah dibuka dengan pelan. Hingga membuat Ervin terperanjat kala ia mendapati Aurora yang sudah berdiri di ambang pintu.


Ceklekk.


Aurora meenutup pintu itu kembali.


“Ervin, kamu... Sudah sadar, tapi kenapa kamu brkeliaran sampai kesini? Siapa yang mengijinkan kamu melepas selang infusnya? Cepat kembali!” titah Aurora.


“Aku tidak ingin kembali. Apa kamu tidak lihat jika aku sudah baik-baik saja? Lagipula aku ingin bertemu sama kamu, aku... Ingin mengucapkan terimakasih kepadamu karena sudah merawatku.” Ervn harus bisa menjadi lelaki yang jantelman.


“Tidak perlu berlebihan seperti itu, saya dokter dan tugas saya menyembuhkan pasien. Setalah saya melihat bahwa kamu nampak baik-baik saja jadi, saya merasa jika tugas saya sudah selesai.” Aurora menutup rapat hatinya yang terluka.


‘Ternyata semua sudah berubah. Sudah berbanding balik dengan apa yang kamu ucapkan keika bersama Profesor Nathaniel tadi. Bahkan... Aku sudah berubah menjadi saya.’ Ervin seketika merasa canggung.


Hening...


Sepersekian detik kemudian, Aurora kembali mengudarakan suaranya untuk menghilangkan rasa canggung yang menciptakan keheningan sampai beberapa menit yang sudah berlalu.


“Emm... Bolehkah aku bertanya sesuatu hal?”


“Silahkan! Dan aku akan menjawab sebisaku.”


“Apa yang harus dilakukan dokter saat berada di ruang operasi untuk keberhasilannya?”


“Hal utama yang harus dilakukan dokter saat berada di depan meja operasi, harus tetap fokus dalam ketajaman mata. Jika salah maka sebab dan akibat akan terjadi fatal. Bahkan bisa jadi amat fatal.” Bahasa yang terlalu sulit dimengerti oleh Aurora. Pasalnya Aurora belum pernah berada di depan meja oprasi.


“Kenapa menanyakan hal itu? Apa kamu sudah mau memulai tujuanmu?” tanya Ervin.


“Iya. Dan saya ingin membantu jalannya operasi pada Bu Asfiyah. Bu Asfiyah harus segera dioperasi, karena Bu Asfiyah mengalami penyempitan beberapa pembuluh darah yang menyuplai darah ke otot jantung.” Aurora menjelaskan bagaimana kondisi medis Bu Asfiyah.


“Hahaha... Hiks... Hiks...”


Entahlah apa yang terjadi pada Ervin, tiba-tiba tertawa setelahnya lelaki itu menangis seraya tubuhnya merosot ke bawah. Hal itu membuat Aurora merasa bingung, bahkan bukan hanya Aurora saja yang kebingungan, beberapa orang yang berlalu lalang di sana tatapan mereka seketika tertuju pada Ervin yang menenggelamkan wajahnya dalam dua tangnnya.


‘Oh Tuhan, apalagi yang saat ini terjadi? Kenapa Dia seperti ini? Masa iya otaknya geser setelah demam semalaman?’


Hiks...


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2