Couple Doctor

Couple Doctor
Naik Pangkat


__ADS_3

...Tak apa patah hati sekarang, asalkan jangan nanti jika jodoh telah memihakku, karena aku tak mau patah hati setelah jalur kuning melengkung....


...----------------...


Satu minggu kemudian, semua aktivitas tetap berjalan normal. Bahkan hari yang sudah berlalu sampai detik ini membuat ERvin kerap lembur dan hampir setiap malam ia harus tidur di rumah sakit. Dan selama satu minggu itu Ervin juga tidak pernh berjumpa dengan Aurora. Saling bertatap muka saja tidak.


“Lama sekali aku tidak melihatnya, apa kabar Dia ya?” gumam Ervin.


Kak Sita yang menyiapkan sarapan di meja makan sekilas menatap Ervin yang tengah melamun seraya senyum-senyum sendiri. Hal itu membuat kak Sita ikut tersenyum geli.


“Hei, adik kakak ini lagi jatuh cinta, ya? Sampai tak sadar dari tadi di perhatiin.” Kak Sita terkekeh.


Ervin yang mendengar ucapan kak Sita seketika lamunannya terbuyarkan. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil nyengir kuda_memperlihatkan giginya yang putih.


“Siapa gadis itu, Ervin? Ceritalah sama kakak kau ini. Percayalah, tak akan bocor sampai ke telinga abang kau itu.” Kak Sita mengambil duduk di samping Ervin dan menatap Ervin.


“Tak ada Kak, siapa yang bilang juga kalau Ervin jatuh cinta. Jangan sok tahu dulu! Ervin saja masih abu-abu.” Ervin mencoba mengelak.


Ervin tak ingin mempercayai cinta itu ada, setelah patah hati pernah ia rasakan dan juga kehilangan untuk selamanya. Seolah rasa trauma masih menyelimuti diri Ervin, tetapi hatinya pun tidak bisa membohongi rasa yang ada jika kebenarannya adalah ia sedang mejatuhkan hati pada seorang perempuan yang tak lain adalah Aurora Lovania Geraldo.


“Jangan bohongi hatimu sendiri, Ervin. Kau... Harus mencoba membuka hatimu. Percayalah sama kakak, Haura pun tak menginginkaan kamu terus menekan hatimu karena empat tahun yang sudh berlali. Lagipula apa salahnya membuka hati.” Kak Sita kembali melanjutkan aktivitasnya.


Sepersekian detik kemudian, acara sarapan telah dilaksanakan sebelum aktivitas selanjutnya akan dilakukan. Saat sarapan dilangsungkan tak ada sepatah kata pun yang menemani mereka, kecuali setelah acara sarapan usai.


“Ervin, berangkat dulu! Ada tugas penting yang harus segera diselesaikan. Salim dulu, bang.” Ervin mengulurkan tangannya hendak salim kepada bang Jamal.


Setelah berpamitan dengan mengucap salam Ervin pun menyalakan mesin motornya dan memanaskan sebentar lalu, setelah kurang lebih lima belas menit barulah Ervin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


Sebenarnya Ervin tidak suka menjadi pengendara yang kebuut-kebutan di jalan, tetapi pagi itu Ervin terlalu bersemangat. Karena tempat yang akan ditujunya pertama kali bukanlah rumah sakit melainkan tempat pemakaman umum di kota Medan.


“Tak apa patah hati sekarang, asalkan jangan nanti jika jodoh telah memihakku, karena aku tak mau patah hati setelah jalur kuning melengkung.” Ervin melengkungkan bibirnya dengn sempurna.


Ervin menghentikan sebentar motornya setelah berada di toko bunga biasa ia membeli bunga sebelum ke makam. Setelah membeli bunga lili putih dan mawar merah yang masih kuncup Ervin kembali melanjutkan perjalanannya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit tibalah Ervin di pemakaman umum. Ervin memarkirkan motornya di pinggir jalan lalu, ia berjalan masukmdan menuju ke makam dengan batu nisan bertuliskan Haura Hilya Nafhisa binti Haidar Mahesa.


“Assalamualaikum, Haura. Hei, aku datang kesini pagi ini untuk mengunjungimu. Aku harap kamu tak akan marah padaku karena aku baru mengunjungimu kembali setelah hampir empat bulan lamanya tak pernah datang.“


“Ha Haura, aku bawakan kamu bunga lili putih. Semoga kau suka. Dan sebelum aku pergi, aku tak akan lupa untuk mendo'akan kamu, kok. I won't forget that.“


Ervin mulai membacakan do'a, sebelum itu Ervin mengusap pela batu nisan Haura. Setelah usai membacaka do'a selama lima belas menit kini, Ervin memutuskan untuk berpamitan dengan makam Haura. Ya walaupun nantinya Ervin tahu tak akan ada sahutan tetapi, Ervin hanya ingin berpamitan saja.


“Ra, aku pamit mau kembali ke rumah sakit. Aku akan usahakan untuk melenggangkan waktuku nanti dan mengunjungi makam kamu lagi. Tapi... Sebelum aku pergi, aku mau... Kamu menyetujui apa yang ingin aku mulai. Semoga kamu tak marah dan membenciku.”


“Aku tak mau menjadi lelaki yang mudah menyerah dan menjadi manusi yang memiliki sifat munafik. Sifat yang aku tahu bahwa Allah membecinya, jadi... Aku akan berjuang mmeskipin aku tak tahu bagaimana semesta akan mempermainkan kisahku. Do'akan ya, Ra.”


Ervin kembali mengusap batu nisan Haura, setelahnya ia berdiri dan mengucapkan salam. Saat kaki hendak melangkah pergi tiba-tiba saja ada suara yang di dengar Ervin_suara yang tak asing baginya.


“Kejarlah Dia, Ervin. Tidak perlu kamu ingat masa yang membuatmu sulit selama ini, karena itu hanya akan menyita waktu dan memorimu saja.”


“Tapi kamu perlu ingat satu hal, seperti yang pernah diucapkan seorang Ustadz yang bernama Ustadz Adi Hidayat. Dimana beliau berkata,”

__ADS_1


“Harta terbaik adalah kejujuran, senjata terkuat itu kesabaran, aset terbesar kita iman, alat komunikasi yang paling canggih itu do'a.”


Ervin mampu mengenali sara itu dengan jelas, tak lain adalh suara Haura. Hingga membuat bulu kudu Ervin seketika merinding, saat suara itu tak lagi terdengar angin pun semakin berhembus kencang. Entah itu pertanda jika Haura pergi atau masih ada di sana.


“Ra, jika itu kamu ... Aku ucapkan terimakasih. Karena kamu tetap mengingatkan aku tentang Allah sebagai Tuhan kita dan sebagai percipta kita. Aku pergi dulu, Ra. Assalamualaikum.”


Ervin mengulas senyumnya, setelah itu ia segera menyalakan motornya dan menuju ke rumah sakit.


...----------------...


Setelah menempuh perjalanan setengah jam lamanya, Ervin pun sampai. Ia segera menuju ke ruangannya terlebih dahulu.


“Eh... Eh... Lihat itu siapa yang baru saja datang. Dokter Ervin... Oh Tuhan, kenapa bikin meleleh sih,” ucap seorang perawat perempuan yang bertugas dibagian administrasi.


“Iya ya, andai saja Dia itu jodohku, pasti aku akan terbang ke atas awan.”


Tak hanay du perwat yang bekerja dibagian administrasi saja yang memuji Ervin, bahkan hampir setiap orang yang dilewati oleh Ervin memujinya terutama, kaum hawa.


Namun, Ervin terllu mengabaikannya dan tidak mau menanggapi hal yang tidak penting baginya. Karena yang paling penting adalah menyelamatkan pasien dari yang memiliki penyakit jantung koroner ataupun membutuhkan jantung baru.


Saat menelusuri lorong rumah sakit Ervin tak berhenti tersenyum, ia membayangkan jka ia memberikan bunga mawar yang dibawanya itu pada Aurora. Dan Aurora akan merasa bahagia mendapati perhatian yang selama ini diinginkan.


“Permisi Dok, ini daftar pasien yang akan melakukan daftar checkup dan melakukan pemeriksaan jantung. Jumlah pasien nya juga tidak terlalu banyak untuk hari ini, sekitar lima orang saja, Dok. Dan kali ini Anda berada dibawah pimpinan Profesor Nathanie.” Suster Rani memberikan keterangan.


“Terimakasih, Sus. Tapi, boleh tidak jika saya meminta tolong pada Anda, suster Rani?” tanya Ervin berharap dalam hati.


Suster Rani nampak bingung, pasalnya bantuan seperti apa yang diinginkan Ervin. Sedangkan suster Rani tahu benar jika selama ini Ervin tidak membutuhan bantuan jika masalah mengurus pasien dan hal yang bersangkutan dengan pekerjaan, kecuali saat oeprasi.


“Emm... Tapi, jangan ketawa ya, ini masalah pribadi. Jadi, rahasiakan ini setelah pekerjaannya nanti selesai. Okay!” ucap Ervin seraya menahan tawa, ragu dan jantung yang berdebar.


Suster Rani yang tidak mengerti pekerjaan apa yang akan dilakukannya hanya memutar bola matanya dengan sempurna.


Suster Rani seketika tersenyum malu saat melihat bunga mawar merah yang diberikan Ervin padanya. Bukan suster Rani terlalu percaya diri tetapi, ia tersenyum malu karena suster Rani bar mengetahui bahwa Ervin sedang jatuh cinta dengan hati yang masih berbunga-bunga.


Namun...


“Maaf Dok, tapi bukan berarti saya tidak mau dimintai tolong sama Anda. Hanya saja, setelah hari operasi itu dokter Aurora mengambil cuti selama satu minggu. Dan kalau tidak salah hari ini adalah hari terakhir dokter Aurora libur.”


“Bagaimana Dok, masih mau melanjutkannya?” tanya suster Rani memastikan.


Hening...


‘Satu minggu mengabil cuti? Ada apa sebenarnya dengannya? Apa masih terlalu memikirkan hari itu? Tapi, terakhir ketemu sore itu Dia nampak baik-baik saja, tak ada masalah sedikitpun. Lantas apa yang membuatnya mengambil cuti?’ Ervin memborondongi pikirannya dengan banyak pertayaan.


Suster Rani yang masih setia menunggu keputusan Ervin hanya diam membeku, berdiri layaknya patung saja.


Sepersekian detik kemudian...


“Suster Rani, kenapa Anda masih berdiri disini? Apa masih ada yang ingin disampaikan?” tanya Ervin yang absurd.


“Loh, tadi bukannya Dokter Ervin yang meminta bantuan saya? Ya... Saya tungguin lah,” jawab suster Rani apa adanya.

__ADS_1


Ervin seketika menepukjidatnya, kendati ia lupa jika meminta bantuan suster Rani untuk memberikan bung mawar merah yang masih kuncup pada Aurora. Namun, sayangnya Aurora sudah satu minggu tidak masuk kerja dan mengambil cuti. Hal itupun tidak Ervin ketahui karena, Ervin yang terlalu sibuk.


Setelah mengingatnya, Ervin meminta maaf pada suster Rani karena sudah menganggurkannya selama beberaapa menit. Lalu, Ervin melenyapkan pikirannya yang masih berpusat pada Aurora.


Suster Rani melenggang pergi seraya menahan tawanya.


“Mungkin dokter Ervin lupa ingatan sebentar kali ya, kalau lagi kasmaran begitu. Semoga saja nanti wakt memeriksa pasien tidak akan lupa ingatan lagi. Wkwkwk.” Suster Rani turut bahagia.


Ervin masuk ke dalam ruangannya. Dan setelah membuka pintu ia dikejutkan oleh sosok yang tak asing baginya.


“Profesor Nathaniel?”


Ya... Di dalam ruangan Ervin sudah ada Profesor Nathaiel yang sedang duduk di kursi yang biasanya dipkai pasien berkonsultasi.


“Iya, ini saya. Duduklah, Dokter Ervin!” pinta Profesor Nathaniel.


Ervin mengangguk, ia menurut saja dengan permintaan Profesor Nathaniel yang nampak serius. Dan Ervin tidak mau jika harus membuat atasannya menunggu.


“Ada apa ya, Prof kalau boleh tahu? Apa ada masalah yang serius?” tanya Ervin dengan rasa penasaran yang membuncah.


Profesor Nathaniel tidak langsung menjawab petanyaan Ervin, jusrtru Profesor Nathaniel mengula senyum saat Ervin menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Selamat untuk kamu, Dokter Ervin. Karena mulai hari ini kamu bkanlah dokter residen lagi. Tidak harus menunggu banyak tahun untuk mengangkatmu. Karena pihak rumah sakit tidak merasa ragu untuk menikkan pangkatmu. Mulai hari ini kamu sudah resmi menjadi dokter ahli bedah jantung.” Cukup mengejutkan bagi seorang Ervin.


Ervin tidak pernah menyangka jika impiannya bisa tewujud. Atas restu kedua orang tua, Allah yang selalu diikut sertakan dalam setiap hidupnya dan orang-orang yang mendukungnya, kini telah iaraih dengan hasil yang memuaskan.


“Alhamdulillah... Ya Allah, terimakasih atas kesempatan yang sudah Engkau berikan kepada hamba yang masih sangat awam dalam hal ini. Dan hamba berharap Engkau melapangkan jalan hamba menuju kesuksesan yang membuat bangga orang-orang di sekitar hamba. Aamiin.” Ervin menganminkan do'anya.


Profesor Nathaiel menepuk pundak Ervin, setelah itu Profesor Nathaniel mengudarakan suara yang seketika membuat Ervin merasa malu.


“Tadi... Saya juga mendengar obrolan kamu dengan suster Rani di depan. Apa itu benar, Dokter Ervin? Jika kamu sudah mulai jatuh cinta terhadap putri saya?” todong Profesor Nathaniel.


Hiks...


‘Kenapa juga harus ketahuan sih, kalau begini kan, malu.’


Hening...


“Tidak apa jika hatimu memang sudah mulai terbuka. Tapi, jangan takut untuk memulainya lagi. Meskipun jatuh cinta itu mudah, tetapi rasa percaya dan keyakinan itu sulit didapatkan.”


“Jika kamu mencarinya, maka saya akan ijinkan kamu untuk memakai kendaraan saya. Tapi itu setelah usai pekerjaamu. Dia... Ada di...” Profesor Nathaniel memberitahukan keberadaan Aurora pada Ervin.


“Dan pangkatmu akan naik menjadi calon menantu. Berpikirlah positif saja,” bisik Profesor Nathaniel.


Profesor Nathaniel menepuk pundak Ervin dengan pelan. Setelah itu, Profesor Nathaniel undur diri dan harus kembali ke Universitas Sumatra Utara hendak mengajar di sana. Dan pekerjaannya hari ini akan digantikan oleh Ervin selaku dokter ahli bedah jantung.


Ervin masih mematung, rasanya ia kembali tak percaya jika pagi itu ia akan mendapatkan kejutan yang luar biasa.


“Ya Allah, apa ini sebuah pertanda jika Engkau memihakku?” tanya Ervin dalam hatinya.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2