Couple Doctor

Couple Doctor
Hiduplah Seperti Matahari


__ADS_3

...Iya benar memang bersabar itu tidak semudah kita membalikkan kedua tangan. Tapi orang bersabar itu jauh lebih indah hidupnya....


...----------------...


Humaira menatap Ervin kala ia mendengar nama yang asing baginya telah disebut. Namun, nama itu seakan ingin Humaira ketahui bagaimana kehidupannya dan seperti apa orangnya.


“Apa kamu ingin mendengar sedikit tentang Haura?” tanya Ervin tanpa mengarahkan tatapannya pada Humaira.


“Hiks ... Hiks ...” Humaira menyeka air matanya lalu, ia mengangguk.


Ervin tersenyum, ia memejamkan kedua matanya sejenak lalu, dalam gelapnya mata yang terpejam Ervin menceritakan bagaimana sosok Haura di matanya.


“Haura itu...” Ervin menceritakan secara keseluruhan tentang Haura.


“Bagaimana? Setelah mendengar bagaimana hidup Haura bersama bunda Rania dan Om Haidar, apa ... Kamu masih ingin berprotes tentang hidupmu yang jauh lebih indah dan jauh lebih patut untuk disyukuri?”


Hening...


Humaira masih enggan untuk mengeluarkan suaranya. Ervin pun cukup paham, hingga ia hanya diam dan masih menemani Humaira duduk di rooftop.


Satu detik...


Dua detik...


“Sabar saja, ini hanya ujian untukmu karena Allah menyayangimu sebagai hamba-Nya.”


“Iya benar memang bersabar itu tidak semudah kita membalikkan kedua tangan. Tapi orang bersabar itu jauh lebih indah hidupnya.”


“Kembalilah, temani Laura. Karena Dia memikirkanmu dan sebagai seorang suami aku tidak ingin Laura jatuh sakit. Bukan hanya Laura saja, tetapi kedua orang tuamu dan juga bunda Rania menunggumu.”


Ervin berdiri, ia memutuskan untuk meninggalkan Humaira. Akan tetapi, saat kaki Ervin siap untuk dilangkahkan tiba-tiba aja harus terhenti saat suara itu bertanya dengan lantang.


“Apa kamu mencintai Laura? Dan sebagai seorang kakak, aku tidak ingin adikku terluka karena semata dijadikan pelampiasan.” Humaira berdiri dan menatap punggung kokoh Ervin.


Ervin berbalik, ia mengulas senyum yang amat mendamaikan. Tetapi, bagi Humaira senyuman Ervin sulit untuk diterawang oleh tatapannya.


“Cinta? Jangan tanyakan sekarang hal itu, tapi perlu kamu tahu kalau aku tidak suka mempemainkan perasaan seorang wanita manapun. Apalagi Laura yang sudah resmi menjadi wanita halalku.”


“Dan jika kamu pikir aku masih memiliki perasaan cinta terhadap Haura, jawabannya tidak. Begitu juga dengan Aurora, perasaan itu perlahan akan terkubur karena, aku akan mengenal sebuah kalimat ‘tresno jalaran soko kulino’.”


Ervin kembali berbalik dan tidak mepedulikan lagi Humaira akan berpikir bagaimana tentangnya. Karena bagi Ervin tujuan utamanya sudah selesai yaitu, mengingatkan Humaira tentang yang baik.


...----------------...

__ADS_1


Ervin menarik dua ujung bibirnya setelah bertemu dengan keluarga barunya. Keluarga yang kesekia_ yang mampu menerimanya dengan segala kekurangannya. Dan Ervin sangat bersyukur dengan semua itu.


“Jangan khawatir, Humaira akan kembali.” Ervin mengambil duduk di sebelah Laura.


“Apa bang Ervin yakin kak Humaira akan kembali?” tanya Laura memastikan.


Ervin mengangguk mantap. Dan benar saja setelah lima belas kemudian Humaira datang dengan langkah pelan. Bunda Rania yang melihat kedatangan HUmaira ingin seklai memeluknya dalam dekapan tapi, niat itupun diurungkan perilah hanya ingin mengerti bagaimana perasaan Humaira saat ini.


Sedangkan pak Irham da bu Veronica merasa lega melihat kembali Humaira yang sudah tidak menangis seperti tadi.


“Semoga saja Humaira sudah jauh lebih tennag daripada tadi ya, Pa.” Bu Veronica melingkarkan tangannya di lengan pak Irham.


“Iya, Ma. Semoga saja begitu.” Pak Irham mengharapkan hal yang sam.


Perlahan langkah Humaira menuju pada bunda Rania. Dan setelah berada di depan bunda Rania Humaira secara tiba-tiba memeluk bunda Rania.


“Maafkan saya yang sudah terlalu egois tanpa mendengarkan penjelasan Anda.” Dalam pelukan itu Humaira kembali menangis.


Bunda Rania mengusap punggung Humaira lalu, bunda Rania melerai pelukan tersebut dan mengusap lembut air mata yang mengalir_membasahi pipi Humaira.


Dan permasalahn itupun sudah usai, Humaira mampu menerima kenyataan yang ada. Bahkan ia tidak lagi kecewa dan sampai membenci bunda Rania.


Dan tepat pada pukul 23.00 WIB pak Irham, bu Veronica dan bunda Rania berpamitan. Mereka diminta untuk pulang dan lekas beristirahat. Sedangkan Ervin, ia harus berjaga dan menjadi dokter yang siaga saat pasiennya masih dalam mode pengawasan.


“Terimakasih karena kamu tadi udah mengatakan semuanya padaku.”


“Sama-sama, itulah gunanya sesama manusia ... Saling mengingatkan.”


“Memangnya Abang mengatakan apa sama kak Humaira? Adek boleh tahu, kan?”


“Emm... Apa ya... Kenapa memangnya, hm? Adek cemburu ya?”


Seketika Laura melambaikan tangannya seraya menggeleng cepat.Laura hanya tidak mau jika ia memiliki pikiran yang buruk terhadap Ervin maupun Humaira.


Ervin mengusap puncak kepala Laura. Dan hal itu membuat Laura tepaku sejenak. Laura merasakan sisi lembutnya Ervin yang sudah memanjakan dirinya meskipun hanya sekedar mengusap puncak kepala saja.


“Kalau cemburu juga tidak apa lagi, itu tandanya adek sayang dan cinta sama Abang.” ERvin tersenyum.


“Dan masalah tadi, Abang mengatakan ...”


“Hiduplah seperti matahari. Ketika matahari hadir memancarkan cahayanya, matahari tidak akan memikirkan apakah cahayanya itu akan diterima atau tidak. Matahari juga tidak akan memikirkan apakah hadiirnya akan dimanfaatkan atau tidak. Dan matahari akan ikhlas menerima perlakuan manusia kepadanya.”


Laura mengangguk sembari berkata oh saja.

__ADS_1


“Dan itu, pesan Abang untuk Neng juga.” Kembali Ervin mengusap puncak kepala Laura.


Dan hal itu sungguh membuat Humaira merasa iri saja. Bahkan keberadaannya seolah tidak dianggap oleh pasangan yang lagi bucin itu.


Namun, melihat Laura yang tersenyum setelah kepergian sang kekasih. Membuat hati Humaira ikut bahagia.


“Tidur sana gih! Abang harus jaga malam, maaf ya tak bisa temani Adek malam ini. Dan ...”


“Hust. Jangan dilanjutin lagi ngomongnya, ada kak Humaira itu malu.” Laura mencubit lengan Ervin.


Ervin terkekeh, merasa lucu melihat tingkah Laura yang mendelik. Dengan di antar perawat Alfan Humaira dan Laura menuju ke ruangan Ervin. Sedangkan Ervin sendiri kembali masuk ke ruang ICU dan memeriksa tanda vital Leon. Karena Leon harus diperiksa paling tidak tiga jam sekali.


...----------------...


“Silahkan masuk! Ini ruangan Dokter Ervin.” Perawat Alfan membuka pintu ruangan Ervin.


“Terimakasih sudah mengantarkan kami.”


“Sama-sama, Dokter Humaira. Silahkan beristirahat!”


Humaira dan Laura masuk ke dalam, sebelum melepas lelah yang sudah dilalui seharian sejenak mereka saling mengobrol satu sama lain. Dan topik mereka tak lain adalah tentang Ervin, dokter yang masih menjadi dokter trending di rumah sakit tersebut.


“Selamat Ra, karena kamu sudah menemukan lelaki yang tepat. Kakak rasa ... Ervin adalah lelaki yang baik.” Humaira menilai Ervin dari segi pandangannya.


“Tidak hanya baik kak, dia itu ... Dokter yang hebat juga. Andai kakak tadi tahu bagaimana marahnya saat dokter Aurora lupa melakukan tugasnya yang harus memantau kak Leon... Menyeramkan.”


“Tapi, akhirnya dia merelakan waktu istirahatnya untuk berjaga. Menjadi dokter siaga tanpa mempedulikan kesehatan tubuhnya yang kurang baik.”


Humaira mengangguk_membenarkan hal yang mengagumkan dari sosok Ervin.


...----------------...


Ervin sibuk melakukan pemeriksaan malam itu, hingga tanpa ia sadari ada seseorang yang memperhatikannya dari belakang.


“Kamu memang dokter hebat.”


Orang tersebut mengagumi cara kerja Ervin yang konsisten.


🌹🌹🌹


Sedikit dulu ya gaes, besok dilanjut lagi. Jangan lupa boom like sebagai tanda jejak.


“Oh iya, sudah malam lebih baik kalian berdua segera tidur saja. Dan aku rasa, kalian tidur saja di ruanganku, mungkin muat untuk kalian berdua.

__ADS_1


__ADS_2