Couple Doctor

Couple Doctor
Mungkinkah Dia Hadir Kembali!?


__ADS_3

...Perihal cinta tak lain adalah sebuah rasa yang hadir tanpa tahu kapan dan pergi tanpa permisi. Dan itulah yang Allah ciptakan pada setiap hambanya....


...----------------...


Setelah kepergian Bunda Rania dari ruangan Ervin, kini telah berganti pasien kedua. Setelah mengetuk pintu ruangan Ervin, pasien kedua pun masuk ke dalam.


Deg.


Hati Ervin tiba-tiba berdegup kencang, entah rasa apa yang tiba-tiba muncul ketika melihat sosok yang baginya tak asing.


‘Mengapa begitu mirip? Apa Dia... Ah, rasanya tidaklah mungkin. Mustahil,’ ungkap Ervin dalam hati.


Ervin menatap tajam perempuan yang berdiri di depannya. Sesaat, ia terdiam memikirkan memori pahit lima tahun lalu. Namun, seketika lamunan Ervin terbuyarkan.


“Maaf permisi, apa ini ruangan dokter Ervin Evano?” tanya perempuan itu dengan sopan.


“Ah iya, saya sendiri. Pasien saya yang kedua bernama Laura. Apa itu Anda?” Ervin berbalik bertanya.

__ADS_1


“Bukan. Itu nama adik saya, saya kakaknya. Kebetulan adik saya masih ada di toilet, jadi saya mewakilinya.” Perempuan itupun mengambil duduk di kursi pasien, depan Ervin.


Ervin manggut-manggut, tanda ia mengerti. Setelah itu Ervin meminta lawan bicaranya hendak menceritakan kondisi jantung sang adik_Laura. Karena tak mungkin jika akan berkonsultasi tentang kandungan, tulang patah atau yang lainnya.


Namun, saat hendak menceritakan bagaimana kondisi Laura tiba-tiba saja Laura masuk ditemani oleh seorang perempuan paru baya. Dapat dipastikan jika, perempuan tersebut adalah ibu mereka.


“Nah ini Dia, Dok, adik saya. Kami kesini sebenarnya ingin meminta Dokter Ervin untuk memeriksa perut adik saya.”


Hiks.


“Maaf, apa Anda tidak salah ruangan? Disini adalah ruang spesialis jantung, lantas kenapa saya harus memeriksa perut adik Anda? Seharusnya saya memeriksa jantungnya,” ucap Ervin sedikit ketus.


“Itu berbeda ya, namanya mbak...” Ervin menggantungkan kalimatnya.


“Jangan panggil mbak, tapi Anda bisa panggil saya Dokter Humaira. Dan panjangnya... Humaira Hulya Nafisha.”


Deg.

__ADS_1


Kembali nama yang hampir mirip telah terdengar di telinga Ervin. Membuat Ervin tidak bisa percaya. Bahkan Ervin berharap itu adalah mimpi, atau sebuah ilusi nya saja yang tadi sempat memikirkan Haura.


‘Nama yang hampir sama dan juga wajah yang sama. Tapi... sangat tidak mungkin jika yang ada di depanku Haura. Karena Haura sudah lama meninggal.’ Ervin bermonolog dalam hati.


“Hello, Dokter Ervin.” Humaira melambaikan tangannya di depan wajah Ervin.


Seketika Ervin membuyarkan lamunannya.


“Ah iya, ada apa?”


“Kenapa Anda malah diam saja? Adik saya itu pasien Anda loh, Dok. Jangan dianggurin begitu!” ucap Humaira begitu saja.


Mengingat apa yang dipinta Humaira Ervin sedikit merasakan kesal. Karena tidak mau terlalu bertele-tele dan membuang waktu dengan percuma Ervin meminta Humaira untuk memeriksakan adiknya di spesialis kandungan.


“Tolong! Jika Anda meminta saya untuk tetap memeriksa perit adik Anda maka, lebih baik Anda membawa adik Anda ini untuk periksa di dokter kandungan.”


Tidak bermaksud mengusir, hanya saja Ervin memang bukanlah dokter yang memeriksa bagian perut, melainkan memeriksa bagaimana kondisi jantung sang pasien. Dan menganjurkan bagaimana jantung tersebut diobati.

__ADS_1


“Dokter Ervin tidak bisa se-enaknya begitu dong. Seharusnya itu Dokter Ervin memeriksa perut adik saya terlebih dahulu.


__ADS_2