Couple Doctor

Couple Doctor
Diam-Diam Memperhatikan


__ADS_3

...Tak ingin rasa yang tertinggal akan membuat luka yang baru. Tuhan, aku tidak tahu harus apa. Jika jodoh permudahkan lah. Namun, jika tidak maka berikan sepercik kebahagiaan untuknya tanpa harus ada aku di sampingnya....


...----------------...


Masih dalam posisi yang sama, Ervin masih berusaha tahan napas dan tidak bisa berbuat apapun selain hanya diam. Dibalik kaca yang menjadi jarak antara ruang operasi dengan ruang pengamat nmpak terlihat Profesor Nathaniel menatap ke arah Aurora yang sedang memeluk Ervin.


Posisi yang tepat saat ini, Aurora memang membelakangi Profesor Nathaniel dan Ervin lah yang bisa melihat Profesor Nathanieldengan jelas.


“Lakukanlah!” pinta Profesor Nathaniel tanpa suara. Hanya melalui anggukan pelan saja.


“Baiklah!” balas Ervin melalui anggukan juga.


‘Ya Allah, aku tahu aku sudah mendekati hal yang tiak Engkau inginkan. Tapi, nniatku baik, tak lain hanya ingin menghiburnya saja. Maka ijinkanlah diri ini membantunya.’ Monolog Ervin dalam hati.


Ervin mencoba menarik napasnya perlahan, Lalu menghembuskannya dengan perlahan. Setelahnya, ia mencoba menetralkan ritme jantungnya yang tidak beraturan itu. Dan dengan pelan ia mulai membalas pelukan Aurora.


“Tenanglah dulu! Kita harus ganti pakaian dulu, pakaian kita sudah tidak steril loh! Masa iya kamu mau peluk aku terus di depan banyak orang begini, malu tahu.” Ervin berusaha untuk baik-baik saja.


Mendengar ucapan Ervin seketika Aurora menyadari sesuatu hal, dimana keberadaannya yang masih di dalam ruang operasi. Sontak saja ia melerai pelukannya.


“Maaf! Aku hanya ingin merasa senang saja.” Aurora menunduk malu.


“Ya sudah, cepat ganti baju sana gih! Setelah itu baru traktir aku makan di kafe. Aku merasa lapar setelah berdiri enam jam lebih ini, gara-gara kamu. Bagaimana?”


Ervin mencoba meleburkan suasana canggung yang sejenak menemani keduanya. Dan jawaban Aurora dalah mengiyakan dengan anggukan kecil. Setelahnya, ERvin dan tim yang lain mengganti pakaina mereka dengan pakaian yang lebih baik.


“Gadis pintar!” ucap Ervin seraya mengusap lembut puncak kepala Aurora.


Dan perlakuan Ervin mampu membuat Aurora terbang tinggi hingga langit ke tujuh. Seolah Aurora tidak ingin kembali turun ke bumi dan harus menerima kenyataan kembali jika, Ervin hanyalah sekedar ingin membantunya saja dan tidak lebih dari itu.


...----------------...


Ervin menemui Fajar yang selaku putra dari Bu Asfiyah. Dan selama Bu Asfiyah masuk rumah sakit, Ervin tidak melihat Fajri sama sekali. Entah kemana keberadaan keluarga yang lain.


“Fajar,” panggil Ervin pelan.


Fajar yang merasa namanya dipanggil seketika menoleh ke pemilik suara berada.


“Dokter Ervin, bagaimana operasinya , Dok?” tanya Fajar seraya menghampiri Ervin.


“Alhamdulillah, berkat do'a mu dan do'akita semua Allah memberikan keberhasilan pada operasinya. Tapi, untuk sementara waktu Ibumu harus dirawat di ruang ICU selama paling lama dua hari. Tinggal melihat bagaimana perkebangannya nanti.” Fajar nampak menghela napas lega.


“Alhamdulillah kalau operasinya dilancarkan, Dok. Saya sangat berterimakasih banyak pada Anda karena sudah membantu jalannya operasi tadi. Tanpa bantuan Anda saya juga tidak tahu bagaimana nasib Ibu saya.”


“Itu semua Allah lah yang sudah mengaturnya. Ya sudah, saya permisi dulu! Jaga diri kamu baik-baik!” pamit Ervin kemudian.


“Iya, Dok. Silahkan!” balas Fajar dengan sopan.


Ervin melenggang pergi dan tidak lama kemudian Aurora mengekorinya dari belakang. Langkah Ervin tehenti ketika sdah berada di kantin rumah sakit. Ervin seolah merasa dehidrasi selama enam jam lebih berdiri dan menguras tenaga sekaligus ketajaman mata. Hingga tenggorokanya merasa kering dan membutuhkan air untuk menyegarkannya kembali.


“Dokter Ervin itu maco ya, keren lagi! Apalagi hari ini. Tahu kan, bagaiman tadi dokter Ervin melakukan operasinya. Tidak seperti... Dokter Aurora.”


“He'em, kamu benar suster Rani. Ya... Memang benar sih anak Profesor Nathaniel , tapi... Sayang tidak se-hebat papanya. Tidak cocok lah kalau dibandingkan dengan dokter Ervin.”


Dua perawat yang ikut melakukan operasi tadi diam-diam membicarakan Aurora yang tadi sudah melakukan kesalahan saat memimpin operasi.


Dan pembicaraan itupun mampu di dengar oleh Aurora yang memang tidak jauh dari sana. Bukan hanya Aurora saja yang mendengarnya, bahkan hampir semua orang yang ada di kantin rumah sakit telah mendengar.


Dan Aurora tadi memang sempat terpojokkan dengan hasil kerjanya yang memang tidak becus. Tapi, Aurora yang dulu telah kembali.


Brakk...

__ADS_1


Aurora menghampiri dua perawat itu. Lalu menggebrak meja dengan amat keras.


“Hei, kalian. Tolong dong jaga ucapannya. OK, gue akui kalau gue masih nol besar dalam memimpin operasi. Dan gue akui kalau gue tak se-hebat Profesor Nathaniel. Tapi... Apa kalian pernah menjadi pemimpin dalam jalannya operasi, hah?”


Amarah itu telah sampai ke puncak ubun-ubun Aurora. Bahkan, ucapan kedua perawat tadi sukses membuat telinga Aurora merasa panas kala mendengarnya.


Dan ketika tatapan Aurora menajam, perawat itu hanya diam tanpa bicara sepatah kata pun. Dan tidak pernah disangka jika, diam-diam Ervin juga memperhatikan kejadian yang membuat seisi kantin menjadi hening.


“Permisi! Maaf saja jika saya mengganggu obrolan kalian. Tapi saya rasa... Apa yang diucapkan dokter Aurora tadi benar loh. Dan asal kalian tahu saja, lebih baik dokter Aurora yang masih berusaha berpikir untuk menyelesaikan operasinya daripada kalian hanya menggunjing dan mencemooh tanpa ada rasa sedikitpun untuk membantu menyelamatkan pasien.” Ervin merasa puas melepaskan unek-uenknya_tanda tidak sukanya terhadap dua perawat itu.


Ervin tidak mau memperkeruh suasana, ia pun menarik lengan Aurora dan menjauh dari sana. Entah kemana Ervin membawa Aurora melangkah. Yang pasti Aurora kembali berbunga-bunga mendapati Ervin yang membelanya.


‘Terimakasih, Ervin. Karena hari ini kamu menjadi pahlawan super ku. Menjadi superhero dalam hidupku. Namun, aku hanya bisa berandai saja jika suatu saat nanti kamu akan menjadi superheroku setiap saat dan setiap waktu.’ Arora mengulas senyum di bibirnya.


Ervin terus menarik lengan Aurora sampai keluar area rumah sakit yang bertuliskan dengan nama RSUP H. Adam Malik_yang menempel di gedung tersebut.


Rumah sakit yang cukup terkenal di Kota Medan dengan beberapa alat medis yang cukup lengkap. Dan ada beberapa juga dokter spesialis yang lainnya seperti dokter onkologi, jantung dan beberapa lainnya yang membuat rumah sakit itu cepat maju.


“Coba kamu tatap gedung itu dan bacalah papan yang menempel di atas sana!” pinta Ervin seraya menunjuk ke atas.


“Apa coba maksudnya? Lagian buat apa aku menatap gedung nama yang yang menempel di sana, kurang kerjaan banget itu namanya,” ketus Aurora.


Aurora yang tadinya berbunga-bunga seketika kembali merasa kesal terhadap sikap Ervin yang baginya tidak jelas. Meminta hal yang tidak bisa dipahami oleh Aurora.


“Coba saja tatap dulu! Apa susahnya hanya menatap saja, kan? Toh, yang aku minta untuk ditatap bukan aku, tapi gedung yang ada di depanmu saat ini, Dokter Aurora.” Ervin memberikan penegasan dan penekanan pada kalimatnya.


Tanpa sepatah kata lagi sebagai balasan atas ucapan Ervin, Aurora menurut saja. Ia menatap gedung yang tinggi dan luas itu. Bahkan Aurora juga membaca nama gedung yang menempel di gedung paling atas.


“Apa kamu tahu itu adalah rumah sakit?” tanya Ervin dengan absurd.


“Ya tahu lah, hampir setiap hari juga aku berada di dalamnya.Begitu juga dengan kamu, sama. Malah nanya yang aneh lagi,” jawab Aurora dengan sedikit merasa kesal.


“Lantas, apa tujuanmu hampir setiap hari berada di dalam sana?” tanya Ervin yang masih tetap fokus menatap gedung di depannya.


“Kalau sudah tahu menjadi dokter lantas kenapa bisa sampai gagal dalam operasi, hm?”


Hening...


Aurora mulai mencerna ucapan Ervin yang mengarah kemana. Ia pun terdiam sejenak, merutuki kebodohan yang beberapa jam lalu ia lakukan.


“Satu kesalahan kamu, Dokter Aurora. Kamu kurang fokus, percaya diri dan... Kurang melatih diri. Yang sering kmu lakukan hanya sibuk di ruanganmu dan ... Menggunakan jadjet mu agar memuaskanmu saat merasa jenuh meskipun itu masih jam kerja. Iya, kan, Dokter Aurora?”


Hening...


Aurora menyadari kesalahannya, ia benar tahu dengan apa yang dilakukan itu ternyata akan membuatnya seperti hari ini yang sudah berlalu. Dan karena ucapan Ervin lah Aurora megakui dan menyadari semua salahnya.


“Dan satu hal lagi, jika kamu memang tidak mau direndahkan seperti di kantin tadi maka... Mulai sekarang rubahlah jalan pemikiran kamu. Tinggalkan yang buruk dan tetap jalani yang baik.” Ervin menoleh ke arah Aurora berdiri.


Aurora masih terdiam, ia benar-benar mengakui salahnya. Harusnya ia sudah dari dulu tidak melakukan hal itu. Dan dalam hati kecilnya Aurora berjanji untuk mulai memperbaiki dirinya menjadi dokter yang lebih baik dan juga memiliki pribadi yang lebih baik daripada yang lalu.


“Sudahlah, jangan terlalu meratap begitu. Yakinlah bahwa kamu bisa memperbaiki namamu dan nama Profesor Nathaniel di rumah sakit ini.” Ervin kembali menarik lengan Aurora dan mengajaknya naik ke atas jok motornya.


Sejenak Aurora terdiam, ia tidak pernah membayangkan sebelumnya jika Ervin akan melakukan hal yang di luar nalarnya. Dan kembali hati Aurora dibuat berbunga-bunga.


Sepersekian detik kemudian, setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit akhirnya Ervin memarkirkan motor maticnya di salah satu cafe ternama di Kota Medan.


“Kenapa kita kesini?” tanya Aurora dengan polosnya.


“Apa kamu lupa jika mau traktir aku makan, Dokter Aurora?”


Aurora memutar bola matanya, ia mencoba kembali mengingat apa yang sebelumnya terjadi. Dan seketika ia tertawa setelah mengingat jika ia menyetujui tawaran Ervin.

__ADS_1


“Tapi, kenapa kamu bisa memilih di cafe Dopplo.me Coffee? Memangnya kamu... Pernah kesini?”


Ervin menggelengkan kepalanya cepat.


“Aku tidak pernah kesini, tapi... Aku pernah melihatmu setiap malam minggu datang ke cafe ini selama masa kuliah dulu,” jawab Ervin dengan jujur.


“With! Jangan bilang kalau selama ini kamu ... Diam-diam memperhatikan aku, ya?”


“Emm...” Ervin menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Sudah, akui saja kenapa sih. Tidak perlu malu seperti itu. Ya sudah, ayo msuk saja dulu!” ajak Aurora.


Dopplo.me Coffee adalah salah satu kedai kopi yang tidak jauh dari rumah sakit Ervin dan Aurora bekerja. Dopplo.me Coffee juga sebuah cafe yang sedang hype saat ini. Mungkin, jika terlihat dari luar cafe maka, fasad akan nampak mungil di sudut sebuah ruko. Namun, ketika sudah masuk ke dalam maka, semua pengunjung akan merasa kagum dengn desain dan tata letak di dalamnya.


Dengan lebar yang tidak lebih dari 2m, memiliki dimensi yang panjang. Sehingga terlihat seperti lorong. Nyaman serta desain yang terkesan natural. Apalagi dimensi interior yang merah bata membuat cafe tersebut merasa sejuk saat berada di tenganhpanasnya Kota Medan.


“Kita bisa ngobrol santai disini, kan? Aku... Hanya tidak ingin membahas masalah tadi. Karena itu akan membuatku semakin bebeda dengan Letnan Samudra.”


“Ya... Memang aku akui Dia lebih baik daripada aku yang kerap menyusahkan dan membuat papa malu saja. Dia pantas menjadi keturunan Profesor Nathaniel yang memang bisa diandalkan dan patut dibanggakan.”


Ervin yng tidak mengerti kemana arah pembicaraan Aurora, ia hanya diam saja. Ya, walaupun hatinya mulai terbakar api cemburu saat Aurora menyebut nama Letnan Samudra. Apalagi saat Aurora yang begitu memuji lelaki berseragam loreng itu.


‘Tahan rasa ini Ervin, ingat jika kalian beda jalur. Semesta tidak akan pernah memberikan restu itu.'


‘Tak ingin rasa yang tertinggal akan membuat luka yang baru. Tuhan, aku tidak tahu harus apa. Jika jodoh permudahkan lah. Namun, jika tidak maka berikan sepercik kebahagiaan untuknya tanpa harus ada aku di sampingnya.’


Ervin memberanikan diri untuk menatap Aurora, menelisik wajah yang begitu cantik dan berseri. Namun, ketika Ervin tersadar kembali dari lamunannya ia segera memalingkan wajah dan dlam hati mengucapkan istighfar beberapa kali.


“Maaf, mau pesan apa , mbak dan masnya?” tanya seorang waiter yang bekerja di cafe tersebut.


“Emm... Saya pesan mango mocktail saja mbak, seperti biasa.” Waiter itupun mengangguk tanda mengerti.


“Kalau saya... Kopi gula aren saja, mbak.” Ervin memilh salah satu menu minuman yang paling best seller di cafe Doolo.me Coffee.” Kembali waiter itu mengangguk.


Waiter itupun pergi dan mebuatkan pesanan Ervin dan Aurora. Sedangkan Aurora dan Ervin kembali melanjutkan obrolan keduanya. Dan topiknya masih sama, Letnan Samudra.


Sungguh, hati seoang Ervin semakin terbakar. Telinga Ervin merasa panas kala Aurora terus menerus menyebut nama Letnan Samudra. Namun, Ervin mencoba untuk tetap meredakan rasa yang ada.


“Hei, Dokter Aurora. Tadi kamu memintaku untuk tidak membahas masalah yang tadi, lantas kenapa kamu terus membahas Letnan Samudra yang jelas tidak sedang ada disini.” Ervin mengetuk meja dengan jari telunjuknya. Sehingga membuat Aurora seketika menghentikan ucapannya.


Aurora memutar kedua bola matanya dengan sempurna. Ia berpikir keras tentang apa yang dimaksud Ervin.


“Memangnya kenapa jika aku terus menyebut namanya, Dokter Ervin? Apa ada masalah atau... Cemburu?” celetuk Aurora dengan rasa harap di dalam hatinya.


Deg.


Ervin seketika terdiam,Akan terlihat kentara jika ia mengganggukkan kepala, tetapi jika menjawab tidak maka, itu munafik namanya. Dan beruntungnya waiter telah datang mengantarkan pesanan mereka tadi.


Ervin menyrutup kopi yang masih hangat. Hal sama juga dilakukan oleh Aurora. Perempuan itu meneguk minuman kesukannya.


“Kamu tenang saja, Letnan Samudra itu bukan saingan kamu kok, jika ... kamu memang memiliki perasaan yang sama sepertiku. Karena, Letnan Samudra itu kakak lelakiku. Pasti jika Letnan Samudra dan papa sedang duuk bersama, mereka akan nampak mirip.Percayalah!” terang Aurora


“Uhuk... Uhuk...”


Ervin pun tersedak kopi yang mash ia serutup dengn nikmat.


‘Hiks, apa ini Ervin. Masa iya sejak kemaren cemburu sama kakaknya sendiri. Malu woi!’ monolog Ervin.


Begitulah Ervin, saat bibir yang berbicara maka ia akan meolak mentah rasa cinta yang mulai tumbuh, tetapi jika hati yang berbicara maka, hati akan membenarkan perasaan yang ada.


Namun, entahlah bagaimana kelanjutan kisah antara mereka. Hanya Allah lah yang bisa membolak-balikkan hati setiap hambanya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2