
...Berpura-pura buta, berpura-pura tuli dan berpura-pura keras hati. Mungkin, itulah yang memang harusnya terjadi....
...----------------...
Pov Aurora
Saat berada di Dopplo.me coffee Aurora merasakan patah hati yang teramat. Cukup merasa sadar dengan hukum yang terjadi bahwa untuk bersatu dengan Ervin akan terasa sulit.
‘Kamu mengatakannya dengan amat jelas hingga terdengar di telingaku Ervin. Dan itu menamparku begitu keras. Amat jelas jika kita memang tidak akan bisa menyatu dan kamu pun sudah memberi lampu hijau pada Abimana tanpa persetujuanku.’ Aurora bermonolog dalam hati.
Setelah Ervin meninggalkan cafe, tak lama kemudian Laura dan juga dokter Humaira ikut pergi. Hingga hanya ada Abimana dan Aurora saja yang masih tinggal.
“Bagaimana, Ra? Sudah dengar sendiri kan, apa yang diucapkan Ervin. Dan kamu juga lihat sendiri jika, Ervin memang tidak memiliki perasaan padamu. So, buat apa kamu menunggunya?”
“Aku tidak minta pendapatmu tentang perasaan Ervin terhadapku, Abi. Jika memang Ervin memberikan lampu hijau padamu, sekarang kamu harus berhadapan deganku. Dan itupun bukan berarti Ervin tidak perduli. Hanya saja ... Dia memberikan kebahagiaan padaku dengan memilih mana yang tepat untuk masa depanku nanti.” Setidaknya Aurora masih berpikir positif tentang keputusan Ervin.
“Perlu kamu tahu juga, lawanmu bukan hanya aku saja tetapi, masih ada papa da kakak ku.” Aurora menatap tajam Abimana.
Karena merasa risih dengan keberadaan Abimana di dekatnya, Aurora [ergi begitu saja tanpa berpamitan. Rasa tidak sukanya terhadap Abimana masih belum bisa hilang dalam diri Aurora.
Bukan berarti Abimana tidak memiliki ketampanan tetapi, Aurora memang tidak menyukai Abimana. Dan perasaan cinta memang tidak bisa dipaksakan.
...----------------...
Deg.
Suara yang tak asing sukses membuat Ervin menoleh pada pemilik suara. Dan di sanalah ada Aurora.
“Eh, ternyata ada dokter Aurora yang cantik disini. Dan pasti ... Perempuan yang dokter maksud dokter Aurora, kan? Cantik dan ganteng, cocok itu.”
Aurora tersenyum menanggapi ucapan anak remaja itu. Aurora benar-benar sudah berubah.
“Kami memang dokter yang cantik dan juga ganteng tetapi ... takdir tidak bisa menyatukan kita, dek. Karena kami berbeda agama, tidak baik jika menikah dengan dua agama.” Aurora kembali tersenyum.
Ervin merasa kagum dengan jawaban Aurora, melalui tatapan itu Ervin tahu jika Aurora mengatakannya tanpa memiliki maksud yang lain.
Setelah melakukan visite di sore hari Ervin melepas rasa lelahnya dengan duduk bersantai di rooftop. Udara sore itu cukup menyegarkan sehingga membuat Ervin mampu melepas penat yang menjadi beban dalam pikirnya.
“Kata orang kopi adalah minuman yang mampu memberikan semangat selain nikmat.” Seseorang memberikan segelas kopi pada Ervin.
Ervin mendongak, ia pun menankap sosok yang tak asing baginya. Ervin mengernyitkan kedua alisnya kala perempuan itu mengambil duudk di sebelahnya.
__ADS_1
“Minum saja kopinya! Aku tidak memberikan campuran apapun kok, tenang saja.”
“Dan aku juga tahu kalau kamu sebenarnya memiliki perasaan kan, terhadap dokter Aurora. Da aku rasa ... Dokter Aurora juga memiliki perasaan yang sama. Tapi ... Kenapa kamu membiarkan lelaki lain mendekati dokter Aurora?” tanya dokter Humaira.
Ervin menoleh setelah meneguk kopi, lalu ia menatap sejenak dokter Humaira yang di berada di sampingnya.
Ervin menghembuskan napas panjang lali, ia pun berkata kepada dokter Humaira.
“Hubungan kita memang tidak mendapatkan restu dari semesta. Aku dan Aurora berbeda agama, rasanya pun mustahil untuk bersatu. Dan aku ... Ikhlas melepasnya dengan lelaki lain. Seikhlas awan mencintai hujan.”
“Oh ...” Dokter Humaira ber‘oh’ saja.
Hening ...
“Lalu, kalau seandainya saja dokter Aurora bersama dengan dokter Abimana apa yang akan kamu lakukan?” tanya dkter Humaira tanpa dosa.
“Berpura-pura buta, berpura-pura tuli dan berpura-pura keras hati. Mungkin, itulah yang memang harusnya terjadi. Karen sudah jelas takdir menentukan hal yang bebeda. Namun, tak akan mengubah persahabatan yang sudah ada.” Ervin menghela napas lega.
Memejamkan mata sejenak adalah hal yang Ervin kerap lakukan untuk menghilangkan pikiran yang memberatkan. Sepersekian detik kemudian, obrolan kembali terhenti hingga tiba waktunya Ervin untuk melakukan jadwal operasi pada jam lima sore.
“Fighting dokter Ervin! Tenang saja, Allah adalah Maha yang paling seadil-adilnya. Dan Allah tidak akan membebani umatnya melebihi batas kemampuannya.” Dokter Humaira melayangkan tinjuannya ke udara.
Ervin menggeleng saja, rasanya tak percaya jika dokter Humaira akan bersikap ramah dan memberikan semangat padanya. Merasa lucu tetapi ... Juga aneh, dan Ervin menyangkal perasaan nyaman yang ada dalam dirinya saat mendengarkan celoteh panjang dari dokter Humaira. Hal itupun membuat Ervin semakin penasaran dengan siapa dokter Humaira yang sebenarnya.
...----------------...
“Sudah, Dok. Tinggal menunggu dokter pembantu saja.” Perawat pun memberikan keterangan.
Ervin manggut-manggut. Sambil menunggu dokte pembanu Ervin mengobrol sejenak dengan suster Rani membahas tentang jantung pasien yang akan di operasi.
Sepersekian detik kemudian, dokter pembantu pun datang. Seketika itu Ervin mengabil posisi yang seharusnya ia berada.
“Sebelum kita mulai operasinya, saya selaku dokter pemimpin pembedahan sore ini meminta kepada kalian semua atas kerjasama yang baik. Dan alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu sesuai keyakinan masing-masing. Berdoa di mulai.”
Semua menunduk, membaca doa agar dilancarkan operasi terhadap pasien sore ini. Ervin mulai menajamkan konsentrasi dan mata. Pekerjaan yang menguji adrenalin ini membuat Ervin merasakan sesuatu hal tersendiri. Dan semangatnya pun tak akan patah hanya kerumitan dalam hidupnya terutama, tentang cinta.
“Scalpel.”
Ervin melakukan operasi itu dengan sangat baik. Profesor Nathaniel yang mengamati kinerja Ervin dari balik kaca pembatas merasa bangga telah memiliki anak didik seperti Ervin.
Selain mampu memberikan pelayanan yang baik terhadap pasien, Ervin juga mampu mengembangkan nama RSUP H. Adam Malik hingga mendunia.
__ADS_1
“Alhamduillah berhasil terangkat juga. Sekarang, lakukan tahap selanjutnya... siapkan alat kejut jantung!” ucap Ervin merasa lega.
Ervin menjepit jantung dan melakukan pendeteksi untuk memastikan jika jantung mampu berfungsi dengan baik.
“Satu.”
“Dua.”
“Tiga.”
Dalam hitungan ketiga Ervin mulai melakukan kejut jantung.
Lima belas menit kemudian...
Deg ... Deg ... Deg ...
Jantung pasien mampu berfungsi dengn baik meskipun cara kerja jantung masih berdetak pelan. Karena jantung masih memerlukan proses menyesuaikan.
“Tahap terakhir, Saya rasa ... Dokter Aurora bisa melanjutkannya. Saya percayakan kepada Anda.” Ervin mengangguk mantap.
Aurora yang sudah mengerti bagaimana cara menjahit luka pembedahan ia mengangguk mantap_menerima rasa percaya yang diberikan Ervin padanya.
Aurora mulai melakukan tugasnya, tahap terakhir dalam pembedahan. Sedangkan Ervin, ia sudah keluar dari ruang operasi dan menuju ke ruang ganti.
Sepersekian detik kemudian, setelah berdiri sekitar lima jam lamanya Ervin memutuskan untuk menuju ke kantin rumah sakit. Pasalnya, saat makan siang tadi ia hanya makan sebungkus roti pemberian dokter Humaira untuk menemani kopi. Dan kini Ervin mulai merasakan lapar yang tidak bisa di tahan.
...----------------...
Aurora, setelah menyelesaikan tugasnya ia mecari Ervin hendak mengatakan rasa terimakasihnya karena bantuan Ervin lah ia berhasil mengembalikan rasa percaya dirinya saat berada di ruang operasi.
“Alfan, apa kamu melihat dokter Ervin berada dimana?”
“Emm ...” Alfan nampak berpikir. “Dokter Ervin sepertinya tadi berada di kantin deh, dok. Coba Anda cek saja di sana.”
“Oh iya, thank you, Alfan.” Aurora mengulas senyum.
Seketika itu juga Aurora menuju ke kantin dengan sedikit berlari agar cepat sampai.
Deg.
Pemandangan yang nampak di depan Aurora sungguh membuatnya menitihkan air mata dari ujung matanya.
__ADS_1
🌹🌹🌹