
...Tolong mengertilah! Bahwa aku tak sekejam itu. Karena aku masih memiliki ... PERASAAN....
...----------------...
Perihal hati memang perasa. Merasakan sakit jika terluka, merasakan damai saat berada dalam ketenangan dan merasakan bahagia saat berada dalam posisi yang nyaman.
Namun, terkadang hati pun sulit untuk dipahami kala berbeda dengan bibir saat berucap. Tidak bisa memposisikan diri dengan benar layaknya sebuah keberadaan.
“Mungkin hatiku senang mendapatkan kabar bahwa Laura sudah sadarkan diri. Tapi... kenapa hatiku masih ragu untuk bertemu dengannya? Arghh!” desah Ervin yang kembali bimbang.
Saat itu Ervin masih berada di balik tembok, melihat kebahagiaan yang tergambar pada setiap wajah keluarga Laura. Dan Ervin kembali mendesah pilu mengingat apa yang diucapkannya pada kedua orang tua Laura.
“Biar bagaimanapun aku harus kesana. Karena aku adalah dokter yang bertanggungjawab, dan mau tidak mau aku pun harus bertemu dengan mereka. Anggap saja untuk sementara ini adalah kompromi belaka.”
Ervin melangkah menuju ke ruangan ICU hendak memeriksa kondisi Laura yang dinyatakan sudah sadarkan diri. Saat melangkah sesekali Ervin menarik napas panjang.
Bruk.
“Maaf, saya tidak sengaja.” Ervin benar-benar merasa gugup hingga tanpa sengaja ia menabrak dokter Humaira.
“Tidak apa-apa Dok, saya... kurang hati-hati juga. Silahkan Anda masuk lebih dulu saja!” ujar dokter Humaira.
“Tidak, silahkan lebih dulu saja. S-saya... masih harus kembali ke ruangan saya sebentar.” Ervin berbalik lalu, melangkah cepat dan meninggalkan ruangan itu.
Dokter Humaira membulatkan mata, pasalnya dokter Humaira tidak mengerti apa yang terjadi dengan Ervin. Begitu juga tentang pernikahan yang sudah diajukan kedua orang tuanya.
Dokter Humaira menghendikan bahunya, ia tidak mempedulikan tentang Ervin, karena ia tidak mau terlalu kepo dengan urusan orang lain. Dan dokter Humaira pun memtuskan masuk ke dalam ruangan itu.
“Laura.” Dokter Humaira berlari kecil dan berdiri di sisi brankar.
Deg.
Wajah yang dimiliki oleh dokter Humaira telah mengingatkan Bunda Rania pada Haura. Secara kebetulan Bunda Rania, bang Jamal dan juga kak Sita mash berada di sana, jadi ketiganya juga terkejut setelah melihat dokter Humaira.
“Bang, siapa perempuan ini? Kenapa Dia begitu mirip sekali dengan almarhumah Haura?” bisik kak Sita pada bang Jamal.
__ADS_1
“Abang juga tak tahu pula siapa perempuan itu. Entahlah siapa Dia.” Netra bang Jamal terus memidai pergerakan dokter Humaira.
Karena merasa tidak nyaman dengan keberadaan dokter Humaira, bang Jamal dan kak Sita pun memutuskan untuk keluar dan mencari keberadaan Ervin yang entah dimana.
Namun, jauh berbeda dengan Bunda Rania. Di mana, Bunda Rania tetap tinggal di ruang itu. Bahkan langkah kecilnya menghampiri dokter Haura berada.
“Permisi! Anda ... Siapa ya?” tanya Bunda Rania sedikit meragu.
“Eh... Maaf, Dia ... Putri pertama kami. Namanya ... Humaira HIlya Nafisha. Kebetulan Dia juga bekerja di rumah sakit ini.” Dokter Humaira menarik dua ujung sudut bibirnya.
Deg.
Nafas Bunda Rania tercekat, dadanya tiba-tiba merasa sesak bahkan bibirnya terasa begitu kelu. Hampir saja tubuhnya ambruk tetapi, dengan sigap Ervin menangkap tubuh Bunda Rania dari belakang.
“Bun,” panggil Ervin lirih.
“Ervin.” Kedua netra Bunda Rania mulai berkaca-kaca.
Ervin yang tahu apa maksud Bunda Rania, ia segera mengajak Bunda Rania keluar dari ruangan dengan alasan mengantar Bunda Rania sebentar ke ruangannya untuk beristirahat sejenak.
“Bun, Bunda yakin baik-baik saja?” tanya Ervin memastikan.
“Iya, Nak. Bunda hanya... terkejut saja dengan perempuan tadi.”
“Bunda tenang dulu, ya! Dia memang memiliki wajah yang mirip dengan Haura tapi, Dia bukan Haura. Bunda harus yakin bahwa Dia hanya mirip saja wajahnya. Ok, Bun!” ujar Ervin menenangkan.
‘Bukan Ervin, kamu salah. Bunda tahu betul siapa Dia.’ Monolog Bunda Rania dalam hati.
Sepersekian detik kemudian, setelah memenangkan Bunda Rania Ervin kembali menuju ke ruangan Laura yang baru. Ruang yang dikhususkan untuk merawat Laura, di mana saat ini berada di ruang VVIP. Karena, kedua orang tuanya meminta hal tersebut demi kenyamanan Laura.
...----------------...
Hening...
Ervin masih diam dalam kebisuan nya, tetapi ritme jantungnya tidak bisa dikontrol dengan baik.
__ADS_1
Sepersekian detik kemudian...
“Bagaimana Dokter Ervin?” tanya papa Laura.
“Coba saja Anda tanyakan kepada putri Anda, Pak. Saya siap menerima apa yang menjadi keputusan Laura.” Papa Laura pun mengangguk.
Papa Laura pun menceritakan apa yang menjadi kesepakatan beberapa waktu lalu dengan Ervin. Dan Laura menyangkal jika Artis meninggal dunia. Terlebih menerima permintaan konyol dari sang papa. Membuat Laura menjadi tidak percaya. Hingga akhirnya Laura pun menolak.
“Tidak, Pa. Laura tidak mau menikah dengan dokter Ervin. Laura mau dipertemukan dengan Arlos. Jika benar Arlos sudah meninggal maka, Laura ingin melihat jenazahnya.”
“Dan kesepakatan konyol itu tolong dihapus saja, Pa. Dokter Ervin hanya melakukan apa yang harusnya dilakukan saja. Sebagai dokter, dokter Ervin ingin pasiennya baik-baik saja. Benar begitu kan, Dok?”
Ervin hanya mengangguk saja. Sedangkan dalam hatinya ia berkata hamdalah. Karena pernikahan itu pada akhirnya dibatalkan setelah Laura menolaknya.
Setelah keputusan final bahwa pernikahan itu dibatalkan Ervin pun berpamitan. Lalu, ia keluar dan kembali menelusuri koridor rumah sakit.
Saat bagi Ervin terasa sepi ia pun mengekspresikan rasa leganya dengan mengudarakan tinjuan. Sangat nampak terlihat jika Ervin benar-benar bahagia terlepas dari masalah yang membebani pikirannya beberapa waktu lalu.
“Dok, baik-baik saja, kan?” tanya Alfan yang tiba-tiba hadir.
“E... Iya, saya baik-baik saja. Ada apa memangnya?”
“Tidak. Nampak jelas kalau lagi bahagia terlepas pernikahan paksa itu. Tapi... Dokter Ervin tidak dianggap sadis, kan?”
“Tolong mengertilah! Bahwa saya tak sekejam itu. Karena saya masih memiliki ... PERASAAN. Tapi... kamu benar juga sih.” Ervin manggut-manggut saja.
Setelahnya, Ervin kembali melakukan langkah dan menuju ke rooftop rumah sakit. Ervin ingin meredakan penat yang ada di kepalanya. Dan Ervin benar-benar merasa lega pada akhirnya kisah kerumitan itu telah berakhir dengan kata hamdalah.
“Terimakasih Ya Rabb... Kini Engkau sudah memberikan jawaban yang benar. Dan jika Laura bukan jodoh yang Engkau takdirkan dalam hidup hamba... maka hamba akan tetap bersabar menantinya. Semoga saja Engkau lekas datangkan siapa perempaun itu.” Ervin pun berharap jodoh yang baik untuk masa depannya kelak.
Mengingat Aurora yang dilamar oleh dokter Abimana, Ervin sejenak mendesah pilu. Sepersekian detik kemudian, Ervin berusaha berdamsi dengan keadaan saat ini. Dunianya tidak memihak keinginannya selama ini. Dan kini, Ervin berusaha ikhlas melepaskan Aurora bersama lelaki yang tepat, lelaki yang menjadi pilihan hatinya.
...----------------...
“Dia... Dia benar putriku.”
__ADS_1
🌹🌹🌹