Couple Doctor

Couple Doctor
Khawatir Yang Tidak Bisa Ter-elakkan


__ADS_3

...Mencintai paling ikhlas bukanlah meminta Tuhan untuk mempersatukan dia denganku, melainkan agar dilapangkan hatiku jika suatu saat dia mengucapkan selamat tinggal....


...----------------...


Setelah memasukkan beberapa baju ke dalam ransel, Ervin keluar dari kamarnya hendak berpamitan kepada bang Jamal dan juga Kak Sita.


“Mau kemana kau sudah rapi begitu siang-siang begini?” tanya bang Jamal.


“Ervin mau ke desa, bang. Sudah lama juga Ervin tidak kesana selama empat tahun. Ervin merindukan suasana di sana, sekalian berkunjung ke makam Bapak sama Ibuk nanti. Mumpung Ervin ambil cuti tiga hari.” Ervin menjawab seperti rencananya di awal.


Bang Jamal yang tadinya duduk bersantai sambil menyeduh kopi buatan kak Sita seketika menoleh ke arah Ervin yang masih berdiri di dekatnya. Lantas tatapan bang Jamal pun menajam.


“Apa kau sudah gila jadi orang, hah? Apa kau tak pikirkan bagaimana kondisi lenganmu itu? Sinting emang nih bocah,” ujar bang Jamal sedikit kasar.


Biarpun cara bicara bang jamal kasar tetapi, hati bang jamal itu lembut. Bang Jamal hanya mengkhawatirkan kondisi Ervin saja. Pasalnya, saat Ervin dibalut lukanya tanpa Ervin sadari bang Jamal berada di rooftop juga. Sehingga bang Jamal tahu betul bagaimana kondisi lengan Ervin yang terluka.


“Ya... nanti bisa pelan-pelan kok, bang. Kalau tidak sekarang kapan lagi coba, mana ada waktu Ervin nanti. Mumpung cuti ini,” ucap Ervin yang masih bersi keukeuh igin ke kampung halamannya.


“Tidak. Abang tidak akan ijin kau pergi dengan kondisi seperti itu. Apa kau kira abang juga tidak taha jika kau habis demam pula, hah?”


“Tapi ya terserah saja, jika kau tak anggap abang ini sebagai keluargamu lagi. Pergi saja sana!” ucap bang Jamal dengan ketus.


“Dan lupakan saja rasa khawatir Aurora. Tak usah pedulikan bagaimana perasaan Dia yang sudah merawatmu.” Bang Jamal melenggang pergi.


Ervin menghela napas panjang, ia tahu betul bagaimana sikap bang Jamal. Mungkin jika orang tak mengenal sikap beliau maka akan menganggap bahwa bang Jamal adalah lelaki yang kasar. Tapi kebenarannya pun tak seperti itu, bang Jamal berhati lembut dan selalu memiliki rasa peduli yang tinggi. Ya, walaupun terkadang menjengkelkan tapi, Ervin maklumi itu.


'Mencintai paling ikhlas bukanlah meminta Tuhan untuk mempersatukan dia denganku, melainkan agar dilapangkan hatiku jika suatu saat dia mengucapkan selamat tinggal.’


‘Hah, cinta? Ngomong apa aku ini, masa iya aku sudah jatuh cinta dengannya. Jangan sampai terjadi, jangan sampai Dia terjebak masa laluku yang belum usai ini.'


“Makanya kalau mau mengambil keputusan itu ya dipikir dulu. Kalau sudah tahu abang mu seperti itu ... Tidak jadi berangkat, kan?” sambung kak Sita yang ikut nimbrung memarahi Ervin.


Seketika lamunan Ervin terbuyarkan.


“Bukannya mbak dengar juga kalau hari ini ada jadwal operasi yang... Apa itu namanya kalau darurat?” kak Sita nampak berpikir.


“Emergency itu namanya, kak.” Ervin menjawaba seraya memakan ubi goreng yang bau saja digoreng oleh kak Sita.


“Nah itu dia namanya. Ngomong-ngomong ajarin mbak saja lah bahasa inggris begitu biar kakak kau ini gaul, tidak dieejek pula sama ibu-ibu yang lain kalau pas jemput Raza.” Kaka Sita nyengir bak kuda.


Sejenak Ervin terdiam, ia tidak merespon apa yang diucapkan kak sita padanya. ERvin masih fokus sama makanannyasaat ini.


“Hah...Hah... Hah...”


“Kenapa kau begitu, tak mau kau ajari kakak mu ini apa?” tanya kak Sita menyelidik.


“Bukan begitu kak, hanya saja ubinya masih sangat panas ini.” Kak Sita mencebik saja.


Perempuan berkepala tiga itupun melenggang pergi. Dan hal itu membuat Ervin mendesah pilu. Dua orang tertua di rumah itu sama-sama merajuk dengan dua hal yang berbeda pula.


‘Alamak, salah lagi lah aku. Kalau sudah begini mau makan, mau tidur dan mau apalah rasanya tetap tak enak pula.’ Ervin mendesah pilu dalam hatinya.


Hari sudah pukul 13.45 WIB, pertanda jika hari sudah berganti sore. Dan selama waktu terus berjalan Ervin hanya rebahan di atas kasurnya dengan tidak jelas. Pasalnya, ia merasa kantuk tetapi kedua matanya tidak mau terpejam rapat, bahkan pikirannya pun melayang memikirkan jalannya operasi yang akan dimulai pada pukul 12.00 WIB. Dimana sebentar lagi akan segera dilangsungkan.

__ADS_1


“Kenapa pula aku mengkhawatirkan Dia? Apa alasannya coba harus mengkhawatirkan Aurora? Tak perlu berlebihan seperti itulah terhadapnya. Toh, juga ada dokter senior yang lebih mahir, apalagi papanya seorang Profesor.” Ervin berusaha menghilangkan rasa khawatirnya terhadap Aurora.


Ervin mulai bosan dengan aktivitasnya yang hanya rebahan saja di atas kasur. Dan ia pun memutuskan untuk bermain sepakbola dengan Raza. Karena kebetulan halaman rumah Ervin yang baru cukup luas untuk bermain sepakbola.


Dengan keseruan yang ada Ervin sampai tak sempat meliha ponselnya, bahkan ia juga lupa dimana ponselnya berada.


“Ervin, handphone kau bunyi terus itu. Apa tak sebaiknya kau tengok dulu lah siapa yang telepon kau. Berhenti dulu lah mainnya.” Kak Sita yang tidak sengaja mendengar suara dering telepon milik Ervin seketika berteriak.


“Ah, biarkan sajalah Kak. Palingan juga tak penting itu, siapa pula yang juga mau telepon Ervin. Rumah sakit paling juga tidak, mereka tahu kok, kalau Ervin ambil cuti. Jadi biarkan saja berdering seperti itu.” Ervin megabaikan ponselnya.


Bahkan lelaki berbadan tegap itu terus melanjutkan aktivitasnya bersama Raza. Sampai-sampai hampir lupa waktu jika hari sudah semakin sore.


...----------------...


Di rumah sakit tepatnya di ruangan operasi masih diriwehkan dengan aktivitas yang menguji adrenalin para tim medis. Lampu yang terlihat masih menyala pertanda jika tim operasi ahli bedah jantung masih bekerja dengan amat keras. Mereka masih harus tetap fokus dengan apa yang ada di depan mata.


Namun, ketika Aurora yang memimpin jalannya operasi pada sore itu semua tim merasa ragu jika Aurora akan berhasil melakukannya. Pasalnya Aurora tak pernah sama sekali mengikuti jalannya operasi. Tetapi kali ini, perempuan bermanik biru itu harus mau menjadi pemimpin jalannya operasi di karenakan dokter ahli bedah jantung senior harus menjalan operasi jantung terhadap pasien yang lainnya.


“Bagaimana, apa dokter Aurora bisa memimpin operasi bedah bypass jantung?” tanya perawat yang menjadi asisten dokter.


“Iya, kalau tak yakin mending mundur saja. Kita bisa hubungi dokter Ervin untuk melakukan operasi ini. Kasihan pasiennya jika dibius terlalu lama nanti. Dokter Aurora tidak segera melakukan pembedahan di dada pasien.” Dokter anestasi pun ikut nimbrung. Merasa tak yakin dengan hasil kerja Aurora.


Sedangkan Aurora masih terdiam. Ia menatap meja operasi dengan menyimpan rasa keraguan. Bahkan, kedua tangannya gemetar saat memegang scalpel yang siap untuk membelah dada pasien.


‘Oh my God, bagaimana ini? Haruskah aku membelah dadanya? Tapi... Bagaimana jika nanti aku tidak berhasil? Ervin, please come here!’ teriak Aurora dalam hati.


Tim operasi merasa geram dengan hasil kerja Aurora yang tidak segera cekatan. Sehingga mereka terus mendesak Aurora untuk segera melakukan pembedahan.


Aurora sejenak terdiam, mengingat apa yang diucapkan Ervin sebeum meninggalkan rumah sakit dan kembali pulang. Dan setelahnya, Aurora menghela napas panjang lalu, ia pun mulai melakukan pembedahan.


Saat melalukan pembedahan tiba-tiba darah keluar dengan deras dari dada pasien, bahkan sampai muncrat mengenai wajah beberapa perawat yang ikut dalam operasi.


Dan hal itu seketika membuat semuanya panik, pasalnya mereka tida bisa memimpin operasi jika, dokternya saja tidak bisa. Sehingga semua anggota menyalahkan Aurora yang tidak bisa melakukan operasi dengan benar.


Down, itulah yang dirasakan Aurora saat itu. Hingga pikirannya pun tak fokus sama pasien yang ada di depannya.


...----------------...


Tiba-tiba dada ervin merasa sesak yang membuatnya harus menghentikan aktivitasnya kala itu. Hal pertama yang dilakukan adalah meneguk air untuk melancarkan kembali pernapasannya. Setelahnya, ia meraih ponselnya yang ada di atas meja ruang keluarga.


“Ya Allah, apa ini pertanda dari rasa khawatirku tadi?”


Tidak membutuhkan waktu yang lama lagi, Ervin segera berganti pakaiannya lalu, menekan gas pada motornya dengan kecepaan tinggi.


...----------------...


Disaat situasi genting seperti itu mereka masih saja mencemooh dan menyalahkan Aurora. Hingga membuat Aurora merasa tersudut karena tidak bisa profesional seperti Ervin.


Dan saat ini Aurora membutuhkan kehadiran Ervin atau dokter yang lainnya yang bisa menggantikan posisinya. Aurora lebih berharap jika yang datang adalah Profesor Nathaniel.


Namun, sampai saat itu juga tak ada yang datang untuk membantunya. Ingin rasanya Aurora menangis saja di sana, kaena ia benar-benar merasa tersudutkan.


Akan tetapi, tiba-tba pintu ruang operasi telah terbuka, dan Aurora berharap itu seseorang yang bisa membantunya. Namun, nyatanya yang datang bukanlah orang yang bisa diharapkan seperti keinginannya, melainkan yang datang seorang perawat yang membawakan kasa dengan jumlah banyak karena hal buruk itu telah terjadi diluar dugaan.

__ADS_1


‘Oh my God, aku harus apa sekarang?’ tanya Aurora dalam hati.


Masih belum ada pergerakan lagi dari arah pintu ruang operasi yang memberikan tanda-tanda bisa membantunya keluar dari masalah itu. Dan mau tidak mau Aurora harus tetap melakukan operasi, menjadi pemimpin kembali jalannya operasi.


Ceklekk...


Semua mata tertuju pada arah pintu dan berharap ada bantuan. Tetapi lagi-lai harapan mereka semu, pasalnya yang datang tak lain perawat yang membawa kantung darah. Takutnya pasien akan kehilangan banyak darah saat itu.


Tuuuuuuuttt... Tuuuuuuttt...


“Bagaimana ini, detak jantung pasien mulai tidak setabil dan semakin menurun. Jikaterus saja seperti ini bisa-bisa operasi kali ini gagal dan pasien akan kehilangan nyawa nanti.” Ucapan dari dokter anestasi kembali membuat Aurora merasa down.


Tangan Aurora kembali gemetar, bahkan punggung, pelipis dan seluruh tubuh Aurora mengeluarkan keringat dingin.


Dan kembali pintu telah terbuka, tetpi mereka tak banyak berharap jika yang akan masuk bukanlah dokter yang menggantikan Aurora. Karena sudah dua kali harapan mereka telah terpatahkan. Dan mereka sudah pasrah jika saja harus menjalani kesalahan yang fatal dan bahkan siap saat keluarga pasien akan menuntut atau hal semacamnya yang akan lebih buruk lagi.


“Ambil alih posisi, Dokter Aurora. Dan silahkan berada di samping saya.” Suara khas seorang Ervin mampu membuat semuanya seketika merasa lega.


Ingin rasanya air mata Aurora pecah saat itu juga, tetapi ia berusaha untuk menahannya. Karena itu bukanla waktu yang tepat untuk melepaskan rasa yang sudah beradu menjadi satu dalam dirinya.


Aurora segera berpindah posisi setelah Ervin mulai maju. Dan Ervin pun siap untuk melakukan aksi yang menguji adrenalin nya.


“Dokter anestasi lakukan pekerjanmu dengan benar, stabilkan kembali detak jantung pasien.


Dokter anestasi mengangguk dengan mantap.


Tut... Tut... Tut...


“Scalpel.”


Kembali Ervin melakukan sayatan dengan benar. Selang pernapasan kembali dibenahi agar tetap stabil. Dan setelah jantung dapat terlihat, Ervin menyambungkan mesin jantung paru (heart lugh mechine) menggantingkan sementara fungsi jantung dalam memasok darah ke seluruh tubuh.


Setelah itu, Ervin melanjutkan pengambilan pembuluh darah yang akan digunakan sebagai cangkok dari bagian tubuh lain. Biasanya pembuluh darah vena di betis atau di lengan. Lalu, Ervin menyambungkan satu ujung pembuluh darah baru ke bagian sebelum sumbatan, sedangkan ujung lainnya ke bagian setelah sumbatan.


“Ingat, kita masih harus membuat jantung kembali berdetak. Memastikan jantung kembali berfungsi dengan baik.” Ervin mengingatkan hal terpenting dalam melakukan pembedahan jantung terhadap timnya.


Biasanya mereka menggunakan alat kejut listrik untuk memastikan jantung kembali berfungi dengan baik.


Deg... Deg... Deg...


Dan akhirnya mereka semua mampu bernapas lega dengan hasil kerja yang memuaskan meskipun sebelumnya harus dibuat mendebarkan terlebih dahulu.


“Gunting.”


Tahap trakhir pun sudah terselesaikan. Ervin sudah menjait dada pasien dengan kembali rapi. Sebelum mengakhiri pertemuan dengan timnya, Ervin menatap mereka satu persatu secara bergantian.


“Kerja bagus untuk hari ini! Terimakasih,” ucap Ervin seraya mengulas senyum.


“Sama-sama, Dok. Dan terimakasih sudah hadir membantu kami.” Ervin mengangguk.


Diluar dugaan Ervin, tiba-tiba saja tubuhnya hampir ambruk karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya sendiri ketika Aurora memeluknya dari arah depan.


“Hiks... Hikss... Hikss...” Tangis Aurora pun seketika pecah dalam pelukan Ervin.

__ADS_1


Ervin seketika terkejut, ia benar-benar mendapatkan kejutan yang membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa selain tahan napas.


🌹🌹🌹


__ADS_2