
...Sebesar apapun kita memegang kendali tetap saja kita adalah pemeran yang paling dasar. Karena perlu kita ingat di atas langit masih ada langit. Dan kita hanya tokoh yang menjalankan peran sesuai skenario Tuhan....
...----------------...
Ervin menajamkan kedua matanya, melihat ruas jari-jari Leon. Siapa tahu saja saat itu Ervin melihat pergerakan dari Leon. Tapi nyatanya, nihil. Ervin tidak melihat apa yang diharapannya.
“Dokter Ervin yang sabar ya! Semoga saja ada mukjizat untuk pasien ini. Dan kita akan berusaha semaksimal mungkin kan, Pak? Karena keselamatan pasien yang kita utamakan.”
“Sebesar apapun kita memegang kendali tetap saja kita adalah pemeran yang paling dasar. Karena perlu kita ingat di atas langit masih ada langit. Dan kita hanya tokoh yang menjalankan peran sesuai skenario Tuhan.”
“Benar, kan? Jangan lupa sama pemegang utama yang mengendalikan kita semua. Sekeras dan sekuat apapun kita berusaha jika, skenario Allah tidak mengijinkan Leon memiliki kehidupan kedua maka kita bisa apa selain kata ... Ikhlas.”
Semangat yang tadinya membara kian mengendur, suster Rani menyadari akan hal itu setelah menelaah perkataan panjang Ervin.
“Kenapa begitu wajahnya? Ingat, kita tim medis yang sellau siaga. Jika, kamu memasang wajah seperti itu lantas, bagaimana kamu menenangkan keluarga pasien yang mengalami darurat?” tanya Ervin.
Hening...
Ervin menggeleng saja melihat suster Rani yang tengah mengerucutkan bibirnya maju ke depan
“Sudah, jangan pasang wajah yang sendu begitu. Aku kan hanya mengingatkan kau, supaya kita tidak merasa tinggi setelah mendapatkan sesuatu hal yang memuaskan.”
“Dan kita hanya menunggu waktu yang berjalan yang diselingi doa. Dengan kata semoga, harapan kita bisa terwujud.”
Ervin menatap sejenak suster Rani yang tetap setia menemaninya dalam melakukan tugas sebagai tim medis yang selalu siaga.
Setelah suster Rani sudah menarik dua ujung sudut bibirnya lagi Ervin pun mengajak nya untuk kembali melakukan visite.
“A-a-a-a...”
Ketika Ervin dan suster Rani hendak keluar dari ruang ICU tiba-tiba langkah mereka harus terhenti kala mendengar suara yang amat pelan, nyaris tak terdengar.
__ADS_1
Ervin berbalik dan...
“Suster Rani... Apa Anda bisa melihat pergerakan jari-jari pasien?” tanya Ervin memastikan.
“Saya rasa iya, Dok. Bagaimana kalau kita melakukan pemeriksaan sekali lagi saja,” pinya suster Rani.
Ervin mengikuti kata hatinya dan ajakan suster Rani. Kembali mereka mendekat dan melakukan pemeriksaan ulang. Saat Ervin berdiri di sisi brankar ia mampu menangkap jari-jari Leon yang bergerak. Dan perlahan kedua mata Leon terbuka.
“Tara,” panggil Ervin pelan.
Sebuah keajaiban telah datang pada Leon, lelaki yang berusia tiga puluh tahun. Memiliki wajah yang tegas, berkulit putih dan berhidung mancung.
Ervin melakukan tindakan selanjutnya. Ia melakukan pemeriksaan secara rinci. Dan untuk memastikan tidak ada cidera lain dalam tubuh Leon Ervin meminta suster Rani menemui dokter onkologi dan dokter bedah syaraf.
“Dokter Ervin, ada apa ya dengan kakak saya?” tanya Renjana yang merasa bingung.
“Abang akan memberi tahu pada kau, Na. Pertama Abang akan memberitahu padamu kalau kakak kamu sudah sadar. Tapi, Abang juga belum tahu bagaimana kondisi organ vital yang lain. Maka dari itu, Abang mau melakukan pemeriksaan ulang lada kakakmu.” Ervin menjelaskan dengan suara yang tenang.
Renjana terbelalak lebar, rasanya tak percaya jika hidayah dari Allah telah ada untuk kakaknya, Leon. Dan Renjana juga tidak hentinya mengucapkan syukur setelah mendengar akan hal itu. Begitu halnya dengan pak Fatih, lelaki paruh baya itupun berlinang air mata.
“Mungkin profesi saya seorang dokter, Pak. Saya bisa menyembuhkan dan mengobati yang sakit, tapi kemampuan saya pun terbatas. Karena saya bukan penulis skenario kehidupan. Semoga atas kehendak Allah Subhanahu wa ta'ala.”
“Ya, Om mengerti. Jangan panggil Pak ya, Nak Ervin. Kalau bisa panggil Ayah seperti apa yang Leon dan Renjana lakukan.” Pak Fatih menepuk bahu Ervin.
Obrolan itu harus dihentikan segera kala dokter onkologi dan dokter bedah syaraf sudah datang. Dengan segala prosedur harus dilakukan dalam pemeriksaan Leon agar tidak ada sesuatu hal diharapkan bisa terjadi lebih buruk karena, keterlambatan saat mengetahui.
Brankar Leon pun dibawa ke ruang laboratorium. Setelahnya Leon melakukan pemeriksaan secara keseluruhan. Seiring berjalannya waktu Leon pun bisa merespon dengan baik meskipun sempat mengalami koma sampai dua minggu lamanya.
Maaf ya masalah koma nya Leon akan dipercepat saja.
“Bagaimana perasaan kau saat ini, Brother?” tanya Ervin.
__ADS_1
“Entahlah! Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan saat ini selain kata... alhamdulillah. Selebihnya, aku tak akan pernah tahu bagaimana kondisi ku hingga ke depannya nanti.”
“Mungkin... kali ini aku masih diberi kesempatan hidup. Tapi, saat mengingat waktu yang terus berjalan... entah kapan itu aku pasti akan kembali menghadap ilahi.”
Ervin menepuk lengan Leon yang tidak ada jarum infusnya dengan pelan. Ervin tahu bagaimana betul hidup Leon yang pernah mengidap kanker tulang sumsum belakang. Tetapi, untung saja belum stadium akhir, biarpun masih stadium awal Leon merasa waspada dengan penyakit itu yang lain saja akan merenggut nyawanya.
“Jadi orang itu jangan pesimis. Belum juga mulai, sudah mau nyerah saja. Coba kau ingat bagaimana aku berada di titik paling terendah, dan hanya satu kata yang saat itu mewakili diri ini... menyerah. Namun, nyatanya itu salah.” Ervin menghembuskan napas beratnya kala bayangan yang terlalu pedih di masa lalu kembali melintas dalam ingatannya.
“Bukankah begitu kehidupan yang pas buat kita meskipun... kita ingin menyerah.” Leon tersenyum tipis.
Saat obrolan yang sederhana telah mewakili rasa rindu yang membuncah tiba-tiba Renjana masuk, hingga obrolan itupun harus dihentikan. Namun, tak hanya Renjana saja yang masuk. Ada dua perempuan yang mengikuti dari belakang.
“Kak, Renjana kangen!” ungkap Renjana yang mulai berkaca-kaca.
“Sini mendekat dan peluk Kakak!” titah Leon.
Renjana pun mengikuti ucapan Leon. Empat tahu bukanlah waktu yang sebentar untuk berpisah bukan? Hingga rindu yang menusuk kalbu tidak dapat terobati. Dalam pelukan tersebut Renjana dan Leon saling melepas rindu.
“Kak, ada kak Humaira juga loh disini. Katanya... Dia juga rindu.” Renjana tersenyum dibalik cadar nya.
Leon berubah menjadi muram. Senyum yang sempat menghiasi bibir pucatnya kini tidak nampak lagi. Membuat semua yang ada di sana hanya saling pandang.
“Kenapa kau begitu? Apa kau tak ingin menemui kakak iparku itu, hah? Tak kasihan sedikitpun kau sama Dia, brother?”
Leon menoleh pada Ervin. Lelaki berwajah tegas itupun menatap Ervin dengan tatapan nanar. Tidak hanya itu, tatapan Leon seolah di penuhi dengan beribu pertanyaan. Dan untungnya Ervin yang memiliki IQ cukup tinggi mampu memahaminya.
“Baiklah, aku kenalkan kau sama isteriku. Ini namanya Laura Laurisa Irham Evano. Dia adik dari Humaira Hilya Nafisha Irham, kekasih Leon Bumantara.” Ervin melingkarkan tangannya di pinggang Laura.
“Wah, jadi... kau sudah menikah? Aku tak tahu akan hal itu. Bodoh sekali aku sahabat sendiri menikah tapi tak ikut hadir.” Leon seakan merutuki kebodohannya.
“Kau tidak bodoh, Leon. Karena aku memang belum mengadakan acara resepsi sebagai perayaan. Aku masih terlalu sibuk mengurusi kau di rumah sakit yang tak bangun-bangun.”
__ADS_1
“Sorry! Mungkin aku sudah membuat kalian semua kerepotan.”
🌹🌹🌹