
...Aku mencoba merayu Tuhanku, berdoa agar dibuka kan kembali pintu hatiku untuk menerimanya ... Laura Laurisa Irham....
...----------------...
Suasana masih dalam keadaan berduka, di selimuti kesedihan yang mendalam karena sudah kehilangan orang yang dikenal kecuali, keluarga Ervin dan Ervin itu sendiri.
“Saya mau lihat yang namanya ... Leon. Tunjukkan padaku jenazahnya yang mana.” Ervin hendak masuk ke dalam ruang mayat.
“Tunggu! Buat apa kamu ingin tahu wajahnya?” tanya Humaira dengan ketus.
Humaira seketika beranjak dari tempat duduknya. Lalu menghampiri Ervin yang sudah hampir masuk ke dalam ruang mayat. Sedangkan yang lain ikut menatap Ervin, mencari tahu apa yang menjadi tujuan Ervin yang sebenarnya.
“Antarkan aku sekarang juga! Dan untukmu Humaira, kenapa kamu masih bertanya? Apa keluarganya sudah datang untuk mengurus jenazahnya? Apa kamu akan memberiarkan jenazah kekasih mu itu tetap berada di rumah sakit ini tanpa di kebumikan?” tanya Ervin dengan memberi tatapan tajam.
Hening ...
Tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan Ervin, karena mereka tahu apa yang dikatakan Ervin memang benar adanya.
Ervin tidak lagi mempedulikan bagaiaman tanggapan mereka atas tindakannya yang terlalu cepat. Ervin tetap masuk ke dalam ruangan gelap itu. Salah seorang perawat telah menunjukkan jenazah Leon.
Ervin berdiri di depan tubuh seseorang yang tertutupi kain putih. Perlahan tangan Ervin membuka kain itu untuk melihat wajah lelaki yang bernama Leon.
“Astaghfirullahal azim, ternyata ... Dia.” Ervin menatap lekat wajah yang sudah berlumur darah itu.
Namun, saat menatapnya Ervin merasakan sesuatu yang mengganjal. Ada keanehan yang ada pada tubuh tersebut.
“Ya Allah ... Dia ... Dia belum meninggal.” Ervin keluar dari ruangan itu.
Ervin pun berlari dengan cepat, membuat semuanya memandang dengan keanehan dan penuh dengan tanda tanya.
Ervin jug atidak mempedulikan tatapan dari mereka karena, yang menjadi tujuannya saat ini adalah memberikan pertolongan pada Leon yang mengalami henti jantung.
“Siapkan alat defibilator sekarang juga. Dan siapkan segala alat medis, saya akan membawa pasiennya ke IGD.” Ervin memberikan perintah kepada Aurora dan beberapa perawat yang tadi ikut bekerja.
“Memangnya pasiennya ada dimana?” taya suster Rani.
“Ada di kamar mayat. Sudah lakukan perintah saya saja. Ini darurat.”
Mereka tahu tatapan dari Ervin yang nampak serius, sehingga mereka tidak banyak bertanya lagi dan hanya memberikan anggukan penuh kemantapan.
Ervin kembali berlari menuju ke ruang mayat. Saat hendak masuk ke dalam ruangan sejenak Ervin berhenti di depan keluarga barunya.
“Insya Allah masih ada harapan. Doa kan saja Allah memberikan kehendaknya.”
Setelahnya Ervin masuk tetapi, tak lama kemudian keluar dengan mendorong brankar Leon. Dari ujung koridor beberapa perawat dan Aurora telah menyambut kedatangan Ervin.
“Pasangkan infusnya. Saya akan mulai melakukan RJP.” Semua mengangguk.
Dengan memiliki tujuan sama mereka telah mengerti apa yang seharusnya mereka lakukan masing-masing.
Ervin menaiki brankar dan berjongkok di atas tubuh Leon. Kedua tangannya menyentuh dada Leon, menekannya agar jantung Leon kembali berdetak.
__ADS_1
“Ayo kembalilah! Aku yakin kamu pasti bisa melewati masa ini, kawan. Kamu juga sudah berjanji kita akan menjadi sahabat selamanya. Jangan tinggalkan aku sebatang kara lagi.” Ervin terus berusaha sekeras mungkin.
Mereka semua melihat usaha keras Ervin yang ingin jantung Leon kembali berdetak. Aurora dan dua perawat lainnya membantu mendorong brankar sampai ke ruang IGD. Sedangkan keluarga Humaira, kak sita, bang Jamal, bunda Rania dan Raza ikut menuju ke ruang IGD.
‘Aku ... Bahagia karena Allah sudah menghadirkanmu dalam hidupku. My super hero.’ Di dalam hati Laura bergumam, mengagumi Ervin.
Saat Humaira mengharapkan bisa menemani Leon berjuang di dalam ruangan yang menegangkan itu justru Aurora melarangnya.
“Dokter Humaira, saya minta maaf karena Anda tidak diperbolehkan masuk. Mohon Anda dan keluarga menunggu di luar sebentar.” Dengan nada merendah Aurora mencoba mengerti perasaan Humaira.
“Tapi...”
“Jangan khawatir, percayalah sama dokter Ervin. Dan pasti kami akan mengusahakan yang terbaik. Bantu kami dengan doa.” Aurora mengangguk.
Dengan hati yang terasa memilukan Humaira mencoba mempercayakan semuanya pada pihak dokter. Dan di depan ruang tunggu semua menggelar doa bersama, tak hentinya mereka membaca dzikir pula.
Di dalam sana, Ervin masih berjuang mengembalikan jantung Leoan. Ervin tidak mempedulikan keringat yang mengucur di pelipis dan juga di punggungnya. Yang sudah membasahi seluruh tubuhnya bahkan sampai-sampai air mata pun ikut menetes. Entah apa yang tengah beradu dalam benak Ervin.
“Tara, aku yakin kamu pasti bisa. Aku mohon Ya Allah...berikanlah kesempatan kedua pada Tara.”
“Dokter Ervin,” panggil pelan Aurora.
Ervin yang mengerti dari panggilan Aurora hanya abai saja. Karena Aurora hanya ingin Ervin menyeah saja dengan usahanya yang akan sia-sia.
“Terus lakukan tugas Anda, dokter Aurora. Karena saya tida akan menyerah segampang itu.” Ervin mengatakan tanpa melepas tangannya yang memberikan penekanan di atas dada.
Hampir lima belas menit lamanya Ervin menekan dada Leon dengan nama lengkap leon Bumantara. Tetapi, jantung leon tak kunjung kembali berdetak. Namun, masih dengan keyakinan yang sama. Ervin tetap melakukan tugasnya memperjuangkan keselamatan pasiennya.
“Dalam hitungan ketiga, kita lakukan bersama.” Semua mengangguk.
Satu ...
Dua ...
Tiga ...
Jedug ...
Masih gagal saat percobaan pertama tetapi, tidak akan membuat Ervin menyerah. Kemabli Ervin melakukan hal yang sama tetapi menaikkan tingkatan kejut.
Satu ...
Dua ...
Tiga ...
Jedug ...
Deg... Dug... Deg... Dug...
Tut... Tut... Tut...
__ADS_1
Ervin merasa lemas tetapi, ia juga bernapas lega. Setelah usahanya yang keras demi menyelamatkan pasien sekaligus sahabatnya itu kini, Leon dinyatakan masih hidup tetapi dalam keadaan kritis.
“Alhamdulillah.” Ervin mengusap wajahnya. “Terimakasih Ya Rabb... Meskipun dalam keadaan kritis setidaknya Engkau mengembalikan jantungnya agar berdetak lagi.”
Semua merasa bangga dengan hasil kerja Ervin yang tidak menyerah sampai beberapa kali berusaha. Hingga Allah telah menjawab usahanya itu.
Aurora tersenyum bangga, bahkan tanpa sadar air matanya menetes ke bumi dan ... Aurora memeluk Ervin.
“Selamat Ervin, you the best doctor.”
Deg.
Ervin merasakan sesuatu yang tidak bisa digambarkan. Entah harus bahagia atau bersedih, Ervin pun tidak tahu. Namun kala itu, Ervin mengingat janji suci yang sudah diucapkannya beberapa jam lalu.
‘Laura.’
Ervin melerai pelukan Aurora, membuat Aurora tersadar dengan apa yang sudah dilakukannya tanpa sadar.
“Sorry.” Aurora seketika langsung mundur satu langkah.
Rasanya malu sudah berbuat lancang dan senonoh begitu saja. Akan tetapi, Ervin tidak mempermasalahkan hal itu.
“Tak apa. Tolong kalian bersihkan drah di bagian wajah an tubuh. Setelah ini minta dokter onkologi dan dokter syaraf memeriksa bagian kepala dan tulangnya. Pastikan dengan pemeriksaan yang akurat.” Ervin memberikan perintah, mengingat kondisi Leon yang masih perlu pengawasan.
“Baik, Dok.” Semua mengangguk.
Ervin pun keluar hendak menemui keluarganya. Memberikan kabar antara suka dan duka. Pasalnya, kondisi Leon masih kritis dan banyak alat mmedis yang menempel di tubuhnya.
Saat pintu ruang IGD terbuka Ervin sudah disambut oleh Humaira. Beribu pertanyaan pun telah dilontarkan karena harapannya masih membumbung tinggi yang ingin bertemu Leon.
“Bagaimana dengan kondisi Leon? Apa ... Dia bisa selamat? Bagaimana jika aku masuk, apa boleh?”
“Detak jantung Tara berhasil kembali berfungsi. Tetapi, itu sangat pelan. Dan kondisinya saat ini masih dalam keadaan kritis. Jadi, tolong jangan masuk karena, setelah tubuh Tara dibersihkan akan segera dipindahkan ke ruang ICU.” Ervin memberikan senyum tipis agar Humaira tidak terlalu khawatir.
Senyuman itupun medapatkan balasan dengan senyum tipis dari Humaira. Dan Humaira mampu bernapas lega, tetapi hatinya masih merasa was-was dengan kondisi Leon yang masih kritis.
“Makasih, kamu sudah berusaha semaksimal mungkin. Kamu sudah berjuang menyelamatkannya dan dengan kerja kerasmu kamu berhasil.”
“Itu atas kehendak Allah. Jangan lupa untuk tetap berdoa agar Tara bisa melewati masa kritisnya.” Humaira mengangguk.
Setelah mengobrol dengan Humaira Ervin sejenak menatap kearah Laura berdiri tak jauh dari tempatnya berpijak. Dalam hati kecil Ervin pun berkata.
‘Aku mencoba merayu Tuhanku, berdoa agar dibuka kan kembali pintu hatiku untuk menerimanya ... Laura Laurisa Irham.’
Ervin mengulas senyum pada Laura. Lalu, ia perlahan melangkah dan menghampiri Laura. Namun ...
Brukkk.
Semua mata tertuju padanya.
🌹🌹
__ADS_1