Couple Doctor

Couple Doctor
Penikmat Kopi dan Senja


__ADS_3

...Kepada hati yang telah patah, semoga segera mendapatkan kembali kepingan yang patah agar kembali utuh....


...----------------...


Pemilik mobil Honda HR-V masih setia mnunggu Ervin untuk masuk ke dalam. Sedangkan Ervin sendiri masih terpaku, ia tidak menyangka jika dokter Humaira memberikan tumpangan padanya.


“Ayo dokter Ervin, cepat masuklah! Keburu hujannya nanti turun loh,” ujar dokter Humaira.


Beberapa detik kemudian, Ervin tersadar dari lamunannya. Dan setelah itu, menatap ke arah langit yang nampak mendung. Hingga malam itu seolah begitu terlihat gelap meskipun banyak lampu jalan dan lampu perumahan yang menyala.


“Ah iya, tapi ... Bolehkan saya duduk di belakang saja?” tanya Ervin memastikan.


“Iya, silahkan!” jawab dokter Humaira sembari mengangguk.


Ervin pun masuk, tak lama setelah Ervin masuk mobil pun telah dilajukan kembali membelah jalanan kota medan yang sepi. Karena, cuaca yang tidak mendukung membuat semua orang yang hendak berpergian mengurungkan niat mereka.


Selama berada di jalanan tak ada obrolan yang menemnai keduanya, sehingga hanya keheningan yang menemani selama berada di perjalanan itu.

__ADS_1


...----------------...


“Bagaimana dengan Ervin, sepertinya Dia ... Sudah tahu niat kita. Bukan begitu kan, Ra?”


“Huft! Perjalanan hidup itu memang terasa sulit ya. Dan kita tidak bisa memilih jalan yang seperti apa yang akan kita tempuh.”


“Dan kamu benar, Ervin sudah tahu semuanya. Bahkan Dia mendukung hubungan ini. Tapi ... Boleh aku bertanya padamu, Abi?”


Aurora menatap tajam Abimana yang sedang duduk di sebelahnya. Di mana keduanya tengah duduk di salah satu kursi tunggu.


“Bertanyalah, selagi aku bisa menjawab akuakan menjawabnya. Tapi ... Jika aku tidak bisa menjawab maka, aku akan angkat tangan baby.” Abimana tersenyum lebar.


“JIka aku tidak bisa jatuh cinta padamu, Bagaimana? Apa kamu masih mau menjadikan aku ... Calon istrimu?”


“Hahaha, Ra, jangan berkata bodoh! Don't worry! Aku tahu perasaan itu tidak bisa dipaksakan terutama, hati. Cinta, aku yakin dengan seiringnya waktu aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku.”


Abimana menggenggam tangan Aurora dan seolah melalui tatapan matanya ia berusaha meyakinkan Aurora yang masih meragu.

__ADS_1


...----------------...


Setelah melakukan perjalanan akhirnya Ervin dan dokter Humaira pun sampai di depan pelataran rumah Ervin.


“Benar ini rumah dokter Ervin?” tanya dokter Humaira.


“Iya benar.” Ervin pun mengangguk. “Kenapa ya memangnya? Apa kamu ... Berpikir jelek dengan keadaan yang terlihat dari rumah saya ini?”


“Ah tidak, bukan begitu. Hanya saja ... Saya merasa tidak asing saja dengan lingkungan yang ada di perumahan ini.” Dokter Humaira memperlihatkan sederet giginya yang runcing.


Ervin manggut-manggut saja. Ervin begitu abai dengan ekspresi dokter Humaira tentang rumahnya itu. Dan bahkan setelah mengucapkan satu kata, tak lain adalah rasa terimakasihnya karena, sudah diberikan tumpangan Ervin pun melengos pergi. Masuk ke dalam rumah tanpa menawarkan pada dokter Humaira untuk ikut masuk ke dalam.


‘Ish, masa iya cuma mengucapkan satu kata doang. Terimakasih dokter Humaira. Setelah masuk pula,” sungut dokter Humaira.


dokter Humaira pun tidak mau berdiam terlalu lama di depan rumah Ervin, nanti justru dikira sedang mengharapkan sesuatu. Dan ia pun memutuskan untuk pergi, melajukan mobilnya yang cukup mahal itu.


...----------------...

__ADS_1


Ervin duduk bersantai di depan ruang television setelah mandi dan sholat isya'.


__ADS_2