Couple Doctor

Couple Doctor
Pasien Gila!?


__ADS_3

...Untukku agamaku dan untukmu agamamu. Tuhan kita berbeda, begitu juga dengan tujuan kita yang tidak akan pernah sama....


...----------------...


Ervin masih berdiri mematung di tempatnya memijakkan kaki. Rasa yang membuat hatinya terus berbunga-bunga hampir membuat Ervin gila. Bagaimana tidak, setelah mendapatkan dua jabatan sekaligus seketika itu juga Ervin berjingkrak kegirangan_bak anak kecil yang mendapatkan hadiah saja.


Erviin melompat dengan tingginya seraya mengepalkan tangannya ke uadara. Lantas, senyum pun tak pernah surut dari bibirnya.


“Ya Rabb... Jika ini memang petunjuk pertama-Mu maka, ridhai lah hamba memperjuangkan cinta yang ada di hati ini.” Ervin mulai bersemangat untuk mengejar cinta Aurora.


Hari pertama Ervin dinyatakan menjadi dokter resmi spesialis bedah jantung, Ervin tidakmau membuat pasiennya merasa kecewa dengan pelayanannya. Dan ia segera membuka jam kerjanya agar pasien yang sudah mengantri tidak akan terlalu lama menunggu.


Dengan rasa semangat yang membumbung tinggi membuat Ervin terus menarik dua ujung bibirnya.


Paien pertama telah masuk, seorang lelaki paruh baya yang bernama pak Andika. Belau seorang pengusaha tetapi, harus ke rumah sakit terlebih dahulu untuk medical check up rutin setiap tiga bulan sekali.


”Permisi, Pak! Silahkan Pak Andika berbaring terlebih dahulu, saya akan memeriksa sesuai prosedurnya.”


Pak Andka menurut saja, beliau menuju brankar yang ditemani sang istri. Setelah berbaring, baru lah Ervin mulai memeriksa tensi, detak jantung dan cara pak Andika bernapas.


Sepersekian detik kemudian, Ervin menuliskan beberapa obat untuk pak Andika konsumsi sampai tiga bulan selanjutnya.


“Terimakasih banyak, Dok. Tapi... Ngomong-ngomong, saya baru melihat Anda. Apa Anda...”


“Ah iya, Pak. Saya dokter baru di rumah sakit ini. Dan saya menggantikan Profesor Nathaniel karena, beliau harus mengajar ke Universitas Sumatra utara terlebih dahulu.” Ervin memberikan senyum ramah kepada pak Andika.


Pak Andika sang istri hanya manggut-manggut, setelahnya mereka berpamitan. Sebelum melenggang pergi Ervin tidak lupa mengulas senyum ramahnya lagi kepada pak Andika dan istrinya.


Dan selanjutnya pasien ke dua, Ervin melakukan tugasnya dengan baik sampai urutan pasien ke sembilan. Bertepatan dengan pasien ke sepuluh yakni, pasien terakhir. Ervin meminta ijin untuk makan siang terlebih dahulu, karena waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB.


Namun, suster Rani selaku asisten baru Ervin tidak bisa mengatasi pasien terakhir Ervin. Pasalnya pasien Ervin tidak mau jika ditinggal dan ditunda sampai dua puluh menit saja. Bukankah itu pasien yang sedikit membuat hati Ervin memperluas sabarnya.


“Bagaimana, Dok? Apa sebaiknya kita lanjutkan saja agar pasien atas nama Naomi Ethelind bisa segera ditangani dan tidak akan bertingkah yang lebih daripada itu!” pendapat suster Rani.


Hening...


Ervin terdiam, ia nampak berpikir mna yang baik untuk diambil agar permasalahan itu tidak akan berujung panjang.


Seperselian detik kemudian, Ervin pun memtuskan yang baginya itu adalah keputusan yang tepat.


“Ya, kita tangani saja Nyonya Naomi. Makan siangnya ... Nanti bsa diatur,toh ini pasien kita yang terakhir, bukan?” tanya Ervin memastikan.


Suster Rani mengangguk. Setelah itu, suster Rani keluar dan meminta pasien atas nama naomi masuk ke dalam.


Setelah berada di dalam Ervin meminta pasiennya itu untuk duduk di depannya sebelum melanjutkan pemeriksaan selanjutnya.


“Pasien atas nama Nyonya Naomi Athelind, bisakah Anda menejlaskan keluhannya terlebih dahulu kepada saya?” pinta Ervin tanpa menoleh ke arah Noumi.

__ADS_1


“Kenapa harus panggil Nyonya? Saya masih muda, harusnya panggil No...Na.”


“Emm... Tapi, tidak apalah kalau dipanggil Nyonya, asalkan Dokter Ervin mau jadi Tuannya.” Naomi nyengir kuda.


Deg.


Ervin seketika menghentikan aktivitasnya yang sedang membaca identitas Naomi. Setelah itu Ervin meraa bergidik ngeri kala melihat sekilas tatapan dan senyuman Naomi yang sulit diartikan baginya.


‘Dia... Beneran sakit jantung atau tidak sih? Kalau sakit kenapa modelnya seperti ini banget?’ desah Ervin dalam hati.


Hening...


“Bagaimna ini, Dok? Jadi tidak periksa jantung saya? Kok malah diam saja begitu. Soalnya terkadang rasanya itu... Nyeri, ngilu, suka deg-deg-an dan satu lagi Dok, suka bikin lemes.” Naomi menjelaskan apa yang dirasakannya.


Ervin jela saja mulai panik, pasalnya tak ada pasien yang sebelumnya mengeluh terlalu banyak seperti Naomi.


Dan tidak mau menunggu terlalu lama, sebagai dokter yang bertanggung jawab terhadap pasiennya Ervin segera meminta Naomi untuk merebahkan tubuhnya di atas brankar.


Ervin mengalungkan stetoskopnya di leher, ia tengah bersiap untuk memeriksa jantung Naomi tetapi, Ervin mengurungkan niatnya itu. Karena Ervin seolah mendapatkan firasat tak enak.


“Maaf sebentar, saya permisi dulu keluar mau bertemu dengan asisten saya. Mohon tunggu sebentar ya!” ijin Ervin.


“Jangan lama-lama ya, Dok! Soalnya saya suka rindu gitu sama dokter Ervin kalau ditinggal terlalu lama.” Naomi tersenyum genit pada Ervin.


Ervin bergidik ngeri, lantas ia segera keluar sebelum Naomi bertindak lebih aneh lagi. Karena Ervin juga tidak mau jika di dalam ruangan itu hanya ada Naomi saja.


”Suster Rani, bisa ikut masuk dengan saya? Saya hanya tidak mau berdua saja dengan pasien yang...” Ervin menggerakkan jarinya dengan miring.


Bisa dibaca melalui wajah Ervin jika lelaki itu kurang suka dengan sikap Naomi. Entah memang seperti itu atau disengaja karena ada dokter ganteng di depannya.


“Ayolah suster Rani, jangan membuat waktunya tertahan semakin panjang! Bisa-bisa Dia nanti ngamuk seperti tadi bagaimana coba,” ucap Ervin sedikit memaksa.


“I-iya, Dok. Ayo masuk saja.”


Ervin sekaligus suster Rani masuk ke dalam ruangan Ervin. Dan setelah masuk ke dalam, kedua telah disambut dengan senyuman Naomi yang menyeringai. Senyuman yang sulit untuk diartikan begitu saja.


“Lihat sendiri, bagaimana ekspresinya. Bukankah itu terlihat mengerikan, bukan?”


Suster Rani mengangguk seraya menutup mulutnya dengan telapak tangannya_menahan tawa yang hampir saja lepas.


Tak mau lagi bertele-tele. Ervin segera melakukan prosedur yang ada, memeriksa pasien dengan sebagaimana selayaknya.


“Dok, periksa jantungnya yang benar dong, jangan begitu! Tapi, begini.” Naomi menarik tangan Ervin dan meletakkan stetoskop yang dipegang Ervin tepat di atas dadanya.


Deg.


Ervin segera beristighfar dan menepis tangan Naomi yang masih memegang tangannya. Setelah itu, Ervin berusaha menetralkan kembali degub jantungnya.

__ADS_1


Dan sepersekian detik kemudian, akhirnya setelah menghabiskan waktu hampir satu jam lamanya, kini Ervin dan suster Rani mampu bernapas lega. Meskipun saat menangani tadi Naomi banyak tingkah, menggoda Ervin selayaknya perempuan pengggoda.


“Alhamdulillah akhirnya selesai juga. Semoga saja kita tidak aan medapatkan pasien seperti itu lagi. Benar-benar pasien gila, amit-amit.” Ervin kembali bergidik ngeri.


Sedangkan suster Rani kini ia melepas tawanya yang sempat tertahan.


...----------------...


Jam makan siang sudah terlewatkan, bahkan jam sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Dan waktu sholat dzuhur pun sudah hampir habis. Sehingga Ervin se-segera mungkin menuju ke mushola rumah sakit. Karena mengingat waktu yang ada, Ervin tidak akan bisa menemukan masjid terdekat.


Ervin menengadahkan tangannya ketika usai berdzikir. Ia memohon do'a_meminta kepada Allah untuk dipermudah dalam urusannya termasuk, kisah yang ingin ia rajut bersama Aurora.


“Ya Rabby ku... Aku memohon dan meminta segalanya hanya kepada Engkau. Dan kali ini hamba memohon kepada-Mu, terang dan perjelaslah langkah yang harus aku ambil dalam kisah yang ingin aku mulai bersama dengan perempuan yang diam-diam aku cintai.”


“Ya Rabb... Jika kami berjodoh maka, mudahkanlah langkah ini.Tetapi, jika kami tak berjodoh maka, bahagiakanlah kami dengan pilihan kami nanti. Dan semoga Engkau lapangkanlah hati ini ketika jodoh tak memihaknya. Aamiin.”


Ervin mengaminkan do'a nya. Setelah menunaikan sholat dzuhur, Ervin berlanjut mencari tempat makan di sebuah kedai kecil. Dan Ervin menemukan makanan yang pas dan pasti kerap sekali ia merasakannya. Selain harganya yang murah dan rasanya bisa dijamin lezat.


“Mang, bakso nya ya, seperti biasa,” pesan Ervin kepada penjual.


“Siap.” Mang dadang pun mengacungkan jempol.


Saat menunggu pesanannya Ervin mengutak-atik benda pipih miliknya. Terlihat ada sebuah notifikasi pesan dari seseorang. Namun, Ervin tiak tahu pasti siapa pemilik nomor tersebut. Karena nomor pengrim pesan tidak terdaftar dalam kontak Ervin.


...Nomor tidak dikenal [Untukku agamaku dan untukmu agamamu. Tuhan kita berbeda, begitu juga dengan tujuan kita yang tidak akan pernah sama.]...


“Siapa Anda? Apa maksud Anda mengirim pesan itu?” tanya Ervin yang penasaran.


Lama sekali pemilik nomor tersebut tidak membalas pesan Ervin. Bahkan sampai-sampai satu mangkuk bakso milik Ervin sudah habis tak tersisa.


“Woi! Ngapain disini?” tanya Adam.


Tiba-tiba saja Adam ikut hadir makan bakso, sehingga Ervin terpaksa harus menghentikan langkah yang hendak dilakukan saat ingin menuju ke kasir dan membayar satu mangkuk bakso miliknya tadi.


“Pertanyaan nggak waras itu namanya. Ini tempat apa coba?” tanya Ervin yang sama saja tidak jelasnya.


“Kedai bakso lah, masa iya tempat bertemu pasien aneh.” Adam terkekeh geli.


“Ngapain malah ketwa begitu coba. Lagian sih, sudah tahu tempat makan bakso malah nanya ngapain disini. Dodol jadi orang deh,“ celetuk Ervin.


Dan keduanya tertawa bersama. Tetapi tawa itu harus dihentikan ketika ERvin kmebali mendapatkan pesan balasan dari nomor yang tidak dikenalnya_nomor yang tidak ada dalam daftar kontaknya.


Nomor tidak dikenal [Aku... Perempuan yang kamu tuju saat ini, Ervin. Dan aku, aku akan tetap mengingat ucapan itu dari bibirmu Ervin. Karena kenyataan dalam hidup kita sangatlah berbeda. Dan aku... Aku pun juga belum siap jika diminta untuk memeluk agamamu itu.]


Ervin terdiam, ia berusaha mencerna setiap kata yang tertulis di sana. Dalam setiap kata yang tertulis membuat Ervin merasa tertampar keras dengan kenyataan yang sulit untuk diterjang.


Kratakk...

__ADS_1


Setelah memahami setiap kata tersebut, hati Ervin bepotek-potek.


🌹🌹🌹


__ADS_2