
...Meskipun hati menolak tetapi lisan telah berkata iya maka, yang akan tetap terjadi hanyalah kata ‘iya’....
...----------------...
Trraakkkk...
Seperti itulah kira-kira hati Ervin yang berpotek-potek. Dan jika ditanya ikhlas, maka ia akan bersaha untuk menguatkan hatinya, melapangkan dada dan memperluas sabarnya.
Untuk menutupi luka yang ada Ervin berusaha menarik dua ujung bibirnya hingga membentuk senyuman yang tulus.
“Selamat ya untuk kalian berdua. Semoga acaranya nanti diberikan kelancaran.” Ervin mengulurkan tangannya hendak memberikan ucapan selamat.
“Terimakasih do'anya kawan. Kalian jangan lupa hadir ya! Satu minggu lagi diadakan di gedung, karena kami menghargai yang beragam Islam seperti kalian berdua dan yang lainnya.” Abimana membalas tangan Ervin.
Ervin dan Humaira mengangguk, mengiyakan undangan secara lisan dari bibir Abimana. Sedangkan Aurora, ia hanya bisa diam dan memperhatikan setiap gerakan Ervin.
...----------------...
Senja yang memiliki arti tersendiri bagi sang penikmatnya, seperti Ervin itu sendiri. Sepulang dari rumah sakit Ervin melajukan motornya ke pantai terdekat. Dan ketika jam masih menunjukkan pukul 15.30 WIB senja telah memancarkan cahaya oranye nya dengan sempurna. Mendung pun membentuk mega yang elok.
“Ya Rabb ... Jika takdirku hanya bisa sekedar menjadi sahabatnya saja maka lapangkanlah hatiku dalam menerima ketidak bersamaan ini. Dan semoga saja Dia ... Bahagia degan lelaki yang membersamainya.” Ervin bermonolog dalam hati.
Masih dalam posisi yang sama, memejamkan mata seraya menghirup udara sore di pantai. Cahaya senja yang menerpa wajah Ervin seolah memberikan kenikmatan dan memberikan energi tersendiri baginya.
Tring ... Tring ...
Ponsel Ervin berdering tanda ada panggilan masuk ke nomornya. Dan mau tidak mau Ervin yang menikmati senja harus membuka matanya perlahan. Lalu, ia merogoh saku celananya dan memastikan nama siapa yang berada di panggilan masuk.
“Humaira?” gumam Ervin. “Kenapa juga Dia menghubungiku?”
Ervin mengrnyitkan keningnya. Rasa penasaran yang dimiliki Ervin pun tida terlalu besar, sehingga ia mengabaikan panggilan telepon dari Humaira. Bukan tidak perduli, hanya saja Ervin masih ingin menikmati kembali senja yang tidak ingin disia-siakan.
Namun, baru sebentar Ervin memejamkan kembali kedua matanya ponselnya lagi-lagi berdering dengan nama yang sama. Dan mau tidak mau Ervin harus menerima panggilan tersebut.
“Halo, assalamu'alaikum.”
“Walaikumsalam. Ervin, tolong bantu aku sekarang juga! Ini ... Ini semua tentang ... Laura.” Terdengar dari seberang suara Humaira yang khawatir.
Ervin menyipitkan kedua matanya lalu, ia pun bertanya yang sebenanya terjadi.
...----------------...
__ADS_1
Sesampai di tempat di mana Humaira berada Ervin menatap tajam gedung yang ada di depannya. Rasanya tidak akan percaya jika Laura masuk dan melakukan hal senekat di dalam gedung itu.
“Bagaimana bisa Dia masuk ke dalam, Humaira? Sedangkan kamu tahu jantungnya tidak bisa ditekan dengan suara keras seperti itu. Aplagi dengan perilakunya,” ujar Ervin yang memberikan penekanan pada kalimatnya.
Humaira yang merasa bersalah dengan yang terjadi hanya bisa menitihkan air mata tanpa membuka suara lagi.
“Katakan apa yang sebelumnya terjadi hingga Laura masuk ke dalam, Humaira. Jangan diam saja seperti ini!” bentak Ervin.
“Kamu kenapa membentak ku, Ervin? Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan aku juga mendapatkan kabar ini dari mama aku.” Humaira tak mau kalah begitu saja.
“Astaghfirullahalazim.” Ervin mengusap dadanya. “Ok. Sorry, aku tidak bermaksud. Sekarang ... Lebih baik kita masuk saja dan mencari Laura.”
Mendengar usul dari Ervin Humaira langsung masuk dalam tempat karaoke tersebut. Tempat yang kerap disadap oleh banyak polisi karena para pengunjung dan para penghuni di dalamnya.
Karena tidak mau hanya diam saja Ervin ikut masuk ke dalam dan mencari keberadaan Laura.
“Dimana kamu dek, kakak khawatir sama kamu. Hiks ... Hiks ...”
Humaira terus memasuki kerumunan para pengunjung di bar tersebut, bahkan sesekali ia digoda oleh kaum adam yang berhidung belang. Namun, Humaira berusaha untuk abai.
Begitu halnya dengan Ervin, ia ikut mencari Laura di dalam sana. Sesekali Ervin juga digoda oleh kaum hawa. Dan bibir Ervin pun tak lepas dari suara lantunan dzikir agar tidak tergoda dengan godaan setan saat beberapa perempaun yang menjadi kupu-kupu malam di sana menggodanya.
Ervin segera mneghampiri Laura yang sedang duduk bersama beberapa lelaki yang mengitarinya.
Dan tanpa permisi Ervin mencoba menarik lengan Laura dan hendak mengajaknya keluar dari tempat yang sangatlah tidak berguna itu.
Namun, dengan segera Laura menepisnya secara kasar.
“Lepaskan! Kenapa sih narik-narik begitu saja? Nggak tahu sakit apa,” teriak Laura.
“Ok, saya mintaa kalau begitu. Tapi, sekarang kamu harus ikut saya pulang, ada Humaira kakak kamu juga kok.” Ervin bertutur lembut agar hati Laura menurut.
Namun, yang terjadi pada detik berikutnya justru semakin membuat Ervin merasa malu. Bukan hanya Ervin saja yang merasa malu, tetapi Humaira juga merasakan hal yang sama.
“Heh, lo itu siapa sih sebenarnya? Ngaca dong!”
“Sini ya, gue beritahu sama lo kalau lo lupa. Lo itu hanya dokter yang ikut merawat jantung gue. Jadi ... Lo nggak usah ikut ngatur-ngatur gue. Gue mau kemana dan gue pergi sama siapa bukan urusan lo. Sudah deh, mending sekarang juga lo pergi dari sini dan jangan ganggu gue.”
Suara yang terdengar begitu keras mampu menyayat hati seorang Ervin. Bahkan rasanya Ervin tertampar keras dengan ucapan Laura. Pasalnya, rasa perduli yang dimiliki Ervin untuk Laura terbuang sia-sia.
“Ok. Saya sangat tahu siapa saya di mata kamu, Laura. Tapi ... Sungguh sayang sekali kamu tidak tahu sama sekali siapa kamu di mata Allah, Sang Pencipta. Dan seharusnya kamu sebagai seorang perempuan memiliki rasa kadar malu yang tinggi, bukan seperti ini, Laura.” Ervin mempertegas ucapannya.
__ADS_1
“Sudahlah! Kamu tidak perlu membawa nama Allah segala. Toh, Allah tidak memberikan aku kehidupan yang adil.”
“Dengan segala kekurangan yang ada pada diriku ini, tidak ada lagi yang mau menika denganku. Dan lelaki manapun pasti juga tidak ingin memiliki pasangan yang mandul dan yang tidak sempurna sepertiku ini. Lantas, tak ada yang salah jika aku berjalan dengan mereka lelaki berhidung belang. Bahkan jika aku melayani mereka pasti tidak akan terjadi kehamilan di luar nikah.”
Plaakkk...
Humaira mulai merasa geram dengan tindakan Laura. Dunia Humaira seolah runtuh, ia merasa gagal dalam mengajarkan hal kebaikan pada Laura_adiknya. Tidak pernah disangka pula jika, Laura akan memiliki pemikiran yang buruk setelah pernikahannya mengalami kegagalan.
“Sadar, Laura! Sadar dengan ucapan kamu barusan. Dengerin kakak, biarpun kamu memiliki penyakit itu tapi, kita semua sayang sama kamu dan kita juga tidak ingin kehilangan kamu.” Tatapan seorang kakak telah meluluhlantahkan hati Laura.
Laura tertunduk, air mata telah memggenang di pelupuk matanya. Bahkan siap tumpah saat itu juga. Namun, rasa yang begitu melukai hati Laura membuatnya tetap bersi keukeuh ingin tinggal di tempat yang tidak seharusnya ia memijakkan kaki di sana.
“Jangan pernah halangi keinginanku kak! Karena aku akan tetap melakukan hal semauku selama aku senang,”
‘Drama apa ini? Dasar... gadis keras kepala. Bodohnya Dia melakukan hal seperti itu.’ Ervin mengusap wajahnya gusar.
Perdebatan pun masih tak kunjung reda. Sedangkan Humaira sudah mulai merasa lelah dengan semua itu. Bukan hanya Humaira saja, Ervin pun sampai memijat keningnya yang sudah mulai berdenyut.
Ervin tidak tahu harus melakukan apa. Rasanya ia tidak pantas jika menggendong ataupun menyeret secara paksa Laura agar keluar dari tempat memalukan tersebut. Karena Ervin tak berhak melakukan itu semua.
Akan tetapi, jika Ervin maupun Humaira tidak bisa menemukan jalan keluar lain maka, Laura akan tetap bersi keukeuh berada di sana.
“Begini saja. Aku... Aku adalah lelaki yang akan menikahimu sekarang juga.”
Laura dan Humaira yang mendengar seolah tak percaya. Keduanya terbelalak lebar, menatap tajam lelaki yang berada di depan mereka.
Ervin sendiri juga tidak percaya akan mengatakan hal itu pada Laura. Entah keputusan konyol atau bodoh yang sudah ia perbuat hanya ingin meluluhlantahkan hati seorang Laura.
Laura yang hanya dikenal sebagai pasiennya saja tetapi, kini Ervin harus berkorban perasaan demi gadis tersebut.
“Apa aku tidak salah dengar? Bukankah kamu waktu itu sudah merasa lega aku membatalkan perjodohan itu. Lalu, kenapa kamu saat ini mengatakan hal itu?” tanya Laura menatap tajam Ervin.
Ervin terdiam membisu. Ingin menjawab tetapi, ia juga tidak tahu harus menjawab seperti apa. Pasalnya, keputusan itu keluar begitu saja dari lisannya.
“Iya, saya serius. Jika perlu, sore ini juga kita datang menemui kedua orang tuamu agar pernikahan segera digelar.” Ervin ikut menatap tajam Laura.
‘Meskipun hati menolak tetapi lisan telah berkata iya maka, yang akan tetap terjadi hanyalah kata ‘iya’.’ Ervin mendesah pilu dalam benaknya.
Rasanya sudah ambyar hati Ervin, entah yakin atau tidak yakin dan mau atau tidak mau... Ervin harus tetap melakukan pernikahan tersebut.
...---------------...
__ADS_1