
...Sejauh apapun kita melangkah jika, tidak mendapatkan ridho dari Allah maka akan percuma. Dan apabila ingin mendapatkan ridhoNya maka sertakan kehadiranNya dalam setiap langkah kita....
...----------------...
Ervin dan semua yang ada di ruang tunggu hanya saling pandang saja ketika suara panggilan darurat untuk tim medis terdengar begitu keras. Di mana pasien memang mengalami henti jantung.
“Ada apa ini?” tanya Ervin pada Aurora saat ikut berlari menuju ke ruang ICU.
Deg!
Kedua netra Aurora menatap Laura yang berdiri tidak jauh dari Ervin.
“Dokter Aurora saya bertanya ada apa sebenarnya?” tanya Ervin dengan tegas.
Aurora yang tadinya tidak fokus, mendengar suara lantang dan tegas Ervin seketika ia tergagap.
“A-a... Itu...” Aurora memejamkan kedua matanya sejenak seraya menghembuskan napasnya dalam.
“Tadi ada operasi yang dilakukan dokter residen tanpa ada pendamping dokter senior. Dan katanya operasinya sempat berhasil, tapi...” Aurora menggantungkan ucapannya.
Ervin yang mampu menangkap kemana jalan bicara Aurora seketika jiwanya telah meronta. Penampilan beringas seorang dokter kini ia tampilkan di depan semua orang.
“Ervin, kamu mau kemana?” tanya Aurora.
“Apa kau tak mendengar, Dokter Aurora?” Ervin berbalik bertanya.
“Aku tahu suara panggilan itu. Tapi itu bukan ditujukan pada kita, Dokter Ervin. Biarkan saja mereka yang bertanggungjawab atas operasi yang mereka lakukan.” Aurora berusaha mencegah Ervin.
“Kau terlalu bodoh menjadi seorang dokter. Masih bisakah kau berpikir seperti itu disaat genting seperti ini, hah? Dan maaf, karena aku tak akan melakukan apa yang kau katakan.”
Ervin merapikan snelinya dan menuju ke ruang ICU dengan sedikit berlari. Dan tidak lama kemudian dua dokter residen dan beberapa perawat yang memang melakukan operasi tadi telah tiba. Melihat ada Aurora di sana wajah mereka berubah, mereka memperlihatkan kegugupan dan rasa takut yang mendalam.
“Berhenti disini kalian! Di dalam ada dokter Ervin, jika kalian semua tidak mau kena marah dokter Ervin lebih baik kalian diam dan ... TUNGGU.” Aurora mempertegas ucapannya.
Tidak ada yang bisa membantah ucapan dokter senior, hingga mereka pun menunggu di ruang tunggu. Sedangkan Aurora, ia ikut masuk ke dalam berniat ingin membanti Ervin. Jika saja, memang Ervin membutuhkan bantuannya.
__ADS_1
Karena ruang ICU adalah ruang yang khusus untuk pasien maka, Laura maupun Humaira tidak bisa memaksa ikut ke dalam untuk mencari tahu bagaimana kondisi pasien yang berada di dalam sana.
‘Ya Allah, saya pasrahkan semuanya kepadaMu. Jika memang Bang Ervin akan bertemu dengan dokter Aurora bahkan harus kembali bekerjasama saya ikhlas. Saya akan menerima semua takdir yang akan terjadi pada saya.’ Laura bermonolog dalam hati.
...----------------...
“Siapkan alatnya, segera! Kita tidak punya banyak waktu.”
Ervin memerintahkan beberapa tim medis yang memang sudah biasa melakukan tugas darurat. Dengan langkah cepat mereka bergerak menyelamatkan pasien. Mereka kerahkan semua tenaga agar detak jantung pasien segera kembali. Akan tetapi, semaksimal mungkin seorang dokter dan tim medis yang lain berusaha menyelamatkan jika, Allah sudah berkehendak lain maka qadarallah.
Dibalik usaha mereka di luar sana juga ada keluarga pasien yang tak hentinya melantunkan doa untuk kesembuhan.
“Kita tidak boleh mudah menyerah. Selama ada celah kita harus bisa semaksimal mungkin bekerja.” Semua tim mengangguk, termasuk Aurora.
Keringat Ervin bercucuran dengan deras memenuhi seluruh tubuhnya. Namun, Ervin menepis semuanya, yang terpenting baginya adalah keselamatan pasien.
Tut... Tut... Tut...
Setelah berjuang mengembalikan detak jantung pasien tersebut akhirnya, perjuangan itupun tidak sia-sia. Detak jantung pasien telah kembali.
“Dokter Ervin memang hebat! Kami bangga dengan hasil kerja keras Anda, Dok.” Perawat Alfan mengacungkan jempolnya.
Bukan hanya Alfan, bahkan yang lainnya ikut memberi tepuk tangan karena merasa bangga memiliki dokter hebat dan jenius seperti Ervin.
...----------------...
Di ruang khusus yang kerap dijadikan tempat rapat oleh dokter ahli bedah jantung sebelum melakukan operasi Ervin menatap tajam dua dokter residen dan juga beberapa perawat yang lainnya.
“Perlu kalian semua tahu dan diingat. Kita sebagai dokter tidak asal dalam melakukan tindakan. Iya jika berhasil, kalau kejadiannya seperti tadi bagaimana? Apa kalian bisa mempertanggungjawabkan segala kemungkinan yang ada?”
Mereka tidak menjawab, hanya mendunduk dengan segala kebisuan yang ada. Karena mereka benar-benar merasa ketakukan dengan tatapan tajam Ervin dan tindakan Ervin yang amat tegas.
Hening...
Satu detik...
__ADS_1
Dua detik...
“Maafkan saya jika saya mengatakan hal ini pada kalian. Disini saya hanya ingin mengingatkan saja jika, kita harus memperbaiki diri. Jangan sampai hal seperti tadi terulang kembali.” Nada Ervin mulai menurun.
“Dokter yang hebat akan melakukan tindakan yang tepat. Dokter yang hebat akan memikirkan segala kemungkinan yang ada. Jika dalam operasi akan berhasil tetapi, belum tentu detak jantung pasien akan tetap berdetak seperti sedia kala. Dan kita sebagai dokter ahli bedah jantung harus bisa memastikan jantung pasien.”
Mereka mengangguk mantap setelah mendongakkan kepala mereka dan menatap Ervin. Rasanya menemukan dokter yang bisa memberikan motivasi dan semangat untuk dokter yang lain tidaklah mudah.
“Terimakasih, karena Dokter Ervin sudah mengoreksi kita dengan sangat baik. Kami akan berusaha untuk melakukan yang terbaik. Maafkan kami jika kami gagal dalam berperang di meja operasi.” Salah satu dokter residen memberanikan diri memohon maaf.
“Iya, kami maafkan. Dan satu hal lagi, sejauh apapun kita melangkah jika, tidak mendapatkan ridho dari Allah maka akan percuma. Dan apabila ingin mendapatkan ridhoNya maka sertakan kehadiranNya dalam setiap langkah kita.” Disini dalam arti membaca doa dengan keyakinan masing-masing.
Mereka mengangguk pasti. Dan setelah semua masalah itu selesai pertemuan pun telah dibubarkan. Ervin memutuskan untuk mencari keberadaan Laura yang ia abaikan beberapa waktu lalu.
“Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan.” Suara operator yang menjawab.
Beberapa kali Ervin sudah menghubungi Laura tetapi, tidak ada jawaban yang mampu membuat hati Ervin merasa tenang.
“Ervin,” ucap Aurora lirih.
Ervin terkejut ketika Aurora dengan lancang nya memeluk dari belakang. Dan Ervin jiga tidak mengerti apa yang menjadi tujuan Aurora sebenarnya.
“Lepaskan Aurora! Jangan bertindak bodoh!” tegas Ervin.
Ervin benar-benar tidak nyaman dengan keadaan yang saat ini terjadi. Rasanya malu, ingin ia segera menenggelamkan dirinya ke dalam bumi saja. Namun, hal itu sudah terlanjur terjadi, banyak pasang mata pun yang memandang keduanya.
“Aurora. Sekali lagi aku tegaskan sama kamu, lepaskan pelukanmu! Jika tidak, maaf saja kalau aku akan melepaskannya secara paksa.” Seolah Ervin sudah tidak bisa menahan amarahnya.
Dan alhasil, Ervin melepas secara paksa pelukan Aurora. Membuat Aurora merasa sedikit kesakitan saat tangannya terkena gelang jam milik Ervin.
“Aurora, kamu kan tahu kalau aku sudah menikah. Bahkan kamu dengan sadarnya memilih Abimana sebagai calon suamimu. Dengan seperti itu harusnya kamu tahu apa yang dilakukan.”
“Kita harus bisa memperbaiki diri masing-masing demi menghargai pasangan kita kelak. Tidak melakukan hal yang di luar nalar seperti ini. Sungguh, aku kecewa sama kamu, Ra.”
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1