Couple Doctor

Couple Doctor
Satu Nama Yang Terpatri


__ADS_3

...Menangislah jika ingin terus menangis. Dan jadikanlah pundak ku sebagai tempat bersandarmu....


...----------------...


Perlahan Ervin mendekat lalu, mengambil duduk di samping Laura. Dan hal itu tanpa Laura menyadarinya. Karena saa itu Laura masih saja menangis.


“Menangislah jika ingin terus menangis. Dan jadikanlah pundak ku sebagai tempat bersandarmu.” Tanpa persetujuan Laura, Ervin memeluk tubuh Laura yang bergetar dan menenggelamkan wajah Laura dalam dekapannya.


Diusapnya rambut laura yang tergerai dengan lembut. Membuat Laura merasa nyaman dan perlahan tangispun telah mereda. Hanya masih sesekali terdengar isakannya saja.


“Abang kok ada disini?” tanya Laura dengan suara yang masih sesenggukan.


“Tadi pas Abang selesai operasi niatnya mau ngajak Adek makan siang. Eh, malah lihat Adek nya ada disini, nangis pula.” Ervin masih membelai rambut hitam pekat milik Laura.


Sekilas Laura mengingat apa yang membuatnya menangis. Akan tetapi, ia juga ragu untuk menceritakan hal itu pada Ervin.


“Kenapa menangis? Ada yang membuat Dek Laura menangis? Siapa orangnya? Bilang sama Abang dong.” Ervin masih saja asik bermain rambut.


“Emm ... Itu ... Ada masalah sedikit kok, Bang. Tapi, tak apa.” Laura menjawab alibi agar Ervin tidak curiga.


“Jangan bohongi Abang, kita sudah menjadi suami istri. Dan demi menjaga hubungan jangan pernah menyembunyikan apapun dari Abang. Apalagi jika itu membuat Dek Laura menangis seperti itu.” Ervin menatap Laura begitu dalam.


Lewat tatapan yang sejenak saling mengunci satu sama lain membuat Laura tidak bisa berpaling dan akhirnya kejujuran adalah pilihan Laura kala saat itu, Laura menceritakan semuanya pada Ervin.


“Omongan orang lain itu tidak perlu dimasukin ke hati. Karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sama kita.”


“Dan Dek Laura harus percaya sama Abang. Setelah janji suci telah Abang ucapkan itu tandanya hati Abang sudah ada yang mengisi. Dan hanya nama Dek Laura saja yang terpatri dalam hati ini.” Ervin meletakkan tangan Laura ke dadanya.


Laura merasakan dengan kuat detak jantung Ervin yang iramanya tidak beraturan. Hal itu juga membuat Laura merasakan deg-degan yang membuatnya merasa sulit untuk mengontrolnya.


...----------------...


Aurora telah usai memeriksa kondisi Leon, setelahnya Aurora keluar dari ruang ICU. Dan masih dalam penglihatan yang sama, Aurora tidak melihat keberadaan Laura di sana.


“Bagaimana kondisi putra saya, Dok? Apa sudah ada kemajuan?” tanya bu Nirmala.


“Maafkan saya, Bu. Karena saya tidak bisa memastikannya, untuk sementara ini kondisi Leon masih sama. Kita berdoa saja untuk kesembuhannya segera.” Aurora trsenyum, mencoba menghibur bu Nirmala.


“Saya mohon, lakukan yang terbaik untuk pengobatan Leon, Dok.”


Deg.


Suara itu membuat Aurora menoleh pada pemiliknya. Tersirat dengan jelas kesedihan yang bgitu mendalam dari wajah Humaira. Membuat Aurora merasa iba dan ...


“Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Tapi ... Bolehkah saya memeluk kamu? Karena saya... Sangat merindukan Haura. Dan saya baru tahu jika kamu adalah kembaran Haura.” Mata Aurora sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


Humaira mengangguk, lalu memeluk Aurora dan mengusap punggung Aurora dengan lembut. Hal sama juga dilakukan oleh Aurora, sejenak rasa rindu yang membuat sesak dalam dada telah terobati.


...----------------...


Evrin mengajak Laura di cafe yang kerap dijadikan sebagai tempat pertemuan oleh keduanya sebelum pernikahan itu terjadi.


Di cafe tersebut tidak hanya Ervin dengan Laura saja melainkan, ada juga Alfan dan keluarganya. Mereka juga menunggu keluarga yang akan dijodohkan dengan Alfan sepeti yang dikatakan pada Ervin tadi.


“Kenapa kau sama ... Laura? Apa Dia mau konsultasi lagi dengan jantungnya pada kau, Vin?” bisik Alfan.


Ervin tersenyum, lalu menggenggam jemari Laura dan mengeratkan genggaman itu. Dan keduanya pun saling pandang, melempar senyum termanis yang dimiliki. Hal itu membuat baper yang menganggumi Ervin, karena mereka para kaum wanita sangat mendambakan bahkan memimpikan menjdi wanita yang berarti dalam hidup Ervin.


“Emm ... Maaf Tante dan Om, perkenalkan ini istri saya, Laura.” Ervin memperkenalkan Laura pada keda orang tua Alfan


Alfan seketika melongo, tidak pernah menyangka jika Ervin sudah menikah dengan Laura. Begitu juga dengan Laura, ia tidak menduga jika akan diperkenalkan secara terang-terangan.


“Vin, kau tak bercanda, kan?” tanya Alfan memastikan.


“Iya, sorry tak bilang sama kau. Dan sekarag kau tahu jawabannya, kan? Jadi, jawabannya aku dan Laura sudah halal.” Alfan menggeleng serasa tidak percaya.


“Selamat ya, Nak Ervin dan Nak Laura. Semoga saja pernikahan kalian menjadi pernikahan sakinah, mawaddah dan warohmah.” Kedua orang tua Alfan ikut mendoakan pernikahan Ervin dengan Laura.


Obrolan tersaji dengan manis, tak lupa diselingi dengan canda tawa agar tidak menjadi sebuah pertemuan yang hanya sia-sia_membuang waktu dengan percuma.


Alfan merasa gelisah kala ia melihat sosok yang asig baginya. Ya, keluarga yang akan dijodohkan dengan Alfan sudah tiba di cafe, langkah mereka semakin dekat saja dengan meja keluarga Alfan.


Semua menoleh ke pusat suara lalu, menjawab salam secara bersamaan.


“Waalaikumsalam.”


Seketika Ervin terkejut dengan kedatangan bu Nirmala, pak Fatih dan Renjana. Namun, Ervin tidak mau berpikir terlalu jauh dengan tujuan mereka, mungkin saja hanya kebetulan.


“Mari, silahkan duduk!” titah Ibu Alfan.


Bu Nirmala, pak Fatih dan Renjana mengambil duduk. Sebelum melanjutkan obrolan inti mereka memesan makanan sebagai teman mengobrol.


Alfan, lelaki itu semakin gelisah saja. Rasanya tidak tenang berlama-lama di sana. Dan jantungnya berdebar hebat, seolah siap mencolos ke bawah.


“Begini Pak-Bu, sebelumnya kami sekeluarga ikut merasa sedih atas terjadinya musibah yang menimpa putra nya. Semoga saja Allah segera menyembuhkan Nak Leon.” Papa Alfan memulai obrolan.


“Terimakasih doa nya Pak-Bu.”


“Dan terkait dengan pertemuan kita kali ini kami keluarga Afan ingin mengajukan perjodohan pada putri Pak Fatih.”


Hening ...

__ADS_1


Antara sedih atau senang pak Fatih da bu Nirmala tidak bisa menentukan saat itu juga. Mengingat Leon yang masih terbaring koma rasanya hati orang tua merasa dicabik-cabik.


“Maaf jika saya sudah lancang ikut campur dalam permasalahan ini. Tetapi, saya akan menyampaikan yang insya Allah disetujui sama Leon.” Ervin mengangkat suara.


Semua menoleh pada Ervin. Mereka penasaran dengan apa yang ingin disampaikan sama Ervin. Dan Ervin sendiri nampak begitu tenang meskipun tatapan mereka sulit diartikan.


“Silahkan, bicara saja, Nak Ervin.” Papa Alfan mempersilahkan.


Sejenak Ervin menghela napas panjang.


“Begini, sebelumnya mohon maaf jika pendapat saya membuat keluarga Alfan tidak mengenakan nantinya. Tetapi, menurut saya perjodohan di era sekarang sudah tidak lagi pada jamannya. Namun, mendekatkan dua manusia yang belum menjadi makhramnya justru akan menjadikan mereka terjerumus pada lubang dosa.”


“Dan alangkah baiknya jika Alfan maupun Renjana dimintai untuk melakukan sholat istikharah agar mereka jelas dalam menerima pasangan mereka. Dan Allah akan memberikan petunjuk pada mereka jalan mana yang harus dipilih.”


“Melalui sholat istikharah tersebut mereka akan tahu nama siapa yang akan terpatri dalam hati, pasangan yang mana yang akan membersamai hingga tua nanti. Karena nama jodoh mereka sudah tertulis dalam kitabNya.”


“Bagaimana, Pak-Bu? Dan juga ... Kalian?” tanya Ervin.


Diam-diam ada hati yang meleleh meskipun hanya mendengar kebijaksanaan yang Ervin lakukan. Laura, ia mengulas senyum bangga terhadap Ervin yang memberikan jalan tengah dalam masalah itu. Dan pastinya Laura juga akan ikut sedih mengingat Humaira.


“Saya setuju itu. Pernikahan bukanlah gelar yang akan membuat kita naik pangkat. Tetapi, pernikahan adalah sebuah pilihan yang akan dijalani untuk sehidup semati. Tidak hanya itu, bahkan lebih. Mengingat kakak lelaki saya yang masih diambang maut, saya harap keluarga Mas Alfan bisa mengerti.” Renjana ikut bicara, menyetujui apa yang menjadi keputusan Ervin.


Disaat pak Fatih dan bu Nirmala tidak mampu bicara, saat itulah Renjana berusaha untuk membuat pilihannya sendiri. Renjana dituntut untuk menjadi perempuan yang memiliki pikiran dewasa meskipun baru kemarin ia lulus mahasiswa di Al-Azhar, Kairo.


Pertemuan telah diakhiri dengan kesepakatan bersama, memberi waktu paling lama satu bulan. JIka dalam waktu satu bulan tidak ada perubahan mengenai kondisi Leon, maka dengan terpaksa pernikahan akan tetap digelar jika, memang Renjana dan Alfan berjodoh.


Kedua orang tua Alfan sudh pulang lebih dulu, karena mereka tidak bisa terlalu lama_ada panggilan mendadak dari kantor. Sedangkan pak Fatih dan bu Nirmala sudah kembali ke rumah sakit. Di cafe tersebut masih ada Ervin, Laura, Alfan dan juga Renjana.


“Terimakaih, karena kamu sudah menyetujui keputusan Ervin tadi.” Alfan sangat bersyukur.


Renjana tersenyum, meskipun tidak bisa dilihat dengan jelas tetapi, dapat dilihat saat kedua mata Renjana menyipit.


“Mas Alfan tidak perlu berterimakasih pada saya. Karena hati saya juga ingin berusaha meyakinkan pilihan yang terbaik. Dan seharusnya mas Alfan berterimakasih pada Kak Ervin.” Renjana kembali tersenyum.


“Tidak perlu berterimakasih. Dan kakak, merasa bangga sama Renjana yang mampu bersikap dewasa. Kak Ervin benar-benar tidak salah menyarankan Renjana kala itu, kan?”


Renjana mengangguk, di sanalah Alfan dibuat penasaran dengan hubungan antara Renjana dan Ervin. Seolah keduanya merasa akrab bak kakak dan adik saja.


...----------------...


“Humaira, sepertinya kamu harus memiliki waktu istirahat. Alangkah baiknya kamu pulang sekalian temani Dek Laura.” Laura mencubit lengan Ervin.


“Bilang saja suruh jaga istrinya. Begitu saja kok rempong bilangnya.” Humaira mencebik.


Ervin tertawa, tanpa harus mengutarakan niatnya yang sesungguhnya akhirnya Humaira mampu mengetahuinya. Dan benar saja, Humaira mengiyakannya, keduanya pun bersiap hendak pamit.

__ADS_1


Code blue... Code blue....


🌹🌹🌹


__ADS_2